Dalam mata pelajaran informatika, salah satu konsep penting yang dipelajari adalah proses sistem. Proses sistem merupakan urutan tahapan yang terjadi dalam sebuah sistem informasi, mulai dari menerima data hingga menghasilkan informasi yang berguna.
Pemahaman ini sangat penting karena hampir semua aplikasi dan perangkat teknologi bekerja berdasarkan prinsip sistem ini.
Secara umum, proses sistem terdiri dari beberapa tahapan utama, yaitu:
1. Input (Masukan)
Tahap pertama dari proses sistem adalah input, yaitu proses memasukkan data mentah ke dalam sistem.
Data ini bisa berasal dari pengguna, sensor, formulir elektronik, atau file yang diunggah. Misalnya, saat kita mengisi data nama dan alamat di formulir online, informasi tersebut menjadi input yang akan diproses lebih lanjut.
2. Processing (Pengolahan)
Setelah data diterima, sistem akan mengolahnya sesuai dengan perintah atau algoritma tertentu. Pengolahan bisa melibatkan perhitungan, pengurutan, pencarian, penggabungan, atau analisis data.
Misalnya, dalam sistem pemesanan makanan online, data pesanan akan diolah untuk menentukan harga total, menghitung pajak, dan memilih metode pengiriman.
3. Output (Keluaran)
Tahap ini merupakan hasil dari proses pengolahan data. Output dapat berupa tampilan informasi di layar, dokumen yang dicetak, grafik, suara, atau file digital.
Output harus disajikan dalam bentuk yang dapat dipahami dan digunakan oleh pengguna. Contohnya adalah struk pembayaran, notifikasi pemesanan berhasil, atau grafik penjualan mingguan.
4. Storage (Penyimpanan)
Dalam banyak sistem, informasi yang telah diolah tidak langsung dihapus, tetapi disimpan dalam basis data atau penyimpanan cloud agar bisa digunakan kembali di lain waktu. Penyimpanan ini penting untuk pelacakan data, laporan, atau pembaruan di masa mendatang.
5. Feedback (Umpan Balik)
Feedback adalah informasi yang dikirim kembali ke sistem untuk evaluasi atau perbaikan. Contohnya, pengguna yang memberi rating setelah menggunakan layanan akan memberikan umpan balik yang digunakan untuk meningkatkan kualitas sistem.
Dalam kegiatan membaca, menulis, atau belajar, kita sering menemui kosakata yang belum kita pahami artinya.
Kata-kata sulit ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, baik kata baku, istilah ilmiah, kata serapan, hingga ungkapan khas daerah atau bahasa asing.
Lalu, di mana kita bisa mencari arti dari kosakata-kosakata tersebut? Jawabannya tidak hanya satu.
Saat ini, kita memiliki banyak pilihan sumber untuk menemukan arti kosakata sulit, baik dalam bentuk cetak maupun digital.
Salah satu sumber paling umum dan terpercaya adalah kamus, terutama Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Kamus ini merupakan rujukan resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
KBBI tidak hanya tersedia dalam bentuk buku, tetapi juga dalam bentuk digital melalui situs kbbi.kemdikbud.go.id dan aplikasi resmi di ponsel pintar.
Melalui KBBI, kita bisa mencari arti kata dengan cepat dan akurat, termasuk kelas katanya, contoh penggunaannya dalam kalimat, dan makna lainnya jika kata tersebut memiliki lebih dari satu arti.
Selain KBBI, kita juga dapat mencari arti kosakata sulit dari kamus-kamus khusus, seperti kamus istilah medis, kamus hukum, kamus ekonomi, atau kamus bahasa daerah.
Kamus-kamus ini digunakan untuk memahami istilah teknis atau profesional yang tidak selalu terdapat di KBBI.
Misalnya, jika kita membaca artikel kesehatan dan menemukan istilah “hipotermia”, kita bisa merujuk ke kamus medis atau ensiklopedia kesehatan untuk menemukan maknanya secara lebih rinci.
Dalam dunia modern saat ini, mesin pencari seperti Google juga menjadi alat bantu yang sangat efektif.
