Pelari Terakhir
Lomba maraton di kotaku biasanya diadakan setiap musim panas. Semua jalan raya yang dilalui para pelari akan ditutup aksesnya untuk semua kendaraan kecuali ambulans. Tugasku adalah mengikuti pelari dari belakang di ambulans sebagai petugas medis. Pak sopir dan aku berada di dalam mobil yang sejuk berkat AC, mulai mengikuti pelari dengan perlahan. Kami harus tetap berada di belakang pelari terakhir hingga mencapai garis finis.
“Pak, saya harap pelari terakhir berlari dengan cepat!” kata Pak sopir sambil tertawa. Saat tanda untuk memulai maraton diberikan, para pelari terdepan mulai menjauh dari pandangan kami. Saat itu, mataku tertuju pada seorang wanita yang mengenakan celana biru dan baju putih longgar.
“Pak, lihatlah itu,” kataku sambil menunjuk wanita tersebut di depan kami.
Kami sadar bahwa dia akan menjadi “pelari terakhir”. Rambutnya beruban, postur tubuhnya tidak lagi tegap, dan kakinya sedikit pincang. Bahkan hanya berjalan pun sudah tampak sulit, apalagi mengikuti lomba maraton.
Pak sopir dan aku memperhatikan wanita itu dengan diam. Kami akan bergerak maju sedikit, kemudian berhenti untuk menjaga jarak dari pelari terakhir. Lalu, kami maju lagi untuk terus mengikuti langkahnya. Saat aku menyaksikan perjuangannya, ada keinginan dalam hati untuk menghentikannya, tetapi pada saat yang sama, aku berdoa agar dia terus maju. Akhirnya, dia adalah satu-satunya pelari yang tersisa. Air mataku mengalir karena aku merasa takjub dan penuh hormat pada keberaniannya.
Saat garis finis terlihat di kejauhan, sorak-sorai penonton sudah tidak terdengar lagi. Namun, seorang pria berdiri sendirian dengan bangga menunggu kedatangan pelari terakhir. Ia memegang salah satu ujung pita kertas yang terikat pada tiang. Pelan-pelan, pelari terakhir melintasi garis finis tersebut. Kedua ujung pita kertas itu berkibar di belakangnya.
Aku tidak tahu nama wanita itu, tetapi sejak saat itu, dia menjadi bagian dari kehidupanku. Bagi wanita itu, maraton bukanlah tentang mengalahkan orang lain atau memenangkan piala. Ini tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulainya, apa pun yang terjadi. Ketika aku menghadapi kesulitan dalam hidup, aku sering kali teringat pada pelari terakhir itu. Kemudian, aku menyadari betapa mudahnya tugas di hadapanku sebenarnya.
Pertanyaan:
Bagaimana sikap tokoh aku setelah menyadari adanya seorang wanita tua mengikuti perlombaan tersebut?
Centang pada pilihan Benar atau Salah untuk setiap pernyataan berdasarkan isi teks!
- Terharu melihat perjuangan wanita tua meskipun kondisi kakinya sedikit pincang. (Benar/Salah)
- Bangga menunggu kedatangan wanita tua sebagai pelari terakhir yang melintasi garis finis. (Benar/Salah)
- Terinspirasi oleh keteguhan wanita tua itu dalam menghadapi tantangan maraton. (Benar/Salah)
Jawaban:
Benar
Salah
Benar
Penjelasan:
Tokoh “aku” dalam cerita Pelari Terakhir menunjukkan sikap yang penuh empati dan penghargaan terhadap perjuangan wanita tua yang mengikuti lomba maraton meskipun kakinya pincang dan tubuhnya tampak lemah. Hal ini terlihat dari ungkapan bahwa ia sampai meneteskan air mata karena merasa takjub dan hormat atas keberanian wanita tersebut. Maka, pernyataan pertama adalah Benar karena menggambarkan perasaan terharu tokoh utama melihat semangat wanita tua.
Pernyataan kedua adalah Salah, karena tokoh “aku” tidak digambarkan sebagai orang yang bangga menunggu di garis finis. Justru, yang melakukan itu adalah seorang pria tak dikenal yang berdiri sendirian dan memegang pita kertas sebagai simbol penyambutan bagi pelari terakhir.
Pernyataan ketiga adalah Benar, sebab tokoh “aku” mengakui bahwa sejak kejadian itu, sosok wanita tua tersebut telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia sering mengingatnya saat menghadapi kesulitan, dan dari situlah ia mendapatkan inspirasi untuk tidak mudah menyerah. Artinya, tokoh “aku” benar-benar terinspirasi oleh keteguhan wanita tua itu.







