Pendidikan

Hipotesis: Pengertian Menurut Ahli, Ciri-Ciri, Jenis, dan Contohnya

Pengertian Hipotesis

Hipotesis adalah suatu pernyataan atau dugaan sementara yang diajukan sebagai dasar untuk diuji melalui penelitian atau eksperimen.

Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan masih berdasarkan pada teori, belum berdasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data melalui observasi.

Secara harfiah, hipotesis berasal dari dua kata, yaitu hypo yang artinya “kurang dari” dan thesis yang artinya pendapat.

Sehingga, hipotesis merupakan suatu pendapat atau kesimpulan yang belum final, yang harus diuji kebenarannya.

Sementara menurut KBBI, arti hipotesis adalah sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat (teori, proposisi, dan sebagainya) meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan; anggapan dasar.

Jadi, hipotesis juga bisa dikatakan sebagai prediksi atau asumsi tentang hubungan antara variabel-variabel tertentu dalam konteks penelitian.

Tujuan dari pengujian hipotesis adalah untuk memahami apakah ada bukti empiris yang mendukung atau menolak dugaan yang diajukan.

Hipotesis seringkali menjadi landasan bagi perancangan penelitian dan pengumpulan data guna mencari jawaban atau pemahaman lebih dalam mengenai fenomena yang diteliti.

Baca juga: Pengertian Teknik Snowball Sampling Penelitian dan Contohnya

Pengertian Hipotesis Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah beberapa pengertian hipotesis menurut para ahli.

1. Dantes (2012)

Pengertan hipotesis adalah praduga atau asumsi yang harus diuji melalui data atau fakta yang diperoleh dengan melalui penelitian.

2. Sugiyono (2009)

Hipotesis yakni adalah jawaban yang masih bersifat sementara terhadap rumusan masalah penelitian, yang mana rumusan masalah penelitian sudah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.

3. Sugiyono (2016)

Hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.

4. Singarimbun dalam Iskandar (2008)

Definisi hipotesis adalah sarana penelitian ilmiah yang penting dan tidak bisa ditinggalkan, karena ia merupakan instrumen kerja dari teori.

5. Suharsimi

Hipotesis adalah alternatif dugaan jawaban yang dibuat oleh peneliti bagi problematika yang diajukan dalam penelitiannya.

Baca juga: Apa Itu Discovery Learning? Simak Penjelasan dan Langkah-Langkahnya

Ciri-Ciri Hipotesis

Perumusan hipotesis yang baik dan benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:

1. Hipotesis dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
2. Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan minimal dua variabel penelitian.
3. Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan bisa menerangkan fakta.
4. Hipotesis harus dapat diuji (testable).
5. Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas.

Sementara menurut Furchan (2004: 121-129), ciri-ciri hipotesis adalah sebagai berikut:

1. Hipotesis harus mempunyai daya penjelas;
2. Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel;
3. Hipotesis harus dapat diuji;
4. Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada;
5. Hipotesis hendaknya dinyatakan sederhana dan seringkas mungkin.

Pendapat tersebut dikuatkan oleh Nazir (2005: 152) yang menjelaskan ciri-ciri hipotesis sebagai berikut:

1. Hipotesis harus menyatakan hubungan, yaitu pernyataan terkaan tentang hubunganhubungan antarvariabel.
2. Hipotesis harus sesuai dengan fakta, artinya hipotesis harus terang dan jelas.
3. Hipotesis harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan.
4. Hipotesis harus dapat diuji, baik dengan nalar dan kekuatan memberi alasan ataupun dengan menggunakan alat-alat statistika.
5. Hipotesis harus sederhana untuk mengurangi timbulnya kesalahpahaman pengertian.
6. Hipotesis harus bisa menerangkan fakta.

Menurut Nazir (2005: 153) hipotesis yang baik harus mempertimbangkan semua fakta-fakta yang relevan, harus masuk akal dan tidak bertentangan dengan hukum alam yang telah diciptakan Tuhan.

Jenis-Jenis Hipotesis

Berikut ini adalah jenis-jenis hipotesis lengkap dengan penjelasannya.

1. Hipotesis Deskriptif

Hipotesis deskriptif adalah jawaban sementara terhadap masalah deskriptif yang berkenaan dengan variabel mandiri.