Cukup ketikkan kata sulit yang ingin diketahui, dan biasanya hasil pencarian akan langsung menampilkan definisinya dari berbagai sumber, seperti Wikipedia, KBBI daring, atau situs pendidikan lainnya.
Selain itu, ada juga aplikasi kamus digital dan situs pembelajaran bahasa seperti Tesaurus, Google Translate, dan Kamusku, yang menyediakan sinonim dan terjemahan kata dalam berbagai bahasa.
Bagi pelajar, buku pelajaran dan glosarium di akhir bab sering kali menyediakan daftar istilah penting beserta artinya.
Terakhir, bertanya langsung kepada guru, dosen, atau orang yang lebih ahli juga merupakan cara efektif untuk memahami makna kosakata dalam konteks yang tepat.
Dengan banyaknya sumber yang tersedia, kita tidak perlu bingung atau takut saat menemui kata yang tidak kita kenal.
Justru, ini adalah peluang untuk memperluas kosa kata dan memperkaya wawasan berbahasa.
Pendidikan dan masyarakat adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Ketika masyarakat berubah, sistem pendidikan pun ikut berubah mengikuti perkembangan zaman.
Hal ini karena pendidikan bukanlah proses yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kehidupan sosial.
Perubahan dalam pola pikir, budaya, teknologi, hingga ekonomi masyarakat akan berpengaruh besar terhadap apa yang diajarkan di sekolah, bagaimana cara mengajar, dan bahkan bagaimana cara belajar siswa.
1. Perkembangan Teknologi Mengubah Cara Belajar
Salah satu perubahan sosial paling terasa saat ini adalah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Hal ini mempengaruhi sistem pendidikan secara langsung. Jika dulu siswa belajar hanya melalui buku dan papan tulis, kini mereka bisa belajar dari video, website, dan aplikasi digital.
Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Kini, siswa bisa mencari informasi sendiri lewat internet. Proses belajar menjadi lebih interaktif dan menyenangkan.
Bahkan, sistem pembelajaran jarak jauh (online learning) semakin banyak digunakan, terutama sejak pandemi COVID-19.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan harus mengikuti perubahan masyarakat yang semakin akrab dengan teknologi.
2. Perubahan Nilai dan Gaya Hidup Memengaruhi Kurikulum
Perubahan sosial juga terjadi pada nilai-nilai dan gaya hidup masyarakat. Misalnya, dulu pendidikan lebih menekankan pada hafalan dan kedisiplinan.
Sekarang, masyarakat menuntut pendidikan yang lebih menekankan pada kreativitas, berpikir kritis, dan kerja sama.
Karena itu, kurikulum sekolah pun harus berubah. Banyak sekolah kini mengajarkan keterampilan abad 21, seperti berpikir kritis, komunikasi efektif, literasi digital, dan toleransi.
Selain itu, isu-isu sosial seperti lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia mulai diajarkan sejak dini.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan harus menyesuaikan dengan perkembangan nilai dalam masyarakat.
3. Kebutuhan Dunia Kerja Mendorong Pendidikan Lebih Fleksibel
Dunia kerja juga mengalami perubahan besar. Banyak pekerjaan yang dulu penting kini tergantikan oleh mesin atau otomatisasi.
Sementara itu, pekerjaan baru seperti content creator, data analyst, dan programmer menjadi lebih dibutuhkan.
Akibatnya, sistem pendidikan dituntut untuk mempersiapkan siswa dengan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja masa kini.
Banyak sekolah dan perguruan tinggi kini mulai mengajarkan coding, kewirausahaan, dan literasi keuangan.
Bahkan, pelajaran vokasional (kejuruan) mulai diminati karena lebih cepat terserap ke lapangan kerja. Pendidikan tidak hanya soal teori, tapi juga praktik dan keterampilan hidup.
4. Perubahan Struktur Sosial Mempengaruhi Akses Pendidikan
Perubahan sosial juga mencakup struktur dan kondisi kehidupan masyarakat. Saat ini, kesadaran akan pentingnya pendidikan semakin tinggi.
Namun, masih ada ketimpangan akses pendidikan antara desa dan kota, antara kelompok ekonomi bawah dan atas.
