Kategori: Novel

  • Sinopsis Burung Burung Manyar Karya Y.B Mangunwijaya

    Sinopsis Burung Burung Manyar Karya Y.B Mangunwijaya

    Judul: Burung Burung Manyar
    Penulis: Y.B Mangunwijaya

    Sinopsis Burung Burung Manyar

    Sebuah kisah percintaan dari seorang tokoh bernama Setadewa atau kerap disebut Teto.

    Teto atau Satadewa adalah anak dari seorang kapten prajurit Belanda (Brajabasuki) yang mempunyai hubungan dengan Larasati (Atik).

    Hubungan keduanya sudah dimulai semenjak mereka kecil, karena keluarga mereka sudah saling mengenal.

    Suatu saat Jepang menguasai Indonesia. Ayah Teto, kapten Brajabasuki ditangkap Jepang.

    Sedangkan ibunya dijadikan gundik oleh salah satu tentara Jepang.

    Baca juga: Sinopsis Novel Rantau 1 Muara Karya A. Fuadi

    Hal inilah yang lantas menyebabkan Teto benci kepada Jepang.

    Semenjak itu, Teto diasuh oleh keluarga Atik yang berdomisili di Jakarta.

    Mulai ada hubungan spesial antara Teto dan Atik karena mereka tinggal dalam satu rumah.

    Beranjak dewasa, Teto mendaftarkan diri menjadi tentara KNIL.

    Ia bertemu dengan mayor Vanbruggen yang dulu mencintai ibunya yang bernama Marice.

    Sementara, Atik beranjak menjadi perempuan yang gandrung akan kemerdekaan Indonesia.

    Ia kagum akan sosok-sosok bangsa Indonesia seperti Sukarno, Hatta, atau Syahrir.

    Kemudian, Atik menjadi asisten dalam kantor perdana menteri Syahrir.

    Teto dan Atik terpisahkan oleh dunia yang berbeda.

    Hubungan mereka juga menjadi renggang karena dunia yang mereka geluti berbeda.

    Atik sudah menaruh hati kepada Teto dan berharap Teto akan melamarnya. Namun itu tidak pernah terjadi.

    Baca juga: Sinopsis Novel Layar Terkembang Karya Sutan Takdir Alisjahbana

    Atik sudah menikah dengan seorang ahli geologi bernama Jana.

    Mereka sudah dikarunia tiga anak yang diberi nama Teto, Padmi, dan Kris.

    Salah satu anak mereka diberi nama sama dengan Teto (Setadewa), untuk mengenang kebersamaan Atik dengan Teto dulu.

    Saat Atik menikah, nama Teto belum benar-benar hilang dari hatinya. Jana pun memaklumi hal ini.

    Teto, dalam hubungannya dengan Verbrugen, dipertemukan kembali dengan ibunya yang ternyata masih hidup dan berada di rumah sakit jiwa di Magelang.

    Walaupun Verbruggen tidak menikah dengan ibu Teto, namun rasa cintanya tetap besar.

    Tak lama kemudian ibunya meninggal. Perang pasca kemerdekaan telah usai.

    Teto meninggalkan Indonesia untuk belajar di luar negeri.

    Sekembalinya ke Indonesia ia menjadi seorang direktur sebuah perusahaan minyak.

    Sebuah momen yang tepat. Ketika Teto kembali ke Indonesia, ternyata Atik akan melakukan ujian tesisnya tentang burung Manyar.

    Teto menghadiri ujian tersebut bersama tamu undangan lain.

    Ia masih terpesona ketika melihat Atik berada di atas podium untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh para penguji.

    Tanpa disadari, Atik juga melihat Teto di antara tamu undangan.

    Selepas ujian, Atik menghampiri Teto yang menginap di salah satu rumah temannya.

    Sontak pertemuan keduanya adalah pertemuan yang emosional dan intim.

    Bagaikan sepasang kekasih yang lama tidak berjumpa, mereka berpelukan dan disaksikan oleh Jana.

    Sebagai suami yang paham akan keadaan istrinya, Jana sangat memaklumi kondisi Atik yang begitu merindukan Teto.

    Baca juga: Sinopsis Novel Belenggu Karya Armijn Pane

    Pertemuan hari itu mengawali keakraban antara Teto, Atik, Jana, dan ibu Antana.

    Keakraban di antara Teto dan keluarga itu terjalin dengan amat baik.

