Tag: bahasa using

  • Festival Literasi Bahasa Using 2026 Angkat Tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, Merawat Budaya Sekaligus Membentuk Generasi Beradab

    Festival Literasi Bahasa Using 2026 Angkat Tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, Merawat Budaya Sekaligus Membentuk Generasi Beradab

    Festival Literasi Bahasa Using 2026 kembali digelar sebagai ruang untuk memperkuat pelestarian bahasa, sastra, seni, dan budaya Using di Banyuwangi.

    Mengangkat tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, kegiatan ini menekankan pentingnya penghormatan kepada orang tua dan guru sebagai bagian dari pembentukan adab serta budi luhur generasi muda.

    Festival tersebut digelar di Panggung Kreatif Gesibu Blambangan, Sabtu, 5 September 2026.

    Sebanyak 450 murid SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, mengikuti rangkaian perlombaan yang diselenggarakan dalam festival tersebut.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Bahasa Ibu yang secara nasional digelar di 19 provinsi.

    Di Jawa Timur, kegiatan literasi bahasa ibu mencakup Bahasa Using dan Bahasa Madura yang dilaksanakan di tujuh kabupaten.

    Selain itu, juga mulai dirintis kegiatan bahasa di wilayah sekitar Sidoarjo dan Gresik.

    Untuk tingkat Jawa Timur, seluruh rangkaian kegiatan akan digelar pada Oktober mendatang di Balai Bahasa Jawa Timur, Surabaya.

    Juara pertama dari masing-masing kategori atau cabang lomba akan melanjutkan kompetisi di tingkat tersebut.

    Khusus untuk Bahasa Using, para juara secara otomatis menjadi wakil Jawa Timur dalam Festival Bahasa Ibu di Jakarta.

    Para pemenang juga memperoleh apresiasi berupa sertifikat yang ditandatangani Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen).

    Sertifikat tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pendukung dalam SPMB melalui jalur prestasi.

    Dalam Festival Literasi Bahasa Using 2026, peserta mengikuti tujuh cabang lomba sesuai petunjuk teknis (juknis) nasional.

    Pelaksanaan lomba ditempatkan di 14 kelas di SDN Kepatihan. Ketujuh cabang tersebut meliputi aksara, nembang, geguritan, dongeng cerita, ngewer, nulis cerita, dan pidato.

    Selain tujuh cabang lomba tersebut, panitia juga menghadirkan inovasi mandiri berupa Memengan Teater untuk jenjang SD dan Mocoan Lontar untuk jenjang SMP.

    Kabid SD Dispendik, Drs. Sutikno, menyampaikan bahwa festival tersebut menjadi wadah kreativitas dan prestasi yang lahir dari proses pembelajaran di sekolah.

    Menurutnya, kegiatan ini sekaligus menunjukkan kepedulian Pemerintah Daerah terhadap pelestarian dan pengembangan Bahasa Using.

    Jika pada tahun sebelumnya festival mengangkat tema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, tahun ini tema yang dipilih berfokus pada penghormatan terhadap orang tua dan guru.

    Pesan tersebut menjadi penting untuk memperkuat adab dan budi luhur di tengah tantangan kebiasaan penggunaan gawai pada era digital.

    Festival dibuka oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Pembukaan ditandai dengan prosesi tarik janur Kopat bersama Muspida serta basanan bersama para murid.

    Ipuk mengungkapkan bahwa festival tersebut memiliki arti strategis karena mempertemukan budaya literasi dengan budaya kearifan lokal sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.

    Suasana festival juga semakin semarak dengan penampilan tari dari siswi SMP Negeri 2 Rogojampi yang telah meraih prestasi tingkat nasional.

    Penampilan tersebut diiringi gamelan Wiyogo Lare dari Sanggar Sayu Wiwit Aliyan dan tampil atraktif serta memukau para penonton.

    Rangkaian kegiatan juga diisi doa yang dipimpin Dr. H. Fathurahman dari Kemenag serta santunan kepada yatim piatu.

    Doa dan santunan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar serta harapan kepada Gusti Pengeran agar festival tahunan tersebut berjalan lancar dan mendapatkan keberkahan.

    Setelah melalui proses penampilan dan penilaian, peserta dinilai oleh juri dari berbagai latar belakang.

    Mereka berasal dari kalangan seniman dan budayawan, di antaranya Dewan Kesenian Blambangan, Sengker Kuwung Blambangan, Pesinauan Kemiren, serta Sanggar Merah Putih ’45.