Sistem pendidikan harus menyesuaikan dengan realitas sosial ini. Pemerintah dan lembaga pendidikan dituntut untuk menyediakan pendidikan yang inklusif, ramah disabilitas, serta memperluas akses bagi anak-anak di daerah terpencil.
Program seperti beasiswa, sekolah gratis, dan pendidikan nonformal menjadi bentuk adaptasi terhadap perubahan sosial yang menginginkan keadilan pendidikan bagi semua.
Teknologi informasi telah menjadi kekuatan revolusioner yang mengubah berbagai aspek kehidupan manusia.
Sejak berkembangnya komputer, internet, hingga media sosial, dunia mengalami transformasi besar yang tak hanya berdampak pada sektor ekonomi dan pendidikan, tetapi juga menciptakan perubahan sosial yang signifikan.
Perubahan ini bisa dilihat dalam cara individu berkomunikasi, berinteraksi, mengakses pengetahuan, hingga dalam dinamika kekuasaan dan partisipasi publik.
Perubahan Pola Komunikasi dan Interaksi Sosial
Teknologi informasi telah mendobrak batas ruang dan waktu dalam komunikasi.
Jika dahulu komunikasi antarmanusia sangat tergantung pada jarak dan waktu, kini semua menjadi instan melalui layanan pesan singkat, email, dan media sosial.
Masyarakat kini lebih terkoneksi secara global, memungkinkan terbentuknya komunitas lintas negara, budaya, dan keyakinan.
Platform seperti WhatsApp, Instagram, dan X (Twitter) bukan hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga ruang baru untuk menyuarakan pendapat, membangun identitas, dan bahkan mempengaruhi opini publik.
Namun, hal ini juga menimbulkan tantangan baru seperti alienasi sosial, kecanduan digital, serta berkurangnya komunikasi tatap muka yang autentik.
Akses Informasi dan Pendidikan yang Lebih Terbuka
Salah satu dampak besar dari teknologi informasi adalah keterbukaan akses terhadap informasi dan pendidikan.
Platform seperti YouTube, Coursera, dan perpustakaan digital memungkinkan masyarakat dari berbagai lapisan sosial memperoleh ilmu pengetahuan tanpa harus mengandalkan lembaga formal.
Hal ini turut mendorong lahirnya masyarakat yang lebih sadar akan hak, kesempatan, dan potensi diri.
Masyarakat tidak lagi tergantung pada satu sumber informasi, tetapi bisa membandingkan, mengkritisi, dan mengevaluasi berbagai perspektif.
Hal ini mempercepat kesadaran sosial dan membuka ruang bagi transformasi pola pikir yang lebih terbuka dan kritis.
Perubahan Struktur Sosial dan Budaya
Teknologi informasi juga berperan dalam mengubah struktur sosial dan budaya masyarakat. Nilai-nilai yang sebelumnya bersifat lokal mulai terpengaruh oleh nilai-nilai global.
Budaya populer (pop culture) menyebar dengan cepat melalui media digital, menciptakan homogenisasi budaya sekaligus memunculkan hibriditas.
Di satu sisi, hal ini memperkaya kebudayaan dengan beragam referensi baru, namun di sisi lain dapat menggerus identitas budaya lokal jika tidak disikapi secara kritis.
Perubahan ini terlihat dalam gaya hidup, bahasa, cara berpakaian, hingga cara pandang terhadap peran keluarga, gender, dan pekerjaan.
Transformasi Dunia Kerja dan Ekonomi
Dunia kerja pun tak luput dari pengaruh teknologi informasi. Munculnya platform digital menciptakan lapangan pekerjaan baru seperti konten kreator, influencer, data analyst, hingga pekerjaan berbasis freelance.
Sistem kerja jarak jauh (remote working) dan otomasi pekerjaan dengan kecerdasan buatan telah mengubah cara organisasi bekerja dan mengatur tenaga kerja.
Sektor informal dan ekonomi kreatif menjadi lebih dinamis karena didukung oleh platform digital seperti marketplace dan media sosial.
Hal ini menciptakan mobilitas sosial baru, tetapi juga menimbulkan ketimpangan digital bagi masyarakat yang belum memiliki akses teknologi.