    Mereka saling bercerita tentang keadaan masing-masing, dan Teto dikenalkan pada tiga anak Atik.

    Sampai pada sebuah hal bahwa ayah Jana yang sedang sakit, ingin anaknya pergi naik Haji.

    Permintaan yang sulit karena sebelumnya Jana dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja karena suatu alasan.

    Akhirnya, Jana dan Atik pergi Haji bersama-sama. Namun kabar buruk menimpa mereka.

    Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di Kolombo, Sri Lanka.

    Ayah Jana meninggal tidak lama setelah kejadian itu.

    Kini Teto memiliki peninggalan Atik yang berharga yaitu Teto kecil, Padmi, dan Kris.

  • Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

    Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

    Judul : Ronggeng Dukuh Paruh
    Pengarang : Ahmad Tohari
    Resensi oleh : Laila Fitri (http://laylafiyyy.blogspot.com/)

    Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari merupakan karya sastra fenomenal, menyatukan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jantera Biangkala, dengan memasukkan kembali unsur-unsur yang tersensor selama 22 tahun.

    Setiap cerita dalam novel yang mengandung banyak bahasa tradsisional ini selalu diawali dengan deskripsi suasana sekitar, sehingga membuat pembaca seolah-olah ke dalam cerita.

    Novel Ronggeng Dukuh Paruk telah diangkat ke layar lebar dengan judul film Sang Penari. Film Sang Penari mampu menghidupkan suasana dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

    Gambaran tentang kemiskinan, kekumuhan, dan suasana pedesaan yang khas mampu memenuhi kebutuhan imajinasi pembaca novel Ronggeng Dukuh Paruk.

    Dalam film Sang Penari dikemas dengan sesuatu yang berbeda.

    Film Sang Penari tidak segamblang kata-kata Ahmad Tohari dalam novelnya.

    Ini dikarenakan banyak unsur yang tersensor untuk publik apabila disajikan dalam bentuk visual.

    Novel Ronggeng Dukuh Paruk dalam resensi ini adalah novel cetakan ke tujuh oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

    PT Gramedia telah banyak mencetak karya-karya berkualitas, salah satunya adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk ini.

    Dengan kemasan dan format penulisan yang rapi dapat menarik minat pembaca. Karya ini dilindungi oleh UU RI No 19 tahun 2002 tentang hak cipta.

    Novel ini dipersembahkan untuk lelaki, perempuan, dan anak-anak Dukuh Paruk.

    Novel Ronggeng Dukuh Paruk ini menceritakan sebuah percintaan antarinsan manusia di sebuah daerah Jawa Tengah yang terpencil bernama Dukuh Paruk.

    Seorang laki-laki yang bernama Raus yang sejak kecil memang sudah ditakdirkan berjodoh dengan Srintil.

    Namun, kisah cinta mereka diwarnai banyak rintangan yang mengundang air mata.

    Cerita dimulai ketika Srintil mendapatkan roh indang (kepercayaan masyarakat dukuh paruk) dan mengharuskannya menjadi seorang ronggeng.

    Keinginan Srintil dan bakat yang dimilikinya sebagai penerus ronggeng yang telah lama punah mendapatkan dukungan dari sang kakek yang bernama Sakarya.

    Ronggeng Dukuh Paruk punah sejak peristiwa tempe bongkrek yang menewaskan hampir seluruh warganya itu.

    Sakarya setelah mengetahui bahawa roh indang ada dalam diri Srintil, maka ia kemudian membawa Srintil kepada Kartareja, seorang Dukun Ronggeng dan istrinya yang mantan ronggeng tetapi tidak laku pada zamannya.

    Pada saat itu seorang ronggeng adalah posisi paling dimuliakan oleh warga dukuh paruk.

    Ketika Srintil hendak menjadi ronggeng ia harus melewati beberapa tahap, salah satunya ialah bukak-klambu.

    Bukak klambu ialah ritual pelepasan keperawanan seorang ronggeng.

    Pada saat itu Srintil dihargai dengan satu keping emas, tetapi karena kelicikan suami-isri Kartareja akhirnya Srintil mendapatkan satu keping emas, 2 logam, dan satu sapi.

    Padahal dibalik itu semua, mereka justru tertipu dan hanya Srintil dan Raus yang tahu kejadian apa yang terjadi di belakang rumah sebelum Srintil menjalani ritual bukak klambu.

