Judul : Sukacita dalam Panggilan

Penulis : T Krispurwana Cahyadi, SJ

Penerbit : Kanisius

Terbit : Maret 2016

Tebal : 244 Halaman

ISBN : 978-979-21-4388-1

Setiap orang memiliki panggilan hidup masing-masing sesuai dengan hati. Ada yang hidup berkeluarga. Meski sedikit, tetap ada pula mereka yang mengambil jalan hidup membiara hidup tidak menikah demi pengabdian kepada Tuhan dan sesama. Menjadi romo atau biarawani merupakan panggilan yang sangat berharga dan penuh tantangan. Tidak semua orang bisa menjalani kehidupan tersebut. Dalam menjalani hidup ini penuh tantangan dan godaan karena mereka harus melepaskan keinginan duniawi.

Buku ini menjelaskan cara hidup seseorang romo atau biarawan harus melewati jalan terjal. Kehidupan harus totalitas menjalankan ajaran-ajaran Yesus. Zaman sekarang, orang dipandang hormat tatkala memiliki jabatan dan harta mewah. Tetapi dalam kehidupan biarawan tidak ada artinya kehidupan seperti itu.

Biara sering dipandang sebagai tembok yang memisahkan “sekelompok manusia” dengan kelompok besar manusia lainnya yang sering disebut sebagai “orang biasa”. Pandangan ini bukan berarti mereka memiliki kehidupan yang berbeda dari orang “biasa”. Mereka menjalankan kehidupan dari balik “layar” bukan untuk dipuji, tetapi guna mewujudkan kehidupan yang damai dan selaras.

Coba tengok kehadiran para suster Ursulin yang telah memberi warna dalam berbagai bidang kehidupan, terutama bidang pendidikan. Di Jakarta, siapa yang tak kenal Sekolah Santa Ursula atau Santa Maria. Begitu juga di Surabaya. Di Bandung ada Santa Angela dan Prova. Di kota kecil berhawa dingin, Sukabumi, para Ursulin mengelola sekolah Juwana Bhakti dan rumah retret.

Belum lagi di kota-kota lainnya di Indonesia. Bahkan, mereka juga melayani berbagai karya sampai ke pelosok-pelosok. Di Agats, sebuah “negeri di atas air” di tanah Papua, kita juga menjumpai beberapa suster Ursulin. Mereka berkarya pastoral di tengah-tengah umat yang masih amat sederhana hidupnya dibanding Jawa.

Mereka melakukan atas nama cinta dan kasih. Ini seperti dikatakan Mgr Jose Rodriguez Carballo, Sekretaris Kongregasi Lembaga Hidup Bakti. Dia membacakan pesan Paus Fransiskus. Paus mengidentifikasi tiga tujuan pokok dari Tahun Hidup Bakti: untuk memandang masa lalu dengan rasa syukur. Untuk menghidupi masa sekarang dengan semangat. Untuk merangkul masa depan dengan harapan.

Paus juga menggarisbawahi harapan-harapannya pada tahun ini yang ditetapkan sebagai Tahun Hidup Bakti. Biarawan-biarawati hendaknya menjadi saksi-saksi hidup bersama, suka-cita, dan Injil. Mereka hendaknya pergi ke pelosok-pelosok untuk mewartakan Kabar Gembira.

Hidup mereka untuk saling mengasihi lantaran nilai-nilai ajaran Yesus sudah merasuk dalam kehidupan. Seperti ajaran mengasihi dan menolong yang berasal dari ajaran Yesus. Di hari-hari terakhir pelayanan fana-Nya, Yesus memberikan kepada para murid-Nya apa yang Dia sebut “perintah baru” (Yohanes 13:34).

Diulangi tiga kali, perintah itu sederhana namun sulit, “Saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yohanes 15:12). Ajaran untuk saling mengasihi telah menjadi sentral pelayanan Juruselamat. Perintah besar kedua adalah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39).

Yesus bahkan mengajarkan, “Kasihilah musuhmu” (Matius 5:44). Tetapi perintah untuk mengasihi orang lain sebagaimana Dia telah mengasihi kawanan domba-Nya bagi para murid-Nya dan kita adalah sebuah tantangan yang unik. Yesus selalu mengajar kita untuk mengasihi musuh.