Tag: bahasa

  • Makna Gramatikal Adalah? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Makna Gramatikal Adalah? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Dalam tata bahasa Indonesia, makna kata tidak selalu tetap. Ada kalanya sebuah kata mengalami perubahan makna karena proses gramatikal. Perubahan ini dikenal dengan istilah makna gramatikal.

    Apa Itu Makna Gramatikal?

    Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat dari proses gramatika, seperti pengimbuhan (afiksasi), pengulangan (reduplikasi), dan pemajemukan.

    Artinya, kata dasar dapat mengalami perubahan makna ketika mendapatkan imbuhan, diulang, atau digabungkan dengan kata lain.

    Makna gramatikal bersifat kontekstual dan sangat bergantung pada penggunaan dalam kalimat serta aturan tata bahasa yang berlaku.

    Berbeda dengan makna leksikal yang melekat pada kata dasar, makna gramatikal tidak bisa dipahami secara lepas. Ia harus dilihat dalam konteks pemakaian kalimat dan struktur kebahasaan.

    Pemahaman terhadap makna gramatikal sangat penting, terutama dalam dunia pendidikan, jurnalistik, penerjemahan, maupun komunikasi sehari-hari.

    Dengan memahami makna gramatikal, seseorang dapat:

    • Menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi
    • Menyusun kalimat yang lebih efektif dan logis
    • Menangkap makna tersirat dari sebuah kata atau ungkapan berdasarkan konteksnya
    • Mengembangkan keterampilan menulis dan berbicara yang lebih baik

    Dalam praktiknya, makna gramatikal sering digunakan dalam karya sastra, iklan, atau percakapan informal, yang membutuhkan pemahaman konteks secara mendalam.

    Contoh Makna Gramatikal dalam Kalimat

    1. Kata Dasar: Minum

    Minuman: Polisi menyita beberapa peti minuman keras dari dalam toko itu.
    (Minuman = hasil dari aktivitas minum)

    Minum-minum: Pagi, siang, malam, kerjanya hanya duduk dan minum-minum saja.
    (Minum-minum = kegiatan santai, bisa berkonotasi negatif jika berlebihan)

    Peminum: Seluruh orang di kampung ini tahu, kalau ia seorang peminum.
    (Peminum = orang yang terbiasa atau sering minum, biasanya minuman keras)

    2. Kata Dasar: Rumah

    Rumah dinas: Sejak terpilih menjadi bupati di kota lain, kini ia tinggal di rumah dinas.
    (Rumah dinas = rumah milik pemerintah yang dipakai oleh pejabat)

    Rumah duka: Setiap hari rumah duka itu tidak pernah sepi pengunjung.
    (Rumah duka = tempat untuk menyemayamkan jenazah sebelum pemakaman)

    Merumahkan: Beberapa bulan terakhir ini perusahaan telah merumahkan puluhan karyawannya.
    (Merumahkan = memberhentikan sementara dari pekerjaan)

    Perumahan: Pemerintah tengah gencar membangun perumahan untuk kalangan menengah ke bawah.
    (Perumahan = kompleks atau kawasan tempat tinggal)

    Kesimpulan

    Makna gramatikal menunjukkan bahwa sebuah kata bisa berubah makna tergantung pada proses bahasa yang dialaminya.

    Proses ini menciptakan makna baru yang tidak selalu bisa ditebak hanya dari kata dasar. Oleh karena itu, memahami makna gramatikal sangat penting untuk meningkatkan pemahaman berbahasa secara tepat dan kontekstual.

  • Kata Bermakna Ganda Memiliki Sebutan?

    Kata Bermakna Ganda Memiliki Sebutan?

    Kata bermakna ganda memiliki sebutan ambigu.

    Istilah ini mengacu pada situasi ketika sebuah kata atau frasa dapat ditafsirkan dengan lebih dari satu makna sehingga sering menimbulkan kebingungan dalam pemahaman.

    Ambiguitas dalam bahasa bisa terjadi baik secara sengaja maupun tidak disengaja.

    Dalam komunikasi sehari-hari, ambiguitas biasanya muncul karena penempatan kata yang kurang tepat atau karena konteks kalimat yang tidak jelas sehingga membuka peluang bagi beragam interpretasi.

    Menurut Diana Nababan dalam buku Intisari Bahasa Indonesia untuk SMA, frasa ambigu adalah frasa yang memunculkan makna ganda atau makna yang kabur.