    Namun, setelah itu Raus menghilang dari Dukuh Paruk meninggalkan neneknya seorang diri dan bekerja di pasar Dawulan.

    Di sana Raus bertemu dengan Sersan Slamet dan Kopral Pujo.

    Karena pertemuan itulah akhirnya Raus akrab dengan lingkungan tentara, ia bekerja melayani tentara.

    Hingga suatu hari, ia diharuskan ikut bertugas karena para perampok merajarela.

    Raus ditugaskan di Dukuh Paruk, dan ia berhasil melumpuhkan 2 perampok.

    Setelah itu Raus menghilang, ia ikut sekolah tentara ke luar Dukuh Paruk.

    Di sisi lain, Srintil terus meronggeng dengan rombongannya serta Srintil terus melayani para lelaki petualang.

    Orang yang paling berperan ialah Nyai Kartareja yang mempunyai keahlian sebagai mucikari handal.

    Hampir seluruh masa remaja Srintil ia habiskan untuk hal tersebut.

    Dalam adat istiadat dukuh paruk seorang ronggeng dilarang menikah kerena menikah adalah akhir dari ronggeng, ia tidak akan laku.

    Keadaan itulah yang mengecam hubungan Srintil dan Raus, seolah masyarakat menganggap itu terlarang.

    Jika Srintil mikah maka ia akan berhenti menjadi Ronggeng dan itu berarti Dukuh Paruk dan kembali mati dalam hidupnya.

    Hingga suatu saat Srintil paham ada yang salah pada dirinya, karena cintanya pada Raus dan Goder (anak angkat yang disusui Srintil) ia mencoba berhenti melayani para laki-laki.

    Sejak awal Srintil menjadi ronggeng sering ia melakukan pemberontakan tetapi sering teredam oleh mulut manis Nyai Kartareja.

    Hingga kesenian Ronggeng yang menjayakan Dukuh Paruk sudah terkenal di berbagai daerah.

    Terlebih lagi setelah adanya suatu acara di Kecamatan Dawulan.

    Srintil dan rombongannya dipakai untuk mengisi rapat-rapat di kecamatan.

    Ternyata itulah yang memicu masalah besar, sering terjadi kerusuhan setelah pementasan ronggeng dan akhirnya Srintil dipenjarakan atas tuduhan terikat PKI.

    Pada saat itu suasana Dukuh Paruk sangat mencekam.

    Banyak orang terus bersembunyi di dalam rumah dan anak-anak pun kehilangan keceriaannya.

    Dalam keadaan seperti ini Srintil dipenjara entah di mana, sedangkan Raus belum juga kembali dari sekolah tentaranya.

    Secara garis besar cerita dalam novel ini termasuk karangan fiksi, tetapi dalam novel ini memuat unsur sejarah nyata tentang PKI dan tradisi Dukuh Paruk.

    Novel ini untuk usia SMA ke atas karena pemahamannya memerlukan pengetahuan yang sudah dimiliki pembaca sebelum membaca novel ini.

    Novel ini dapat menggabarkan suasana pada zaman kemerdekaan, pemberontakan, hingga zaman awal orde baru, meskipun unsur politik tersamarkan dengan cerita warga Dukuh Paruk yang buta huruf.

    Novel ini bisa menjadi ajang nostalgia para pembaca, selain diskripsi yang indah seperti aslinya maka pembaca dapat dihipnotis masuk pada zaman tersebut.

    Buku ini kategori bacaan yang sedang dan tidak banyak menguras imajinasi karena diskripsi yang detail dari pengarang.

    Keunggulan novel ini ialah pada gaya bahasa yang dikemas dalam bentuk yang menarik dan mudah dipahami.

    Perpaduan antara diskripsi, bahasa lokal, dan adat istiadat yang ada dapat mengundang air mata pembaca.

    Novel ini juga memasukkan unsur tembang-tembang daerah yang indah.

    Novel ini memuat 3 buku, yaitu Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Biangkala.

    Keterpaduan antarbuku tersebut merupakan keunggulan dari novel karya Ahmad Tohari ini.

    Cerita dan bahasa yang dimuat sangat fleksibel dan cocok dari masa ke masa.