    Selain itu, terdapat wartawan Sastrawacana Jurnal News, radio komunitas JRKBB-JRKI, youtuber, Koppiwangi, tutor PKBM Koppat, akademisi bidang sastra dan budaya, serta guru madrasah yang memiliki karya dan prestasi juara.

    Juri Festival Literasi Using 2026

    Penilaian juga melibatkan unsur guru KKG dan MGMP Bahasa Using SMP yang sebelumnya telah mendapatkan pembekalan materi lomba dari para ahli.

    Pembekalan tersebut difasilitasi oleh Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Balai Bahasa Jawa Timur.

    Dari proses tersebut kemudian terpilih lima besar pada setiap cabang lomba yang langsung diumumkan.

    Para juara berasal dari berbagai wilayah Banyuwangi, mulai Pesanggaran, Purwoharjo, Cluring, Sempu, Songgon, Singojuruh, Srono, Blimbingsari, Kalipuro, Glagah, Kabat, hingga wilayah kota.

    Kemenangan juga diraih sejumlah sekolah swasta yang berhasil menjadi juara pertama.

    Dengan capaian tersebut, mereka berhak melanjutkan ke tingkat Jawa Timur di Surabaya sekaligus memperoleh tambahan pembinaan.

    Salah satu peserta, Arayo asal Desa Kebo-Keboan, Alasmalang, yang bersekolah di SMPN 3 Rogojampi, mengungkapkan rasa syukurnya setelah kembali meraih prestasi.

    “Alhamdulillah tahun lalu juara pidato dan tahun ini juara lawakan ngewer. Kesuwun guru hang bimbing lan emak hang dungo ugo kanca-kanca kabeh!,” ungkap Arayo.

    Sementara itu, juri Mocoan, Slamet Nyamsul Diharjo, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut yang dinilainya dapat menjadi bagian dari kaderisasi untuk menjaga keberlanjutan seni, budaya, adat, dan tradisi leluhur.

    “Kesuwun dikanggoaken kaderisasi ngelestariaken seni budaya adat tradisi leluhur!,” tutur Slamet Nyamsul Diharjo.

    Hal senada disampaikan Nuchbah Baroroh Maulidah, S.Ag., guru MTsN 1 Banyuwangi yang selama dua tahun berturut-turut terlibat sebagai juri geguritan.

    Ia mengaku senang dapat berkolaborasi dengan penyair yang memiliki karya dan prestasi di bidang baca puisi Jawa Timur.

    “Senang sudah 2 tahun ini jadi juri geguritan undhorasa bareng penyair yang punya karya dan prestasi baca puisi jatim!” kata Nuchbah Baroroh Maulidah, S.Ag.

    Nuchbah sendiri merupakan guru yang juga aktif berkarya di bidang puisi. Karya puisinya telah masuk dalam antologi ASEAN.

    Ia juga pernah meraih juara 1 baca puisi Radar Banyuwangi untuk kategori guru.

    Melalui Festival Literasi Bahasa Using 2026, pelestarian bahasa ibu tidak hanya ditempatkan sebagai upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, meraih prestasi, sekaligus memperkuat karakter melalui bahasa, sastra, seni, dan kearifan lokal.

    (Aguk Wahyu Nuryadi/Yechot)

  • MGMP Bahasa Using dan Dinas Pendidikan Banyuwangi Siapkan Wikipedia Bahasa Using, Penulis dan Pegiat Literasi Ikut Ambil Bagian

    MGMP Bahasa Using dan Dinas Pendidikan Banyuwangi Siapkan Wikipedia Bahasa Using, Penulis dan Pegiat Literasi Ikut Ambil Bagian

    Sebagai upaya menghadirkan Bahasa Using di ruang digital, MGMP Bahasa Using SMP bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi menggelar Wikilatih Wikipedia Bahasa Using di Lab IPA SMP Negeri 3 Rogojampi, Selasa dan Rabu, 8–9 September 2026.

    Wikilatih ini menjadi wadah inkubasi bagi calon relawan dan kontributor Wikipedia sekaligus mendorong semakin banyak penulis untuk mendokumentasikan Bahasa Using beserta kekayaan budaya dan sejarah Banyuwangi.

    Kegiatan resmi dibuka Kepala SMPN 3 Rogojampi, Kukung Joko Kurniawan, S.Pd., tepat pukul 08.17 WIB.