Perubahan dalam Gerakan Sosial dan Politik
Teknologi informasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk lebih aktif dalam gerakan sosial dan politik.
Aksi solidaritas, kampanye sosial, dan gerakan perubahan kini mudah disebarluaskan secara daring melalui tagar dan petisi online.
Hal ini memungkinkan suara kelompok marginal atau masyarakat akar rumput lebih mudah didengar dan didukung.
Contohnya, gerakan #ReformasiDikorupsi di Indonesia mendapat dukungan luas karena kekuatan penyebaran informasi digital.
Partisipasi publik dalam proses politik juga meningkat karena masyarakat bisa memantau, mengkritisi, dan menyuarakan aspirasi secara langsung di media sosial.
Dampak Positif dan Tantangan Etis
Pengaruh teknologi informasi terhadap perubahan sosial tidak sepenuhnya positif. Di samping membuka ruang baru, muncul pula persoalan etis seperti hoaks, ujaran kebencian, pelanggaran privasi, dan cyberbullying.
Masyarakat yang tidak memiliki literasi digital memadai berisiko menjadi korban manipulasi informasi atau penyebaran disinformasi yang dapat merusak tatanan sosial.
Oleh karena itu, pendidikan literasi digital menjadi penting agar masyarakat mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Salah satu sifat cahaya yang paling sering kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari adalah sifat cahaya yang merambat lurus dan sifat pemantulan.
Dalam banyak aktivitas harian, kita tanpa sadar mengalami bagaimana cahaya bergerak dari sumbernya secara lurus hingga mengenai benda-benda di sekitar kita, seperti sinar matahari yang masuk melalui jendela, cahaya lampu yang menyinari ruangan, atau sorot lampu kendaraan di malam hari.
Cahaya yang merambat lurus ini memungkinkan kita melihat benda-benda secara jelas karena sinar mencapai mata kita tanpa banyak pembelokan.
Selain itu, sifat cahaya yang dipantulkan juga sangat dominan dalam keseharian. Ketika cahaya mengenai permukaan benda, sebagian dari cahaya tersebut dipantulkan kembali, dan pantulan inilah yang masuk ke mata kita sehingga kita dapat melihat warna, bentuk, dan detail dari objek tersebut.
Misalnya, saat kita bercermin, cahaya dari tubuh kita dipantulkan oleh permukaan cermin secara teratur sehingga membentuk bayangan yang utuh.
Bahkan ketika kita melihat tembok, jalanan, atau pepohonan, semua itu tampak oleh mata kita karena cahaya dipantulkan secara baur dari permukaan kasar benda tersebut.
Dua sifat ini, yaitu merambat lurus dan dipantulkan merupakan kunci utama dari kemampuan mata manusia untuk melihat dunia di sekitar.
Meski demikian, dalam konteks yang lebih spesifik, kita juga merasakan sifat cahaya lainnya, seperti pembiasan saat melihat pensil tampak bengkok di dalam air, atau saat melihat pelangi yang merupakan contoh dari dispersi cahaya.
Namun dibandingkan dengan sifat-sifat tersebut, merambat lurus dan pemantulan adalah yang paling dominan dan konstan kita rasakan.
Sifat-sifat ini menjadi landasan penting dalam berbagai teknologi pencahayaan, optik, dan rekayasa visual yang menunjang kehidupan modern.
Maka, tanpa disadari, interaksi kita dengan cahaya setiap hari menunjukkan betapa penting dan nyatanya dua sifat tersebut dalam kehidupan manusia.
Proses penetapan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia berlangsung melalui rangkaian peristiwa penting yang diawali dari sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 29 Mei hingga 1 Juni dan dilanjutkan 10–17 Juli 1945.
Dalam sidang tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan pidato monumental yang memperkenalkan lima prinsip dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Gagasan ini mendapat sambutan hangat dan ditindaklanjuti oleh pembentukan Panitia Sembilan yang bertugas merumuskan dasar negara, hingga akhirnya menghasilkan dokumen Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945.
