Penulis: Bung Aguk

  • MI Darunnajah II Banyuwangi Peringati Hari Pahlawan, Hadirkan Veteran Berpuisi dan Ceritakan Kisah Perjuangan

    MI Darunnajah II Banyuwangi Peringati Hari Pahlawan, Hadirkan Veteran Berpuisi dan Ceritakan Kisah Perjuangan

    Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, MI Darunnajah II Banyuwangi menggelar lomba baca puisi bertema kepahlawanan dan mengundang veteran untuk berbagi cerita sejarah perjuangan Indonesia.

    Acara ini diadakan untuk memperkenalkan sejarah pahlawan kepada siswa serta memotivasi mereka dalam meraih cita-cita, terinspirasi dari semangat para pahlawan.

    Kegiatan yang berlangsung diikuti oleh 17 peserta dari kelas 1 hingga 6 sebagai bagian dari seleksi Porseni MI.

    Acara dimulai dengan penyampaian sejarah perjuangan kemerdekaan oleh veteran Sekretaris LVRI, Suwadi, serta IGB Sudharma, seorang sastrawan realis dan veteran Seroja yang akan menerbitkan buku fiksi berlatar sejarah perang Timor Timur melalui Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Dalam penyampaian materinya, Suwadi menjelaskan bahwa veteran adalah Warga Negara Indonesia yang pernah tergabung dalam satuan bersenjata resmi dan berperang melawan negara asing demi mempertahankan kemerdekaan NKRI.

    Ia menekankan bahwa perang di Indonesia tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga taktik sosial seperti memahami bahasa dan adat istiadat lawan.

    “Penjajahan bukan hanya bersenjata; penjajah juga membuat rakyat kita bodoh dan miskin. Di masa sekarang, mereka menggunakan teknologi komunikasi, dulu breaker untuk kontak, sekarang menggunakan dunia maya,” tutur Suwadi sambil mencontohkan dialog dengan bahasa daerah Timor Timur dalam percakapan tentang tanam jeruk dan panen kopi.

    IGB Sudharma turut memberikan pesan kepada siswa MI Darunnajah II agar generasi muda rajin belajar agar menjadi pemimpin bangsa.

    “Anak-anak harus rajin belajar dan pintar agar menjadi pemimpin bangsa yang meneruskan perjuangan kami, para veteran. Hormati orang tua dan guru, banyak membaca, serta mengikuti informasi dari radio, televisi, dan buku. Bangsa ini butuh generasi cerdas dan pekerja keras, bukan pemalas. Jangan tenggelam dalam HP hingga lupa belajar dan ibadah.”

    Sudharma kemudian membacakan puisi "Pahlawan Tanpa Nama" yang ia tulis khusus malam sebelumnya.

    Meskipun kondisinya kurang sehat, ia tetap semangat bertemu dengan para siswa, menyampaikan pesan perjuangan yang menginspirasi.

    Kepala MI Darunnajah II, Majidah Himmah, S.Ag (anak KH Makshum Syafi'i) melalui Ketua Panitia, Miss Aida Aristia Dewi, S.Pd., berharap para siswa dapat memetik hikmah dari acara ini, salah satunya adalah meresapi semangat perjuangan para pahlawan.

    Diharapkan, siswa memahami bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan oleh para pahlawan masa lalu, tetapi juga bisa dilanjutkan oleh mereka di masa kini dengan berfokus pada pendidikan dan pengembangan diri.

    Sebagai pelajar, mereka diharapkan menempuh pendidikan yang keras untuk mencapai prestasi akademis dan menjadi anak yang sholehah.

    Kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan sejarah bangsa dan kisah perjuangan para pahlawan sehingga siswa menjadi lebih cinta dan bangga sebagai anak Indonesia.

    Acara juga dirangkai dengan kegiatan keagamaan seperti hafalan Al-Qur'an, tahlilan di makam pahlawan yayasan seperti KH Harun dan KH Makhum Syafi'i yang dipimpin oleh Ustadz Nasrudin, S.Ag., lomba baca puisi, fragmen pantomim perobekan bendera biru, serta menyanyikan lagu nasional "Indonesia Pusaka."