    Dalam sambutannya, ia berharap peserta tidak hanya mampu menulis menggunakan bahasa daerah, tetapi juga memahami berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan Bahasa Using dan Banyuwangi, mulai dari adat, tradisi, toponimi, legenda, hingga sejarah Blambangan dan Banyuwangi.

    Sesi berikutnya diisi motivasi oleh Ketua Komunitas Gotong Royong ’45, Aguk Darsono yang lebih akrab disapa Bung Aguk. Ia telah aktif dalam kegiatan seni teater sejak duduk di sekolah dasar.

    Saat SMA, Bung Aguk juga berhasil menjadi juara karya tulis tingkat nasional dan mendapat undangan untuk mengikuti Upacara 17 Agustus di Istana Negara.

    Hingga kini, Bung Aguk tetap aktif berbagi ilmu di bidang teater dan literasi. Ia juga berkegiatan sebagai wartawan di media lokal maupun nasional.

    “Harapannya kegiatan wikilatih ini menjadi pemicu pemegang kebijakan bahwasanya Basa Using adalah Bahasa bukan sekedar dialek atau logat Jawa!” ungkap aktivis pendidikan, kesehatan, dan disabilitas tersebut.

    Wikilatih juga menghadirkan mentor asal Madura, Alfian Rizzi Afdiquni, yang telah mendapatkan bonus sebagai kontributor aktif ke Afrika.

    Ia didampingi kontributor Bahasa Indonesia asal Sumbersari, Srono, Mbok Ulum Arifah.

    Ulum mengatakan, upaya merintis Wikipedia Bahasa Using sebenarnya bukan hal baru.

    Perintisannya telah dimulai sejak 2018, sementara pada tahun lalu juga terdapat proyek penyusunan kamus 2.000 kata Using.

    Saat ini, sudah terdapat sekitar 450 artikel mengenai Banyuwangi dan Bahasa Using. Namun, aktivitas menulis secara rutin masih menjadi tantangan.

    Menurut Ulum, belum lebih dari tiga penulis yang istiqomah menghasilkan tulisan setiap minggu.

    Kondisi tersebut membuat Wikipedia atau web berbahasa Using belum muncul sebagaimana bahasa daerah lain yang telah memiliki Wikipedia, seperti Betawi, Bali, Madura, Jawa, Minang, dan 19 bahasa ibu lainnya.

    “Sesungguhnya sudah dirintis sejak 2018 dan tahun lalu ada proyek kamus 2000 kata Using. Sudah ada sekitar 450 artikel tentang Banyuwangi dan bahasa Using. Tapi tidak istiqomah mingguan menulis buat lebih dari 3 penulis. Maka belum muncul web bassa Using seperti Betawi, Bali, Madura, Jawa, Minang dan 19 bahasa ibu lainnya. Harapannya 4-5 bulan ke depan sudah lahir Wikipedia Using menambah kekayaan bahasa nusantara yang juga diakui internasional!” harap Ulum yang kini tinggal di Surabaya.

    Sementara itu, Alfian Rizzi Afdiquni memberikan paparan mengenai Wikipedia secara umum maupun secara khusus.

    Setelah menyampaikan materi melalui PPT, ia kemudian membimbing peserta membuat akun dan mempraktikkan langsung penulisan artikel.

    Peserta diperkenalkan dengan berbagai SOP dalam penulisan Wikipedia sekaligus visi dan misi yang harus dipahami oleh seorang kontributor.

    “Kami yakin dengan semangat peserta inkubator ini maka segera terwujud Bahasa Using jadi web di Wikimedia!” ungkap Putri Koneng, yang juga berharap Bahasa Kangean dapat mendunia.

    Alfian juga berpesan agar setiap tulisan yang dibuat bersumber dari data dan referensi yang terpercaya. Ia menegaskan bahwa tulisan untuk Wikipedia tidak boleh menggunakan AI.

    Salah seorang peserta, Nani Asiany Ms (64), mengaku semangatnya langsung meningkat ketika mendengar kata Using.

    “Isun langsung jenggirat, mugo perjuangan Hasan Ali lan budayawan lain terus dadi amal lan dilanjutkan generasi alfa z saiki!” ungkapnya.

    Nani merupakan penulis bahan ajar muatan lokal Bahasa Using di SD. Ia juga tercatat sebagai kontributor Belambangan.com dan kamus kata Wiki.

