Saat mendengar kata-kata Karapan Sapi, pasti yang terlintas dalam pikiran kita adalah Pulau Madura. Ya, Karapan Sapi adalah tradisi yang sangat lekat dan berasal dari Madura. Inilah kekayaan dan keunikan budaya yang hanya terdapat di Madura.

Madura memang kaya akan budaya dan tradisi serta kearifan lokalnya. Karapan sapi adalah  salah satu aset bangsa yang harus dijaga. Sebab, Karapan Sapi adalah tradisi asli Madura, jangan sampai ada pihak lain yang mengaku.

Madura memiliki adat budaya yang kental dengan nuansa keagamaan dan memiliki tata krama yang tinggi. Buktinya ada banyak sekali pondok pesantren ternama dan tokoh negeri yang lahir di Madura. Suku Madura juga dikenal sebagai pekerja keras yang pantang menyerah. Nilai-nilai luhur dan nilai-nilai budaya dijaga kuat oleh masyarakat Madura.

Karapan Sapi adalah perlombaan adu cepat di lintasan lurus dengan menggunakan sapi sebagai objek utamanya. Layaknya balap sepeda, Karapan Sapi juga memiliki tim khusus yang mempunyai tugas masing-masing untuk mempersiapkan sapi agar beraksi dengan performa terbaik.

Jauh sebelum perlombaan, sapi-sapi tersebut diperlakukan secara istimewa, diberi asupan makanan yang baik, diberi jamuecara rutin, bahkan dipijat. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk merawat sapi karapan tersebut.

Baca juga: Festival Ogoh-Ogoh: Bentuk Kekompakan Umat Hindu di Bali

Dalam Karapan Sapi, sapi yang dilombakan tidak hanya satu, tapi sepasang. Lalu bagaimana caranya agar kedua sapi tersebut dapat disatukan saat lomba? Caranya adalah menggunakan kayu khusus yang digunakan untuk menyatukan kedua sapi kerap tersebut.

Nama kayu itu adalah “Kaleles” yang berguna untuk mengikat antar sapi kanan dan sapi. Selain itu Kaleles berguna sebagai tempat untuk mengendarai dan mengendalikan kedua sapi kerap.

Karapan sendiri berasal dari bahasa Madura yaitu kata “Kerrap” yang berarti berpacu atau berlomba menjadi yang tercepat dan terbaik. Inilah filosofi hidup yang melambangkan bahwa masyarakat Madura adalah pekerja keras yang mudah menyerah serta berlomba lomba untuk menjadi yang terbaik.

Sebelum perlombaan Karapan sapi dimulai, kita akan disuguhi dengan berbagai macam seni budaya khas Madura yang memang dipersiapkan untuk menghibur penonton.

Baca juga: Asal-Usul dan Sejarah Jaranan

Adapun pertunjukan seni budaya tersebut antara lain seperti tarian khas Madura yang diiringi dengan musik tradisional yang disebut dengan saronen. Saronen adalah musik gamelan namun tidak seperti gamelan di Jawa pada umumnya. Gamelan yang disebut saronen ini sangat berirama khas Madura.

Sapi sapi kerap akan dibawa berjalan menjelajahi arena pertandingan sebelum bertanding dengan diiringi musik Saronen dan tarian khas Madura. Grup Saronen disewa oleh pemilik sapi kerap untuk menambah semangat tim Karapan Sapi. Jadi jelas tidak hanya ada satu atau dua grup kesenian saja. Bisakah Anda membayangkan lapangan stadion yang dipenuhi budaya daerah? Anda akan menemukannya pada pertandingan Karapan Sapi di Madura.

Pada saat perlombaan, aktor yang bertugas mengendarai Kaleles disebut Joki, tugasnya adalah mengendalikan kecepatan dan arah sapi. Tidaklah mudah mengendalikan dua ekor sapi yang melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Butuh nyali besar dan keahlian khusus agar dapat menjalankan aksi sebagai Joki yang handal. Anggota tim yang lain bekerja sesuai dengan pembagian kerjanya masing-masing. Ada yang bertugas menahan tali kekang sapi, menangkap sapi, bahkan ada yang berteriak-teriak layaknya supporter untuk menyemangati.

Menonton Karapan Sapi adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Madura. Suasana seru dan menegangkan akan Anda rasakan saat melihat perlombaan Karapan Sapi. Tak hanya turis lokal saja yang datang berkunjung tetapi juga banyak sekali turis manca negara yang hadir mewarnai arena perlombaan Karapan Sapi.

Karapan sapi biasanya diadakan setiap tahun di Madura sebagai ungkapan rasa gembira masyarakat Madura saat menjelang musim panen tembakau.

Masing-masing Kabupaten akan menggelar perlombaan Karapan Sapi lalu kemudian partai final biasanya diselenggarakan di kabupaten Pamekasan. Oleh masyarakat Pamekasan, partai final ini disebut dengan istilah “Gubeng”.

Penonton akan berdatangan dari berbagai daerah untuk menjadi menyaksikan ajang Karapan Sapi dengan wajah antusias. Semoga dengan artikel ini Anda dapat tertarik untuk mengunjungi Madura dan menyaksikan secara langsung ajang Karapan Sapi.