Pengertian Kode

Sebelum kita membahas perbedaan alih kode dan campur kode, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu definisi dari kode itu sendiri.

Jadi, kode adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut salah satu varian di dalam hierarki kebahasaan.

Sehingga selain kode yang mengacu kepada bahasa (seperti bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Indonesia), juga varian kelas sosial disebut dialek sosial atau sosiolek (misalnya: bahasa Jawa halus dan kasar).

Tidak luput juga meliputi varian ragam dan gaya dirangkum dalam laras bahasa (gaya sopan, gaya hormat, atau gaya santai), dan varian kegunaan atau register (bahasa pidato, bahasa doa, dan bahasa sehari-hari).

Pengertian Kode Menurut Para Ahli

1. Menurut Poedjosoedarmo (1982:30)

Kode merupakan suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur dengan lawan tutur, dan situasi tutur yang ada. Jadi dalam kode itu terdapat unsur bahasa seperti kalimat, kata, morfem, dan fonem.

2. Apple (1976)

Mendefinisikan alih kode sebagai “gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi”. Contohnya ada dua orang Sunda yang berbincang dengan menggunakan bahasa Sunda. Kemudian setelah beberapa menit datang orang Bali yang tidak bisa menggunakan bahasa Sunda, sehingga mereka bertiga memakai bahasa indonesia.

3. Hymes (1878: 103)

Alih kode itu bukan hanya terjadi antar bahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa. Yaitu misalnya perubahan antara ragam santai dan ragam resmi bahasa indonesia.

Baca juga: Pengertian Fonologi Menurut Para Ahli

Alih Kode

Alih kode (code switching) adalah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain. Misalnya penutur menggunakan bahasa Indonesia, kemudian beralih menggunakan bahasa Jawa/bahasa lainnya.

Alih kode juga menjadi salah satu aspek ketergantungan bahasa (languagedependency) dalam masyarakat multilingual. Dalam masyarakat multilingual, ditemui fakta bahwa sangat sulit seorang penutur mutlak hanya menggunakan satu bahasa.

Alih Kode Menurut Para Ahli

1. Nababan (1984:31)

Menyatakan bahwa konsep alih kode ini mencakup juga kejadian pada waktu kita beralih dari satu ragam bahasa yang satu ke ragam yang lain. Misalnya, ragam formal ke ragam santai, dari kromo inggil (bahasa jawa) ke bahasa ngoko dan lain sebagainya.

2. Kridalaksana (1982:7)

Mengemukakan bahwa penggunaan variasi bahasa lain untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain, atau karena adanya partisipasi lain disebut alih kode

3. Holmes (2001:35)

Menegaskan bahwa suatu alih kode mencerminkan dimensi jarak sosial, hubungan status, atau tingkat formalitas interaksi para penutur.

4. Suwito (1985:67)

Menyebutkan bahwa kode adalah salah satu variasi dalam hierarki kebahasaan. Selanjutnya diberi ilustrasi, misalnya kita mengatakan bahwa “manusia adalah makhluk-makhluk berbahasa (homo  lingual)”.

Baca juga: Pengertian Dialektologi Menurut Para Ahli

Campur Kode

Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya.

Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosial, tingkat pendidikan, rasa keagamaan.

Campur Kode Menurut Para Ahli

1. Nababan (1984:32)

Mengatakan campur kode adalah suatu keadaan berbahasa dimana orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak tutur.

2. Sumarsono (2004:202)

Menjelaskan kata-kata yang sudah mengalami proses adaptasi dalam suatu bahasa bukan lagi kata-kata yang mengalami gejala interfensi, bukan pula alih kode, apalagi campur kode.