Dalam kisah perjuangan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, ada banyak nama yang turut membantu menyebarkan Islam yang biasa disebut sebagai sahabat rasul. Dari sekian banyak sahabat, ada satu yang kurang begitu dikenal, tapi besar jasanya dalam penyebaran agama Islam, yaitu Sa’ad Bin Abi Waqqas.

Siapa Sa’ad Bin Abi Waqqas?

kisah saad bin abi waqqas
photo: republika

Ya, Sa’ad Bin Abi Waqqas adalah salah satu sahabat yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kakeknya yang bernama Wuhaib adalah paman Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah. Jadi, selain sebagai sahabat, Sa’ad Bin Abi Waqqas juga merupakan paman nabi sendiri.

Ia masuk Islam pada usia 17 tahun dan masuk dalam golongan orang-orang yang pertama masuk Islam (Assabiqunal Awwalun). Sa’ad Bin Abi Waqqas sudah mengenal Nabi Muhammad sebelum baginda diutus menjadi nabi sehingga ia sangat tahu dengan kejujuran serta kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Kumpulan Kisah Kesederhanaan Umar Bin Khattab yang Menyentuh Hati

Sa’ad Bin Abi Waqqas Adalah Keturunan Bangsawan

sahabat nabi muhammad
photo: medium

Sa’ad bin Abi Waqqas merupakan keturunan dari Bani Zuhrah, Suku Quraisy. Ia adalah seorang anak yang sangat disayangi orang oleh tuanya. Ibunya seorang bangsawan bernama Hammah binti Sufyan ibn Abu Umayyah. Sebagai keturunan bangsawan, tentu saja ibunya sangat setia kepada tradisi serta agama nenek moyangnya yang menyembah berhala.

Kendati ia adalah salah satu keturunan yang paling dibanggakan, tapi ia sangat membenci kebiasaan para leluhurnya yang menyembah berhala. Penolakannya terhadap praktik menyembah berhala membuat Ibunya cukup terpukul karena ia adalah anak yang paling disayang dan juga dibanggakan.

Sa’ad Bin Abi Waqqas Punya Akidah dan Iman yang Kuat

sahabat rasul
photo: republika

Sama halnya dengan sahabat yang lain, Sa’ad Bin Abi Waqqas juga mendapat tekanan dari keluarga, kerabat, serta lingkungannya karena memeluk Islam. Begitu mendengar Sa’ad Bin Abi Waqqas, semua anggota keluarga terkejut, terutama Ibunya.

Sang ibu teramat sedih seraya berkata, “Wahai Sa’ad, apakah kamu meninggalkan agamamu dan agama nenek moyangmu, lalu kamu mengikuti sebuah agama yang baru? Demi Allah, aku tidak akan mencicipi satu makanan dan minuman pun hingga kamu meninggalkan agama baru itu.”

Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku dan tidak akan berpisah darinya.”

Ternyata bukan hanya omong kosong belaka, sang ibu kemudian bersikeras dengan sikapnya. Ibunya tetap tidak mau makan dengan maksud agar Sa’ad melunak sehingga mau kembali kepada ajaran nenek moyang.

Namun, karena keteguhan iman kepada Allah SWT dan Rasulullah, Sa’ad justru berkata, “Wahai Ibu, demi Allah, andai engkau memiliki tujuh puluh nyawa yang keluar satu demi satu, maka aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku untuk selama-lamanya.”

Mendengar penuturan itu, akhirnya sang ibu mengerti bahwa anaknya tidak akan bisa meninggalkan Islam sehingga Ibunya langsung makan dan minum.

Baca juga: Sejarah Kerajaan Islam Papua

Sa’ad Bin Abi Waqqas Adalah Pemanah Andal

Sa'ad Bin Abi Waqqas
photo: pinterest

Sa’ad adalah orang yang pertama kali melemparkan anak panah dalam berjuang di jalan Allah. Dikisahkan bahwa kaum muslimin Makkah sedang mengerjakan salat di lorong-lorong jalan secara sembunyi-sembunyi, tapi diketahui oleh kaum musyrikin sehingga mereka pun diserang.