    Kegiatan Wikilatih diikuti 70 peserta yang dibagi dalam dua hari. Peserta berasal dari berbagai unsur, yakni guru, pegiat literasi, komunitas penulis, serta jurnalis warga.

    Ketua MGMP Bahasa Using, Yeti Chotimah, M.Pd., berharap Wikipedia Bahasa Using dapat segera terwujud. Yeti sendiri telah banyak menerbitkan buku dan dikenal sebagai Google Master.

    “Semoga web Using Wikipedia jadi kado terindah buat hari jadi Banyuwangi ke 255 tanggal 18 Desember 2026 momentum Perang Puputan Bayu!” tutur Yeti. (Aguk Wahyu Nuryadi)

  • Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    BANYUWANGI – Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi mengikuti Festival Literasi Using 2026 yang digelar di SDN Kepatihan, Banyuwangi, Sabtu (5/9).

    Kegiatan yang dihelat setiap tahun ini menjadi salah satu agenda budaya dan literasi terbesar di Banyuwangi, dengan mempertemukan pelajar dalam berbagai kompetisi yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Using.

    Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Bupati Banyuwangi di Festival Literasi Using 2026

    Kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap antusiasme peserta didik yang mengikuti festival tersebut setiap tahunnya.

    Tahun ini, Festival Literasi Using mempertandingkan sejumlah cabang, yakni Geguritan, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Antusiasme pelajar terlihat salah satunya pada cabang Geguritan (baca puisi) tingkat SMP.

    Jumlah peserta pada cabang ini dibatasi sebanyak 45 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peminat cabang ini sangat tinggi.

    Dalam penilaian Geguritan, peserta dinilai dari sejumlah aspek kebahasaan, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan menyampaikan makna dari teks yang dibawakan.

    Salah satu juri pada cabang tersebut adalah Maulana Affandi, mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Menurut Maulana, kemampuan peserta dalam membawakan Geguritan tidak hanya dilihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari ketepatan penggunaan bahasa saat menyampaikan setiap bait.

    Pengucapan, intonasi, dan tekanan kata menjadi bagian penting agar isi Geguritan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

    “Selain interpretasi, bahasa juga menjadi fondasi utama dalam membaca Geguritan. Peserta harus mampu menjaga ketepatan pengucapan sekaligus memahami bagaimana sebuah kata disampaikan. Selain itu, intonasi dan tekanan juga ikut menentukan apakah pesan dalam teks bisa sampai kepada pendengar,” ujar Maulana.

    Menurut Maulana, kemampuan menggunakan bahasa daerah akan lebih mudah berkembang ketika peserta didik tidak hanya mempelajarinya secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Festival Literasi Using menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus melestarikannya melalui karya sastra.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa bahasa Using tidak hanya berkaitan dengan kosakata, tetapi juga memiliki sistem, konteks penggunaan, serta keterkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

    Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh studi di UMM.

    “Kalau kita berbicara tentang bahasa Using, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai kumpulan kosakata. Ada sistem, ada cara penggunaan, ada konteks, dan ada identitas masyarakat yang melekat di dalamnya. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan bahasa Using dalam karya sastra, sebenarnya mereka sedang berinteraksi dengan kekayaan bahasa dan budaya daerahnya,” jelasnya.

    Hadirnya Maulana sebagai juri turut membawa unsur akademik UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini.

    Pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan bahasa di Pascasarjana UMM diterapkan dalam kegiatan yang secara langsung melibatkan pelajar dan penggunaan bahasa Using.

    Bagi Maulana, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan praktik kebahasaan di tengah masyarakat.

    Ia berharap pelajar tidak memandang bahasa Using hanya sebagai materi yang dipelajari ketika mengikuti perlombaan.

    “Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan. Anak-anak harus merasa bahwa bahasa Using bukan hanya bahasa yang dipelajari untuk mengikuti lomba, tetapi bahasa yang memiliki nilai dan bisa digunakan untuk berkarya,” katanya.

    Ia juga menilai rasa bangga terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan sejak dini. Keberanian pelajar menggunakan bahasa Using di ruang publik menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.

    “Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan. Ketika anak-anak berani tampil menggunakan bahasa Using di depan orang lain, itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah,” ujarnya.

    Keterlibatan Maulana sebagai mahasiswa Pascasarjana UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini juga menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam kegiatan kebahasaan dan budaya di masyarakat.