Namun, dalam Piagam tersebut tercantum klausul tambahan berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang kemudian memicu perdebatan karena dianggap berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat Indonesia yang majemuk.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menggelar sidang pada 18 Agustus 1945 yang membahas kembali rumusan dasar negara.
Dalam semangat persatuan dan semata demi menjaga integrasi bangsa, para tokoh, terutama Mohammad Hatta, mengusulkan untuk menghapus tujuh kata tersebut dari Piagam Jakarta. Usulan ini diterima dengan musyawarah mufakat oleh seluruh anggota PPKI.
Akhirnya, Pancasila disepakati sebagai dasar negara dan dimasukkan secara resmi ke dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Penetapan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah konstitusional Indonesia, karena mencerminkan semangat kompromi, kebhinekaan, serta cita-cita kolektif untuk membangun bangsa yang adil dan berdaulat.
Proses ini juga menunjukkan bahwa dasar negara Indonesia dibangun bukan atas dasar dominasi kelompok tertentu, melainkan hasil kesepakatan nasional yang inklusif dan demokratis, sebagaimana dikukuhkan dalam berbagai dokumen resmi negara dan diakui secara hukum sebagai dasar konstitusional Republik Indonesia.
Memaknai setahun berdirinya Taman Baca Masyarakat (TBM) Al-Djawahir sekaligus menyambut Hari Anak Nasional, digelar serangkaian lomba kreatif dan literatif yang meliputi puitisasi Alquran, bercerita, serta menggambar dan mewarnai pada Ahad (20/7/2025) di kawasan kompleks TBM Al-Djawahir, Gambiran, Banyuwangi.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas komunitas yang melibatkan TBM Al-Djawahir, Mak'E Mart, Posyandu Desa, komunitas Gotong Royong 45, Sanggar Merah Putih'45, Jaringan Rumah Kita Banyuwangi (JRKBB), media literasi sastrawacana.id/, media online jurnalnews, event organizer Senyum Agmadina, serta komunitas-komunitas literasi lainnya di Kabupaten Banyuwangi.
Dalam sambutan pembukaan, Djawahir selaku pendiri TBM Al-Djawahir menyampaikan sejarah singkat berdirinya taman baca tersebut.
Ia menuturkan bahwa TBM ini lahir dari semangat menyediakan ruang alternatif belajar bagi masyarakat, khususnya anak-anak di wilayah Gambiran dan sekitarnya, agar lebih dekat dengan budaya membaca.
Pengalaman beliau saat di perpustakaan sekolah membekas untuk diteruskan iqro’ membaca ke anak cucu.
Ketua panitia, Dafik Ismail, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini perdana yang juga sebagai tasyakuran mendapatkan hibah 1000 buku dari Perpustakaan Nasional berikut rak bukunya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dari berbagai wilayah di Banyuwangi yang telah ikut berpartisipasi, serta kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini seperti Perpustakaan Nasional, Enggal Modified beserta pegiat literasi dan seniman yang jadi juri serta media partner. Semoga kegiatan ini bisa menjadi semangat bersama dalam membumikan literasi di kalangan generasi muda,” ujar aktivis dakwah dalam naungan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) ini.
Sambutan juga diberikan oleh Yeti Chotimah yang turut menyemarakkan acara dengan membagikan sejumlah buku hasil karyanya sebagai hadiah bagi para pemenang lomba.
Kehadiran hadiah buku ini diharapkan menjadi motivasi tersendiri bagi peserta untuk terus berkarya dan mencintai literasi. Antara lain buku Sejarah seni budaya, bathokan, cerpen bisikan manis serta yang baru diluncurkan Penerbit Erlangga Jakarta, yakni cerita rakyat maupun adat tradisi Banyuwangi seperti Keboan, Puter Kayun dan Mantu Kucing. Rencana akan terbit 11 judul buku.
Rangkaian lomba untuk kategori puitisasi Alquran dan bercerita, pelaksanaan lomba dilakukan dalam dua tahap, yaitu seleksi video secara daring dan penampilan langsung di lokasi acara bagi tiga finalis terpilih di masing-masing kategori.
juri lomba puitisasi alquran (Dok. Fathma/Syifa)
Dewan juri lomba puitisasi dan bercerita terdiri dari tiga tokoh literasi dan seni yang berpengalaman, yakni Maulana Affandi (penulis dan pemimpin redaksi Penerbit Lintang) sebagai ketua juri, Syaiful Anwar (guru SMK Muhammadiyah 1 Genteng sekaligus penulis aktif ), dan R. Ayu Pudjiati (seniman teater asal Madura).
