Semiotika menurut Ferdinand de Saussure adalah ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Pemikiran ini dituangkan dalam karyanya Course in General Linguistics yang ditulis pada rentang tahun 1857 hingga 1913.
Saussure menegaskan bahwa tanda bukan sekadar lambang atau simbol, melainkan sebuah sistem yang hidup di tengah masyarakat, digunakan untuk berkomunikasi, serta menjadi sarana untuk membangun pemahaman bersama.
Ferdinand de Saussure adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Swiss yang dikenal luas sebagai pelopor kajian linguistik modern.
Pemikirannya memberi landasan bagi lahirnya ilmu semiotika yang kemudian berkembang pesat dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari bahasa, sastra, komunikasi, hingga budaya.
Dengan gagasannya, ia berhasil menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat untuk berbicara, melainkan juga sebuah struktur sosial yang penuh aturan.
Dalam penjelasannya, Ferdinand de Saussure menggunakan istilah semiologi untuk menyebut kajian tentang tanda. Semiologi ini menurutnya memiliki peran penting karena setiap tindakan, ucapan, maupun perilaku manusia selalu membawa makna.
Selama suatu perbuatan dapat dipahami sebagai tanda, maka di baliknya pasti terdapat sistem perbedaan dan konvensi yang mengatur.
Dengan kata lain, tanda tidak pernah berdiri sendiri, tapi selalu berhubungan dengan tanda lain dalam suatu sistem yang memberi arti dan memungkinkan orang untuk memahami maksud yang ingin disampaikan.
Saussure menegaskan bahwa di mana ada tanda, di sana pasti ada sistem yang menopang keberadaannya.
Pandangan ini sebagaimana dikutip oleh Hidayat dalam tulisannya pada tahun 1998 halaman 26, menekankan bahwa tanda hanya bisa dipahami melalui keterkaitannya dengan tanda lain dalam suatu jaringan makna.
Dengan kerangka inilah semiologi kemudian dipahami sebagai ilmu yang menyingkap aturan, perbedaan, dan kesepakatan sosial yang membuat sebuah tanda bermakna bagi manusia.