    Hal tersebut sejalan dengan perhatian Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terhadap keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan generasi muda.

    Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Assoc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., menilai pelestarian budaya Using perlu terus diperbarui agar mampu menarik minat generasi Z dan generasi muda untuk mengenal, memahami, menguasai, sekaligus mencintai budaya daerahnya.

    Menurutnya, pembaruan dapat dilakukan dengan mengemas kegiatan seni dan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

    Penggunaan bahasa Using dalam konteks yang lebih kekinian juga dapat menjadi salah satu cara agar bahasa dan budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Penting ada upaya-upaya terbarukan untuk budaya Osing agar bisa menumbuhkan keinginan generasi Z atau generasi muda lainnya untuk lebih mengenal, memahami, menguasai, dan mencintai budaya Osing sebagai upaya pemertahanan dan pelestariannya. Misalnya, bagaimana menata festival seni baca Aljin yang menarik untuk generasi muda Banyuwangi atau penggunaan bahasa Osing yang kekinian,” tuturnya.

    Ia menambahkan, pelestarian budaya juga tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik.

    Guru maupun pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan kebudayaan di sekitarnya.

    “Terus terang, kita sendiri sebagai pendidik kadang hanya suka mengajar, bukan mengajarkan kehidupan,” tutupnya.

  • Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Sebanyak 14 pelajar asal Kabupaten Banyuwangi yang terdiri dari 7 siswa SD dan 7 siswa SMP diberangkatkan menuju Surabaya untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Timur, Jumat (7/11).

    Kegiatan pelepasan peserta berlangsung di pelataran Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M.

    Dalam arahannya, Suratno menyampaikan agar para peserta terus melestarikan bahasa Using dan tidak malu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

    “Ke-14 siswa tersebut merupakan duta Bahasa Using yang telah bertanding secara berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan kini provinsi. Mereka adalah hasil seleksi dari kegiatan Festival Literasi Using yang dilaksanakan pada 1 November 2025 dan dihadiri langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani,” paparnya.

    Juara Puisi Festival Literasi Using

    Sementara itu, Erpandi, S.Pd., M.Pd., salah satu pendamping delegasi, menyampaikan harapan besar kepada para peserta.

    “Bisa jadi nanti mereka yang masuk peringkat satu di ajang Tunas Bahasa Ibu kategori Bahasa Madura dan Bahasa Using akan terundang pada peringatan Hari Pendidikan Nasional bulan Mei 2026 di tingkat nasional,” tuturnya sambil mengajak seluruh kafilah menaiki bus pariwisata.

     

    Selain berkompetisi, duta Banyuwangi yang merupakan gabungan pelajar SD dan SMP bersama para guru juga akan menampilkan seni pertunjukan khas Banyuwangenan di Surabaya.

    Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Jawa Timur digelar pada 6–8 November 2025 di Hotel Santika Surabaya, dengan format awarding.

    Peserta berasal dari empat kabupaten di Madura, serta Situbondo dan Bondowoso.

    Adapun Banyuwangi menjadi satu-satunya peserta dengan bahasa Using yang sebelumnya telah menorehkan prestasi di tingkat nasional pada ajang serupa.

    Daftar Delegasi Banyuwangi Peraih Juara 1

    Nulis Aksara

    • Ahmed Fahrizi Paythoni – SMPN 2 Banyuwangi
    • Tinnaka Aknini Magfiroh – SDN 2 Gintangan, Blimbingsari

    Ndongeng

    • Graceylla Alley Nadyne CP – SMPN 5 Banyuwangi
    • Novi Jasmin Al Marista – SDN 2 Sumberagung, Pesanggaran

    Ngewer

    • Achmad Fikry Setiawan – SMPN 3 Rogojampi
    • Ulan Pancar Sari – SDN 3 Rogojampi

    Pidato

    • Arayo Datan Pratama – SMPN 3 Rogojampi
    • Annora Hanifa Firmala – SDN 1 Licin

    Maca Geguritan

    • İstiqlal Syukri Ahmad – SMP Bustanul Makmur, Genteng
    • Nabila Umaira Bramanta – SDN 4 Penganjuran, Banyuwangi

    Nembang

    • Cinta Qieta Berliana Putry – SMP Muhammadiyah 7 Sempu
    • Putri Qoireen Khumaira Herlangga – SDN 1 Rogojampi

    Nulis Cerita Cendhek

    • Anggun Aulia Pratama Putri – SMPN 2 Cluring
    • Keyra Febrisal Wardani – SDN 1 Pakistaji, Kabat

    Selain itu, juara 2 kategori cerita cendhek, Sifa Zulliyati (SMPN 1 Singojuruh) dan Aisya Nada Nahdliyina (SDN 1 Tamansuruh, Glagah), juga diundang menghadiri awarding.

