Selama beberapa bulan melakukan social distancing serta Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat masyarakat merasakan jenuh dan stres. Akibatnya, ketika memasuki era normal baru, banyak tempat wisata yang ramai diserbu untuk melepas penat.

Pada masa transisi ini, bisa dilihat antusiasme masyarakat yang amat tinggi kepada tempat wisata sehingga menimbulkan kontroversi.

Menanggapi fenomena ini, pakar komunikasi dan manajemen krisis Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari yang dikutip dari laman Kompas, mengatakan bahwa nekat berwisata di masa transisi tanpa protokol kesehatan merupakan sebuah hal yang berbahaya.

Baca juga: Pesantren Bisa Buka Lebih Awal Dari Sekolah, Ini Alasannya

traveling

Maulina bahkan sampai menyebutkan jika tingginya lonjakan minat berwisata bisa picu terjadinya gelombang kedua (second wave) pandemi covid-19. Selain itu, Maulina juga mengingatkan kepada pelaku industri pariwisata agar tidak hanya sibuk dengan promosi agar pengunjung semakin banyak, tapi juga harus tahu esensi yang diinginkan oleh wisatawan.

Menurut dosen Ilmu Komunikasi UB ini, para pelaku industri pariwisata harus mengetahui tipe-tipe wisatawan di masa transisi ini. Maulina menjelaskan, tipe pertama adalah wisatawan yang ingin libur, tapi sedikit takut dan cemas tertular covid-19.

Tipe kedua, wisatawan yang ingin berlibur menggunakan kendaraan pribadi dengan tujuan yang tidak jauh serta tidak memakan banyak biaya.

Tipe ketiga, wisatawan ingin memastikan bahwa tempat wisata, hotel, cafe, restoran, dan fasilitas lainnya steril sehingga aman untuk digunakan.

Namun, Maulina menambahkan jika ada yang perlu diwaspadai, yaitu “wisatawan nekat” yang pergi berwisata tanpa memerhatikan protokol kesehatan, alias cuek.

Baca juga: Keren, Mahasiswa UNY Buat Tiruan Bata Dari Ampas Tebu

“Nah, yang perlu diwaspadai adalah wisatawan nekat, saya prediksi jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan wisatawan yang bijak dalam berwisata dan patuh dengan protokol kesehatan,” ujarnya, dirangkum dari laman UB.

“Mereka inilah yang bisa mempercepat penularan virus Covid-19 di tempat-tempat pariwisata akibat rendahnya rasa kesadaran akan bahaya virus ini dan disiplin diri untuk mematuhi protokol kesehatan,” imbuhnya.