    Kepala Madrasah apresiasi terima kasih ke veteran serta siswi prestasi yang mengharumkan nama madrasah dalam event lomba EO Bina Vokalia di Disbudpar dan Komunitas Gotongroyong'45 di Masjid Al Hilal 2 bareng Sanggar Merah Putih'45, JRKBB-JRKI, IWAPI, UMKK Segoro'45 serta Sedulur Teraphys Blambangan yang didukung media sastrawacana.id/ dan jurnalnews.

    Sementara itu, Bung Aguk Darsono, juri lomba sekaligus anggota G2 Mastrip Jatim yang ayahnya ikut bertempur dalam peristiwa 10 November bersama Bung Tomo dan arek-arek Surabaya, berharap agar acara ini bermanfaat bagi siswa MI Darunnajah II.

    Ia menegaskan bahwa momentum peringatan ini dapat memberikan inspirasi kepada siswa untuk terus memelihara semangat perjuangan dan memperkuat karakter diri sesuai cita-cita para pendiri bangsa.

    “Semoga momentum ini dapat menginspirasi dan bermanfaat bagi semua pihak, serta semoga semangat perjuangan para pahlawan terus diteruskan oleh generasi muda Indonesia,” ujarnya.

    Perayaan Hari Pahlawan ini melanjutkan tradisi peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober yang lalu, di mana setiap kelas bersama paguyuban menampilkan kuliner, seni adat, busana Nusantara, dan drama bertajuk "Banyuwangi: Indonesia Mini" yang menggambarkan keberagaman dalam harmoni di Bumi Blambangan, sesuai semangat Bhinneka Tunggal Ika. (Q'Nin/AWN)

  • Perkins Internasional Gelar Seminar Dukungan Anak Berkebutuhan Khusus di Banyuwangi

    Perkins Internasional Gelar Seminar Dukungan Anak Berkebutuhan Khusus di Banyuwangi

    Perkins Internasional yang telah lama berkomitmen untuk mendukung Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) kembali menggelar acara akbar di Hotel Aston Banyuwangi, pada 4-5 November 2024.

    Acara ini melibatkan berbagai pihak dan fokus pada seminar serta lokakarya yang menjalin kerjasama antara orangtua dan guru dalam menyusun Program Individual yang berpusat pada anak.

    Mrs. Chen Min Parerra, perwakilan dari Las Vegas, USA, yang bertugas di wilayah Asia Pasifik menyampaikan rasa cintanya terhadap Banyuwangi dalam sebuah sambutan yang diterjemahkan oleh Candra Padmasvasti dan JBI Firdaus Alvian.

    “Saya lama mendengar, maka saya sayang Banyuwangi,” ujar Chen Min Parerra.

    Dalam pidatonya, ia mengharapkan agar guru tidak hanya berperan di sekolah, tetapi juga di rumah, seperti dalam aktivitas panen atau memasak.

    “Penting untuk menjaga kualitas pendidikan agar anak-anak mandiri dan mampu menjaga keselamatan diri. Mereka harus dapat bermain, bekerja, dan berkontribusi kepada masyarakat,” ujarnya.

    Chen Min juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung kaum disabilitas.

    Sutikno, S.Pd., M.Pd., Kabid Dinas Pendidikan menyampaikan bahwa Banyuwangi telah mengambil langkah signifikan untuk kaum disabilitas melalui berbagai inovasi, seperti Festival Kita Bisa serta produk hukum berupa Perda dan peraturan bupati.

    Kepala Dinas Pendidikan Wilayah Jawa Timur di Banyuwangi yang bertanggung jawab atas SMA/SMK dan SLB, juga memberikan pesan kepada orangtua yang memiliki anak difabel.

    Ia mengingatkan agar tidak berkecil hati dan selalu bersyukur.

