Tag: biografi penulis

  • Biografi Ahda Imran, Karya, dan Prestasinya dalam Dunia Sastra

    Biografi Ahda Imran, Karya, dan Prestasinya dalam Dunia Sastra

    Ahda Imran adalah seorang penyair dan esais yang lahir di Payakumbuh pada 10 Agustus tahun 1966, kemudian besar dan berkarya di Cimahi, Jawa Barat.

    Selain dikenal sebagai penyair, Ahda Imran juga menulis beberapa naskah drama, salah satunya adalah untuk seri teater Monolog 3 Perempuan.

    Dalam karya tersebut, Ahda Imran berkolaborasi dengan Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu.

    Kemudian pada tahun 2013, ia menulis naskah untuk Monolog Inggit Garnasih yang dimainkan oleh Happy Salma dan disutradarai oleh Wawan Sofwan.

    Sepanjang kariernya, ia telah melahirkan banyak karya juga mencetak berbagai penghargaan, salah satunya adalah Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kategori kumpulan puisi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2022.

    Selain itu, ia juga telah menulis banyak puisi yang sering dimuat dalam Harian Kompas, salah satunya puisi berjudul “Sajak Tan Malaka Kepada Harry A Poeze (2012)”.

    Berikut ini adalah beberapa karya dan prestasi yang telah diraih oleh Ahda Imran sepanjang kariernya.

    Karya Puisi Ahda Imran

    • Sajak Tan Malaka Kepada Harry A Poeze (2012)
    • Hujan Yang Berwarna Hitam (2013)
    • Dari Bahasa kepada Puisi (2013); puisi untuk Afrizal Malna
    • Hikayat Sebuah Meja (2013); puisi untuk Hanafi
    • Setenang Buddha (2013)
    • Kalajengking (2013)
    • Hikayat Tangan (2013)
    • Dalam Kapal Nuh (2013)
    • Hikayat Aradea (2013)
    • 24 Jam Berikutnya dalam Kepalamu (2013)
    • Dunia Perkawinan (buku puisi, 1999)
    • Penunggang Kuda Negeri Malam (buku puisi, 2008)
    • Rusa Berbulu Merah (buku puisi, 2014)
    • Ludah Orang Suci (buku puisi, 2021)

    Antologi Puisi Ahda Imran

    • 70 Puisi: Penunggang Kuda Negeri Malam (2008); diterbitkan oleh Akar Indonesia
    • Rusa Berbulu Merah: Kumpulan Puisi 2008-2013 (2014); diterbitkan oleh Pustaka Jaya

    Kumpulan Cerita Ahda Imran

    • 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur! (2010); bersama Zaki Yamari; diterbitkan oleh Pikiran Rakyat
      Naskah drama Ahda Imran
    • Monolog Inggit Garnasih (2013); dipentaskan oleh Happy Salma, disutradarai oleh Wawan Sofwan
    • Monolog 3 Perempuan (2014); bersama Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu
    • Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah (buku naskah drama)
    • Sjahrir (buku naskah drama)
    • Amir Hamzah; Nyanyian Sunyi Revolusi (buku naskah drama)
    • The Sin Nio, Sepinya Sepi (buku naskah drama)
    • Annelis Mallema (buku naskah drama)
    • Kacamata Sjafruddin (buku naskah drama)

    Karya Nonfiksi Ahda Imran

    • Di Atas Viaduct (2009); diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama
    • 5 Dasa Warsa Irawati Menari (2011); bersama Miftahul Malik dan Irawati Durban Ardjo

    Penghargaan Ahda Imran

    • Tahun 2014, antologi puisi Ahda Imran berjudul Rusa Berbulu Merah masuk dalam daftar lima besar nominasi ajang Kusala Sastra Khatulistiwa.
    • Tahun 2022 ia masuk dalam nominasi Penulis Skenario Adaptasi Terbaik bersama Kamila Andini dalam film Nana di Festival Film Indonesia 2022.
    • Buku puisi Rusa Berbulu Merah menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo (2015)
    • Buku puisi Ludah Orang Suci menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo (2021)
    • Buku puisi Ludah Orang Suci menerima Penghargaan Buku Puisi Kemendikbud (2022)
    • Pemenang Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta (2022) untuk naskah Mesin Jemaat Rawayan Award.
    • Novel biografisnya “Jais Darga Namaku” diangkat ke layar lebar dengan judul  Before, Now & Then (Nana) dan terpilih mengikut Berlinale Festival 2022 di Berlin.
  • Biografi Ahmadun Yosi Herfanda dan Karya-Karyanya

    Biografi Ahmadun Yosi Herfanda dan Karya-Karyanya

    Ahmadun Yosi Herfanda lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958. Ahmadun telah aktif sebagai editor dan jurnalis sejak menjadi mahasiswa.

    Dimulai dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1983-1999), lalu di Harian Yogya Post (1999-1992), Majalah Sarinah (bersama Korrie Layun Rampan, 1992-1993), dan terakhir di Harian Republika Jakarta (1993-2010).

    Di harian Republika ia menjabat sebagai Redaktur Sastra, Koordinator Desk Opini dan Budaya, dan Asisten Redaktur Pelaksana.

