Pengertian Polisemi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, polisemi adalah bentuk bahasa (kata, frasa, dan sebagainya) yang mempunyai makna lebih dari satu.

Contoh Polisemi

Adapun contoh polisemi adalah sebagai berikut:

1. Saya masih ada hubungan darah dengan Pak Lurah.
2. Darah Pak Lurah terkucur deras ketika tangannya terkena paku.

Dari kedua kalimat tersebut masing-masing menggunakan kata darah. Pelafalan sama, ejaan sama, tapi memiliki makna yang berbeda.

Kata darah pada kalimat pertama berarti persaudaraan. Sedangkan kata darah pada kalimat kedua berarti cairan merah di dalam tubuh.

Baca juga: Contoh Pendahuluan Makalah dan Karya Tulis Ilmiah yang Benar

Pengertian Homonim

Homonim berasal dari bahasa Yunani, homos yang berarti sejenis dan onuma yang berarti nama. Dalam imu bahasa, istilah tersebut diartikan sebagai kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna yang berbeda.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), homonim adalah kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berlainan (seperti hak pada hak asasi manusia, dan hak pada hak sepatu).

Contoh Homonim

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, homonim adalah kata yang bentuk dan pelafalannya sama, tapi memiliki makna yang berbeda sesuai dengan konteks kalimat. Contohnya pada kata ‘bisa’.

1. Bisa ular itu sungguh mematikan.
2. Ibu bisa membawa semua barang belanjaan.

Kedua kalimat di atas menggunakan kata bisa. Pelafalannya sama, tapi ada makna yang berbeda.

Pada kalimat pertama, kata ‘bisa’ berarti racun. Sedangkan pada kalimat kedua, kata ‘bisa’ berarti mampu.

Contoh lain adalah kata ‘jarak’.

1. Jarak antara Surabaya ke Jakarta sangat jauh.
2. Ayah menanam pohon jarak di kebun rumah.

Kedua kalimat di atas menggunakan kata ‘jarak’. Pelafalan sama tapi arti berbeda.

Kata ‘jarak’ pada kalimat pertama berarti jangkauan atau ukuran. Sedangkan kata ‘jarak’ pada kalimat kedua berarti tumbuhan.

Baca juga: Pengertian Majas Beserta Jenis dan Contohnya

Cara Membedakan Polisemi dan Homonim

Dari kedua pengertian dan contoh di atas, memang benar jika homonim dan polisemi memiliki kemiripan.

Tapi pada dasarnya homonim memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Adapun cara membedakannya menurut para ahli adalah sebagai berikut.

1. Keraf (2006:37)

Menurut Keraf, ada beberapa cara untuk menetapkan apakah suatu bentuk kata itu merupakan polisemi atau homonim. Berikut diantaranya:

A. Menetapkan berdasarkan etimologi atau pertalian historisnya

Contohnya kata kopi juga adalah homonim walaupun kata kopi I berasal dari bahasa belanda koffie yang berarti nama pohon dan biji yang digoreng untuk minuman sedangkan kata kopi II berasal dari bahasa Copy yang berarti salinan (surat dan sebagainya).

B. Mengetahui prinsip perluasan makna dari suatu makna dasar

Salah satunya adalah metafora. misalnya referen primer bagi kata-kata: mulut, mata, kepala, kaki. tangan, dan sebagainya adalah bagian-bagian dari tubuh manusia.

Namun dalam perluasannya berdasarkan dalam prinsip metaforis bagian bagian tubuh tersebut dapat digunakan juga untuk menyebut bagian dari: sungai, jarum, pasukan, gunung, kursi dan sebagainya. hubungan itu lahir dari kesamaan fungsi atau bentuk antara referen-referennya.

2. Chaer (2003:304)

Mengatakan bahwa makna-makna yang ada dalam polisemi meskipun berbeda tetapi dapat dilacak secara etimologi dan semantik, makna-makna itu masih mempunyai hubungan. Contohnya: kata pacar ”inai” dan kata pacar ”kekasih”.