    Baca juga: Resensi Buku Belajar Mendidik Karya Prof. Dr. B.S. Mardiatmadja, SJ

    Buku ini memual pula unsur ilmiah seperti dalam Bab 2, keilmiahan muncul ketika menyebutkan nama bakteri yang terkandung dalam tempe bongkrek, proses penyelidikan, dan penelitian ilmiah.

    Dalam cerita Ronggeng Dukuh Paruk ada tokoh pedagang dari Cina dan Ahmad Tohari menggambarkan secara nyata logat orang Cina tersebut.

    Kekurangan novel ini salah satunya ialah bahasa tradisional yang digunakan terlalu frontal, sehingga tidak cocok untuk anak-anak, seperti kata bajingan, asu buntung, tolol, bangsat dan lain-lain yang mendominasi cerita.

    Selain itu, banyak kesalahan EYD dalam novel seperti penggunaan ata ‘di’ dan ‘namun’ yang kurang tepat.

    Banyak penggunaan kata daerah tetapi hanya sedikit yang disertai dengan terjemahan, sehingga menimbulkan kesulitan pada pembaca untuk memahami cerita.

    Di dalam penulisan novel ini terdapat beberapa salah ketik seperti di halaman 22 kata ‘orangtua’ dan di halaman 81 kata ‘laiknya’.

    Novel ini kami bandingkan dengan film Sang Penari karena novel Ronggeng Dukuh Paruk ini menjadi inspirasi dibuatnya film Sang Penari.

    Film Sang Penari melukiskan bayangan nyata tentang keadaan dukuh paruk.

    Namun, ada beberapa perbedaan seperti kejadian keracunan tempe bongkrek itu dalam novel dituliskan Srintil masih bayi dan Raus berumur 3 tahun sedangkan dalam film Srintil sudah anak-anak.

    Dalam novel tidak disebutkan darimana asal keris ronggeng yang telah lama hilang tetapi dalam film ditunjukan bahwa Raus memungutnya saat ada kericuhan keracunan tempe bongkrek tersebut.

    Serta masih bayak perbedaan lain yang menimbulkan kekecewaan pada pembaca.

    Dengan demikian secara keseluruhan novel ini bagus, banyak pengetahuan sejarah yang diperoleh dari novel ini.

    Buku ini juga dapat bermanfaat untuk pembaca secara umum karena novel ini secara tersirat mengajarkan pembaca tentang budi pekerti, kemandirian, keteguhan prinsip, iman dan adat istiadat yang berlaku dalam suatu daerah.

    Setelah membaca buku ini akan banyak mendapatkan ilmu terapan yang dapat diterapkan di kehidupan bermasyarakat sehari-hari khususnya jiwa nasionalisme, pengorbanan, dan perjuangan

  • Sinopsis Novel Azab Dan Sengsara Karya Merari Siregar

    Sinopsis Novel Azab Dan Sengsara Karya Merari Siregar

    Judul: Azab dan Sengsara
    Penulis: Merari Siregar
    Penerbit: Balai Pustaka
    Tahun Terbit: 1920

    Sinopsis Novel Azab dan Sengsara

    Novel Azab dan Sengsara dapat dikategorikan sebagai novel klasik terbitan Balai Pustaka yang mana pada saat itu sastra Indonesia masih didominasi penggunaan bahasa melayu yang kental.

    Tema yang diangkat novel ini adalah kehidupan percintaan seorang gadis yang pernikahannya tidak membawa kebahagiaan, tetapi justru kesengsaraan.

    Tokoh utama dalam kisah cinta yang runyam ini bernama Aminu’ddin dan Mariamin.

    Keduanya adalah kerabat, tapi sayang nasib mereka berbeda.

    Aminu’ddin adalah anak kepala kampung, bangsawan yang kaya raya dan disegani banyak orang.

    Sementara itu, Mariamin lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga miskin. Sangat berbanding terbalik.

    Mereka berdua sudah saling kenal dan bermain bersama sejak kecil.

    Seiring berjalannya waktu, memasuki usia dewasa, Aminu’ddin dan Mariamin mulai saling jatuh cinta.

    Aminu’ddin berjanji akan menikahi Mariamin. Niatitu diutarakan kepada ibu dan ayahnya, Baginda Diatas.

    Sang ibu setuju dengan pilihan Aminu’ddin karena menganggap Mariamin masih keluarganya dengan harapan bisa membantu kondisi ekonomi Mariamin.

    Namun, berbeda dengan sang ayah.