Ketiganya tak hanya menilai, tetapi juga memberikan masukan langsung kepada peserta yang tampil di panggung.
Mereka menyoroti pentingnya penguasaan panggung, ekspresi wajah, gestur, hingga pemilihan diksi yang tepat agar pesan cerita atau puisi tersampaikan secara kuat dan menyentuh.
Dalam penjelasannya, Maulana Affandi menyampaikan bahwa seluruh peserta yang tampil langsung di lokasi adalah anak-anak terbaik yang telah lolos proses seleksi ketat dari seluruh peserta yang mengirim video.
“Anak-anak yang hadir di panggung ini adalah mereka yang terpilih, bukan sembarang peserta. Maka dari itu, orang tua patut berbangga karena putra-putrinya menunjukkan kualitas dan semangat yang luar biasa,” ujarnya dengan semangat.
Syaiful Anwar juga menegaskan bahwa proses ini diibaratkan sebagai menjajaki anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai puncak.
“Jadi, anggap saja perlombaan seperti ini sebagai proses anak menaiki anak tangga yang pada waktunya akan sampai di puncak,” jelasnya.
Sementara itu, lomba menggambar dan mewarnai diperuntukkan bagi siswa TK dan SD, dan diikuti oleh puluhan peserta dari seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.
Suasana lomba tampak semarak karena para peserta datang bersama orang tua yang setia mendampingi.
Sorak semangat, tawa anak-anak, serta dukungan dari para pendamping menambah hangat suasana kegiatan.
Dewan juri untuk lomba mewarnai dan menggambar juga menghadirkan para praktisi seni dan pendidikan.
lomba mewarnai dan menggambar (Dok. Fathma/Syifa)
Ketua juri adalah Muhammad Taufik, S.Sn yang biasa dipanggil Oklek guru kesenian di SMP Muhammadiyah 1 (Muhi) Genteng.
Ia didampingi oleh dua juri lainnya, yakni Indriana Laily dan Qurrota Ninin yang juga aktif dalam kegiatan seni dan pengembangan kreativitas anak.
Dalam proses penilaian, Oklek tak lupa berpesan kepada segenap orang tua yang hadir agar terus mendampingi anak-anaknya untuk mengasah bakat seni yang dimiliki.
“Anak-anak di sini sudah memiliki bakat seni yang luar biasa, jadi hendaknya didampingi terus, kalau bisa dihadirkan guru seni untuk mengasah bakatnya,” papar Oklek.
Di akhir acara, para pemenang dari tiap kategori diumumkan dan diberikan penghargaan, berupa trofi, piagam, serta hadiah menarik.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara para pemenang dan dewan juri sebagai penanda kebersamaan dan semangat literasi yang terus tumbuh di tengah masyarakat Banyuwangi.
Sebuah webinar literasi bertajuk Pelatihan Menulis Puisi dan Pentigraf Berbahasa Indonesia dan Using sukses diselenggarakan pada Jumat, 18 Juli 2025.
Acara ini merupakan kolaborasi antara Penerbit Lintang Banyuwangi, media online sastrawacana.id/, dan komunitas literasi Kopiwangi.
Kegiatan ini diikuti oleh 75 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, guru, hingga praktisi literasi.
Mereka berkumpul secara daring untuk memperdalam wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan menulis sastra, khususnya puisi dan pentigraf, dalam dua bahasa: Indonesia dan Using.
Webinar dipandu oleh Yeti Chotimah, seorang pendidik sekaligus penulis produktif yang telah menerbitkan sejumlah buku, termasuk yang bertema kebudayaan Banyuwangi.
Jalannya acara semakin dinamis berkat kehadiran Qurrota Ninin sebagai pembawa acara, yang telah berpengalaman dalam berbagai kegiatan literasi dan kebudayaan.