    Hal ini membuat pembaca atau pendengar tidak bisa langsung memahami maksud sebenarnya dari kalimat yang digunakan.

    Dengan demikian, ambiguitas menjadi salah satu tantangan dalam penggunaan bahasa, khususnya dalam tulisan atau komunikasi resmi yang menuntut kejelasan.

    Ambiguitas dapat kita temui dalam berbagai bentuk kalimat. Misalnya kalimat “yang membawa hp tolong dimatikan”.

    Sekilas kalimat ini terlihat sederhana, tetapi ketika diperhatikan lebih dalam muncul pertanyaan yang berbeda-beda.

    Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah orang yang membawa hp harus dimatikan, yang tentu saja sangat keliru.

    Namun ada juga kemungkinan bahwa yang dimaksud sebenarnya hanyalah hp yang sedang dibawa harus dimatikan.

    Perbedaan penekanan makna tersebut menunjukkan bagaimana sebuah kalimat yang ambigu bisa menimbulkan salah paham.

    Contoh lain dapat dilihat pada kalimat “Guru Ratna yang gemuk hari ini tidak masuk”. Kalimat ini juga bisa ditafsirkan lebih dari satu makna.

    Apakah yang gemuk adalah guru Ratna atau justru ada guru lain yang bernama Ratna?

    Ketidakjelasan inilah yang membuat kalimat tersebut menjadi ambigu. Tanpa keterangan tambahan, orang yang membaca bisa saja memahami maksud yang berbeda.

    Kejadian seperti ini sering kita jumpai dalam percakapan sehari-hari, berita, bahkan tulisan ilmiah jika tidak berhati-hati dalam merangkai kalimat.

    Oleh sebab itu, penggunaan bahasa yang tepat, penempatan kata yang benar, serta pemilihan struktur kalimat yang jelas sangat penting agar tidak menimbulkan ambiguitas.

    Ambiguitas sebenarnya tidak selalu dianggap sebagai kesalahan. Dalam beberapa karya sastra atau puisi, ambiguitas justru dimanfaatkan untuk memberikan efek artistik, menambah keindahan bahasa, dan menimbulkan banyak tafsir yang memperkaya makna.

    Namun dalam komunikasi formal atau akademis, ambiguitas sebisa mungkin dihindari karena dapat merusak kejelasan pesan yang ingin disampaikan.

  • 8 Fungsi Bahasa Menurut Para Ahli

    8 Fungsi Bahasa Menurut Para Ahli

    Bahasa merupakan salah satu anugerah paling berharga dalam kehidupan manusia. Tanpa bahasa, komunikasi yang efektif akan sangat sulit dilakukan, bahkan hampir mustahil.

    Bahasa bukan sekadar alat tukar informasi, tetapi juga mencerminkan pikiran, perasaan, dan budaya suatu masyarakat.

    Fungsi Bahasa Menurut Para Ahli

    Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para ahli bahasa dari berbagai disiplin ilmu telah banyak mengkaji fungsi bahasa dalam kehidupan manusia.

    Fungsi bahasa sangat beragam, tergantung dari sudut pandang dan pendekatan yang digunakan oleh masing-masing ahli.

    1. H. A. K. Halliday

    H. A. K. Halliday dalam bukunya Exploration Of The Function Of Language menyebutkan terdapat tujuh fungsi bahasa sebagai berikut:

    1. Bahasa memerankan fungsi instrumental, yang berarti bahwa bahasa itu merupakan penyebab terjadinya suatu peristiwa. Fungsi ini dapat terlihat jelas pada pemakaian bahasa ketika seseorang memerintah, baik secara langsung maupun tidak.

    2. Bahasa memerankan fungsi untuk mengatur dan mengendalikan berbagai peristiwa. Fungsi ini disebut dengan the regulatory function yang merupakan fungsi untuk mengatur dan mengendalikan orang lain atau untuk menyetir orang lain. Bahasa hukum yang memuat pasal-pasal beserta kandungannya merupakan contoh fungsi bahasa yang berkaitan dengan the regulatory system.

    3. Bahasa juga berfungsi untuk membuat pernyataan, menyampaikan fakta-fakta, pengetahuan, menjelaskan atau menggambarkan realitas yang sebenarnya. Tugas ini disebut the representational function.

    4. Bahasa berfungsi sebagai the interactional function. Artinya, bahwa bahasa bermanfaat untuk melanggengkan komunikasi atau hubungan antar sesama. Agar komunikasi berjalan dengan lancar, maka diperlukan pengetahuan mengenai logat, bahasa, jargon, lelucon, cerita rakyat, adat istiadat dan lain-lain.