    Baginda Diatas diam-diam tidak setuju rencana Aminu’ddin karena beranggapan jika pernikahan tersebut bisa menurunkan derajat bangsawannya.

    Demi cinta, akhirnya Aminu’ddin berangkat ke Medan untuk mencari kerja agar punya penghasilan dan menikahi Mariamin.

    Semenjak pergi ke Medan, Aminu’ddin selalu mengirim kabar ke Mariamin dan keluarga.

    Sampai waktunya tiba, ia menyampaikan berita ke kampung jika ia sudah siap untuk berumahtangga dengan wanita miskin tersebut.

    Namun sayangnya, Baginda Diatas, tetap tidak setuju.

    Baginda Diatas justru menyusun rencana agar isterinya berubah pikiran dan tidak menyetujui keinginan Aminu’ddin.

    Hal pertama yang dilakukan Baginda Diatas adalah membawa isterinya ke dukun bayaran dan pura-pura meramal jodoh terbaik untuk anaknya.

    Sang dukun bayaran tersebut mengatakan jika Mariamin bukanlah jodoh Aminu’ddin, tapi ada seorang gadis bangsawan di desa mereka.

    Sontak, ibu Aminu’ddin pun percaya dan memutuskan berangkat ke Medan dengan membawa gadis bangsawan yang hendak dinikahkan dengan Aminu’ddin, sesuai ramalan dari dukun tersebut.

    Setibanya di Medan, Aminu’ddin terkejut melihat orang tuanya membawa seorang gadis dengan tujuan menjodohkannya dengan gadis tersebut.

    Meski hati terpukul, tapi ia tak bisa menolak karena saat itu ia terikat oleh adat budaya yang harus selalu patuh pada keputusan orang tua, terutama urusan perjodohan.

    Dengan berat hati, akhirnya Aminu’ddin mengirim surat kepada Mariamin seraya memohon maaf karena ia terpaksa akan menikahi gadis lain, meskipun cinta hanya untuk Mariamin.

    Mendengar kabar terebut, Mariamin sangat hancur. Bahkan sampai sakit.

    Seiring berjalannya waktu, tak terasa sudah setahun berselang, ada seorang laki-laki bernama Karibun meminang Mariamin.

    Berharap hadirnya laki-laki ini bisa mengobati luka Mariamin, sang ibu akhirnya menerima pinangan tersebut.

    Akan tetapi apa yang diharapkan ibu Mariamin tidak terwujud.

    Pernikahan tersebut justru malah menambah penderitaan baru bagi Mariamin.

    Terungkap, ternyata Karibun menceraikan isteri sahnya hanya demi menikahi Mariamin.

    Selanjutnya, Karibun membawa Mariamin ke Medan.

    Mereka mengalami hubungan suami siteri yang buram karena Mariamin sama sekali tidak mau melakukan hubungan intim dengan Karibun.

    Alasannya, karena terungkap jika Kasibun mengidap penyakit kelamin yang bisa menular jika melakukan hubungan intim.

    Mendapat penolakan tersebut, Karibun kalap dan akhirnya sering melakukan kekerasan, menyiksa Mariamin.

    Sudah menderita, ditambah lagi rasa duka ketika Aminu’ddin bertamu ke rumahnya suatu waktu.

    Melihat reaksi Mariamin yang tak biasa, Karibun pun terbakar cemburu dan akhirnya ia semakin sering menyiksa isterinya.

    Hingga puncaknya, Mariamin sudah tak tahan lagi dan akhirnya melaporkan Karibun ke polisi.

    Setelah diperiksa, Karibun ditetapkan bersalah dan diwajibkan membayar denda serta menceraikan Mariamin.

    Mariamin akhirnya kembali ke kampung halaman dengan kondisi yang tidak baik. Ia sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia dalam penuh penderitaan.

  • Sing dan Tin, Sebuah Novel Romance yang Mengangkat Kehidupan Jawa Tahun 70-an

    Sing dan Tin, Sebuah Novel Romance yang Mengangkat Kehidupan Jawa Tahun 70-an

    Judul : Sing dan Tin (Renjana Hingga Senja)

    Penulis : Maulana Affandi

    Tokoh Sing

    Sing adalah seorang pria Jawa dengan garis keturunan Tionghoa – Belanda – Jepang. Ia lahir pada tahun 1940, ketika Indonesia sedang dalam penjajahan.