Maka saat itulah, Sa’ad bin Abi Waqqash langsung menyerang mereka dengan menggunakan panah hingga mengenai salah seorang kaum musyrikin. Itulah darah pertama yang dikisahkan dalam riwayat perjuangan Islam.

Setelahnya, Sa’ad menjadi orang yang penting dan diakui kemampuannya sehingga hampir dalam semua peperangan, ia selalu tampil memanfaatkan keahliannya demi membela Islam. Bahkan, saking bangganya dengan Sa’ad, Rasulullah sampai menjamin dengan jaminan kedua orang tuanya.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menebus seseorang dengan ayah dan ibunya kecuali Sa’ad. Sungguh dalam Perang Uhud aku mendengar Rasulullah, mengatakan, “Panahlah, wahai Sa’ad…Tebusanmu adalah ayah dan ibuku.” (HR. At Tirmidzi, No. 3755).

Sa’ad Bin Abi Waqqas Berusia Panjang

saad bin abi waqqash
photo: celebes media

Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah satu sahabat yang memiliki umur panjang. Ia wafat pada usia 83 tahun sehingga ia merasakan masa-masa kepemimpinan Rasulullah, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, dan Khalifah Utsman bin Affan.

Bahkan dalam satu riwayat disebutkan jika Sa’ad pernah berkontribusi dalam pertempuran Qadisiah pada masa khaiifah Umar bin Khattab. Meski usianya sudah tak muda lagi, tapi keahliannya berhasil menghantar kaum muslim memenangkan peperangan itu. Hingga akhirnya ia terkenal sebagai pembuka jalan bagi penyebaran Islam di Persia.

Baca juga: Pengertian Filsafat Islam Menurut Para Ahli

Sa’ad Bin Abi Waqqas Memimpin Delegasi ke Cina

sahabat nabi
photo: line today

Sa’ad adalah tonggak penyebaran Islam di Negeri Tirai Bambu. Khalifah Utsman bin Affan menunjuknya secara langsung untuk memimpin delegasi ke Cina. Kemudian ia mulai berdakwah menyebarkan agama Islam puluhan tahun lamanya.

Selama menyebarkan Islam di Cina, Sa’ad sangat menjunjung tinggi toleransi kepada orang non-muslim sehingga ia bisa diterima oleh kaisar dan masyarakat sekitar. Hingga akhirnya pada 742 M dibangun sebuah masjid bernama Masjid Huaisheng atau dikenal dengan Masjid Sa’ad bin Abi Waqqash di Propinsi Guanzhou. Diklaim jika masjid seluas 5 hektare itu menjadi salah satu masjid tertua di Cina.

Baca juga: 4 Perbedaan Kitab dan Suhuf dalam Ilmu Fikih

Sa’ad Bin Abi Waqqas Doanya Mustajab

berdoa
photo: assalafiyahbrebes

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah salah satu sahabat nabi yang diberi kemuliaan yaitu doanya mustajab sehingga dikenal dengan mujabud da’wah (orang yang dikabulkan doanya). Hal itu dikarenakan Nabi pernah mendoakannya secara langsung:

“Ya Allah Azza wa Jalla kabulkanlah doanya (Sa`d) jika dia berdoa.” 

Semenjak itu, doa-doa Sa’ad benar-benar mustajab dan terbukti dalam berbagai peristiwa. Salah satunya ketika Sa’ad marah kepada Usamah, seseorang yang menyebarkan berita dusta tentang dirinya. Dalam keadaan marah, Sa’ad berdoa agar Usamah diberi umur panjang dengan kefakirannya serta penuh cobaan. Atas kuasa Allah, doa itu benar-benar terkabul.