    5. Bahasa melakukan fungsi the personal function. Artinya, bahasa merupakan alat untuk mengekspresikan dirinya, mengungkapkan sesuatu tentang dirinya dan sekaligus tentang hal lain. Juga dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan emosinya dan reaksi-reaksi lainnya.

    6. Bahasa merupakan alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Artinya bahwa bahasa memerankan fungsi the heuristic function. Fungsi ini sering terwujud dalam bentuk pertanyaan yang memang membutuhkan jawaban seperti: mengapa, bagaimana, dimana dan lain-lain.

    7. Dan yang terakhir, bahasa berfungsi sebagai alat untuk berimajinasi yang juga disebut dengan the imaginative function. Artinya bahwa bahasa mampu menciptakan ide-ide yang non-faktawi seperti ketika mengisahkan cerita-cerita, karya sastra dan lain sebagainya.

    2. Jacobson (1960)

    Menurutnya, terdapat enam fungsi bahasa yaitu: (1) fungsi eksresif atau emotif, (2) fungsi referensial, (3) fungsi estetik atau puistik, (4) fungsi fatik, (5) fungsi metalingual dan (6) fungsi direktif atau konatif.

    3. Karl Buhler

    Karl Buhler menjelaskan pula beberapa fungsi bahasa menurut pendapatnya terbagi menjadi enam bagian sebagai berikut:

    1. Bahasa berfungsi sebagai alat untuk berekspresi

    Yaitu manusia dapat mengungkapkan dirinya lepas dari tujuannya.

    Fungsi ini dapat dilihat pada bahasa-bahasa yang dipakai pengarang dalam sastra, baik novel, cerpen, drama dan lain-lain.

    Yang terpenting pada fungsi ini adalah ide dan gagasan dari pengarang atau penulis.

    Selain itu fungsi ekspresif bahasa dapat dilihat pada pernyataan otoritatif seperti pidato-pidato politik, dokumen-dokumen tokoh, karya ilmiah dan lain-lain.

    2. Bahasa berfungsi untuk memberikan informasi

    Fungsi ini disebut juga dengan the informative function yang sering kita temukan dalam buku-buku pelajaran, surat kabar, majalah dan lain sebaginya. Fungsi ini bercirikan bahasa yang bersifat non-regional, non-idiolek, formal, teknis dan netral.

    3. Bahasa menjalankan fungsi vokatif

    Fungsi ini disebut juga dengan fungsi konatif, fungsi instrumental, fungsi operatif dan fungsi paragmatik.

    Fungsi vokatif dapat terlihat pada pengumuman-pengumuman, petunjuk, publiksi, propaganda, tulisan-tulisan persuasif dan lain sebagainya.

    Yang terbersit dalam fungsi vokatif adalah bahasa merupakan hubungan antara penulis dan pembacanya yang terwujud dalam hubungan gramatika yang telah ditentukan secara sosial ataupun personal.

    Adapun cirinya adalah bahasanya bersifat langsung dan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca atau pendengarnya.

    4. Bahasa menjalankan fungsi estetika

    Fungsi ini berkaitan erat dengan rasa keindahan “sense of beauty” yang mungkin terpancar lewat untaian bunyi pada puisi, lagu dan sebagainya.

    Fungsi ini terwujud, selain dari yang disebutkan sebelumnya, juga melalui ritme, keselarasan, kontras kalimat, klausa dan kata atau diksi.

    Dalam hal bunyi, misalnya aliterasi, anomatope, asonansi, rima, intonasi dan tekanan nada, berperan sekali dalam melahirkan fungsi estetik.

    5. Bahasa memiliki fungsi fatik

    Fungsi fatik lebih diarahkan untuk memelihara hubungan yang akrab dengan lawan bicara.

    Fungsi fatik biasanya hadir dalam frasa-frasa baku dalam bahasa lisan seperti: apa kabar, selamat pagi, selamat berjuang dan sebagainya.

    Adapun dalam bahasa tulis, sering kita temukan fungsi fatik dalam ungkapan seperti: sudah barang tentu, tidak diragukan lagi dan lain sebagainya.

    6. Bahasa menjalankan fungsi metalingual

    Fungsi ini lebih mengacu pada kemampuan bahasa dalam menjelaskan atau menamakan dan juga mengomentari sifat-sifatnya sendiri.