    Perawakannya apik, kulit putih, mata sedikit sipit, rambut hitam pekat, tinggi. Namun, kepribadiannya bertolak belakang dengan bentuk fisik.

    Sing merupakan anak ketiga dari lima bersaudara yang semuanya adalah laki-laki. Kakak pertama bernama Suan, kakak kedua bernama Sui, adik keempat bernama San, dan adik terakhir bernama Sai.

    Dalam kehidupan Jawa, jika ada saudara lima yang semuanya laki-laki, maka biasa disebut dengan istilah Pendowo Limo. Mitosnya, salah satu dari Pendowo Limo akan membawa karma buruk. Tapi sepertinya mitos itu jatuh pada diri Sing. Terbukti dengan tingkahnya.

    Lahir sebagai anak orang kaya tak membuat Sing bahagia. Berbeda dengan keempat saudaranya mengenyam pendidikan tinggi, Sing justru tak mau sekolah.

    Di usia 28 tahun ia dijodohkan dengan seorang gadis bernama Sarah. Maksud keluarga agar Sing menjadi orang yang lebih bertanggungjawab.

    Tapi, malah semakin parah. Ia tak mau bekerja, sukanya marah-marah dan bertindak semaunya sendiri. Tak sampai setahun usia pernikahan, Sarah pun menggugat cerai. Sing berstatus duda di usia muda.

    Tokoh Tin

    Tin adalah seorang gadis desa yang lugu. Wajahnya tak begitu cantik, kulitnya sawo matang, tubuhnya pendek, sedikit gemuk. Berbeda nasib dengan Sing, Tin terlahir sebagai anak orang miskin. Demi mencukupi kebutuhan keluarga, Tin bekerja sebagai pembantu di rumah Sing. Ya, itulah pertama kali Sing dan Tin bertemu.

  • Resensi Novel Atheis Karya Achdiat K. Miharja

    Resensi Novel Atheis Karya Achdiat K. Miharja

    Judul: Atheis
    Penulis : Achdiat K. Miharja
    Terbitan pertama : Tahun 1949
    Jumlah halaman : 224

    Sinopsis Novel Atheis Karya Achdiat K. Miharja

    Karya sastra berupa Novel ini menceritakan kisah perjalanan hidup seorang jejaka priangan bernama Hasan.

    Hasan tinggal bersama kedua orang tua dan adik angkatnya yang bernama Fatimah.

    Sedari kecil Hasan sudah dididik dengan ajaran agama yang kuat, sehingga menjadikannya sebagai sosok yang alim dan soleh.

    Kealiman dan kesolehannya ini masih tetap melekat sampai ia dewasa, sehingga ia dijuluki Pak Ustad oleh rekan kerjanya di kota.

    Suatu hari ketika Hasan sedang bekerja, ia bertemu dengan sahabat masa kecilnya yang yang bernama Rusli.

    Dahulu mereka adalah sahabat yang cukup dekat, walaupun Rusli memiliki kebiasaan dan kelakuan buruk.

    Rusli juga mengenalkan Hasan pada Kartini, seorang janda muda yang cantik, kaya, sopan, dan memiliki pergaulan yang lumayan bebas.

    Kartini mengingatkan Hasan pada cinta pertamanya yang bernama Rukmini.

    Bayang-bayang Rukmini sering berkelebat dalam sanubarinya, dan Hasan pun akhirnya memutuskan untuk mulai mecintai Kartini.

    Walaupun pada saat pertama kali melihat Kartini yang bergaul bebas dengan Rusli membuat Hasan merasa risi

    Akan tetapi akhirnya ia sering juga mengunjungi rumah Rusli dan otomatis sering pula bertemu dengan Kartini.

    Seiring berputarnya waktu mereka akhirnya bersahabat menjadi sahabat karib.

    Melalui persahabatan inilah Rusli dan Kartini akhirnya berhasil merubah keyakinan Hasan terhadap Tuhan.

    Hasan mulai tidak percaya pada Tuhan, karena baginya kini Tuhan hanya ada dalam dunia imajinasi manusia.

    Keadaan ini bertambah parah setelah Hasan bertemu dengan Anwar yang menganggap dirinya sebagai Tuhan dan menjadi lebih buruk lagi saat ia menikah dengan Kartini.

    Hasan pada waktu itu berani memperolok orang tuanya yang masih saja percaya akan Tuhan.

