Tidak ada yang sama, setiap manusia pasti memiliki akal, pikiran, sifat, watak, serta fisik yang berbeda. Dan, walau terkesan mirip, nyatanya milyaran manusia di dunia ini selalu memiliki unsur pembeda. Ya, begitulah kehidupan manusia yang hidup beriringan dengan hukum perbedaan. Tapi, dengan berbeda apakah harus berseteru? Entahlah, yang pasti tak selamanya hitam akan berteman dengan hitam hanya karena serupa, tak selamanya pula hitam membenci putih hanya karena berbeda.
 
Setiap manusia memiliki takar kemampuan masing-masing sesuai dengan situasi dan kondisi dari berbagai sudut pandang. Sebab, segala sesuatu yang terjadi pasti beralasan, termasuk diciptakannya manusia dengan penuh perbedaan.  Pasti ada alasan tersendiri bagi Tuhan memberikan kemampuan yang berbeda pada setiap manusia. Percaya itu, agar penyakit hati tidak menggerogoti diri.
 
Kalau dilihat dari sudut pandang geografis, kemampuan manusia di Timur Tengah lebih kuat dalam menahan rasa panas bila dibandingkan dengan kemampuan manusia di Eropa. Begitupula urusan hewan, penguin memiliki kemampuan menahan dingin maka dari itu ia diciptakan untuk berada di Kutub, tidak di Gurun. Itu hanya contoh kecil perbedaan dengan sudut pandang ringan.
 
Setelah kita mengetahui bahwa tidak ada yang sama, apakah perlu ada sebuah aktivitas yang bertujuan untuk membeda-bedakan? Atau lebih sopannya, membandingkan. Perlukah? Sebenarnya, segala sesuatu yang berkenaan dengan pembentukan karakter adalah baik, asal sesuai kadar dan tepat sasaran. Kata “membandingkan” mengandung makna “kalah dan menang”. Setiap kita dibandingkan dengan orang lain, maka kita dianggap kalah dan orang lain tersebut adalah pemenang. Seperti itukah yang kita rasakan? Jelas! Karena manusia memiliki naluri dalam diri yang teramat sensitive.
 
Dengan begitu, ubahlah kebiasaan “membandingkan” dengan tindakan yang lebih lembut, yakni “mencontohkan”. Ini berlaku untuk siapapun, termasuk diri sendiri. Kita pasti akan lebih menerima jika hanya diberi contoh, bukan dibandingkan dengan orang lain yang menurut kita tidak sebanding. Dalam pembentukan karakter, ada sebuah istilah sarkasme yang mengatakan “pukul saja fisiknya, asal bukan batinnya”. Intinya, dengan terlalu membanding-bandingkan, mental manusia akan berontak. Namun dengan mencontohkan, maka pesan yang dimaksud akan diterima karena tidak ada unsur pemberontakan.
 
Penulis : Maulana Affandi

Comments

comments