    Dengan kata lain bahwa bahasa bebicara tentang dirinya sendiri.

    Fungsi ini sering diwakili dengan istilah gramatika seperti: menangis itu verba, kapur itu nomina, bagus itu adjektiva dan lain-lain.

    Selain itu terdapat ungkapan-ungkapan seperti: dalam pengertian luas, terkadang hal itu dinamakan, sejujurnya, secara literal dan sebagainya.

    4. Husen Lubis

    Dengan bersandar pada padangan Finocehinario, Husen Lubis membagai fungsi Bahasa menjadi lima bagian, yaitu:

    • Fungsi Interpersonal, adalah kemampuan untuk membina dan menjalin hubungan kerja dan hubungan sosial denqan orang lain. Hubunqan ini membuat hidup kita denqan orang lain menjadi baik dan menyenangkan.
    • Fungsi Direktif, adalah fungsi ini memungkinkan kita untuk mengajukan permintaan, memberi sara, membujuhk, menyakinkan dan sebagainya. Hal ini menjadikan semua keinginan kita bisa dikomunikasikan dengan baik.
    • Fungsi Referensial. Fungsi ini berhubungan dengan kemampuan untuk penulis atau berbicara tentang lingkungan kita yang terdekat dan juga mengenai fungsi metalinguistic.
    • Fungsi Imajinatif. Fungsi ini berhubungan denqan kemampuan untuk menyusun ritme baik bahasa lisan maupun tulis. Tidak semua manusia bisa menerapkan fungsi ini, kecuali bagi mereka yang memiliki talenta terhadap fungsi ini .
    • Fungsi Personal. Fungsi ini berhubungan dengan kemampuan pribadi seseorang untuk mengekspresikan emosinya.

    5. Nababan

    Nababan membagi fungsi bahasa menjadi empat, yaitu :

    • Fungsi kebudayaan.
    • Fungsi kemasyarakatan
    • Fungsi perseorangan
    • Fungsi pendidikan.

    6. Propper

    Pada sumber yang berbeda, propper membagi fungsi bahasa menjadi empat bagian:

    • Stimulus. Artinya bahasa berfungsi sebaaai rangsangan yang dapat mendatangkan suatu respon:
    • Ekspresif. Artinya bahasa dapat dipergunakan untuk menyatakan perasaan, ide kepada orang lain;
    • Deskriptif. Artinya bahasa berfungsi untuk menguraikan, menjelaskan, dan menggambarkan sesuatu kepada orang lain;
    • Argumentatif. Artinya melalui bahasa manusia dapat berargumentasi pada orang lain.

    7. Tinus, Smith, dan Nolan

    Menurut Titus, Smith dan Nolan fungsi bahasa terbagi menjadi empat macam yaitu:

    • Fungsi kognitif, merupakan bahwa bahasa berfungsi untuk menerangkan suatu kebenaran, seperti bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat. Karena dalam bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat biasanya menggunakan bahasa yang nyata atau benar.
    • Fungsi emotif, bahwa bahasa berfungsi menerangkan aspek emosi atau perasaan terdalam dari manusia. Karena dengan berbahasa manusia mampu berbicara, mampu memberitahukan apa yang dia rasakan, mampu mengutarakan apa yang dia utarakan, mampu memberikan apa yang dia maksud kepada oang lain baik emosi dll.
    • Fungsi imperatif, ialah bahwa bahasa berfungsi memerintah atau mengontrol suatu perilaku, seperti bahasa komando dalam kemiliteran. Sudah jelas bahwa bahasa ini cenderung digunakan untuk bahasa komando.
    • Fungsi seremonial, ialah fungsi menghormati orang lain, berdo’a dan ritual lainnya. Dalam bahasa ini befungsi sebagai bahasa resmi seperti dalam berbahasa ketika melakukan upacara, mendoakan para pahlawan, karena dalam bahasa seremonial atau bahasa resmi yang digunakan ketika dalam melakukan hal seperti itu.

    8. Keraf (2004: 3)

    Keraf engatakan bahwa bahasa mempunyai empat fungsi yaitu : (1) sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, (2) alat komunikasi, (3) alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, dan (4) alat mengadakan kontrol sosial.

  • Pengertian Gaya Bahasa dan Jenis-jenisnya

    Pengertian Gaya Bahasa dan Jenis-jenisnya

    Gaya Bahasa dan Jenis-jenisnya

    Poerwadarminta dalam Widyamartaya (1995: 53) menerangkan bahwa gaya umum itu dapat ditambah, diperbesar dengan salah satu cara.

