Cerita ini bersumber dari cuitan akun twitter @simpleM81378523 yang tengah viral saat ini. Daripada penasaran, yuk simak kisah lengkapnya!

—————

Terdengar binatang malam bersahut-sahutan, berlomba untuk menunjukkan eksistensinya.

manakala Nur sadar, 2 sahabatnya sudah tertidur lelap, ia terjaga sendirian menatap langit-langit yang berupa genting hitam dengan sarang labah-labah.

rumah desa, tentu saja. pikir Nur, memaklumi, sekat kamarpun tidak menyentuh langit, jadi Nur, bisa melihat celah disana.

ketika memikirkan kejadian hari ini, Nur tiba-tiba tersadar, bahwa, suara riuh binatang malam tidak lagi terdengar, berganti dengan suara sunyi yang memekik membuat telinga Nur menjerit dalam ngeri.

perasaan tidak enak, tiba-tiba muncul begitu saja. membuat Nur, lebih awas.

ketika pandanganya, mencoba mencari cara untuk mengurangi rasa takutnya, di tengah cahaya lampu petromax yang memancarkan sinar temberam, di sudut sekat kamar, sosok bermata merah, mengintipnya.

Nur tercekat, ia beringsut mundur, menutup wajahnya dengan selimut yang ia bawa.

pancaran wajahnya terbayang didalam kepala Nur, mengingatnya, benar-benar membuat jantung di dadanya, berdegup kencang. ia masih ingat, tanduk kerbau di kepalanya, pancaran amarahnya seolah membuat Nur, semakin tersudut dalam ketakutan.

tanpa sadar, Nur mulai membaca ayat kursi.

satu dari banyak ayat yang diajarkan gurunya, untuk menolak rasa takut, untuk menunjukkan manusia memiliki kekuatan untuk melawan, namun, setiap ia menyelesaikan satu panjatan doa, di ikuti oleh suara papan kayu yang di gebrak dengan serampangan.

kerasnya suara itu, menghantam,

Nur mulai menangis, menangis sendirian, ia tahu, makhluk itu masih disana, tidak terima dengan apa yang ia lakukan, salahkah bila ia meminta bantuan pada tuhan.

salahkah.

tepat ketika isi hati Nur menyeruak, perlahan, suara itu menghilang, hilang, hilang, berganti hening.

Nur terbangun ketika subuh memanggil, ia masih belum mengerti, apakah itu mimpi, atau benar-benar terjadi, yang ia tahu, ia harus menjalankan tugasnya, sebagai seorang muslimah yang taat, ia, tidak boleh meninggalkan sholat.

Nur, hanya meyakinkan dirinya, tidak akan bercerita-

bahkan, kepada 2 sahabatnya, atas apa yang barusaja menimpanya.

pagi hari, pak Prabu mengumpulkan semua anak. mengatakan bahwa hari ini, ia akan memperkenalkan keseluruhan desa, dan mana saja yang bisa di jadikan proker untuk mereka kerjakan sesuai kesepakatan per’anak.

pak Prabu menjelaskan sembari berjalan, sementara anak-anak mengikutinya

tidak ada yang menarik dari penjelasan pak Prabu tentang desa itu, bahkan pak Prabu terkesan menyembunyikan sejarah desa itu, membuat Nur semakin curiga, selain hal-hal umum, hanya Wahyu, kating’nya yang selalu menimpali ucapak pak Prabu dengan candaan, membuat tawa’nya pecah

semua terasa alami, seperti KKN yang Nur bayangkan, sampai, mereka berhenti di sebuah tempat yang membuat Nur tidak nyaman. sebuah pemakaman, di sampingnya, banyak pohon beringin besar.

selain itu, pemandangan pemakaman itu, juga terkesan sangat aneh.

setiap patek (batu nisan) ditutupi dengan kain hitam, membuat Nur, atau semua orang, merasa penasaran, apa alasanya?

namun Nur, merasakan angin dingin, seperti mengelilinginya, ia tahu, ada yang tidak beres dengan tempat ini. seakan-akan, tempat ini, sudah menolaknya.

ada satu hal yang membuat Nur semakin curiga kepada pak Prabu, dimana tiba-tiba, ia terpicu oleh kalimat Wahyu, kemudian beliau melontarkan ucapan bernada mengancam, seakan-akan, pak Prabu menjaga sesuatu yang sakral namun mengancam. apa yang pak Prabu sebenarnya sembunyikan?!

untungnya, Bima langsung menengahi insiden itu, membuat pak Prabu kembali menjadi pak Prabu yang sebelumnya.

namun, Nur, seakan tahu, ia tidak sanggup lagi mengikuti kegiatan keliling desa ini, maka ia, ijin pamit untuk kembali ke penginapan, untungnya, pak Prabu mengijinkanya.

