Pengertian Kritik Sastra

Kritik Sastra adalah sebuah analisa terhadap karya sastra untuk mengamati atau menilai lebih jauh karya sastra tersebut, mulai dari baik buruknya serta unsur yang terdapa di dalamnya secara obyektif.

Kritik sastra juga bisa disebut sebagai sebuah bidang studi sastra yang fungsinya untuk menghakimi karya sastra, serta memberi penilaian tentang bermutu atau tidaknya suatu karya sastra tersebut dihadapan kritikus.

Ciri-ciri Kritik Sastra

  • Kritik sastra bersifat objektif.
  • Bertujuan untuk memperbaiki karya yang dikritik.
  • Menjadi bahan acuan untuk meningkatkan kualitas penciptaan karya sastra.
  • Memberi solusi atas kekurangan dari sebuah karya sastra.
  • Memaparkan nilai-nilai yang perlu dibangun dalam sebuah karya sastra.

Baca juga: Pengertian Puisi Prosais dan Contohnya

Contok Kritik Satra

Berikut adalah contoh kritik sastra:

Hatiku Selembar Daun
Sapardi Djoko Damono

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
Nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini
Ada yang masih ingin ku pandang
Yang selama ini senantiasa luput
Sesaat adalah abadi
Sebelum kau sapu taman setiap pagi

Sapardi Djoko Damono ada seorang sastrawan nasional, yang cukup terkenal. Karya-karyanya telah banyak dipulikasikan aaupun diterbitkan.

Salah satunya adalah puisi Hatiku Selembar Daun. Para pembaca puisi pun ikut menginterpretasikan puisi ini menurut pemahamannya masing-masing.

Penikmat puisi memaknai puisi Hatiku Selembar Daun karya Sapardi Djoko Damono ini tentang seseorang yang sedang mencari jati dirinya yang telah hilang.

Ada pula yang menyebutkan  sang penyair memaknai seorang yang telah menemukan akhir hidupnya. Karena penyair terbaring mengenang segala masa lalunya yang ia sesali sebelum nyawanya terenggut.

Pembaca lainnya pun memberikan makna puisi ini tentang seseorang yang merindukan kematian, puisi ini menggambarkan bahwa merindukan kematian begitu indah.

Adapun pembaca lain juga memaknai puisi ini dengan kalimat berbeda namun hampir serupa intinya yaitu pengarang menggambarkan bahwa ia hanyalah selembar daun yang dengan mudahnya lepas dari rantingnya walaupun hanya terkena angin.

Dan akhirnya sadar bahwa ia tidak ada apa-apanya di dunia ini. Dia berharap agar diberi waktu untuk memikirkan apa yang dulu sering dia tinggalkan, walaupun sebentar cukup untuk memikirkan semuanya.

Meskipun dia tidak menggambarkan penyesalan sebelum yang maha kuasa yang digambarkan dengan pembersih taman yang melakukan aktifitasnya membersihkan daun-daun yang berserakan.

Pembaca lain juga menyebutkan makna puisi ini tentang sesulit-sulitnya sesuatu itu, pasti ada sesuatu yang mudah kita lakukan.

Selain itu ada pula yang menyebutkan puisi ini tentang menunjukkan seseorang yang rapuh dan lemah dan berharap belas kasihan dari orang lain.

Seorang pembaca lain juga mengatakan pusi ini tentang seseorang yang menanti kematiannya. Ia menanti kematiannya dengan berbuat banyak hal yang belum sempat ia lakukan sebelumnya.

Pembaca puisi ini pun mengatakan bahwa puisi ini bercerita atau bermakna tentang mengingatkan kepada kita akan kecilnya kita di mata Tuhan, dan untuk itu gunakanlah waktu sebaik mungkin di dunia ini, bersyukur atas rahmat dari Tuhan dan selalu beribadah dan berbuat baik.

Makna puisi ini yaitu tentang sesorang yang mencoba meratapi nasib dan sikapnya selama ia hidup. Karena ia telah di ujung tanduk atau di detik-detik akhir hidupnya.

Ia menyadari bahwa kehidupannya akan abadi walau hanya sesaat karena, semua yang ia lakukan tak akan terulang. Ia mencoba menyesali apa yang telah ia lakukan selama ia hidup.

Ia mencoba merubah semua sikap buruknya namun waktunya hampir habis, sehingga ia mencoba melakukan yang terbaik sebelum kematiannya tiba walau hanya sebentar.