    Tiap cara atau proses ini akan menghasilkan sejumlah corak dengan nama-nama khususnya.

    Panorama selayang pandang tentang gaya bahasa dapat dirinci dengan memperbesar daya tenaganya terhadap gaya umum dengan cara-cara mengadakan:

    1. Perbandingan;
    2. Pertentangan;
    3. Pertukaran;
    4. Perulangan;
    5. Perurutan.

    Gaya bahasa ialah cara penyair menggunakan bahsa untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu. Gaya digunakan untuk melahirkan keindahan.

    Hal itu terjadi karena dalam karya sastra paling sering dijumpai, sebagai wujud eksplorasi dan kreativitas sastrawan-sastrawati dalam berekspresi.

    Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai bahasa (Gorys Keraf, 2002: 113).

    Suatu penciptaan puisi, juga bentuk-bentuk tulisan yang lain, misalnya cerpen, novel, naskah drama (Wacana sastra) sangat membutuhkan penguasaan gaya bahasa, agar puisi yang dihasilkan nanti lebih menarik, indah, dan berkualitas.

    Pembicaraan tentang gaya bahasa sangatlah luas. Gorys Keraf (2002: xi-xii) membagi persoalan gaya bahasa, yakni:

    1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata

    Gaya bahasa resmi

    Gaya bahasa tak resmi
    Gaya bahasa percakapan

    2. Gaya bahasa berdasarkan nada

    Gaya sederhana

    Gaya mulia dan bertenaga
    Gaya menengah.

    3. Gaya bahasa berdarkan struktur kalimat

    Klimaks

    Antiklimaks
    Paralelisme
    Antitesis
    Repetisi

    4. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna

    A. Gaya bahasa retorika terdiri dari:

    1) Aliterasi
    2) Asonansi
    3) Anastrof
    4) Apofasis/preterisio
    5) Apostrof
    6) Asidenton
    7) Polisindenton
    8.) Kiasmus
    9) Elipsis
    10) Eufimismus
    11) Litotes
    12) Histeron proteron
    13) Pleonasme dan tautologi
    14) Perifrasis
    15) Prolepsis/antisipasi
    16) Erotesis/pertanyaan retoris
    17) Silepsis dan Zeugma
    18) Koreksio Epanotesis
    19) Hiperbola
    20) Paradoks
    21) Oksimoton

    B. Gaya bahasa kiasan

    1. Persamaan/simile
    2. Metafora
    3. Alegori, Parabel dan Fabel
    4. Personifikasi
    5. Alusi
    6. Eponim
    7. Epitet
    8. Sinekdoke
    9. Metonimia
    10. Antomonasia
    11. Hipalase
    12. Ironi
    13. Satire
    14. Iniendo
    15. Antifrasis
    16. Paronomasia
  • Bahasa Vernakular Adalah?

    Bahasa Vernakular Adalah?

    Bahasa Vernakular adalah bahasa atau variasi bahasa selain bahasa standar atau yang umum digunakan.

    Bahasa Vernakular sendiri sering dibedakan dari bahasa sastrawi, ilmiah, atau variasi bahasa lain yang memiliki prestise yang tinggi.

    Cara lain untuk memahami bahasa Vernakular adalah dengan melihat varian bahasa apa yang telah dikodifikasi, atau disempurnakan seiring waktu oleh badan atau kewenangan yang memiliki hak untuk melakukannya, dalam hal ini Badan Bahasa.

    Bahasa Vernakular adalah bahasa yang berada di luar proses tersebut.

    Definisi Bahasa Vernakular juga dapat diartikan ragam bahasa lisan dari suatu bahasa, yang merupakan bahasa sehari-hari masyarakat yang tidak melalui proses kodifikasi.

    Oleh karena itu, vernakular biasanya tidak memiliki status resmi di suatu negara karena hanya digunakan dalam bahasa sehari-hari.

    Vernakular pada umumnya dipengaruhi oleh keadaan sosial, budaya, atau keadaan geografi dari penuturnya.

    Sebagai contoh, bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat kelas menengah dan kelas bawah dapat berbeda.

    Contoh lain, adalah perbedaan penggunaan bahasa antara satu daerah dengan daerah lainnya yang biasanya dipengaruhi oleh dialek setempat.

    Vernakular biasanya dianggap lebih rendah dibandingkan dengan bahasa baku.

