Kawin Tangkap

Beberapa hari belakangan ini, media sosial tengah dihebohkan dengan beredarnya sebuah video perempuan meronta serta berteriak karena digotong oleh sejumlah pria, kemudian dibawa masuk ke sebuah rumah di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, ada juga video lainnya dengan motif yang sama, yaitu digotong oleh sejumlah pria di salah satu terminal di Kota Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Usut punya usut, ternyata kedua video tersebut adalah sebuah praktik kawin tangkap yang dianggap sebagai warisan budaya oleh masyarakat setempat, khususnya yang berada di pedalaman.

Baca juga: Lotus Feet, Tradisi Mematahkan Jari Kaki di Tiongkok

Praktik Kawin Tangkap

Apakah benar demikian? Mari kita cari tahu kebenarannya.

Banyak yang mengatakan jika kawin tangkap adalah sebuah tradisi yang lazim dilakukan di Pulau Sumba. Boleh jadi, hal tersebut memang benar adanya. Tapi jika melihat respon dari pihak perempuan yang menangis dan meronta, membuat sebagian orang, juga akademisi ingin mengkaji “warisan budaya” ini lebih dalam.

Hingga akhirnya ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Janet Alison Hoskin dan Joel C Kuipers di Sumba mengenai kawin tangkap ini, dikutip dari laman Republik. Hasilnya cukup mengejutkan karena mereka menyebutkan jika kawin tangkap bukanlah budaya atau tradisi, tapi hanyalah sebuah praktik yang terus-menerus berulang di Pulau Sumba.

Sementara menurut antropolog dari Universitas Widya Mandira Kupang, Pater Gregorius Neonbasu, SvD, mengatakan bahwa praktik kawin tangkap di Pulau Sumba hanyalah tindakan pragmatis yang terjadi karena kondisi dan iklim kehidupan sesaat.

“Jadi menurut saya hal tersebut harus segera ditanggapi oleh tokoh masyarakat atau sesepuh masyarakat Sumba sendiri karena memang praktik kawin tangkap itu sendiri hanyalah tindakan yang terjadi karena kondisi dan iklim kehidupan sesaat di daerah itu,” katanya.

Pater menambahkan bahwa pada umumnya masyarakat Sumba juga sedang mengupayakan untuk menghindari praktik kawin tangkap yang dianggap kontroversial bagi kebanyakan orang.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengatakan bahwa praktik kawin tangkap sebagaimana yang terjadi di Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Budaya atau tradisi tidak statis tetapi dinamis. Kasus kawin tangkap adalah praktik kekerasan dan pelecehan terhadap kaum perempuan dan anak. Jadi jangan sampai alasan tradisi budaya dipakai hanya sebagai kedok untuk melecehkan perempuan dan anak,” ujarnya.

Menyusul laporan aktivis ke kepolisian mengenai praktik kawin tangkap di Sumba, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak meminta Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur untuk segera menangkap para pelaku kawin tangkap.

Hal senada disampaikan oleh anggota Komisi IX DPR RI dari Daerah Pemilihan Sumba Ratu Ngadu Bonu Wulla yang mengaku prihatin terhadap praktik kawin tangkap yang sampai sekarang masih terjadi di Pulau Sumba.

“Saya sebagai seorang perempuan dan juga berasal dari Sumba saya tidak setuju dengan budaya ini jika dipertahankan karena memang sangat berdampak buruk pada kaum perempuan di Sumba,” ujarnya.

Kemudian, salah seorang warga di Sumba Tengah bernama Rambu Prailiang, dikutip dari laman Merdeka, mengaku bahwa praktik kawin tangkap yang terjadi sekarang sangat berbeda sekali dengan tradisi dulu.

“Tradisi ini sebenarnya sudah menjadi tradisi yang turun temurun. Namun jika dilihat yang terjadi saat ini berbeda sekali dengan yang terjadi pada lalu-lalu,” katanya.

Baca juga: Rampogan Macan, Tradisi Bertarung Melawan Macan di Tanah Jawa

budaya kawin tangkap
photo: unsplash

Menurutnya, di masa lalu, perempuan yang menjalankan tradisi kawin tangkap atau Palaingidi Mawini sangat dihargai, bukan dipaksa. Orang yang menjalankan praktik kawin tangkap juga berasal dari keluarga kaya karena belis atau mahar yang harus dibayarkan ke pihak perempuan cukup tinggi.

Perempuan yang akan “ditangkap”, juga sudah dipersiapkan layaknya pengantin pada umumnya. Mempelai perempuan sudah didandani dengan pakaian adat lengkap, gelang gading, dan aneka perhiasan menempel di tubuhnya. Sedangkan pria yang akan menikahi perempuan itu pun mengenakan pakaian adat lengkap dan menunggang kuda berhias kain adat.

Setelah mempelai perempuan “ditangkap”, pihak laki-laki akan mengirim utusan ke keluarga perempuan untuk menyampaikan informasi mengenai kejadian kawin tangkap tersebut. Itulah kawin tangkap di zaman dulu, menurutnya.

Namun, menurut Rambu, praktik kawin tangkap sekarang lebih mengarah pada penculikan dan membuat kaum perempuan Sumba hidup dalam ketakutan.