Haul ke-8 almarhum HR. Mas Slamet Oetomo digelar di Pendopo Puri Gumuk Merang, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Penataban, Giri, Sabtu malam (13/09/25).
Peringatan ini menjadi tradisi tahunan keluarga dan para cantrik, sebab wafatnya bertepatan dengan bulan Maulid.
Kegiatan dimulai dengan salat Magrib berjamaah bersama keluarga dan para cantrik yang datang dari jauh.
Setelah itu, jamaah lain berdatangan dan Ustadz Ahmad Yani dari Jamiyah Kifayah Penataban memimpin tahlil, diawali pembacaan Surat Yasin.
Selepas ramah tamah, sejumlah hadirin berziarah ke makam almarhum yang bersih dan harum dengan bunga setaman. Surban dan syal merah putih yang sejak awal pemakaman masih terjaga di sana.
Salah seorang cantrik asal Pakis bernama Irwan menyampaikan pesan, “Semua makhluk hidup pasti mati. Dan ulama waliyullah dan para syahidah sesungguhnya hidup. Dan kekayaan di hati dan keberkahan hidup yang membawa kebahagiaan dunia akherat, itu bagi orang yang mau hening di hati yang kening serta perilaku yang luhur yang manfaat buat segenap makhluk ciptaan Tuhan.”
Sementara itu, Hariyanto, murid asal Batang-Batang Sumenep, bercerita tentang praktik patrap di Madura, termasuk tradisi ziarah tahunan ke makam Mbah Mas Saleh Manggisan dan HR. Mas Slamet Oetomo yang dilanjutkan dengan ritual patrap bersama putra almarhum, Hang Hargowo atau Mas Wowok.
Dalam penutup diskusi, Mas Wowok menegaskan kembali pesan almarhum agar murid-muridnya senantiasa berpegang pada tauhid, rukun iman, dan mengamalkan ihsan dengan penuh bashirah.
Sebagian ajarannya terdokumentasi dalam buku-buku, salah satunya Islam Sebuah Pengakuan yang masih bisa dipesan melalui keluarga.
Sosok HR. Mas Slamet Oetomo
HR. Mas Slamet Oetomo lahir pada 8 September 1948 dan wafat pada 13 Desember 2016, dimakamkan di tanah keluarga yang juga berdiri Pendopo Puri Gumuk Merang. Sebagai keturunan Mbah M. Saleh Manggisan, makamnya kini sering diziarahi sebagaimana leluhurnya.
Semasa hidup, ia dikenal luas sebagai sejarawan dan budayawan dengan pemahaman mendalam mengenai sejarah Blambangan dan masuknya Islam di Bumi Blambangan.
Ia menulis buku, mengoleksi keris dan benda pusaka, serta kerap tampil dalam pameran saat bulan Suro.
Tak hanya itu, juga menjadi narasumber kajian peristiwa Puputan Bayu dan ikut dalam tim penyusun usulan Pahlawan Nasional dari Bumi Blambangan.
Di bidang penyiaran, ia aktif di Radio Komunitas Bung Tomo FM dan LPP RKPD Blambangan melalui program Sulur Kembang, yang mampu menarik ratusan pendengar setia.
Meski hanya menempuh pendidikan setingkat sekolah menengah dan bekerja di Pabrik Kertas Basuki Rahmat serta berdagang ayam, kiprahnya tetap luar biasa.
Yang jarang diketahui, ia adalah guru kesejatian ketuhanan dengan ajaran patrap (sikap berserah diri sepenuhnya kepada Yang Maha Esa). Murid-muridnya beragam, mayoritas Islam, namun juga ada Hindu, Kristen, bahkan hingga mancanegara, seperti Singapura dan Australia.
Dalam menyampaikan ilmu, ia tidak menggunakan atribut ulama seperti jubah, sorban, atau peci. Justru tampil sederhana, namun ajarannya berkembang dalam banyak halaqah di berbagai daerah Nusantara, termasuk di Bumi Blambangan.
Ajaran-ajaran almarhum juga terdokumentasi dalam beberapa karyanya, salah satunya berjudul Islam Sebuah Pengakuan. Buku tersebut dapat dipesan langsung melalui nomor WhatsApp 0813-3688-1945.