  • 10 Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli

    10 Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli

    Pengertian Bahasa

    Pengertian bahasa adalah alat komunikasi manusia dengan manusia lainnya dengan bunyi (suara), gerakan, dan ekspresi. Jadi, bahasa tidak hanya berkutat soal bunyi sanya, tapi juga tanda yang mendukungnya.

    Secara etimologi, bahasa berasal dari bahasa Sanskerta भाषा, bhāṣā. Sedangkan menurut Kbbi, bahasa adalah:

    • sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
    • percakapan (perkataan) yang baik; tingkah laku yang baik; sopan santun.
    • sistem kata atau simbol yang memungkinkan untuk berkomunikasi dengan komputer, terutama untuk memasukkan instruksi-instruksi komputer melalui kata-kata yang mudah dipahami, dan kemudian diterjemahkan ke dalam kode mesin.

    Bahasa Menurut Para Ahli

    Adapun pengertian bahasa menurut para ahli adalah sebagai berikut:

    1. Bill Adams

    Bahasa adalah sebuah sistem pengembangan psikologi individu dalam sebuah konteks inter-subjektif.

    2. Wittgenstein

    Bahasa merupakan bentuk pemikiran yang dapat dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur yang logis.

    3. Ferdinand de Saussure

    Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain.

    4. Plato

    Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut.

    5. Bloch & Trager

    Bahasa adalah sebuah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama.

    6. Carrol

    Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia.

    7. Sudaryono

    Bahasa adalah sarana komunikasi yang efektif walaupun tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan bahasa sebagai sarana komunikasi menjadi salah satu sumber terjadinya kesalahpahaman.

    8. Saussure

    Definisi bahasa adalah objek dari semiologi.

    9. Mc. Carthy

    Arti bahasa adalah praktik yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir.

    10. William A. Haviland

    Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu.

  • 9 Sifat Bahasa Lengkap dengan Penjelasannya

    9 Sifat Bahasa Lengkap dengan Penjelasannya

    Pengertian Bahasa

    Sebelum membahas tentang sifat bahasa, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu arti dari bahasa.

    Jadi, bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang berupa bunyi, dihasilkan dari alat ucap, yaitu mulut.

    Adapun yang mendukung dari bunyi adalah ekspresi muka, gerakan tangan, serta simbol-simbol tertentu sehingga pesan yang disampaikan benar-benar sampai kepada orang lain.

    Nah, itulah definisi bahasa. Lantas, apa saja sifat-sifat bahasa? Berikut diantaranya:

    Sifat Bahasa

    Berikut adalah beberapa sifat bahasa, diantaranya:

    1. Arbriter

    Arbriter bisa diartikan sebagai “suka-suka” atau “sewenang-wenang”. Maksudnya adalah hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu.

    Namun, meski bersifat abritrer, bahasa juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya.

    2. Produkfif

    Bahasa bersifat produktif, maksudnya adalah walaupun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang tidak terbatas, secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

    Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Poerwadarminta, bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.

    3. Dinamis

    Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu akan berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantik dan leksikon.

    Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, alias tidak digunakan lagi.

    4. Beragam

    Masyarakat terdiri dari berbagai status sosial dan latar belakang yang tidak sama, maka dari itu membuat bahasa menjadi beragam atau bervarian. Misalnya Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta.

    5. Manusiawi

    Bahasa hanya digunakan oleh manusia, tidak hewan. Sebab alat komunikasi hewan bersifat statis, sedangkan alat komunikasi manusia bersifat dinamis. Selain itu, hewan tidak mampu mempelajari bahasa manusia, sehingga bahasa disebut sebagai manusiawi.

    6. Bersistem

    Bahasa adalah sebuah sistem yang berpola. Maksudnya adalah ketika berbahasa, manusia akan memadukan kata-kata menjadi rangkaian kalimat sehingga mudah dimengerti oleh lawan bicara.

    Ketika sistem itu tidak ditata dengan baik, maka komunikasi akan menjadi sulit karena lawan bicara tidak mengerti apa yang sedang disampaikan.

    7. Bunyi

    Menurut Kridalaksana (1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.

    8. Unik

    Bahasa juga memiliki sifat unik, artinya setiap bahasa memiliki ciri khas tersendiri dalam penyampaian dan pelafalannya.

    9. Universal

    Bahasa bersifat universal, artinya ada ciri-ciri yang sama oleh setiap bahasa di dunia dini. Baik ciri penyampaian, ciri penulisan, ciri sistem, atau ciri lainnya. Pada intinya, ada satu ciri yang sama.

