Jika pada artikel-artikel sebelumnya saya selalu memberikan wacana mengenai cara berpikir liar dengan menelaah sudut pandang berbeda, kali ini saya akan lebih bercerita mengenai pengalaman saya yang pernah mencari jati diri di ruang pendidikan Sastra. Ya, saya adalah alumni Sastra di salah satu Universitas Negeri Jawa Timur. Dan, setidaknya saya menghabiskan waktu kurang lebih lima tahun untuk mendapat jawaban mengenai makna berpikir liar pada kampus tercinta tersebut.

Pada tulisan #Part1 ini, saya ingin membuka cerita dengan kajian singkat mengenai perjalanan saya sebagai Mahasiswa Sastra.

Sebenarnya, menjadi Mahasiswa Sastra tidak jauh berbeda dengan Mahasiswa fakultas lainnya. Secara kasat mata tidak terlalu tampak perbedaan antara kami, karena kami adalah satu tubuh dalam naungan Universitas. Hanya saja, secara sederhana, anak Sastra lebih suka “ngopi” dan menggadaikan kesehatan hanya untuk berdiskusi ringan bersama dinginnya malam. Ya, begitulah saya waktu itu. Duduk bersama teman sejawat, beradu kebenaran, hingga akhirnya salah paham.

Karena, sejatinya tidak ada kebenaran yang paling benar di atas kebenaran sesungguh-Nya. Setiap manusia memiliki kebenaran masing-masing yang dianggapnya paling benar sehingga menimbulkan salah paham yang berkelanjutan. Dari renungan hangat yang menghabiskan sepertiga malam tersebut, saya tidak pernah bercanda pada candaan yang serius. Begitu pula sebaliknya, saya tidak pernah serius pada keseriusan yang dibalut canda.

Pagi datang, kantuk tak jua hilang. Mungkin kalimat itu sangat cocok untuk saya yang selalu mencuri keheningan seperti “kelelawar”. Hingga tak jarang saya sendiri merasa enggan untuk berangkat ke kampus. Tapi, ada hal yang membuat saya “eman” saat tidak berangkat ke kampus, yakni keasyikan Sastra. Perlu kalian ketahui, ruang lingkup sastra bukanlah sesuatu yang hanya berkutat pada dunia literasi atau penulisan. Banyak yang saya pelajari dalam Sastra, termasuk cara “menampar” orang dengan kelembutan.

Comments

comments