    “Allah Yang Maha Sempurna pasti memberikan hikmah bagi kita yang bersabar dan terus berdoa. Tugas kami adalah melayani dan bersinergi untuk semua!” ujarnya dengan penuh semangat seraya salut kepada Yayasan Matahati pimpinan Masfufah, M.Pd yang menggelar acara Perkins se-Jawa Bali di Banyuwangi.

    Fanti, seorang ibu yang membawa anaknya penyandang tunarungu menekankan pentingnya peran guru dalam mendampingi siswa di rumah, serta mendorong orangtua untuk berkomunikasi aktif dengan guru mengenai perkembangan anak.

    “Jangan ajari saya untuk sabar. Saya terus belajar untuk bersyukur!” kata Pipit, yang memiliki putra tunadaksa.

    Sementara itu, Ketua Aura Lentera, Nurhadi Windoyo (tunanetra), menekankan bahwa pendidikan bagi orangtua dengan anak cacat sangat penting untuk masa depan anak-anak mereka.

    Acara ini menandai langkah positif dalam mendukung pendidikan dan kesejahteraan anak berkebutuhan khusus di Banyuwangi, memberikan harapan bagi orangtua dan anak-anak untuk masa depan yang lebih baik. (AW/Q’Nin)

  • Bawaslu Banyuwangi Gelar Sosialisasi Pemilu Ramah Difabel Bareng Komunitas Aura Lentera

    Bawaslu Banyuwangi Gelar Sosialisasi Pemilu Ramah Difabel Bareng Komunitas Aura Lentera

    Bawaslu Kabupaten Banyuwangi adakan sosialisasi partisipasi pemilu bagi penyandang disabilitas di Hotel El Royal Banyuwangi, pada Minggu (3/11/24).

    Gelaran ini bertujuan untuk memastikan kesetaraan hak politik bagi para difabel dalam pilkada 27 November mendatang.K

    Komisioner Bawaslu Kabupaten Banyuwangi, Khomisa Kurnia Indra membuka acara yang dihadiri oleh organisasi difabel diantaranya DMI, PPDI, Pertuni, Difawangi, HWDI, Gerkatin, INAF, Taliwangi, Aura Lentera, serta media komunitas pendukung difabel, yaitu JRKBB dan JRKI.Y

    Yel-yel “Setara untuk Indonesia Jaya” disampaikan juga dalam bahasa isyarat yang dipimpin oleh Divisi Program Komunitas Aura Lentera Indah Catur Cahyaningtyas dengan penerjemah bahasa isyarat Firdaus.

    Kehadiran Firdaus memastikan seluruh peserta difabel tuna rungu dapat mengikuti sosialisasi dengan baik.

    Materi utama disampaikan oleh Indah Catur Cahyaningtyas, aktivis difabel yang pernah jadi PPK Banyuwangi dah Caleg Dapil 1 yang mengajak peserta memahami hak politik mereka.

    Indah menegaskan pentingnya partisipasi difabel dalam pemilu untuk menentukan arah pembangunan daerah.

    Selain itu, ia menyoroti perlunya Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ramah difabel agar akses pemilih difabel lebih mudah.

    Dalam sesi diskusi interaktif, ia mengajak peserta berbagi pengalaman tentang kendala yang pernah dihadapi dalam pemilu sebelumnya sebagai bahan evaluasi bagi Bawaslu untuk perbaikan di masa depan.

    Di akhir sesi tanya jawab, Windoyo, Ketua Aula Lentera menyampaikan apresiasinya dan berharap agar Bawaslu memberikan dukungan penuh terhadap hak politik difabel.

    “Kami berharap Bawaslu bareng KPUD benar-benar memperhatikan kebutuhan difabel dalam pemilu kali ini,” paparnya.

    Sosialisasi ini menunjukkan komitmen Bawaslu Banyuwangi dalam menciptakan pemilu yang inklusif dan merata bagi seluruh warga, tanpa terkecuali.