    Nah, itulah pengertian dan sifat-sifat bahasa. Sekarang sudah tahu, kan? Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di Sastrawacana.

  • Macam Macam Preposisi Beserta Penjelasan dan Contohnya

    Macam Macam Preposisi Beserta Penjelasan dan Contohnya

    Pengertian Preposisi

    Preposisi berasal dari Bahasa Latin yang berarti prae, “sebelum” dan ponere, “menempatkan, tempat”.

    Sehingga Preposisi (kata depan) berguna untuk menandai hubungan makna antara kata di depan preposisi dengan kata yang berada di belakang preposisi.

    Adapun contoh preposisi atau kata depan adalah sebagai berikut: di, ke, pada, dalam, atas, dari, oleh, kepada, terhadap, dan sebagainya.

    Sampai saat ini, tidak sedikit orang yang salah penulisan kata depan dan awalan.

    Jangan sampai keliru, kata depan ditulis terpisah, sedangkan awalan ditulis menyambung dengan kata utama.

    Contoh awalan : terlewat (dari kata dasar lewat)

    Macam Macam Preposisi

    Adapun macam-macam preposisi adalah sebagai berikut:

    1. Preposisi Tunggal

    Preposisi tunggal adalah preposisi yang hanya terdiri atas satu kata. Bentuk preposisi tunggal sebagai berikut:

    A. Kata Dasar

    Misalnya: di, ke, dari, dan pada. Contoh: Banyak karya tulis di sini, salah satunya adalah puisi.

    B. Kata Berafiks

    Misalnya: selama, mengenai, dan sepanjang). Contoh: Puisi adalah pengalaman penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetis.

    2. Preposisi Gabungan

    Preposisi gabungan terdiri dari dua preposisi, yaitu preposisi yang berdampingan dan preposisi yang berkolerasi.

    A. Preposisi yang Berdampingan

    Adalah preposisi yang terdiri atas dua preposisi yang letaknya berurutan (misal: daripada, kepada, selain dari).

    Contoh: Jajan itu diberikan kepada Ibu.

    B. Preposisi yang Berkorelasi

    Adalah preposisi yang terdiri atas dua unsur yang dipakai berpasangan tetapi terpisah oleh kata atau frasa lain (misal: antara … dan …, dari … sampai …, sejak … hingga …).

    Contoh: Antara puisi Chairil Anwar dan cerita cintaku memiliki persamaan.

  • Apa Perbedaan Homonim, Homograf, Homofon dan Polisemi?

    Apa Perbedaan Homonim, Homograf, Homofon dan Polisemi?

    Pengertian Homonim

    Homonim berasal dari bahasa Yunani, homos yang berarti sejenis dan onuma yang berarti nama.

    Dalam imu bahasa, istilah tersebut diartikan sebagai kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna yang berbeda.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), homonim adalah kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya.

    Karena berasal dari sumber yang berlainan (seperti hak pada hak asasi manusia, dan hak pada hak sepatu).

    Contoh Homonim

    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, homonim adalah kata yang bentuk dan pelafalannya sama, tapi memiliki makna yang berbeda sesuai dengan konteks kalimat. Contohnya pada kata ‘bisa’.

    1. Bisa ular itu sungguh mematikan.
    2. Ibu bisa membawa semua barang belanjaan.

    Kedua kalimat di atas menggunakan kata bisa. Pelafalannya sama, tapi ada makna yang berbeda.

    Pada kalimat pertama, kata ‘bisa’ berarti racun. Sedangkan pada kalimat kedua, kata ‘bisa’ berarti mampu.

    Contoh lain adalah kata ‘jarak’.

    1. Jarak antara Surabaya ke Jakarta sangat jauh.
    2. Ayah menanam pohon jarak di kebun rumah.

    Kedua kalimat di atas menggunakan kata ‘jarak’. Pelafalan sama tapi arti berbeda.

    Kata ‘jarak’ pada kalimat pertama berarti jangkauan atau ukuran. Sedangkan kata ‘jarak’ pada kalimat kedua berarti tumbuhan.

    Pengertian Homograf

    Homograf berasal dari kata homo yang artinya sama dan graf yang artinya tulisan.

    Jadi dapat disimpulkan jika homograf adalah kata yang ejaannya sama, tetapi berbeda lafal dan maknanya.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Homograf adalah kata yang sama ejaannya dengan kata lain.

