Sastrawacana – Siapa yang tidak ingin namanya tertera dalam sebuah buku dan dibaca oleh semua orang? Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah impian besar bagi seorang penulis (senior maupun junior).

Setelah cukup lama menulisndan menyelesaikan karyanya, naskah siap untuk disodorkan ke penerbit agar menjadi sebuah buku yang layak baca dan tersebar ke seluruh pelosok negeri.

Perjuangan belum selesai, setelah merampungkan karya yang cukup tebal, penulis juga direpotkan dan dibuat gundah gulana untuk memilih penerbit yang cocok bagi karyanya.

Pasalnya, setiap penerbit mempunyai kriteria dan tema berbeda sesuai dengan pasar yang dituju. Selain dibingungkan dengan memilih penerbit yang cocok, penulis juga pasti selalu bertanya-tanya dalam hati “apakah setelah diterima nanti, buku saya akan dipajang di toko buku?”.

Begitulah singkatnya kegalauan seorang penulis saat sudah menyelesaikan naskahnya dan ingin segera menerbitkan bukunya.

Perlu diketahui, penerbit yang siap menerbitkan buku Anda sangatlah banyak! Namun, tidak semua penerbit menjualnya di toko buku. Inilah yang menjadi salah satu pembeda antara penerbit mayor dan minor.

Penerbit mayor merupakan sebuah penerbit besar dan sudah terkenal. Jadi, naskah yang diterima oleh penerbit mayor akan dipublish dan didistribusikan ke seluruh pelosok negeri.

Tapi tidak semudah itu karya bisa menembus proses cetak di penerbit mayor. Sebab naskah harus melewati bangku editor yang sudah handal di bidangnya. Begitu banyaknya antusias penulis untuk menerbitkan karya di penerbit mayor, membuat naskah di bangku editor menumpuk! Maka dari itu, setidaknya perlu 3-5 bulan untuk memproses naskah yang sudah masuk.

Baca juga: Bagaimana Cara Menerbitkan Buku di Penerbit Mayor?

Sedangkan, penerbit minor merupakan penerbit indie yang tergolong masih penerbit kecil atau individu. Siapapun dapat menerbitkan karyanya di penerbit minor tanpa seleksi! Ya, tanpa seleksi.

Namun, dana mulai dari proses cetak, editing, covering, dsb dibebankan langsung kepada penulis. Prosesnya pun tidak rumit dan tidak memerlukan waktu yang lama.

Naskah diterima, lantas siap untuk diedit dan mengatur jadwal cetak. Apakah penerbit minor menjual buku ke toko buku? Tidak semua!

Umumnya, penerbit minor hanya menjual karya penulis secara online melalu media sosial dan secara lisan sebab penerbit minor tidak memiliki agen dan jaringan distributor seperti penerbit mayor. Penulis pun harus gencar promosi agar naskahnya mampu terjual secara luas.

Bagaimana dengan masalah royalti?

Penerbit mayor tidak pernah meminta uang serupiahpun kepada penulis. Jika naskahnya diterima, penerbit mayor biasanya menawarkan sistem kontrak royalti dan jual putus kepada penulis.

Yang dimaksud sistem royalti adalah penulis mendapatkan 10-15% (tergantung penerbit) dari setiap buku yang terjual. Sedangkan jual putus adalah membeli naskah tersebut hanya dengan sekali bayar. Jadi berapapun eksemplar naskah yang terjual, penulis tidak mendapat bagian royalti lagi.

Sedangkan penerbit minor selalu memberikan royalti 10-15% (tergantung penerbit) dari setiap naskah yang terjual walau semua dana dari awal sampai cetak dibebankan kepada penulis.

Bedanya lagi, penerbit minor biasanya menerapkan sistem POD (Print on Demand) yang tidak pernah menyetok buku. POD (Print on Demand) yaitu mencetak buku jika ada yang membeli saja, jika tidak ada yang membeli maka buku maka naskah tidak akan dicetak alias disimpan oleh penerbit.

Sebenarnya, menerbitkan buku di penerbit mayor ataupun minor sama saja tergantung kualitas karya dan naskah penulis.

Jika naskah itu benar-benar berkualitas dan memiliki ide-ide baru di dalamnya, tentu saja buku tersebut akan laris keras di pasar. Dan tidak lupa juga, selalu menerapkan nilai-nilai positif di dalam naskah untuk membangun generasi yang lebih baik.

Demikian ulasan sederhana mengenai perbedaan antara penerbit mayor dan penerbit minor yang kerap ditanyakan oleh penulis (junior umumnya). Semoga artikel ini dapat membantu Anda.

Salam literasi!

Penulis : Maulana Affandi

Comments

comments