    Akibatnya ia tidak diakui oleh ayahnya sampai ayahnya meninggal.

    Ia baru sadar tentang kesalahannya melupakan Sang Pencipta saat ia bercerai dengan Kartini dan ayahnya meninggal.

    Ia kemudian kembali salat dan berzikir kepada Tuhannya, yakni Allah SWT.

  • Sinopsis Buku Tuhan Tidak Salah Desain

    Sinopsis Buku Tuhan Tidak Salah Desain

    Judul : Tuhan Tidak Salah Desain
    Pengarang : Nita Nathan
    Penerbit : Gramedia
    Cetakan : I November 2016
    Tebal : 166 hlm
    ISBN` : 978-602-03-3594-0

    Saat bertemu anak berkebutuhan khusus, maka pikiran akan langsung diisi rasa kasihan. Persepsi orang “biasa,” anak itu tidak bisa apa-apa, masa depannya suram, hidup hanya menyusahkan orangtua, dan tidak berarti. Semua berkelindan memenuhi otak yang iba.

    Namun, ketika kemudian direnungkan, siapa yang telah menciptakan anak berkebutuhan khusus itu? Tentu saja Tuhan. Lalu, apakah Tuhan telah salah mencipta? Manusia harus berpikir, Tuhan tidak pernah salah. Manusia diciptakan dalam keadaan yang baik dan sempurna.

    Anak-anak berkebutuhan khusus pun sempurna. Di sinilah buku Tuhan Tidak Salah Desain akan menggugah pembaca dalam memahami dan mendidik anak berkebutuhan khusus. Buku menjelaskan bahwa anak berkebutuhan khusus sama istimewanya dengan putra-putri normal. Mereka diciptakan tidak dalam keadaan salah desain.

    Anak-anak ini juga memiliki keistimewaan yang sama dengan manusia umumnya (hlm 17). Untuk itu, anak-anak istimewa tersebut harus diterima sebagai bentuk perwujudan sikap menerima setiap anugerah Tuhan.

    Dengan penerimaan, mereka akan memiliki kedudukan sama dengan lainnya. Anak akan mendapat hak dan kewajiban sama alias tidak didiskriminasikan. Sebaliknya, mereka mendapat perlakukan khusus. Kehebatan anak berkebutuhan khusus hanya bisa temukan dan dieksplorasi dengan cara-cara yang istimewa pula (hlm 31).

    Buku juga menguraikan pendidikan istimewa yang bisa dberikan pada anak-anak tersebut. Alternatif pendidikan dilakukan penulis yang juga memiliki anak-anak berkebutuhan khusus (hlm 97). Jadi, buku ini merepresentasikan pengalaman penulis. Konsep pendidikan praktis yang dibahas dalam buku bertumpu pada enam metode yang diakronimkan dengan istilah Revive. Kepanjangannya adalah reframe, evolve, victory, inspire, volunteer, dan emplower (hlm 145).

    Pendidikan dengan konsep revive dimulai dari perspektif paradigma (reframe) (hlm 21). Orangtua dan guru harus berpikir bahwa anak berkebutuhan khusus yang istimewa itu ciptaan Tuhan yang tidak salah desain. Jadi mereka harus diperlakukan sebaik mungkin sebagai wujud rasa cinta pada Tuhan.

    Dengan spirit ini manusia akan bisa terus mendukung tumbuh kembang (envolve) anak (hlm 63) sesuai dengan bakat dan potensi sehingga bisa memperoleh kemenangan (victory). Mereka menang bila sudah berhasil mengembangkan potensi anak untuk bisa meraih kehidupan yang sebenarnya. Anak-anak inilah yang kemudian akan menginspirasi (inspire) banyak orang. Mereka mampu melampaui keterbatasan (hlm 131).

    Di sinilah buku membimbing pembaca untuk bisa mejadi relawan (volunteer) dalam mendidik anak (hlm 139). Melalui basis kerelawaanan inilah orangtua bisa menjadi pelatih (emplower) yang terus mendidik anak-anak berkebutuhan khusus dengan baik (hlm 145). Buku ini akan menyadarkan pembaca untuk bisa menghargai anak berkebutuhan khusus sebagai generasi istimewa yang memerlukan pendidikan istimewa pula. Mereka tak boleh diremehkan, apalagi diperlakukan secara diskriminatif.