    Kami ingin partisipasi pemilih meningkat dan berkualitas sesuai regulasi serta damai hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara saling sinergi dan peduli tanpa melihat perbedaan yang ada,” tutur pimpinan sekretariat Banwaslu Abdul Aziz,SH,MH. (AW/AWN)

  • Dua Buku Puisi Rissa Churria Resmi Diluncurkan, Jadi Inspirasi Penulis Muda Banyuwangi

    Dua Buku Puisi Rissa Churria Resmi Diluncurkan, Jadi Inspirasi Penulis Muda Banyuwangi

    Rissa Churria, penulis puisi asal Banyuwangi yang kini menetap di Depok resmi meluncurkan dua buku puisi terbarunya berjudul Kitab Puisi Kecup Selalu untuk Rasulullah dan Larung Murung.

    Acara peluncuran berlangsung khidmat di Arjuna Cafe dan Resto, Kemiren, Banyuwangi, pada Minggu (27/10/2024), dihadiri oleh sejumlah tokoh sastra serta komunitas seni Banyuwangi.

    Ketua Jagat Sastra Milenial, Riri Satria memberikan apresiasi atas konsistensi Rissa yang merupakan anggota komunitas tersebut dalam berkarya.

    Dalam sambutannya, Riri menyebutkan bahwa Rissa adalah sosok penulis produktif yang terus berkarya di sela-sela kesibukannya sebagai pengajar.

    “Karya-karya Rissa selalu menyiratkan pesan-pesan mendalam. Dedikasinya menjadi inspirasi bagi banyak penulis muda,” ungkap Riri.

    Syafaat, Ketua Komunitas Lentera Sastra, dan Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB) turut hadir dan memberikan dukungan terhadap perkembangan sastra di Banyuwangi.

    Antariksawan Yusuf dari Media Belambangan.com dan Aekanu Haryono, Ketua Komunitas Killing Osing Banyuwangi juga hadir untuk menunjukkan dukungan mereka.

    Hasan Basri berharap semakin banyak penulis sastra dari Banyuwangi yang dapat dikenal di kancah internasional.

    Dalam momen spesial ini, Riri Satria juga memberikan bingkisan buku kepada dua kepala madrasah yang hadir, yakni Majidatul Himmah dari MI Darunnajah 2 Banyuwangi dan Sugeng Maryono dari MTsN 10 Banyuwangi.

    Keduanya menyampaikan rasa terima kasih atas buku-buku tersebut yang akan menjadi bacaan inspiratif bagi para siswa.

    Peluncuran buku ini menjadi bukti konsistensi Rissa Churria dalam memperkaya dunia sastra Banyuwangi meskipun tinggal di luar kota.

    Acara ini sekaligus menutup rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) yang digelar pada 24-26 Oktober 2024.

    Diskusi hangat yang dipandu oleh Syafaat menambah semarak acara, dan sebagai bentuk apresiasi, Rissa memberikan buku kepada semua yang hadir.

  • MTsN 6 Banyuwangi Sambut Kehadiran Sastrawan Malaysia dalam Rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara

    MTsN 6 Banyuwangi Sambut Kehadiran Sastrawan Malaysia dalam Rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara

    Sebagai bagian dari rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara dalam Festival Sastra dan Gandrung Sewu, sebanyak 200 penyair mengunjungi 33 sekolah tingkat SMP, MTs, MA, dan SMA di Kabupaten Banyuwangi.

    MTs Negeri 6 Banyuwangi yang terletak tak jauh dari Pasar Sapi Karangharjo Glenmore, termasuk dalam program “Sastrawan Goes to School”.

    Sastrawan yang ditugaskan meliputi Norasmah Binti Mohd Noor asal Malaysia, Tri Wulaning Purnami, guru SMKN 1 Surabaya, Yeti Chotimah, guru SMPN 3 Rogojampi dengan prestasi di bidang seni budaya dan literasi, serta Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang dikenal kerap membimbing pembacaan puisi, pidato, pantomim, dan bercerita.

