Tag: adat

  • Upacara Adat Tujuh Bulanan Nusantara Warnai Kehamilan Pasangan Hafidz di Rogojampi

    Upacara Adat Tujuh Bulanan Nusantara Warnai Kehamilan Pasangan Hafidz di Rogojampi

    Pasangan hafidz, Muhammad Haidar Rosyid dan Fani Faizah Hurriyatul Alawiyah Hasan, menggelar upacara adat tujuh bulanan atau mitoni/tingkeban sebagai penanda usia kehamilan pertama mereka.

    Prosesi adat nusantara tersebut berlangsung di Gang Garuda V, Katesan, Prejengan 1, Rogojampi, Selasa (6/1/2026).

    Rosyid yang berasal dari suku Using dan Fani dari suku Madura menjalani prosesi adat yang sarat makna kebudayaan dan spiritual.

    Ritual mitoni dipandu Bu Mumun dari suku Sunda, dengan tamu undangan lintas etnis, mulai dari Jawa, Minang, hingga Madura.

    Acara dipandu oleh Aguk Darsono, pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Kabupaten Banyuwangi dari unsur suku Jawa, yang mengenakan busana surjan galur merah dan kopiah batik khas Jogokariyan, Yogyakarta.

    Prosesi diawali dengan pembacaan Ummul Kitab, Surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan sungkeman calon ayah dan ibu kepada kedua orang tua untuk memohon doa restu.

    Selanjutnya, dua keluarga besar serta tokoh agama dan masyarakat secara bergiliran memasukkan air dari tujuh sumber ke dalam belanga.

    Menariknya, sebagian air tersebut berasal dari sumber-sumber yang diperoleh Rosyid saat berziarah ke makam para wali, mulai dari makam pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo, Asembagus, hingga makam para aulia di Pulau Madura.

    Sukorejo sendiri merupakan tempat Rosyid menimba ilmu sejak SMA hingga sarjana, sekaligus menghafal Al-Qur’an 30 juz.

    Tahapan berikutnya, kembang setaman dimasukkan ke dalam belanga oleh ibunda Rosyid dan kakak Fani, Lisa Zakiyah.

    Ritual mitoni ini menjadi ikhtiar spiritual (krenteg hajad) agar calon ibu dan bayi diberi keselamatan, kesejahteraan, serta kelancaran proses kelahiran. Fani sendiri dikenal sebagai hafidzah yang menimba ilmu di pondok pesantren di Yogyakarta.

    Prosesi siraman dilakukan dengan pasangan mengenakan busana takwa dan gamis.

    Rangkaian prosesi simbolik dijalani dengan penuh khidmat, mulai dari pelilitan kain putih pada calon ibu, pelepasan telur, hingga menggendong dan melepas kelapa cengkir gading yang dihias tokoh wayang Arjuna dan Srikandi.

    Prosesi ini ditutup dengan pelepasan ikatan janur di perut calon ibu sebagai doa agar proses kelahiran berjalan lancar, ibu dan jabang bayi diberi keselamatan, serta sang suami selalu siaga mendampingi.

    Siraman diawali oleh calon kakek dari pihak perempuan, H. Hasan Basori, seorang guru agama sekaligus Ketua Asosiasi BPD se-Wongsorejo.

    Prosesi dilanjutkan oleh ibu pihak laki-laki, Asmiyati; Bu Mumun; para sesepuh keluarga; dan ditutup oleh ayah pihak laki-laki, Muhammad Nur, pengrajin suvenir, plakat, dan kaligrafi.

    Setelah itu, Rosyid menyiram istrinya menggunakan kendi yang kemudian dijatuhkan hingga pecah.

    Pecahan kendi tersebut diperebutkan warga sebagai simbol keberkahan, dilanjutkan tradisi “jualan” dawet dan rujak oleh pasangan calon orang tua.

    Usai berganti busana kering, Bu Mumun memperagakan ritual pemilihan tujuh kain batik bermotif khas, seperti gajah oling, karapan potre kuning, sido mukti, hingga sembrung cacing.

    Setelah enam motif dinilai kurang sesuai, pilihan jatuh pada kain batik parang barong yang melambangkan kewibawaan dan keanggunan.

    Dengan selempang batik tersebut, Fani melanjutkan prosesi berjualan rujak dan dawet yang disambut antusias warga.

