Biografi Mas Pur

Perhelatan pilkada Banyuwangi akan segera digelar, sejumlah nama pun mulai bermunculan, salah satunya adalah Purnomo S.Sos, M.Si atau yang lebih akrab disapa Mas Pur.

Mas Pur adalah calon bupati yang cukup populer saat ini. Namanya cukup banyak dibincangkan oleh masyarakat Banyuwangi, termasuk warganet di Sosial Media.

Hal tersebut dikarenakan ‘gaya’ nya yang terkesan kekinian, alias milenial. Ya, Mas Pur digadang sebagai calon pemimpin milenial yang merangkul semua golongan, termasuk anak muda.

Mengusung tajuk ‘Banyuwangi Lebih Hebat’, Mas Pur memiliki visi dan misi untuk memajukan Banyuwangi dari berbagai sektor, khususnya pendidikan, kesehatan, pertanian, dan keagamaan.

Hadirnya Mas Pur dalam kontestasi politik kali ini memang menjadi sebuah angin segar bagi suhu politik di Banyuwangi. Pasalnya, Mas Pur adalah calon bupati jalur independen yang telah mengumpulkan puluhan ribu KTP masyarakat Banyuwangi sebagai bentuk dukungan kepadanya.

Saat ini namanya melejit, ditambah dengan karirnya yang gemilang. Namun, ternyata kesuksesannya saat ini tidak diraih dengan mudah. Ada segudang kisah hidup yang membentuk mentalnya sehingga menjadi seperti saat ini.

Masa Kecil Mas Pur

Purnomo lahir pada tanggal 27 Januari 1975 di keluarga petani yang hidup sederhana. Ayahnya yang bernama Boiren adalah petani utun asal Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi.

Kecamatan Sempu adalah salah satu kecamatan yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan peternak. Maka tak heran jika Purnomo kecil sudah bergumul dengan lingkungan pertanian dan peternakan.

Hidup dan berkembang di kalangan bawah, membuat Purnomo kecil memiliki banyak pengalaman yang bisa membentuk mentalnya menjadi seseorang yang kuat dan memiliki harapan tinggi.

Dari situ juga Purnomo merasa adanya kesenjangan sosial di kehidupan bermasyarakat. Purnomo merasa hal tersebut sangatlah sensitif, sehingga ia bercita-cita untuk memberi kontribusi nyata bagi tanah kelahirannya, terutama bagi kalangan petani dan masyarakat kelas bawah.

purnomo-banyuwangi

Pendidikan Mas Pur

Purnomo remaja mengenyam pendidikan di SMPN 1 Rogojampi, kemudian dilanjutkan di SMA Muhammadiyah 2 Genteng, Banyuwangi. Selepas SMA, Purnomo melanjutkan pendidikannya di Universitas Muhammadiyah Malang.

Demi mewujudkan impiannya untuk memajukan tanah kelahiran, Purnomo menyelesaikan studi magisternya dalam bidang Kebijakan Publik Universitas Brawijaya Malang.

Berangkat dari kehidupan kelas bawah, Purnomo memiliki harapan besar agar pemerintah bisa menghadirkan kebijakan yang lebih pro terhadap rakyat kecil, khususnya petani dan peternak.

Studi magister yang ditempuh juga bukan untuk kepentingan pribadi, tapi semata-mata ingin memberi sebuah perubahan nyata bagi kampung halamannya karena Purnomo sangat mengetahui bagaimana kesenjangan yang terjadi pada masyarakat kelas bawah.

Alhasil, pendidikannya tersebut sukses membawa Purnomo menjadi seseorang yang berpengaruh bagi kemaslahatan masyarakat secara luas.

mas-pur-banyuwangi
Sc: Facebook/maspurbanyuwangi

Karir & Prestasi Mas Pur

Pada tahun 2002 Р2013, Purnomo menjadi Konsultan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Selaku konsultan, Purnomo adalah seorang tenaga profesional yang memberi nasihat dan arahan seputar program yang akan dilaksanakan.

Tak tanggung-tanggung, sekitar 11 tahun ia menjadi orang berpengaruh dalam program nasional tersebut. Itu membuktikan bahwa kepiawaian Purnomo dalam menganalisa dan memberi arahan memang tak perlu dipertanyakan lagi.

Selain itu, Purnomo juga terpilih menjadi Juara Nasional Tim Leader Terbaik. Dari prestasi yang gemilang tersebut, akhirnya Purnomo dipercaya sebagai Konsultan Individu Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sejak tahun 2013.

Tugas Purnomo adalah membantu penyelesaian permasalahan lahan di 7 Pos Lintas Batas Negara (PLBN).  Ketujuh Pos PBLN tersebut adalah: PLBN Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), PLBN Motamasin di Kabupaten Malaka, dan PLBN Motaain di Kabupaten Belu. Ketiganya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai perbatasan dengan Negara Timor Leste. PLBN Skouw di Distrik Muara Tami, kota Jayapura, untuk perbatasan dengan Papua Nugini (PNG). Serta 3 PLBN di Kalimantan Barat yang merupakan batas negara Indonesia dengan Malaysia, yaitu PLBN Entikong, di Kabupaten Sanggau, PLBN Aruk di Kabupaten Sambas dan PLBN Nanga Badau di Kabupaten Kapuas Hulu.

Tak sampai di situ, Purnomo juga menjabat sebagai Ketua Forum Peternak Sapi Jawa Timur dari tahun 2010. Jadi, masa kecil Purnomo benar-benar membawanya menjadi orang yang peduli akan kehidupan masyarakat kelas bawah, khususnya petani dan peternak.