    Tetapi berbeda lafal dan maknanya (seperti teras ‘inti kayu’ dan teras /téras/ ‘bagian rumah’).

    Contoh Homograf

    Adapun contoh homograf adalah sebagai berikut.

    1. Pak Camat mengikuti apel di pagi hari.
    2. Pak Camat sangat suka makan apel.

    Kedua kalimat di atas masing-masing menggunakan kata yang sama ejaannya, yaitu apel.

    Tapi pelafalan dan maknanya berbeda. Pada kalimat pertama, apel berarti upacara/berkumpul.

    Sedangkan pada kalimat kedua, apel artinya buah.

    Pengertian Homofon

    Homofon adalah kata yang diucapkan sama tetapi berbeda dari segi maksud.

    Homofon terdiri atas kata homo berarti sama dan foni (phone) yang berarti bunyi atau suara.

    Homofon mempunyai pengertian sama bunyi, berbeda tulisan, dan berbeda makna.

    Contoh Homofon

    Contoh homofon adalah sebagai berikut:

    1. Bank itu selalu menipu nasabahnya.
    2. Bang Mahmud tidak pernah pulang ke rumah.

    Kedua kalimat di atas menggunakan kata ‘bank’ dan ‘bang’.

    Keduanya memiliki pelafalan yang sama tapi arti berbeda. Itulah yang disebut dengan homofon.

    Pada kalimat pertama, kata ‘bank’ memiliki arti tempat menyimpan uang.

    Sedangkan pada kalimat kedua, ‘bang’ artinya kakak laki-laki.

    Pengertian Polisemi

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, polisemi adalah bentuk bahasa (kata, frasa, dan sebagainya) yang mempunyai makna lebih dari satu.

    Contoh Polisemi

    Adapun contoh polisemi adalah sebagai berikut:

    1. Saya masih ada hubungan darah dengan Pak Lurah.
    2. Darah Pak Lurah terkucur deras ketika tangannya terkena paku.

    Dari kedua kalimat tersebut masing-masing menggunakan kata darah.

    Pelafalan sama, ejaan sama, tapi memiliki makna yang berbeda.

    Kata darah pada kalimat pertama berarti persaudaraan.

    Sedangkan kata darah pada kalimat kedua berarti cairan merah di dalam tubuh.

  • Pengertian dan Fungsi KBBI dalam Bahasa Indonesia

    Pengertian dan Fungsi KBBI dalam Bahasa Indonesia

    Dalam Bahasa Indonesia, tentu saja ada aturan-aturan atau kaidah yang berlaku dan harus diikuti oleh setiap penggunanya.

    Kaidah sendiri merupakan sebuah aturan yang mengatur perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Namun dalam konteks ini, perilaku yang diatur adalah perilaku berbahasa, baik verba maupun tulisan.

    Nah, karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sangat kaya akan kata, meliputi kata serapan dari Bahasa Asing, maka ada aturan pula yang mengikatnya. Aturan tersebut berupa bentuk penulisan yang baik dan benar.

    Hal tersebut difungsikan agar maksud dan tujuan yang dikemukakan menjadi lebih terarah serta jelas. Sebab, begitu banyak kata yang terkadang memiliki makna berbeda, walau penulisan sama.

    Pengertian KBBI

    Nah, menyadari hal tersebut akhirnya dibentuklah sebuah aturan baku yang disebut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam KBBI, berisi daftar kata baku yang digunakan dalam Bahasa Indonesia. Kata baku tersebut fungsinya untuk tulis-menulis yang sifatnya formal atau resmi.

    Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1988 saat Pembukaan Kongres V Bahasa Indonesia, terbit pertama kali KBBI.

    Sedari itu, KBBI adalah sumber rujukan yang jelas dan bisa dipercaya dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar.

    Semakin ke sini, perkembangan Bahasa Indonesia semakin mengalami kemajuan sehingga terdapat begitu banyak kata serapan baru yang sudah dicantumkan dalam KBBI.

    Fungsi KBBI

    Adapun manfaat atau fungsi KBBI adalah bisa digunakan sebagai sumber rujukan dalam penulisan karya tulis ilmiah maupun karya tulis lainnya.

    Mengingat teknologi sudah canggih, jadi setiap orang yang ingin menggali informasi dari KBBI, tidak perlu lagi membeli kamus yang tebalnya sampai ratusan halaman.

    Nah, itulah pengertian KBBI beserta fungsi dan manfaatnta. Jadi, jangan sampai salah tulis lagi, ya! Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/