    Rangkaian acara ditutup dengan pembagian jenang merah putih dan nasi tumpeng berkat, disertai doa syukur dan keselamatan yang dipimpin H. Hasan Basori.

    Acara yang dimulai selepas salat Asar berakhir menjelang waktu samarwulu, diiringi lantunan selawat dari Masjid Besar Baturahim.

    Pada malam harinya, rangkaian selamatan dilanjutkan dengan tahlilan ba’da Magrib yang dipimpin Kepala Dusun Prejengan 1, M. Basuni.

    Sebanyak 33 jamaah mengikuti tahlilan dengan pembacaan Surat Yusuf, Maryam, Muhammad, Luqman, Al-Ikhlas sebanyak 99 kali, serta Surat Yasin secara berjamaah.

    “Semoga keluarga Rosyid dan Fani menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, melahirkan generasi Qur’ani yang berbakti kepada orang tua, membahagiakan kakek-nenek, serta berguna bagi agama, bangsa, dan negara,” doa M. Basuni yang diamini seluruh jamaah.

  • Seribu Takir dan Tumpeng Hasil Bumi Warnai Perayaan Suro Penuh Syukur di Desa Sraten

    Seribu Takir dan Tumpeng Hasil Bumi Warnai Perayaan Suro Penuh Syukur di Desa Sraten

    Sraten, Jumat 27 Juni 2025- Semarak Tahun Baru Islam 1447 Hijriah terasa istimewa di Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.

    Masyarakat Dusun Sukodadi, khususnya Dukuh Kedawung, kembali menggelar Festival Tumpeng dan Takir Sewu desa Sraten sebagai bentuk syukur dan pelestarian tradisi.

    Festival yang masuk dalam kalender resmi Banyuwangi Festival 2025 ini berlangsung selama dua hari, dimulai sejak Kamis (26/6) dengan kegiatan jalan sehat dan pemeriksaan kesehatan gratis yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi.

    Pada malam harinya, masyarakat mengikuti ritual di Pemandian Mbah Sumber dan Mbah Gitik setelah Magrib, dan dilanjutkan dengan Khataman Al-Qur’an di makam Prabu Tawang Alun selepas Isya.

    Puncak acara berlangsung pada Jumat siang (27/6) dengan sajian 1.000 takir dan tumpeng hasil bumi yang telah disiapkan sejak pagi oleh warga Sraten.

    Setiap kepala keluarga berpartisipasi membuat 10 takir sebagai bentuk gotong royong dan rasa syukur atas panen melimpah.

    Acara resmi dibuka pukul 13.00 WIB di lokasi yang telah disiapkan. Acara dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Banyuwangi Ir. H. Mujiono, M.Si sekaligus membuka acara.

    Setelah pembukaan, digelar arak-arakan tumpeng dan takir sewu menuju area depan makam Prabu Tawang Alun.

    Rangkaian ini menampilkan aneka hasil bumi seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan palawija yang disusun dalam bentuk tumpeng besar, kemudian tumpeng dan takir dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol berbagi berkah.

    Festival ini menarik minat masyarakat luas, bukan hanya dari Sraten, tetapi juga dari berbagai kecamatan di Banyuwangi.

    Menurut sesepuh desa Sraten, Bapak Suraji, S.Pd, kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama: menyambut 1 Suro (Tahun Baru Islam 1447 H), mengenang keberadaan Prabu Tawang Alun, serta sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi.

    Tradisi Tumpeng dan Takir Sewu tidak hanya memiliki nilai budaya dan religi, tetapi juga diharapkan membawa dampak nyata bagi masyarakat Sraten.

    Ketua BPD Sraten, Heru Supriyono, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki dua produk utama yang ingin dicapai.

    “Pertama, aspek spiritual yaitu tumbuhnya kerukunan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Kedua, aspek material berupa meningkatnya pertumbuhan ekonomi UMKM lokal di Sraten,” ujarnya.

    Melalui kolaborasi budaya dan ekonomi ini, Festival Tumpeng dan Takir Sewu menjadi sarana memperkuat identitas desa sekaligus mendorong kesejahteraan warganya.

    Kemeriahan acara akan ditutup pada malam harinya dengan solawatan dari Majelis Rotib Al Manan yang akan menambah kekhusyukan sekaligus menutup festival dengan nuansa religius dan penuh doa.