Bima, menawarkan diri untuk mengantar Nur, dan pak Prabu sekali lagi, mengijikan.

semua anak melanjutkan tour mereka bersama pak Prabu, sementara Nur dan Bima, berjalan kembali ke area rumah tempat mereka menginap.

“onok opo Nur? setan maneh?” (ada apa Nur? ada hantu lagi?)

dari semua anak, memang tidak ada yang lebih mengenal Nur daripada si Bima, temanya bahkan saat mondok dulu.

Nur hanya tersenyum kecut, menjawabnya seadanya, bila mungkin kesehatanya sudah menurun, namun Bima tahu, Nur berbohong.

“nang kuburan mau, rame ya” (di pemakaman tadi, rame ya)

ucapan Bima tidak di gubris sama sekali dengan Nur, sehingga Bima akhirnya menyerah, di tengah perjalanan pulang itu, tiba-tiba Bima menanyakan sesuatu yang membuat Nur menaruh curiga pada Bima.

“Nur, aku takok. Widya wes nduwe pacar rung?”

(Nur, Widya itu sudah punya pacar apa belum sih?)

“piye?” (gimana?) tanya Nur lagi.

“kancamu” (temanmu) “Widya loh, wes onok pacar opo durung?” (Widya loh, sudah punya pacar apa belum?)

“takono dewe ae yo” (tanyakan sendiri saja ya)

Nur tahu, Bima suka kepada Widya hari itu.

Nur yang menghabiskan sebagian siangnya di dalam kamar, terbangun ketika Ayu memanggilnya.

semua anak sudah berkumplul, dan Ayu menunjukkan proposal proker mana saja yang sudah di setujui pak Prabu, dimana Ayu, membagi menjadi 3 kelompok, terlepas dari 1 proker kelompok

Widya dengan Wahyu, Nur dengan Anton, sementara Bima dengan Ayu.

semua anak sepakat, tidak ada yang komentar banyak, mengingat, Ayu yang paling berjasa sehingga bisa mendapatkan tempat KKN tanpa campur tangan pihak kampus.

lusa, adalah awal dari persiapan proker mereka.

sore datang, ketika Nur baru saja selesai merapikan barangnya untuk persiapan proker kelompok, Widya masuk ke kamar.

“Nur, ados yok” (Nur, mandi yuk)

“nang ndi?” (dimana?) tanya Nur,

“nang Bilik sebelah kali, cidek Sinden kui loh, eroh kan awakmu, kolam cilik”

(di bilik sebelahnya sungai, ada sebuah bilik kecil, tahu kan, yang bangunanya kaya kolam itu loh)

Nur, tidak menjawab. namun setelah memikirkan, bahwa ia belum membasuh badanya sejak pertama kali datang kesini, ia pun setuju. dengan syarat, Nur mau menjadi yang pertama mandi.

saat melewati Sinden, Nur sudah merasakan perasaan tidak nyaman, Sinden itu terdiri dari anak tangga yang di susun dengan batu bata merah, tampaknya bangunanya sudah sangat tua, ada air jernih di dalamnya, namun, Nur tidak pernah melihat ada yang menggunakan air itu.

selain itu, fokus Nur tentu pada bentuk menyerupai candi kecil di belakangnya, dan di pelataran candi, ada sesajen, hal yang sudah lumrah di tempat ini, hanya saja, Nur tidak melihat adanya gangguan saat ia mengamati Sinden itu.

sampailah mereka di bilik, yang di belakangnya ada pohon besar, pohonya rindang dengan rimbun semak di samping Bilik, Widya memberitahu Nur, bila di dalamnya ada kendi besar yang sudah di isi oleh warga dari sungai, dan memang untuk mandi anak-anak KKN.

