Semenjak mewabahnya pandemi covid-19 di dunia, khususnya Indonesia, pemerintah langsung mengambil kebijakan social distancing untuk segenap warganya, termasuk pelajar dan mahasiswa. Akibatnya, semua pembelajaran dilakukan via daring dari rumah masing-masing.

Menanggapi hal ini, Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM, Prof. Djagal Wiseso mengatakan ada prediksi matinya perguruan tinggi akibat pandemi Covid-19.

Prediksi tersebut disampaikan pada seminar daring Dewan Guru Besar UGM pada Jumat (26/6/2020) dengan tema “Merdeka Belajar dan Proses Belajar Mengajar Efektif di Masa Pandemi Covid-19”.

Baca juga: Awal Perkuliahan Mahasiswa Diminta Fokus Pada Teori, Praktik Menyusul

Hal senada disampaikan oleh mantan rektor Universitas Terbuka, Prof. Tian Belawati yang mengatakan bahwa pandemi Covid-19 memang menyebabkan disrupsi melebihi revolusi industri 4.0. Menurutnya, tidak ada satupun negara di dunia ini yang sektor pendidikannya tidak terdampak oleh pandemi Covid-19.

Ada sejumlah faktor yang menurutnya bisa memungkinkan membuat perguruan tinggi mati, mulai dari perguruan tinggi yang belum siap beralih ke sistem daring dan banyaknya dosen berusia lanjut yang tidak terlalu paham dengan platform digital.

“Hanya butuh waktu 25 hari sejak pengumuman pasien positif pertama di Indonesia untuk mampu memaksa 834 perguruan tinggi di Indonesia hijrah ke daring,” ungkap Prof. Tian dikutip dari laman UGM.

“Beberapa prinsip yang perlu diikuti dalam pembelajaran daring yakni kurikulum sesuai, inklusif, melibatkan pembelajar, pendekatan inovatif, metode efektif, evaluasi formatif dan sumatif, koheren, konsisten, transparan, perangkat yang mudah dioperasikan, serta efektif dalam biaya,” imbuhnya.