Pendidikan

Merdeka Belajar Episode ke-23 Diapresiasi oleh Pegiat Literasi Indonesia

Terobosan Merdeka Belajar Episode ke-23: Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi Indonesia diluncurkan dengan tujuan untuk menjawab tantangan rendahnya kemampuan literasi anak-anak Indonesia akibat rendahnya kebiasaan membaca sejak dini.

Salah satu penyebab rendahnya kebiasaan membaca adalah kurangnya atau belum tersedianya buku bacaan yang menarik minat peserta didik.

Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Muhammad Abdul Khak menuturkan jika bantuan buku kali ini berbeda dengan program sebelumnya karena tidak hanya memberikan buku saja.

Bantuan ini juga memberikan pelatihan kepada sekolah, khususnya para guru untuk memanfaatkan bantuan tersebut sebaik semaksimal mungkin.

“Pelatihan yang diberikan itu tentang bagaimana mengelola buku-buku dan bagaimana memanfaatkan buku-buku itu,” jelasnya pada dalam webinar Silahturahmi Merdeka Belajar (SMB) yang mengusung tema “Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi Indonesia” melalui YouTube Kemendikbud RI, pada Kamis (9/3).

“Guru dan siswa diberi kebebasan untuk memilih bahan bacaan. Urusan yang utama adalah bagaimana anak-anak (tertarik) membaca dulu. Buku-buku dari Kemendikbudristek telah menempuh serangkaian penilaian dengan melibatkan kurator yang andal,” tutur Abdul Khak agar dilakukan optimalisasi pemanfaatan buku bacaan bermutu yang disediakan Kemendikbudristek.

Menanggapi kebijakan Merdeka Belajar ke-23, Konsultan atau Spesialis Literasi di Article 33, Sofie Dewayani, menuturkan bahwa kebijakan ini merupakan terobosan yang sangat baik bagi pendidikan di Indonesia.

Sebab, memungkinkan akses buku bermutu secara merata ke seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah yang paling membutuhkan.

“Mudah-mudahan ini tidak hanya meningkatkan skor literasi, namun mereka juga menjadi pembaca dan pembelajar sepanjang hayat,” harapnya.

“Saya mengajak semua pihak untuk menyebarkan kegembiraan membaca mulai dari diri sendiri, hari ini. Kalau kita gembira membaca maka anak-anak gembira dalam belajar dan menuntut ilmu sepanjang hidupnya,” imbau Sofie.

Kepala Sekolah SD Vim 3 Kotaraja, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Royke Tombokan, menambahkan bahwa dia sangat mengapresiasi kebijakan Mereka Belajar episode ke-23 ini karena meringankan sekolah dalam hal biaya pengadaan buku.

“Ini sangat menolong sekolah dalam hal meringankan biaya, karena pengadaan buku itu bukan hal yang murah,” ungkap Royke.

“Sebagai kepala sekolah dan guru, mari kita jadi pelopor untuk meningkatkan literasi Indonesia untuk mencerdaskan bangsa.  Buku adalah jendela dunia, biarkan meereka berkembang demi kemajuan dan kebanggaan Indonesia,” ucap Royke menambahkan.

Selanjutnya, Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat, Opik menjelaskan tentang kondisi taman bacaan di berbagai daerah yang beragam.

Ia mengatakan bahwa 84 persen daerah memiliki pelayanan terhadap buku bacaan,  sedangkan 74 persen berada di pedesaan.

Hanya 3 persen daerah pedesaan yang memiliki koleksi buku 5.000 eksemplar, sedangkan 63 persen sisanya hanya memiliki buku kurang dari 5.000 eksemplar.

Guna meningkatkan minat baca anak, Opik menyampaikan idenya dengan menggunakan pendekatan kreatif rekreatif.

“Bagaimana supaya anak-anak itu terpancing minat bacanya jadi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) itu tidak hanya ada buku-buku tetapi juga alat musik dan lain sebagainya,” ucapnya.

Program pengiriman buku ke sekolah bukan kebijakan yang baru dilakukan Kemendikbudristek.

Kali ini, Kemendikbudristek menghadirkan terobosan sejumlah hal, mulai dari jumlah eksemplar, jumlah judul buku, jenis buku yang dikirimkan, pendekatan yang dilakukan dalam mendistribusikan buku, sampai pemilihan sekolah yang menjadi penerima pengiriman buku.

“Saya apresiasi langkah Kemendikbudristek dalam menyalurkan buku bermutu bagi SD namun jika memungkinkan buku-buku sejenis juga bisa disalurkan ke berbagai TBM karena penguatan gerakan literasi masyarakat juga menyasar ke sana,” harap Opik.

Sumber: Kemdikbud.go.id

x

Adblock Detected

Harap Matikan Ad Blocker