baru masuk, Nur langsung mencium aroma amis, seperti aroma daging busuk, namun Nur mencoba mengerti, mengingat Biliknya sendiri tidak terlihat seperti kamar mandi yang bersih, lantainya dari tanah, sedangkan kiri-kanan di penuhi lumut, jadi Nur mencoba memaklumi.

ia pun segera membasuh badanya dengan air di dalam kendi, namun, ada perasaan aneh ketika air membilas badanya, seperti ada benda kecil, yang mengganjal saat bersentuhan dengan kulit Nur.

ketika, di perhatikan dengan seksama, apa yang ada di dalam kendi, air itu di penuhi rambut

Nur kaget, istighfar terus menerus, sembari ia beringsut mundur, ia mencoba memanggil Widya. namun aneh, tidak ada jawaban apapun dari Widya.

Nur, dengan berselimut handuk, mencoba membuka pintu bilik, namun, pintu seperti di tahan oleh orang yang ada di luar.

“Wid, bukak!! Wid bukak” teriak Nur, sembari menggedor pintu anyam bambu itu.

namun, tetap tidak ada jawaban apapun dari Widya, sampai, Nur menyadari, di belakangnya, ada sosok Hitam itu, besar sekali, sampai menyentuh langit bilik.

Nur pun memejamkan mata rapat-rapat.

yang pertama ia lakukan adalah istighfar kencang-kencang, sembari tanganya mencari batu di tanah bilik, ketika tanganya berhasil meraih sebuah batu, Nur melemparkan kuat-kuat batu itu, sembari mengucap, doa yang di ajarkan gurunya bila bertemu lelembut, sampai, sosok itu lenyap,

butuh waktu untuk Nur menenangkan diri, ia tahu, ia sudah di incar, namun kenapa ia di incar, ia tidak melakukan apapun yang membuatnya di incar, bahkan bila karena ia secara tidak sengaja melihat makhluk itu, seharunya bukan hanya Nur yang sial, tapi makhluk itu juga sial.

tiba-tiba pintu terbuka, dimana Widya melihat Nur dengan ekspresi ganjil.

“lapo Wid?” (kenapa Wid?)

“He?” “gak popo” ucap Widya saat itu.

“wes ndang adus, ben aku sak iki seng jogo, cepetan yo, wes peteng” (ayo mandi, biar aku yang jaga, cepat ya, sudah mau malam)

awalnya Widya tampak ragu, ia seperti mau mengurungkan niatnya, tidak hanya itu, Widya seperti mau mengatakan sesuatu namun kemudian mengurungkanya, ia kemudian menutup pintu bilik.

ketika Nur, berjaga di luar, ia sayup-mendengar suara orang berkidung.

penasaran, Nur mulai mencari sumber suara, dan berakhir pada gemah dari dalam Bilik. takut, hal buruk terjadi, Nur mencoba memanggil Widya, menyuruhnya agar ia segera menyelesaikanya, namun, Widya tidak menjawab teriakanya, suara kidung itu, terdengar semakin jelas.

dari samping Bilik, ada semak belukar, Nur mencoba melempar batu darisana, namun, ia terperanjat saat tahu, dibelakang bilik ada sesaji, lengkap dengan bau kemenyan di bakar

Nur mencoba mengabaikanya, tetap berusaha memanggil sahabatnya, sampai, dari salah satu celah, ia melihat

yang didalam bilik, bukan Widya, namun sosok cantik jelita, siapa lagi bila bukan, si penari yang Nur lihat di malam kedatanganya di desa ini.

wanita cantik itu, membasuh badanya dengan anggun, sembari berkidung dengan suara yang membuat Nur tidak tahu harus berujar apa.

dimana Widya. pikir Nur, ia tidak menemukan sahabatnya, tidak dimanapun ia mencoba melihat.

 

sampai, sosok itu tersenyum seolah tahu, Nur melihatnya. lalu, ia bergerak menuju pintu, membukanya, dan saat itulah, Nur melihat Widya, keluar dengan wajah kebingungan,

selama diperjalanan pulang, Widya mencoba mengajak bicara Nur, namun, Nur tidak merespon ucapan Widya, ia memikirkan apa yang barusaja ia lihat bukan hal kebetulan semata.