    Juara Festival Literasi Using

    Para peserta tersebut akan mengikuti program inkubasi pelatihan menulis cerpen dwibahasa (bahasa lokal dan bahasa Indonesia) yang dilaksanakan Balai Bahasa Jawa Timur bekerja sama dengan Sengker Kuwung Blambangan di Hotel Swiss-Belinn Manyar, Surabaya, pada 9–11 November 2025.

    Peserta dari kategori bahasa Madura juga dijadwalkan mengikuti pelatihan serupa dalam kegiatan bertajuk Kemah Cerpen.

    Salah satu pengurus MGMP Bahasa Using SMP, Widyaningsih, S.Pd. dari SMPN 1 Blimbingsari, berharap bahasa Using terus dilestarikan dan memiliki penerus di masa mendatang.

    “Bahasa Using harus terus bergenerasi sampai anak cucu nanti. Untuk jenjang SD sudah lama berjalan sebagai muatan lokal, tapi di tingkat SMP belum ada regulasi yang tegas. Harapannya, lewat ajang festival ini, Bupati bisa membuat gebrakan yang menjadi gerakan nyata,” ujarnya.

    Widyaningsih juga menegaskan, keberlanjutan bahasa daerah tak hanya bergantung pada peserta didik, tetapi juga dukungan kebijakan dan pelatihan guru melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) dan diseminasi.

  • Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Sebanyak 21 mahasiswa Program Studi S1 Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur melaksanakan Kuliah Lapangan Dialektologi di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi pada Kamis (23/10).

    Kegiatan ini bertujuan untuk meneliti dan mendalami bahasa Using, bahasa tutur khas masyarakat Banyuwangi yang menjadi bagian penting dari kekayaan linguistik Nusantara.

    Acara pembukaan berlangsung di pendopo kantor desa, dihadiri oleh Ketua Program Studi Pendidikan, Dr. Endang Sholihatin, S.Pd., M.Pd., serta dua dosen pembimbing, Dwika Muzakky Anan Taturia, M.Hum., dan Nisa Hanum Mufida, M.Hum.

    Turut hadir pula Kasi PMK Kecamatan Kabat, Sahroni, S.T., Mujalis, perangkat desa, dan beberapa warga yang akan menjadi narasumber penelitian di wilayah Pondoknongko.

    Antusiasme masyarakat tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Warga merasa bangga karena bahasa yang mereka gunakan sehari-hari menjadi objek kajian ilmiah yang dapat memperkaya khazanah linguistik Indonesia.

    Kepala Desa Pondoknongko, Hamdan Ramahurmuzi, S.T., dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan bangga atas kedatangan mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur.

    Ia menyebut kegiatan ini memiliki makna pribadi karena dirinya merupakan alumnus kampus yang sama, angkatan 1996 jurusan Teknik Industri.

    Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    “Saya dulu angkatan 96 dari jurusan Teknik Industri. Kedatangan adik-adik mahasiswa ini benar-benar membawa kenangan dan kebanggaan tersendiri,” ujarnya.

    Hamdan berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using.

    “Semoga kolaborasi ini membawa manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using,” imbuhnya.

    Bahasa Using sendiri dikenal sebagai identitas budaya masyarakat Banyuwangi yang memiliki struktur dan ciri khas tersendiri.

    Melalui kuliah lapangan ini, para mahasiswa berkesempatan mendalami karakter bahasa yang lahir dari sejarah panjang dan kehidupan masyarakat pesisir timur Jawa.

    Selain menggali aspek linguistik, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat.

    Bagi mahasiswa, pengalaman langsung di lapangan menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana bahasa hidup dan berkembang di tengah budaya lokal.

    Dari Desa Pondoknongko, semangat pelestarian bahasa daerah kembali digaungkan. Menjaga bahasa tidak sekadar melestarikan kata, tetapi juga merawat jati diri, budaya, dan ingatan kolektif bangsa.

  • Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Persiapan Festival Literasi Using SMP 2025 resmi dimulai dengan technical meeting atau rapat teknis secara daring melalui Zoom pada Rabu (8/10/2025), diikuti oleh panitia, juri, serta pendamping dari sekolah negeri dan swasta yang akan mengikutsertakan muridnya dalam gelaran bergengsi ini.

    Rapat teknis ini menjadi langkah awal untuk menyatukan pemahaman, membahas petunjuk teknis, serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan festival berjalan lancar dan seragam di setiap cabang lomba.

    Sebagai informasi, Festival Literasi Using merupakan agenda tahunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang didukung MGMP Bahasa Using SMP, PKG SD serta Balai Bahasa Jawa Timur.

    Ketua MGMP Bahasa Using SMP, Yeti Chotimah menyampaikan bahwa festival ini sudah memasuki tahun kelima pelaksanaan.

    Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar lomba, melainkan ruang bagi siswa untuk mencintai bahasa dan budaya Using, identitas asli masyarakat Banyuwangi.

    “Selama lima tahun ini, Festival Literasi Using menjadi wadah bagi siswa SMP, baik negeri maupun swasta, untuk menunjukkan kecintaan mereka pada bahasa daerah. Tujuannya bukan hanya berlomba, tapi juga melestarikan warisan budaya Using,” ujary Yeti, yang siap memberikan informasi lebih lanjut melalui WhatsApp di 081336275599.

    Tahun ini, Festival Literasi Using akan digelar pada tanggal 1 November 2025 di SDN Model Banyuwangi. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 8 – 26 Oktober 2025 melalui link berikut ini https://bit.ly/FESTIVALUSING2025

    Sementara untuk grup peserta dapat bergabung melalui tautan ini: KLIK DI SINI.

    Ada tujuh kategori yang dilombakan, diantaranya Nulis Aksara (Menulis Kalimat Using), Nulis Cerpen, Moco Geguritan (Baca Puisi), Nembang (Menyanyi), Ngewer (Stand-up Comedy Using), dan Ndongeng (Bercerita) serta pidato.

    Setiap cabang dirancang untuk mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya dalam bahasa Using dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.

    Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Didik Eko Wahyudi, S.Pd, memberikan apresiasi terhadap konsistensi MGMP Bahasa Using dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, festival tersebut menjadi wujud nyata dari upaya pelestarian bahasa daerah melalui jalur pendidikan.

    Suasana rapat teknis berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Sekitar 45 peserta yang terdiri dari panitia, juri, dan guru pendamping aktif berdiskusi, menyimak penjelasan juknis tiap cabang lomba, serta menyampaikan pertanyaan seputar aturan teknis.

    Terpisah, Affandi Maulana, pemimpin redaksi media online sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang menyatakan siap menjadi media partner dan merasa terhormat karena dilibatkan sebagai juri bersama dengan tokoh literasi dari komunitas literasi Gotongroyong ’45 serta Kopiwangi.

    Sarjana Sastra UNEJ ini menekankan pentingnya agar karya siswa tidak berhenti hanya di ajang lomba, tetapi terus berkembang dalam aktivitas literasi di dunia pendidikan maupun kehidupan masyarakat.

    "Karya-karya anak kita sebaiknya tidak hanya tampil di panggung festival, tapi juga diabadikan dalam bentuk buku antologi. Dengan begitu, semangat literasi Using bisa terus hidup dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya," ujarnya.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, selaku ketua komunitas Kopiwangi, turut mengapresiasi gelaran festival ini.

    Menurutnya, kegiatan seperti Festival Literasi Using sangat penting karena tidak hanya mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya, tetapi juga menumbuhkan kecintaan mereka terhadap bahasa dan budaya Using, sehingga generasi muda tetap terhubung dengan warisan budaya daerahnya.

    Pertemuan daring yang berlangsung selama dua jam itu ditutup dengan sesi foto bersama, dimana seluruh peserta mengangkat simbol tangan literasi sebagai wujud komitmen untuk menjaga bahasa Using agar tetap hidup, digunakan, dan dicintai oleh para pelajar Banyuwangi di tengah arus zaman yang serba digital.

    Selain itu, muncul harapan agar Using kelak bisa diakui sebagai bahasa mandiri dengan identitasnya sendiri, bukan sekadar dipandang sebagai dialek, sehingga keberadaannya dapat terus dilestarikan dan berkembang di tengah masyarakat.