Sejarah Perkembangan Pantun

Lahirnya pantun cukup erat hubungannya dengan kebiasaan masyarakat lama yang suka mengemukakan maksud tidak secara berterus terang, melainkan dengan berpikir atau secara teka-teki.

Bahkan pada jaman itu, banyak orang yang mengetahui dan pandai memahami bahasa berkias dianggap sebagai orang yang berilmu atau orang pandai (Hendy, 1990:48).

Pantun sendiri tergolong sebagai puisi lama, beberapa keistemewaan pantun dibandingkan dengan bentuk puisi yang lain yaitu pantun relatif lebih mudah ditangkap maknanya.

Dengan demikian pantun merupakan salah satu alat yang paling efektif untuk mengungkapkan perasaan.

Menurut sejarah, pantun sudah dimiliki oleh nenek moyang bangsa Indonesia sebelum pengaruh kebudayaan Hindu dan Arab masuk ke Indonesia.

Pantun adalah warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang paling unik (Suseno, 2008:9). Pantun yang merupakan bagian dari bentuk puisi lama, hampir merata dikenal di seluruh penjuru tanah air (Nusantara), walaupun diucapkan dalam bahasa daerah.

Dalam versi lain, ada juga yang menyebut pantun adalah sebagai salah satu bentuk sajak yang diawali oleh syair-syair tasawuf Abul Jamal, yaitu seorang penyair dan sufi Melayu yang hidup pada abad 17 m di Barus. Ia merupakan murid dari Syekh Syamsudin Pasai.

Syair yang ditulis oleh Abdul Jamal itu disebut dengan bandunbantun dan lantun. Dalam syair tersebut, pantun diartikan sebagai puisi yang dilantunkan secara spontan untuk menghibur, menyindir dan berseloroh.

Di beberapa daerah Nusantara seperti Sasak di Lombok dan Madura di Jawa Timur, pantun mempunyai arti nyanyian.

Sebagian masyarakat Madura menyebut orang yang menyanyikan sajak dengan apantun (berpantun). Perkataan dan kebiasaan menyanyikan pantun telah dikenal mulai abad 18 M, yaitu pada saat lembaga-lembaga Islam mulai tumbuh.

Sedangkan menurut ahli yang berasal dari Belanda abad ke 19, yaitu De Hollander dalam bukunya yang berjudul Handleideing bij de beofening der Maleische taal en letterkunde (1893) mengatakan bahwa pantun merupakan sebuah lirik yang dinyanyikan.

Dia menyebutkan bahwa sebagian besar pantun berisi tema percintaan yang dibacakan atau dinyanyikan secara spontan.

Pendapat tersebut dikemukakan setelah ia membaca dua hikayat Melayu, yaitu Hikayat Bikrama Datya Jaya dan Hikayat Bujangga Mahaputra.

Dalam Hikayat Bikrama Datya Jaya banyak ditemukan kata-kata percintaan seperti ”Segala dayang-dayang pun bersyair dan berpantun dan berseloka”. Hollander mempunyai pendapat bahwa syair berasal dari Arab, seloka berasal dari India dan pantun adalah nyanyian asli Melayu.

Namun, perkembangan pantun semakin hari semakin melebar. Tidak lagi digunakan sebagai bahan hiburan atau percintaan saja, tapi pantun juga mulai berkembang untuk hal lainnya.

Misal penggunaan pantun untuk menyindir, mengkritik, pantun agama, pantun politik, pantun budaya, pantun motivasi, dan masih banyak lagi.

Nah, itulah sejarah singkat lahirnya pantun. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di Sastrawacana.