    Acara yang berlangsung pada Jumat (25/10/24) diawali dengan hadrah bersholawat dan Mars MTsN 6 Banyuwangi, serta pantun sebagai sambutan bagi para penyair.

    Kepala MTsN 6 Banyuwangi, Kholiq Masduki, S.Pd., M.Si., menyambut hangat kedatangan para sastrawan.

    “Kesempatan langka bagi murid-murid kami untuk mendapatkan ilmu dari para penyair. Semoga murid kami dapat memanfaatkan anugerah ini sebaik-baiknya. Dengan menulis, adab dan akhlak akan semakin halus,” ungkap alumni Universitas Jember dan ITS ini.

    Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, yang merupakan anggota Komunitas Lentera Sastra dan pencipta Mars MTsN 6, H. Nur Saewan, M.Pd., juga menyampaikan selayang pandang tentang wisata dan sejarah Glenmore.

    Di antaranya terdapat perkebunan kopi, coklat, karet, dan tebu, serta 13 destinasi wisata yang menjadikan Glenmore dikenal sebagai “Secuil Eropa di Pulau Jawa.”

    Dalam acara tersebut, dua siswi, Fitri dan Nazifa El Hadi, turut tampil membacakan puisi.

    Fitri membawakan karya bertema Hari Santri, sementara Nazifa dengan penuh semangat membacakan puisi karya Bung Karno.

    Dipandu oleh Ibu Setyorini, acara ini diikuti oleh 101 murid dari kelas 7, 8, dan 9 A.

    Materi pertama disampaikan oleh Cikgu Norasmah yang menjelaskan cara menggali ide cerita dari pengalaman pribadi, curhatan teman, atau lingkungan sekitar.

    “Cakap sekali, dalam 5 menit ada 8 anak yang berhasil membuat cerita anekdot!” ujar dosen asal Melaka Selangor ini, yang meski sering ke Indonesia, baru pertama kali mengunjungi Banyuwangi.

    “Ayo terus berkarya, nanti kalian bisa diundang ke Malaysia!” ucapnya, yang disambut tepuk tangan meriah.

    Saat ditanya oleh Arina, seorang murid, tentang perbandingan literasi antara Malaysia dan Indonesia, Cikgu Norasmah memuji etos kerja orang Madura dan Minang yang ditemuinya di Malaysia.

    Pemateri berikutnya, Bu Wulan yang telah menerbitkan lebih dari 100 karya sastra dan dinobatkan sebagai salah satu dari 10 penulis fiksi terbaik di Jawa Timur, menjelaskan bahwa puisi memiliki teori dan rumus tersendiri.

    “Puisi itu lebih berat dari novel dan cerpen karena lebih padat,” katanya. Ia juga memberi tugas kepada murid untuk membuat puisi minimal 3 baris dan maksimal 3 bait, dan akan memilih 3 karya terbaik.

    Bung Aguk kemudian memberikan tips memenangkan lomba baca puisi, serta mempraktikkan teknik pernapasan, artikulasi vokal, dan penggunaan suara perut.

    “Pembimbing sebaiknya tidak langsung menyuruh anak membaca, tetapi lebih dulu membedah puisi untuk menangkap esensinya,” ujar pembina Sanggar Merah Putih ’45 yang banyak anak didiknya sukses meraih trofi lomba.

    Ia juga tampil membacakan puisi karyanya yang dikurasi dalam Banyu 7 Sumber.

    Mbok Yeti Chotimah, Ketua MGMP Bahasa Using dan Guru Penggerak SMPN 3 Rogojampi, turut membacakan puisi dari buku Ijen Purba: Tanah Air Batu, sambil mengapresiasi kreativitas peserta didik.

