Tag: banjoewangi tempo doeloe

  • Dari Rengganis hingga Sri Tanjung, Literasi Budaya Hiasi Festival Banjoewangi Tempo Doeloe

    Dari Rengganis hingga Sri Tanjung, Literasi Budaya Hiasi Festival Banjoewangi Tempo Doeloe

    Upaya melestarikan seni dan budaya yang terancam punah diwujudkan melalui proses pelatihan, penelitian, refleksi, dan pengembangan sesuai era digital.

    Program ini digagas oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Pusat bekerja sama dengan Banyuwangi dan Dewan Kesenian Blambangan, dan divisualisasikan di Panggung Festival Banjoewangi Tempo Doeloe, Plataran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Rabu (24/09/25).

    Festival ini mengangkat lima topik utama, yakni Rengganis dan Gembrung yang nyaris punah, literasi jaranan buto yang masih dijaga oleh banyak sanggar, legenda Sri Tanjung yang menjadi inspirasi nama wilayah di ujung timur Pulau Jawa, serta sejarah Tawang Alun, prosesi dari Blambangan menjadi Banyuwangi.

    Ketua HISKI Banyuwangi, Nurul Lutfiah Rahma, S.Pd, menyampaikan apresiasi kepada HISKI Pusat yang telah menghadirkan program kementerian untuk mendokumentasikan naskah lisan, mendukung digitalisasi, serta menghidupkan kembali sastra yang langka agar generasi muda tertarik.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Taufik Rahman, menyambut baik kolaborasi HISKI dan DKB.

    Menurutnya, pemerintah perlu menindaklanjuti agar maksud dan tujuan pemrakarsa dapat terealisasi melalui forum diskusi, program revitalisasi, serta naskah akademik atau pertunjukan yang dapat mentransformasikan budaya sesuai zaman.

    Taufik menambahkan bahwa keesokan harinya, di arena festival akan ditampilkan jaranan dan Manten Mupus Braen yang menggarap musiknya dengan Giro Osing, cocok untuk acara pernikahan dengan latar etnis yang beragam.

    Pertunjukan dari lima kelompok ini juga diselingi penampilan tari dari SMPN 1 Tegaldlimo dan SMAN Taruna Budaya Rogojampi, serta duta bercerita dari Perpustakaan Nasional, Avilla Putri Yuwono asal MI Islamiyah Rogojampi.

    Avilla membacakan legenda asal usul Kota Banyuwangi dari buku Sritanjung Hidup Kembali karya Aekanu Haryono, dipandu oleh Nur Khofifah.

    Acara ditutup dengan sarasehan dan apresiasi oleh HISKI Pusat yang dihadiri Prof. Dr. Novi Anoegrahjekti, Dr. Tengsoe Tjahyono, Dr. Venus Khasanah, dan Dr. Sudartomo.

    “Semua sudah optimal dan maksimal. Diawali delapan bulan lalu dengan FGD mengenai sastra dan produk, kini menjadi anugerah. Terima kasih kepada pemerintah daerah dan semua pihak sehingga sampai titik ini. Alih wahana menjadi menyenangkan dan menghasilkan karya yang bisa dinikmati bersama!” ujar Prof. Novi, yang selama 25 tahun meneliti ragam potensi khas Banyuwangi.

  • Warga Binaan Lapas Pamer Batik Jeruji di Festival Banjoewangi Tempo Doeloe

    Warga Binaan Lapas Pamer Batik Jeruji di Festival Banjoewangi Tempo Doeloe

    Festival Banjoewangi Tempo Doeloe kembali digelar pada 23-25 September 2025 sebagai bagian dari agenda Banyuwangi Festival.

    Bertempat di halaman Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, festival ini menampilkan beragam atraksi budaya, sejarah, dan karya masyarakat.

    Di area festival, pengunjung dapat menjumpai stand-stand unik seperti peninggalan Suku Bugis dan Mandar yang sehari-hari tersimpan di rumah tetua adat, Situs Desa Macan Putih yang mengungkap sejarah Raja Blambangan Tawang Alun, serta jejak Majapahit di Desa Tembok Rejo hingga informasi mengenai Ijen Geopark.

    Selain itu, ada pula pondok kreasi bambu gintangan, koleksi akik, buku dan koin kuno milik komunitas Djawa Dwipa Blambangan.

    Festival ini juga mendapat dukungan dari Indosiana yang bekerja sama dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Banyuwangi serta Dewan Kesenian Blambangan.

    Mereka berkolaborasi untuk melestarikan kesenian daerah, seperti Seni Rengganis, Jaranan Buto, Gembrung, legenda Sritanjung, dan sejarah Tawang Alun.

    Festival semakin meriah dengan penampilan Juara Tari Kreasi dari SMPN 2 Rogojampi serta tari bertema kesetiaan suami-istri dari Sanggar Paswangi, yang seluruh penarinya merupakan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi.

    Kalapas I Wayan Nuranta Wibawa pun turut menurunkan petugas untuk mengawal penampilan mereka.

    Yang menarik perhatian adalah stand batik motif jeruji dan borgol, hasil karya warga binaan Lapas Banyuwangi.

    Mereka juga menampilkan kerajinan celengan, tempat tisu, dan keset berbahan kain perca. Batik semi-tulis dengan pewarnaan khas ini dibanderol dengan harga mulai Rp500 ribu.

    “Pembeli banyak datang lewat penawaran di media sosial. Bahkan kadang kami kewalahan melayani pesanan,” ujar Kasie Kegiatan Kerja Lapas, Priyo Asnanto.

    Ia menambahkan, karya tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian.

    “Tantangannya, setelah bebas warga binaan harus mulai melatih dari nol lagi, sementara yang baru juga perlu dibimbing. Selain batik, kami juga punya pelatihan barbershop, musik, jurnalistik, hingga pijat dan bekam,” jelasnya.

    Kepala Disbudpar Banyuwangi, Taufik Rahman, mengapresiasi penampilan warga binaan dan berjanji akan kembali memberi kesempatan mereka tampil di panggung festival berikutnya.

    Sementara itu, Kalapas I Wayan Nuranta Wibawa menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

    “Kesempatan ini menjadi bukti sinergi luar biasa, warga binaan bisa berbaur dengan masyarakat sekaligus menunjukkan kreasi dan prestasi mereka,” ungkapnya.