Tiga narasumber utama dihadirkan dalam webinar ini. Pertama, Maulana Affandi, penulis sekaligus pemimpin redaksi Penerbit Lintang.
Kedua, Andi Budi Setiawan, penulis buku dan editor sastrawacana.id/ yang juga dikenal dengan nama pena Penapanuluh.
Ketiga, Heri Iskandar dengan nama panggung Dzakawangi, pencipta lagu serta pemerhati bahasa Using yang aktif dalam pelestarian budaya lokal.
Dalam pemaparannya, Maulana Affandi mengingatkan para peserta akan pentingnya warisan intelektual melalui karya tulis.
Menurutnya, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan ide, melainkan bentuk tanggung jawab pada generasi mendatang. Ia juga menegaskan jika penulis itu tak akan pernah mati karena pemikirannya selalu abadi.
"Fisik kita akan lenyap suatu hari nanti, tapi pemikiran kita harus tetap hidup dan abadi di dalam buku. Maka, warisan terbaik adalah buku yang membuat kita akan dikenang oleh generasi selanjutnya," paparnya.
Pemateri kedua, Andi Budi Setiawan yang telah menelurkan beberapa karya turut memberikan panduan teknis dalam menulis puisi dan pentigraf yang ideal.
Salah satu poin yang ditegaskan adalah perihal pemilihan diksi yang harus dilakukan secara mendalam agar menghasilkan karya yang kuat dan penuh makna.
"Diksi yang tepat akan menghidupkan puisi, bukan sekadar menghiasinya. Sebab, puisi itu perlu rasa yang dapat hadir dari pemilihan kata.”
Kemudian, penulis buku Algoritma Cinta ini juga memberi tips kepada peserta untuk menggali inspirasi dari pengalaman pribadi dan suasana sekitar.
Sementara itu, Heri Iskandar memberikan perspektif berbeda dengan menekankan pentingnya menulis dalam bahasa Using.
Ia mencontohkan beberapa puisi karyanya dalam bahasa Using yang kemudian dijadikan lagu dan telah dikenal luas oleh masyarakat.
“Saya mengajak generasi muda untuk bangga berbahasa Using. Jangan malu, karena jika kita tidak memakai bahasa ini, maka perlahan akan hilang dari kehidupan kita.”
Webinar ini juga diwarnai sesi diskusi yang aktif. Salah satu peserta, Halili, S.HI, Kepala MTs Nurul Huda Blimbingsari, menyampaikan pertanyaan seputar cara menjaga konsistensi dalam menulis, terutama saat kehabisan ide.
Heri Iskandar menjawab lugas, “Yang membuat tulisan tidak selesai biasanya rasa malas. Karena itu, semangat menulis harus dijaga. Jangan menunda-nunda, karena semakin ditunda, semakin berat untuk memulai kembali.”
Sebagai penutup, panitia memberikan buah tangan berupa beberapa buku bagi peserta yang aktif dan berani berbicara tentang mimpinya menjadi penulis.
Selain itu, disampaikan pula bahwa webinar ini akan berlanjut ke sesi kedua. Nantinya, para peserta akan diajak untuk menulis dan berkolaborasi dalam sebuah buku antologi yang rencananya akan diluncurkan bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa pada Oktober 2025.
Webinar ini bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi menjadi ruang temu yang memperkuat semangat literasi, melestarikan bahasa daerah, dan menumbuhkan kesadaran untuk berkarya sebagai bagian dari warisan budaya.
Gambir (Uncaria gambir Roxb.) merupakan tanaman asli Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional karena kandungan senyawa bioaktifnya, terutama katekin dan tanin.
Berbagai penelitian, termasuk jurnal-jurnal kesehatan dan farmasi, menunjukkan bahwa ekstrak gambir memiliki potensi besar dalam membantu proses penyembuhan luka, termasuk luka bakar.
Hal ini disebabkan oleh sifat antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, dan astringen yang dimilikinya.
Salah satu cara pemanfaatan gambir untuk membantu penyembuhan luka bakar adalah dengan menggunakan ekstrak gambir dalam bentuk salep atau gel.