    Kunjungan ini diakhiri dengan nuansa sastra dalam kehidupan di MTsN 6, dimulai dengan menikmati kopi robusta Kalibaru di lounge transit, lalu diakhiri dengan acara makan siang di Doesoen Kakao dengan aneka kuliner berbahan coklat, dipandu oleh Budiyati, seorang pendidik yang bersuamikan seorang sinder. (AWN/YC)

  • Antologi Ijen Purba Satukan 200 Penyair se-Asia Tenggara dalam Pesta Sastra Banyuwangi

    Antologi Ijen Purba Satukan 200 Penyair se-Asia Tenggara dalam Pesta Sastra Banyuwangi

    Pendopo Sabha Swagata Banyuwangi menjadi saksi peluncuran antologi puisi bertajuk Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu yang meloloskan 200 penyair se-Asia Tenggara, pada Kamis (24/10/24).

    Acara ini dibuka dengan suara Gending Jagakaryo yang harmonis berpadu dengan sholawat jamaah Masjid Agung Baiturahman yang melaksanakan sholat hajat setiap malam Jumat.

    Acara tersebut dihadiri oleh para penyair terkemuka dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yang merayakan persaudaraan sastra lintas negara dalam Festival Sastra.

    Festival ini juga diisi dengan seminar, pertunjukan wayang, dan Gandrung Sewu di Pantai Marina Boom.

    Pembukaan acara dilakukan oleh PJ. Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Dr. Guntur Priambodo yang juga membacakan puisi karya Elvin Hendarta.

    Guntur Priambodo yang juga seorang ahli musik dan perbankan, membawakan puisi tersebut dengan penuh penghayatan, menciptakan suasana khidmat yang mencerminkan keindahan serta keunikan alam dan budaya Banyuwangi.

    Dr. Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi memimpin doa di hadapan para peserta yang memenuhi acara yang dihadiri oleh banyak seniman dan budayawan.

    Doa ini menjadi simbol harapan untuk kebaikan, kesuksesan, dan keharmonisan dalam kehidupan yang dipenuhi nilai-nilai spiritual dan seni.

    Ketua panitia penyelenggara, M. Iqbal Baraas, SH, M.Hum yang akrab disapa Mawar Merah, mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terhadap kesuksesan acara ini.

    Kehadiran KH. D. Zawawi Imron, penyair legendaris asal Madura yang dikenal dengan karya terkenalnya Sang Celurit Emas, semakin menambah aura kebangsawanan sastra malam itu.

    Penyair asal Batang-Batang Sumenep ini, setelah membacakan puisi legendaris IBU yang diciptakan di Prejengan Rogojampi tahun 1966, beranjak ke Masjid Agung untuk mengikuti siraman rohani.

    Antologi Ijen Purba merupakan persembahan yang menghormati alam Banyuwangi, memaknai kedalaman elemen tanah, air, dan batu, serta menyuarakan kekuatan alam sebagai bagian dari perjalanan manusia.

    Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, mengungkapkan bahwa beberapa anggotanya berhasil lolos kurasi JSAT, termasuk tujuh anggota lainnya, serta banyak penyair dari Sanggar Merah Putih’45, Sengker Kuwung Belambangan, dan Dewan Kesenian Blambangan yang juga berhasil.

    Pada acara pembukaan, KH. D. Zawawi Imron membacakan puisi yang berhubungan dengan Banyuwangi, khususnya Rogojampi.

    Penyerahan buku kepada madrasah diterima oleh Dr. Chaironi Hidayat, sementara untuk sekolah diterima oleh Suratno, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

    Dari ratusan puisi yang masuk, hanya 200 yang berhasil lolos di tangan kurator Wayan Jengki Sunarta (Bali), Mutia Sukma (Yogyakarta), dan Mahwi Air Tawar (Bandung).

    Selain dihadiri oleh Forkopimda Kabupaten Banyuwangi, acara ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh sastra, seperti Tengsoe Tjahyono, Riri Satria (Universitas Indonesia), dan Dr. Dewi Motik Pramono dari DPP IWAPI.