Contoh hipotesis deskriptif:

Berapa antusias warga desa “X” mengikuti kegiatan bakti sosial?

2. Hipotesis Komparatif

Hipotesis komparatif adalah dugaan atau jawaban atas rumusan masalah secara sementara yang bersifat komparatif.

Contoh hipotesis komparatif:

Bagaimana antusias warga desa “X” apabila dibandingkan dengan warga desa “Y” dalam kegiatan bakti sosial?

3. Hipotesis Asosiatif

Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara atas rumusan penelitian yang berbentuk asosiatif yang menunjukkan hubungan antara dua variabel atau lebih.

Contoh hipotesis asosiatif:

Apakah pendidikan berpengaruh positif dalam kepedulian dengan kegiatan bakti sosial?

Sementara jenis-jenis hipotesis menurut Suharsimi Arikunto (2000) adalah sebagai berikut:

1. Hipotesis Nol Atau Hipotesis Nihil

Hipotesis ini dituliskan dengan “Ho” yang meniadakan perbedaan antar kelompok atau meniadakan hubungan sebab akibat antar variabel. Artinya, selisih variabel pertama dengan variabel kedua adalah nol atau nihil.

2. Hipotesis Alternatif Atau Hipotesis Kerja

Hipotesis ini ditulis dengan “Ha”, yaitu penerjemahan hipotesis penelitian secara operasional.

Contoh Hipotesis

Berikut ini adalah beberapa contoh hipotesis berdasarkan jenis-jenisnya.

1. Contoh Hipotesis Deskriptif

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, hipotesis deskriptif adalah jawaban atau dugaan sementara terhadap masalah deskriptif yang berkaitan dengan variabel mandiri.

Untuk penggunaan hipotesis deskriptif digunakan variabel tunggal atau mandiri.

Sebagai contoh kita ambil kasus makanan berlabel halal atau tidak. Peneliti melakukan observasi terkait sebuah merek dagang makanan apakah halal?

Maka hipotesisnya adalah sebagai berikut:

Ho: sebuah merek makanan bernama “X” tidak halal.
H1: sebuah merek makanan bernama “X” halal.

2. Contoh Hipotesis Nol

  1. Ho: Tidak ada perbedaan kinerja perusahaan “X” apabila dibandingkan dengan perusahaan “Y”; atau ada persamaan kinerja perusahaan “X” dan perusahaan “Y”, atau
  2. Ho: Kinerja perusahaan “X” lebih besar atau sama dengan (≥) perusahaan “Y” (“lebih besar atau sama dengan” = paling sedikit).
  3. Ho: Kinerja perusahaan “X” lebih kecil atau sama dengan (≤) perusahaan “Y” (“lebih kecil atau sama dengan”=paling besar)

3. Contoh Hipotesis Searah

Hipotesis searah pada disusun sebagai pernyataan yang menunjukkan arah hubungan atau perbedaan dari dua variabel yang sedang diteliti. Artinya arah mencerminkan hubungan positif atau sebaliknya negatif.

Contohnya adalah sebagai berikut:

“Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin tinggi peluang kesuksesan” menunjukkan arah hubungan yang positif.

“Semakin tinggi konsep diri, maka semakin rendah agresivitas” menunjukkan arah hubungan yang sifatnya negatif.

4. Hipotesis Hubungan (asosiatif)

Pernyataan yg menunjukkan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Contoh rumusan hipotesis asosiatif adalah sebagai berikut:

  • Apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kesuksesan?
  • Apakah ada pengaruh penambahan pendidikan terhadap kesuksesan?

5. Contoh Hipotesis Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah metode pengamatan yang mendalam. Chua (1986) menyatakan bahwa metode kuantitatif yang menekankan pada hipotesis-deduktif memiliki keterbatasan dalam menjangkau permasalahan yang diteliti.

Sebagai contoh, peneliti melakukan observasi mengenai manfaat menggunakan smartphone di sekolah untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

H0: tidak ada hubungannya siswa yang membawa ponsel dengan konsentrasi belajar pada siswa.
H1: adanya hubungan dan pengaruh membawa ponsel dengan konsentrasi belajar pada siswa.

x

Adblock Detected

Harap Matikan Ad Blocker