Menurut hasil penelitian yang dimuat dalam Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, pemberian salep berbahan dasar ekstrak gambir pada luka bakar tingkat ringan hingga sedang menunjukkan hasil yang signifikan dalam mempercepat penyembuhan jaringan kulit.
Senyawa katekin dalam gambir berperan sebagai antioksidan yang menangkal radikal bebas di area luka, sehingga mencegah kerusakan sel lebih lanjut dan merangsang regenerasi sel kulit yang baru.
Selain itu, sifat antibakteri dari tanin dalam gambir membantu mencegah infeksi sekunder yang umum terjadi pada luka bakar.
Infeksi ini biasanya menjadi penghambat utama dalam proses penyembuhan luka.
Dengan mencegah pertumbuhan bakteri, kulit memiliki kesempatan yang lebih besar untuk sembuh secara alami tanpa komplikasi.
Tanin juga bersifat astringen, yang berarti mampu mengendapkan protein dan membentuk lapisan pelindung di permukaan luka.
Lapisan ini tidak hanya melindungi luka dari paparan luar, tetapi juga membantu mempercepat proses penutupan luka.
Dalam praktik tradisional, gambir biasanya diolah menjadi bubuk kering atau pasta, kemudian dioleskan secara tipis pada luka bakar yang telah dibersihkan.
Namun, untuk alasan keamanan dan efektivitas, pemanfaatan gambir sebaiknya melalui produk yang telah terstandarisasi dan diformulasikan oleh tenaga kesehatan atau apoteker.
Hal ini untuk memastikan dosis yang tepat, sterilisasi, dan mencegah kemungkinan iritasi pada kulit.
Dengan demikian, pemanfaatan gambir dalam bentuk topikal dapat menjadi alternatif alami dan ekonomis dalam membantu penyembuhan luka bakar.
Namun, sangat disarankan agar penggunaannya tetap didampingi oleh tenaga medis, terutama untuk luka bakar tingkat sedang hingga berat, agar hasilnya maksimal dan aman.
Ya, saya punya adik. Kalau barang saya diminta oleh adik, perasaannya bisa campur aduk. Kadang saya senang karena bisa membantu adik dan membuatnya bahagia, apalagi kalau barang yang diminta tidak terlalu penting atau bisa dipakai bersama.
Tapi ada juga saat di mana saya merasa sedikit kesal, terutama kalau adik tidak meminta izin dulu atau kalau barang itu sering dipinjam lalu tidak dijaga dengan baik. Saya jadi takut barang saya rusak atau hilang.
Meskipun begitu, sebagai kakak, saya belajar untuk lebih sabar dan memahami bahwa adik mungkin belum tahu cara menghargai barang orang lain.
Saya juga mencoba untuk mengingatkan adik dengan cara yang baik, agar dia belajar bertanggung jawab.
Jadi, walaupun kadang ada rasa tidak rela, saya tetap berusaha berbagi dengan adik selama itu masih bisa saya toleransi.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa saya juga pernah merasa kesal atau tidak rela.
Apalagi jika barang yang diminta adalah barang favorit saya atau jika saya tahu bahwa adik saya sering tidak menjaga barang dengan baik.
Misalnya, pernah suatu kali dia meminjam buku saya, lalu bukunya hilang atau sobek. Dari situ saya jadi lebih berhati-hati dan belajar untuk menetapkan batas.
Saya mulai membiasakan diri untuk menanyakan dulu keperluannya dan menjelaskan kenapa saya kadang tidak bisa meminjamkan barang.
Meski begitu, sebagai seorang kakak, saya sadar bahwa salah satu tugas saya adalah memberikan contoh yang baik.
Jadi saya berusaha untuk bersikap bijak, tidak langsung marah-marah, tapi memberi pengertian kepada adik bahwa barang milik orang lain harus dijaga dan dihargai.
Saya juga belajar untuk lebih sabar, karena adik masih dalam proses belajar memahami perbedaan antara milik sendiri dan milik orang lain.
Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa berbagi itu penting, tapi tetap harus dibarengi dengan tanggung jawab.
Menjadi kakak bukan hanya soal membagi barang, tapi juga membagi kasih sayang, pengertian, dan pelajaran hidup kepada adik.