    Rohani Din asal Singapura juga mengungkapkan kesan mendalam terhadap Jambore Sastra di Banyuwangi,

    “Saya lebih awal datang ke Banyuwangi agar lebih lama menikmati indahnya alam,” ungkap Bunda Anie, sapaan akrabnya.

    Pada hari kedua Jambore Sastra, Jumat (25/10/24), para penyair akan menyebar ke beberapa sekolah dan madrasah di Kabupaten Banyuwangi untuk berbagi pengalaman di bidang sastra.

    Diharapkan, para pelajar di Banyuwangi dapat menjadi sastrawan internasional. (Syaf/Aguk)

  • Laros Ikut Jambore Cerpen BBJT di Surabaya, Karya Siswa Banyuwangi Menuju Panggung Nasional

    Laros Ikut Jambore Cerpen BBJT di Surabaya, Karya Siswa Banyuwangi Menuju Panggung Nasional

    Sebanyak 20 siswa berbakat dari Banyuwangi dan Madura mengikuti Perkemahan Cerpen Bahasa Ibu yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) di Swiss-Belinn Hotel Surabaya, pada 21-25 Oktober 2024.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi siswa dalam menulis cerpen berbahasa daerah serta melestarikan bahasa ibu.

    Karya-karya terbaik para peserta akan dibukukan dan diterbitkan oleh BBJT.

    “Kami berharap kegiatan ini dapat menginspirasi siswa untuk terus berkarya dan mencintai bahasa daerahnya,” ungkap Kepala BBJT Dr. Umi Kulsum, M.Hum.

    Para peserta yang merupakan pemenang Festival Tunas Bahasa Ibu tahun 2023 dan 2024 mengikuti serangkaian pelatihan menulis cerpen di bawah bimbingan para ahli.

    Mereka juga berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

    “Ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan menulis kreatif mereka,” ujar Yeti Chotimah, S.Pd., M.Art., Ketua MGMP Bahasa Using SMP.

    Siswa Banyuwangi yang ikut serta kali ini adalah Mochamad Khoirul Anam (SDN 3 Sraten), Khansa Ramadani Kusuma (SDN 1 Kabat), Kalea Nadhira Fiorenza (SDN Kepatihan), Aqira Fayyola Nadifa (SDN 2 Karangsari), Rizkia Talita Zahra (SDN Olehsari), Gadis Sifatus Soleha (SMPN 2 Srono), Putri Hidayatul Meicha (SMPN 3 Rogojampi), Frisca Dwi Maulida (SMPN 1 Kabat), Jazilah Iga Palsa (SMPN 2 Cluring), dan Nadhiva Rahmadania Putri (SMPN 2 Banyuwangi).

    Setiap siswa didampingi oleh seorang guru. “Tentu ini ilmu berharga kembangkan ilmu sastra fiksi dan melestarikan bahasa ibu sesuai daerahnya!” tambah Yeti Chotimah, S.Pd., M.Art.

    BBJT juga berkomitmen untuk mendukung pelestarian bahasa daerah di Jawa Timur.

    Selain Perkemahan Cerpen, BBJT juga menyelenggarakan kegiatan seperti Festival Teater Jawa dan Revitalisasi Bahasa Daerah di sejumlah kabupaten.

    Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap pelestarian bahasa daerah.

    “Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga merupakan warisan budaya yang harus kita jaga,” tegas Umi Kulsum.

    BBJT berencana untuk menyelenggarakan Perkemahan Cerpen kembali tahun depan, serta terus mengembangkan program-program yang mendukung pelestarian bahasa dan sastra daerah. (Yechot/Aguk)

  • Maulid Nabi di SMKN Kalipuro Hadirkan Cicit Kyai Saleh Lateng dan Kolaborasi Puisi Hadrah

    Maulid Nabi di SMKN Kalipuro Hadirkan Cicit Kyai Saleh Lateng dan Kolaborasi Puisi Hadrah

    SMKN 1 Kalipuro, Banyuwangi, merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan meriah pada Kamis, 26 September 2024.