Seperti sebuah pesan,

pesan apa?

Widya dalam bahaya, atau, dirinya yang sedang dalam bahaya.

Malam setelah sholat Isya, Nur berpamitan sama Ayu dan Widya, ia ingin menemui pak Prabu, untuk pengajuan proposal prokernya bersama Anton.

Ayu sempat bertanya pada Nur, apakah Anton menemani, namun Nur mengatakan, ia bisa sendiri, meski Ayu menawarkan diri, namun Nur menolaknya

ada hal yang mau di luruskan, bukan prokernya, namun apa yang sebenarnya terjadi disini, pak Prabu tahu sesuatu. setidaknya itu asumsi Nur.

dan, ia merasa harus bertemu beliau malam ini, seakan-akan ada yang membisikinya bahwa, ia harus pergi ke rumah pak Prabu.

benar saja. pak Prabu duduk di teras rumah, seakan-akan, beliau sudah menunggunya. namun, ada sosok lain yang duduk bersamanya, seorang lelaki renta, ia duduk, sembari mengisap bakau lintingan, dan ketika Nur datang, si lelaki tua, tersenyum seperti mengenalinya.

Nur mendekat, memberi salam, pak Prabu tersenyum ramah seperti biasanya, lalu mempersilahkan Nur duduk, namun, Nur lebih tertuju pada 3 gelas kopi yang tersaji.

“niki tiang’e ten pundi to pak, kopi’ne kelebihan setunggal??” (ini yang punya kemana ya pak, kopinya kelebihan satu?)

“iku kopi, gawe awakmu, cah ayu” (itu kopi untuk kamu, mbak yang cantik) ucap lelaki renta itu. ia masih tersenyum, memandang Nur.

“ngapunten mbah, kulo mboten ngopi” (mohon maaf kek, saya tidak minum kopi)

“wes ta lah, di ombe sek, gak oleh nolak paringane tuan rumah nang kene yo. gak apik” (sudahlah, di minum dulu, gak baik nolak pemberian tuan rumah disini. tidak bagus pokoknya)

“nggih pak” ucap Nur

ketika Nur menyesap kopinya, aneh, kopi itu terasa seperti aroma melati, rasanya manis, dan ia tidak menemukan ampas, padahal dari luar, kopi itu terlihat seperti kopi hitam yang sekali lihat, bisa di rasakan rasanya akan sepahit apa.

si kakek bertanya. “yo opo rasane?”

“Enak mbah”

si mbah mengangguk puas, kemudian bertanya kembali. “sak iki ceritakno, onok opo, cah ayu mrene?” (sekarang, kamu boleh cerita, kenapa kamu kesini anak cantik?)

“kulo bade tandet ten pak Prabu mbah” (saya mau tanya sama pak Prabu kek)

“takon perkoro” (tanya soal)

“kulo di ketok’e memedi sing gedeh mbah, kulo wedi mbah, nganggo salah ten mriki, ngapunten nek kulo enten salah nang njenengan warga mriki” (saya di ikuti oleh sosok besar kek, saya takut. apa saya sudah melakukan kesalahan, sehingga saya dikejar, apa ada yang saya perbuat dan membuat tidak nyaman warga sini, saya minta maaf sebesar-besarnya)

saat itulah, pak Prabu bicara

“ndok, guk salahmu kok, sing ngetutke awakmu, iku ngunu, gak nyaman, mbek sing mok gowo” (nak, ini bukan salahmu, alasan kenapa kamu diikuti, karena kamu bawa sesuatu dari luar)

“maksude yok nopo pak, kulo mboten ngetos maksud njenengan” (maksudnya bagaimana pak, saya tidak mengerti maksud anda)

si kakek, kemudian melanjutkan. “awakmu ndok, iku ngunu, onok sing njogo, yo. sopo?? mbah dok, nah, iku sing gak di terimo nang kene. ngerti ndok”

(kamu itu nak, ada yang menjaga, siapa ya? nenek-nenek, nah, itu yang tida diterima disini. paham nak)

