Bicara tentang kebudayaan dan adat-istiadat, tentu saja setiap daerah memiliki budaya dan adatnya masing-masing. Sebab, kebudayaan itu lahir dari buah pikir, ide, opini, serta kebiasaan masyarakat yang diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ada budaya yang sudah dikenal dan bahkan dilestarikan sampai sekarang. Namun, ada pula kebudayaan yang sudah tak terlihat lagi, alias tak jelas juntrungannya. Hal itu adalah hal yang wajar, mengingat begitu banyaknya jumlah kebudayaan yang tercipta, jadi tidak semua bisa dijaga.

Selain itu, penikmat serta pegiat budaya juga semakin tergerus jumlahnya, banyak generasi penerus yang enggan, bahkan tidak mau meneruskan apa yang sudah dibuat oleh orang terdahulu. Padahal, kebudayaan adalah salah satu wujud, bentuk, dan aset Negara yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya.

Bicara tentang budaya yang mulai luntur tentu saja tidak terhitung jumlahnya, salah satu contoh adalah Godong Lemes yang berasal dari Kota Gandrung, Banyuwangi. Ya, mungkin sebagian dari kita, khususnya anak muda tidak mengetahui apa itu Godong Lemes.

godong lemes
photo : facebook/elvinhendratha

Dikutip dari berbagai sumber, Godong Lemes disebut sebagai kebudayaan masyarakat Banyuwangi zaman dulu dalam berorganisasi. Kabarnya, kebudayaan berorganisasi ini sudah ada sejak tahun 1963-an silam, yang berlangsung di Sawahan, Kelurahan Pengantigan Banyuwangi.

Jadi, secara garis besar, Godong Lemes adalah sebuah perkumpulan sosial yang beranggotakan kepala keluarga lelaki atau lelaki dewasa di wilayah Sawahan dan merembet ke sekitarnya. Mereka berkumpul secara insidentil bila ada anggotanya yang akan mempunyai hajat: mengawinkan atau menyunatkan anak serta sanak saudara.

Baca jugaFestival Ogoh-Ogoh: Bentuk Kekompakan Umat Hindu di Bali

Perkumpulan ini bisa dilakukan pada tempat tertentu, namun umumnya para lelaki dewasa tersebut akan melakukan musyawarah di kediaman yang punya hajat. Adapun pembahasan ketika mereka berkumpul adalah tiada lain hanya untuk urusan bersama yang meliputi toleransi, tenggang rasa, gotong royong, seperti sifat-sifat dasar yang diajarkan oleh nenek moyang kita.

Tak kalah penting pula, para warga yang berkumpul tersebut juga akan memberikan sedikit materi yang dimiliki, alias iuran. Jumlahnya tidak ditentukan, tapi seikhlas dan semampunya. Tentu saja ini merupakan bentuk toleransi dan kepedulian sosial yang teramat baik, bukan?

Tidak sampai di situ saja, saat berkumpul ada kelakar dan candaan yang dilontarkan kepada tuan rumah yang akan segera melakukan hajat. Namun, lebih menarget kepada sosok atau seseorang yang akan dihajatkan. Guyonan khas Banyuwangi akan keluar dari lisan mereka, tujuannya tidak lain hanya untuk melatih mental serta menambah keakraban.

Kabar terkini mengatakan jika kebudayaan berorganisasi Godong Lemes dibentuk oleh Almarhum Bapak Bacar Am dan Buang Asmono pada tahun 1963-an. Walau sudah tidak seramai dulu, tapi budaya ini masih bertahan hingga sekarang, meskipun hanya segelintir orang yang melakukannya dan tanpa pernah dipublikasikan.

Kebudayaan berorganisasi ini juga terbilang cukup unik dan memiliki karakteristik, misalnya bila ada anggota Godong Lemes yang mempunyai anak 9 (Sembilan), maka dia berhak untuk didatangi anggota sebanyak 9 (sembilan) kali bila mempunyai hajat. Jadi, tidak ada istilah hitung-hitungan, berapapun anaknya, warga tetap akan membantu sebagai wujud toleransi yang luhur.

Sumber : Klik di sini

Disadur dari tulisan Elvin Hendratha