Tag: angklung

  • Alat Musik Angklung: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Jenis-Jenisnya

    Alat Musik Angklung: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Jenis-Jenisnya

    Pengertian Angklung

    Alat musik angklung adalah salah satu instrumen musik tradisional Indonesia yang terbuat dari beberapa tabung bambu dengan ukuran berbeda untuk menciptakan nada yang berbeda pula.

    Jumlah tabung bambunya bervariasi, mulai dari dua bambu hingga lebih. Bahkan, ada beberapa angklung modern saat ini yang jumlah tabungnya lebih dari 10 dengan mengeluarkan bunyi yang lebih bervariasi.

    Sumber bunyi angklung berasal dari goyangan atau getaran, dimana pemainnya menggunakan tangan kiri untuk memegang atau menggantung angklung, sementara tangan kanan digunakan untuk menggoyangkan angklung tersebut.

    Alat musik angklung berasal dari daerah Jawa Barat, dalam bahasa Sunda disebut angkleung-angkleungan yaitu gerakan pemain ketika menggoyangkan angklung hingga mengeluarkan bunyi.

    Hal ini juga dapat dibuktikan dari bukti budaya bahwa penyebaran angklung lebih merata di wilayah Tatar Pasundan.

    Sejarah Angklung

    Menurut sejarah, angklung sendiri sudah dikenal sejak abad 11, meski tidak ada informasi lebih lengkap mengenai itu.

    Namun, jika melihat bentuknya, diduga jika alat musik ini telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sehingga menjadi bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

    Sementara itu, catatan tentang alat musik angklung baru muncul pada abad ke 12 hingga 16, ketika masa Kerajaan Sunda.

    Menurut laman Kemdikbud, angklung berasal dari masyarakat Sunda karena kultur agraris yang kental dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya.

    Hal tersebut kemudian melahirkan kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci yang disimbolkan sebagai Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

    Maka, kegunaan angklung pada saat itu adalah sebagai pengiring serta bagian dari ritual dalam proses penanaman padi.

    Selain untuk memohon keberkahan agar hasil panen melimpah, ritual menggunakan angklung juga sebagai tolak bala agar tidak ada bencana yang melanda.

    Fungsi Angklung

    Awalnya alat musik angklung memiliki fungsi yang sakral, yakni sebagai prosesi ritual dalam persembahan terhadap “Dewi sri” atau “Nyi Pohaci”.

    Namun, kini angklung telah mengalami pergeseran fungsi menjadi alat pertunjukan yang sifatnya hiburan.

    Maka, sekarang angklung dapat dinikmati di berbagai acara, seperti orkestra, teater, acara kampung, hajatan, pernikahan, dan acara-acara lainnya.

    Bahkan, tak jarang juga ada perlombaan angklung, baik yang diadakan oleh lembaga negara maupun swasta sebagai bentuk perhatian terhadap kesenian.

    Jenis-Jenis Angklung

    Ada beragam jenis angklung yang tersebar. Keberagaman tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta kepercayaan dari kultur serta wilayahnya masing-masing. Adapun jenis-jenis angklung sebagai berikut:

    1. Angklung Kanekes

    Angklung Kanekes adalah jenis angklung Buhun orang Kanekes atau suku Baduy yang umumnya digunakan sebagai ritual dalam proses penanaman padi.

    Masyarakat Kanekes mempercayai bahwa ritual dengan menggantung angklung dan kolecer di area persawahan, dapat membuat panen padi melimpah dan terhindar dari musibah.

    2. Angklung Dogdog Lojor

    Angklung Dogdog lojor tergolong sebagai angklung buhun yang berkembang di daerah Ciptarasa Sukabumi.

    Dari bentuknya, angklung Dogdog Lojor terdiri dari 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung.

    Sementara menurut fungsinya, angklung ini biasa digunakan sebagai ritual dalam konteks pertanian untuk menghormati Nyi Pohaci dalam upacara “seren taun”.

    3. Angklung Badeng

    Jenis angklung Badeng berkembang di daerah Desa Sanding, Malangbong Garut yang biasanya dimainkan sebagai seni pertunjukan.

    Biasanya, pertunjukan angklung Badeng ini terdiri dari vokalis, seperangkat angklung, terbang, kecrek, dan dilengkapi dengan dogdog lojor.

    4. Angklung Badud

    Angklung yang sering ditemui di daerah Ciamis ini masih berkaitan fungsinya dengan ritual di bidang pertanian.

