Sastra

Mengenal Struktur Batin dan Struktur Fisik pada Puisi

Pengertian Puisi

Puisi adalah salah satu bentuk sastra yang ditulis dalam bentuk rangkaian kata-kata yang indah dan teratur.

Puisi mengekspresikan perasaan, pemikiran, dan imajinasi penulis dengan cara yang kreatif dan bermakna.

Biasanya, puisi memiliki struktur dan gaya bahasa yang khas, seperti penggunaan ritme, rima, dan metafora.

Definisi puisi menurut Paul Valery merupakan sebuah seni yang didasarkan pada bahasa, namun puisi memiliki makna yang lebih umum yang sulit untuk menentukannya. Puisi juga bertujuan mengungkapkan keadaan pikiran tertentu.

Sementara menurut KBBI, arti puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Baca juga: Kumpulan Puisi Cinta dan Rindu yang Bikin Pasanganmu Klepek-Klepek

Ciri-Ciri Puisi

Ciri-ciri puisi adalah sebagai berikut:

1. Bahasa yang indah

Puisi menggunakan kata-kata atau diksi yang kreatif dan estetis, sehingga menciptakan keindahan dalam susunan kata-katanya.

2. Penuh emosi

Puisi mengandung ekspresi emosi penulis, seperti cinta, kesedihan, kegembiraan, atau kebingungan. Puisi merupakan wadah untuk menyampaikan perasaan yang mendalam.

3. Struktur yang khas

Puisi memiliki struktur yang berbeda dengan tulisan prosa. Biasanya, puisi terdiri dari baris-baris pendek yang disusun dalam bait-bait atau stanza.

4. Makna dalam makna

Puisi seringkali mengandung makna ganda atau simbolik, yang mengajak pembaca untuk merenung dan memaknai isi dari setiap bait atau baris.

5. Penggunaan ritme dan rima

Beberapa puisi menggunakan ritme dan rima untuk menciptakan irama dan keharmonisan dalam pembacaan.

6. Imajinatif

Puisi dapat menggambarkan dunia dengan cara yang imajinatif dan tak terbatas, membebaskan penulis untuk berkreasi dalam menciptakan gambaran yang unik.

Baca juga: Apa Arti Tanda VVV Pada Puisi? Simak Penjelasannya

Struktur Puisi

Sementara untuk strukturnya, puisi terdiri dari dua struktur pokok, yaitu struktur batin dan struktur fisik.

1. Struktur Batin

Struktur batin adalah sebuah unsur pembangun puisi yang tidak terlihat secara langsung dalam penulisan kata katanya. Struktur batin terdiri dari; tema, nada, rasa atau perasaan, dan amanat.

Herman J. Waluyo 1996 (dalam Muntazir: 2016:32) menjelaskan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Sehingga pada dasarnya membaca puisi adalah upaya untuk melahirkan kontak lahir batin dengan puisi tersebut.

Pembaca perlu menyelami isi puisi dengan pikiran dan perasaan untuk bisa menangkap apa makna sebenarnya dari puisi tersebut.

Sebab, tak sedikit puisi yang “menyembunyikan makna” atau ambigu dibalik baris-baris kata yang indah.

Baca juga: Apa Arti Pengimajinasian dalam Puisi dan Contohnya?

2. Struktur Fisik Puisi

Struktur fisik puisi atau terkadang disebut pula metode puisi merupakan sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi.

Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.

1. Perwajahan puisi (tipografi)

Puisi berbentuk seperti halaman yang tanpa dipenuhi oleh kata-kata dan pengaturan baris.

Bahkan, baris dalam puisi juga tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.

Sehingga tipografi menjadi hal penting yang menentukan pemaknaan terhadap puisi.

2. Diksi

Diksi adalah pilihan kata digunakan oleh penulis dalam menulis puisi agar menjadi lebih indah.

Dalam menggunakan diksi, penulis harus memperhatikan keselarasan bunyi, urutan kata, serta makna.

Selain itu, diksi juga dapat mencerminkan gaya penulis dan memberikan karakteristik unik pada karya sastra atau tulisan.

3. Imaji

Susunan kata-kata untuk mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.

Imaji sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil).

Imaji dapat membuat pembaca seolah melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami oleh penyair.

4. Kata konkret

Kata yang dapat ditangkap dengan indera sehingga memungkinkan munculnya imaji pembaca.

Kata-kata ini biasanya berhubungan dengan kiasan atau lambang, seperti “salju” yang melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup.

Sedangkan kata kongkret “rawa” bisa melambangkan tempat yang kotor, tempat hidup, bumi.

Baca juga: Puisi Rakyat: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis dan Contohnya

5. Bahasa figuratif

Bahasa figuratif disebut juga sebagai majas, seperti metafora, plenoasme, simile, personifikasi, ironi, litotes, dan sebagainya.

Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Herman J Waluyo, 1987:83).

Bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128).

6. Versifikasi

Menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah pengulangan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi.

Rima mencakup:

  1. Onomatope (tiruan terhadap bunyi)
  2. Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan sebagainya (Herman J Waluyo, 1987:92)
  3. Pengulangan kata/ungkapan.

x

Adblock Detected

Harap Matikan Ad Blocker