    Kegiatan ini ditandai dengan arak-arakan jodang ndog-ndogan antar kelas yang diiringi drum band, sebagai bagian dari implementasi P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).

    Kepala SMKN 1 Kalipuro, Sulihah, M.Pd, melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan, Sri Susilowati, S.Pd, menyampaikan bahwa siswa diberikan kebebasan untuk mengekspresikan kreativitas mereka dalam membuat jodang yang sesuai dengan karakter dan filosofi masing-masing.

    “Harapannya, kegiatan ini mengajarkan kebersamaan dan semangat kerja keras, seperti yang ditunjukkan dalam pembuatan jodang berbentuk kapal phinisi dan ombak yang bergerak,” ujar Bu Sri.

    Ia juga terharu melihat toleransi dan gotong royong yang terjadi antar siswa dari berbagai agama, mencerminkan semangat Pancasila yang kuat.

    “Semangat kebersamaan ini benar-benar terasa,” tambahnya.

    Nantinya, SMKN Kalipuro akan menerapkan P5 lebih lanjut di Surabaya, sekaligus mendapatkan sertifikat profesi kelautan.

    Ketua panitia, Drs. H. Mohammad Shodiqin, M.Pd, yang didampingi oleh guru P3K, H. Wawuh, dan pengurus komite Bu Erna dan Pak Mansyur, menyampaikan kegembiraannya atas antusiasme para siswa dalam memaknai peringatan Maulid Nabi.

    “Kami berharap dengan semangat ini, kelak kita semua mendapatkan syafaat dari Rasulullah di hari kiamat,” ungkapnya.

    Salah satu highlight dari acara ini adalah penampilan puisi karya Ketua Panitia Drs. H. muhammad Shodiqin, yang juga pengurus PC PERGUNU dan Kosgoro MasTRIP.

    Puisi yang berjudul “Rinduku Untuk Muhammadku” tersebut dibawakan oleh Maysaroh Putri Maulidah, alumni SMPN 1 Situbondo, dan Cleo Heaven Valisma, alumni SMP Eka Tjipta, Borneo. Penampilan puisi ini memukau para hadirin.

    Dalam kesempatan yang sama, Ustaz Rachman Zainudin, S.H.I, cicit Kyai Saleh Lateng, hadir sebagai penceramah.

    Ia mengingatkan warga Banyuwangi untuk bangga akan sejarah besar Banyuwangi, seperti penciptaan Sholawat Badar oleh KH Ali Mansur yang pernah menjadi Kepala Kemenag Banyuwangi.

    Ustaz Rachman juga mengatakan bahwa ada putra Banyuwangi yang kini menjabat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB).

    Namun, ia juga mengingatkan untuk tidak terlalu bangga, mengingat Banyuwangi berada di peringkat keempat tertinggi dalam kasus perceraian di Indonesia.

    Kang Mamang, sapaan akrab Ustaz Rachman, berpesan agar kesuksesan dapat diraih dengan banyak bersholawat, berbakti kepada orang tua, serta menghormati guru dan staf TU untuk keberkahan ilmu.

    “Tegakkan sholat lima waktu!” ujarnya sambil mengajak jamaah berselawat dan menyanyikan lagu “Keramat” karya Rhoma Irama.

    Sementara itu, Kepala Tata Usaha Semakapura, Bogi Ananda, S.AP, menyampaikan bahwa beberapa jurusan seperti Niaga, Nautika Navigasi, dan Tehnika telah memenuhi pagu siswa.

    Namun, jurusan seperti Pengelasan, Boga Hotel, dan jurusan Listrik Pendingin masih kurang diminati meskipun peluang kerja di bidang tersebut sangat terbuka lebar.

    “Ayo kita bersama-sama mempromosikan agar lebih banyak kader maritim yang lahir dari sini,” ujarnya.

    Peringatan Maulid ini menjadi momen penting untuk merefleksikan diri dan mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat gotong royong dan kebersamaan di kalangan siswa.