    Namun, seiring perkembangan zaman, jenis angklung ini mengalami perubahan fungsional. Semula hanya digunakan sebagai ritual, kini sudah menjadi seni pertunjukan.

    5. Angklung Buncis

    Angklung Buncis dulunya digunakan sebagai ritual, tapi seiring berjalannya waktu, jenis angklung ini difungsikan sebagai seni pertunjukan.

    Pertunjukan angklung Buncis biasanya ditampilkan sebagai pengiring arak-arakan, khitanan, pernikahan dan sering juga ditampilkan saat perayaan kemerdekaan.

    6. Angklung Bungko

    Angklung Bungko sering ditemui di desa Bungko, Cirebon, Jawa Barat, yang fungsinya dimainkan pada upacara nadran, ngunjung ke Gunung Djati dan sedekah bumi.

    Menurut masyarakat setempat, jenis angklung ini sudah berusia 600 tahun dan dipercaya sebagai media dalam penyebaran agama Islam di masa lalu.

    7. Angklung Gubrag

    Angklung Gubrag berkembang di daerah Cipining Bogor. Menurut sejarahnya, penamaan Angklung Gubrag karena musibah gagal panen yang pernah menimpa wilayah setempat.

    Awalnya, Angklung Gubrag digunakan sebagai ritual, tapi seiring berkembangnya zaman, angklung ini juga menjadi media hiburan.

    8. Angklung Padaeng

    Jenis angklung Padaeng adalah angklung tradisional yang dikenalkan pada tahun 1938 oleh Daeng Soetigna, pelopor angklung bernada diatonis.

    Selain berlaras diatonis, juga terdapat angklung berlaras pelog, salendro, dan madenda seperti angklung pada umumnya.

    Author: Maulana Affandi
    Sumber: Kemdikbud.go.id, digilib.uinsgd.ac.id

  • Angklung Berasal dari Daerah? Ini Penjelasan dan Sejarahnya

    Angklung Berasal dari Daerah? Ini Penjelasan dan Sejarahnya

    Angklung berasal dari daerah Jawa Barat, Indonesia. Alat musik tradisional ini terbuat dari serangkaian pipa bambu yang disusun secara berjenjang, di mana setiap pipa memiliki nada yang berbeda.

    Angklung dimainkan dengan cara digoyangkan, sehingga menghasilkan suara yang khas dan merdu.

    Awalnya, angklung hanya dimainkan oleh masyarakat Sunda di Jawa Barat, namun kini telah dikenal di seluruh Indonesia bahkan dunia.

    Angklung juga telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2010.

    Seiring perkembangan zaman, angklung tidak hanya dimainkan dalam bentuk tradisional, namun juga dalam berbagai genre musik modern.

    Hal ini menunjukkan bahwa angklung merupakan warisan budaya yang hidup dan terus berkembang hingga saat ini.

    Sejarah Angklung

    Menurut sejarah, penggunaan angklung di Jawa Barat sudah dimulai pada masa Kerajaan Sunda sekitar abad ke-12 hingga ke-16.

    Pada saat itu, angklung dimainkan untuk pemujaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang dari Dewi Sri, yaitu Dewi padi atau yang sering dikenal sebagai Dewi Kesuburan.

    Selain untuk pemujaan, angklung juga digunakan untuk mengobarkan api semangat perjuangan kepada seluruh prajurit kala itu.

    Pada abad ke-17, angklung mulai menyebar ke seluruh wilayah Jawa Barat dan dimainkan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, dan lain-lain.

    Angklung pada masa itu hanya terdiri dari sejumlah kecil pipa bambu.

    Kemudian, pada masa penjajahan Belanda, angklung sempat dianggap sebagai alat musik yang kuno dan tidak modern.

    Namun, pada era kemerdekaan Indonesia, angklung kembali diangkat sebagai bagian dari kebudayaan nasional dan dijadikan sebagai alat musik yang resmi oleh pemerintah Indonesia.

    Pada tahun 1966, dikembangkanlah angklung yang dapat dimainkan oleh banyak orang sekaligus dengan nama “Angklung Gubrag”.

    Hal ini memungkinkan angklung dimainkan dalam kelompok besar dan menjadi bagian dari pertunjukan musik modern.

    Pada tahun 2010, angklung diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, sebagai bentuk pengakuan atas pentingnya angklung sebagai bagian dari kekayaan budaya dunia.

    Saat ini, angklung terus hidup dan berkembang sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia dan semakin dikenal oleh dunia internasional.