“kulo, njogo? ngapunten, kulo mboten paham” (saya, menjaga. mohon maaf, saya belum mengerti)

“wes, ngene ae, mene bengi, mampir rene maneh yo, tak duduno sesuatu”

(sudah begini saja, besok malam, kamu kesini, saya tunjukkan sesuatu sama kamu)

meski tidak mengerti maksud ucapan pak Prabu dan lelaki renta itu, Nur akhirnya kembali ke penginapanya. dengan membawa nama lelaki renta itu, yang menyebut dirinya dengan nama “Mbah Buyut”

yang pertama Nur lihat saat ia menginjak penginapan adalah, Widya. ia seperti sudah menunggunya, dan benar saja, Widya mengajukan pertanyaan aneh-, seperti darimana, kenapa tidak minta di temenin, namun, Nur tidak ingin menceritakanya, ia takut bila Widya dan yang lain terlibat.

Nur langsung pergi ke kamar, beristirahat, meski pikiranya masih menerawang jauh, ia tidak tahu harus melakukan apa selain menyimpanya sendiri.

berharap mendapatkan ketenangan dalam tidurnya, Nur malah mendapat mimpi, tak terlupakan, sepeti sebuah pesan untuknya.

di mimpi itu, Nur melihat sebuah tempat, banyak pepohonan yang tumbuh, salah satu yang tidak akan pernah Nur lupakan adalah pohon Jati kroyo atau lebih dikenal dengan nama jati belanda yang tumbuh di sepanjang mata memandang, bukan hanya itu, ada rimbun tumbuh tanaman beluntas.

aroma dedaunan beluntas yang wangu, membuat Nur mengingat kembali saat ia masih tinggan di pesantren, namun, Nur sadar, bahwa ia saat ini, berdiri di tengah hutan belantara, sendirian, dengan kegelapan malam yang menyiutkan nyalinya. Nur, mulai berjalan, menyusuri tanah lapang

sejauh mata memandang, Nur hanya melihat pepohonan yang besar diselimuti kabut keputihan, tepat ketika Nur tengah berjalan, ia mendengar riuh sorai dari kejauhan, dari suara itu, terdengar ramai orang, entah ada apa, sehingga keramaian itu, membuat Nur penasaran, ia pun mendekati

semakin mendekati sumber suara, Nur merasa janggal, entah apakah dari balik pepohonan atau semak belukar, ada yang tengah mengasinya, Nur hanya mengucap kalimat yang bisa menguatkan batinya, bahwa ia, disini, bukan berniat menganggu.

“mbah, ngapunten, cucu’ne numpang lewat, mboten gada niat nganggu. ngapunten nggih mbah” (mbah, mohon maaf, cucu’mu hanya ingin lewat, tidak ada keinginan mengganggu, mohon maaf ya mbah)

kalimat itu, terus Nur, ucapkan. dan, sampailah, ia, di keramaian itu.

banyak sekali orang, mulai dari yang tua, hingga yang muda, dari anak-anak sampai remaja, mereka semua berkumpul menjadi satu, didepan sebuah sanggar besar, ada alunan musik gamelan, yang mengalun merdu, tepat, ditengah sanggar, ada sosok penari yang sangat cantik.

Nur, tidak pernah tahu, ada tempat seperti ini di desa ini, sebelumnya, ia memang tidak mengikuti pak Prabu saat mengajak semua rombongan temanya berkeliling kampung, maka, saat itu, Nur hanya berpikir, di tempat inilah, warga kampung mengadakan hajatan.

Nur masih belum menyadari, kenapa dan bagaimana ia bisa sampai disana, yang ia tahu, ia tersesat sampai akhirnya berakhir ditempat ini

ketika, Nur tengah asyik menikmati pertunjukkan itu, tiba-tiba, terdengar sayup seseorang berteriak, anehnya, hanya Nur yang merasa mendengarnya

teriakanya pilu, meminta tolong, Nur pun meninggalkan keramaian itu, matanya awas, mencari sumber suara yang meminta tolong itu, naas, ketika Nur tengah berjalan, ia terpelosok jatuh dari sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi, mencoba bangkit, Nur melihat kakinya mati rasa.

saat itulah, Nur melihatnya.

Lanjut ke part 3