    Karier strukturalnya tidak begitu ia perhatikan, karena kesibukannya dalam menulis karya kreatif, mengelola acara-acara sastra, dan menjadi nara sumber berbagai workshop penulisan.

    Ia juga mengajar di sejumlah perguruan tinggi, mengisi diskusi, pentas baca puisi, serta seminar sastra di berbagai kota di tanah air dan mancanegara.

    Dalam perjalanan karier terakhirnya (di Republika), aktivitas sastra lebih banyak menyedot kecintaannya daripada kerja jurnalistik.

    Sejak Maret 2010 Ahmadun aktif sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk periode 2010-2013.

    Ini adalah untuk kedua kalinya ia menjadi anggota DKJ.

    Sebagai sastrawan (penyair), ia sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya maupun menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan sastrawan serta diskusi dan seminar sastra nasional maupun internasional.

    Adapun seminar tersebut antara lain di Seoul dan Ansan (Korea Selatan), Kairo Mesir, Thailand, Singapura, Malaysia, Turkey, dan Brunei Darussalam, serta berbagai kota di Indonesia.

    Setelah menyelesaikan di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan jenjang S-2 jurusan Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina, Jakarta, 2005.

    Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002).

    Tahun 2003, bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, ia mendirikan Creative Writing Institute (CWI).

    Tahun 2007 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Cerpen Indonesia (KCI, 2007-2010).

    Tahun 2008 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI).

    Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Tahun 2010, bersama sejumlah sastrawan Jakarta, mendirikan Yayasan Sastra Indonesia—Yayasan Cinta Sastra—dan diamanati menjadi ketuanya.

    Karya Ahmadun Yosi Herfanda

    Karya-karya Ahmadun dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri, antara lain:

    • Antologi puisi Secreets Need Words (Ohio University, A.S., 2001)
    • Waves of Wonder (The International Library of Poetry, Maryland, A.S., 2002)
    • Jurnal Indonesia and The Malay World (London, Inggris, November 1998)
    • The Poets’ Chant (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995).

    Beberapa kali sajak-sajaknya dibahas dalam “Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman” (Deutsche Welle).

    Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland (Belanda) dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik (Radio Nederland, 1989).

    Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS (forum informal Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

    Beberapa buku karya Ahmadun yang telah terbit sejak dasawarsa 1980-an, antara lain:

    • Ladang Hijau (Eska Publishing, 1980),
    • Sang Matahari (kumpulan puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Nusa Indah, Ende, 1984),
    • Syair Istirah (bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, Masyarakat Poetika Indonesia, 1986),
    • Sajak Penari (kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1990),
    • Sebelum Tertawa Dilarang (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1997),
    • Fragmen-fragmen Kekalahan (kumpulan sajak, Forum Sastra Bandung, 1997),
    • Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997),
    • Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, bilingual, Logung Pustaka, 2004),
    • Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004),
    • Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004),
    • The Warshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005),
    • Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006),
    • Koridor yang Terbelah (kumpulan esai sastra, Jakarta Publishing House, 2006).
    • Yang Muda yang Membaca (buku esai panjang, Kemenegpora RI, 2009).Sajadah Kata (kumpulan puisi, Pustaka Littera, 2013
  • Biografi Sapardi Djoko Damono dan Karya-Karyanya yang Tak Lekang oleh Waktu

    Biografi Sapardi Djoko Damono dan Karya-Karyanya yang Tak Lekang oleh Waktu

    Biografi Sapardi Djoko Damono

    Nama Lengkap:
    Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

    Tempat Lahir:
    Kampung Baturono, Solo

    Tanggal Lahir:
    Rabu, 20 Maret 1940

    Ayah:
    Sadyoko

    Ibu:
    Sapariah

    Biografi Singkat Sapardi Djoko Damono

    Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair Indonesia terkemuka.

    Ia dikenal lewat puisi-puisi nya yang menggunakan kata-kata sederhana dan menyentuh hati.

    Sapardi mulai suka menulis sekak kecil.

    Bahkan, saat masih duduk di sekolah menengah, karya-karya Sapardi Djoko Damono sudah sering dimuat di majalah.

    Ketertarikannya pada dunia sastra semakin tinggi sehingga ia mengambil kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.

    Tidak hanya mahir menulis, Sapardi juga punya kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bahkan bermain drama.

    Sapardi juga pernah menerjemahkan berbagai karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar.

    Di dunia akademisi, Sapardi adalah seorang guru besar ilmu sastra yang beberapa periode menjabat Pembantu Dekan I, Dekan, serta Ketua Program Pascasarjana yang semuanya dalam lingkup Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

    Dengan profesinya tersebut, Sapardi sering memberi ilmu dan pengarahan kepada mahasiswa tentang bagaimana cara menulis dan membaca puisi yang baik.

    Pendidikan Sapardi Djoko Damono

    • Sekolah Dasar Kasatrian
    • SMP II Mangkunagaran
    • SMA II di Margoyudan
    • Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM

    Karir Sapardi Djoko Damono

    • Guru Besar Ilmu Sastra
    • Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Ketua Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Pendiri Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI)
    • Dosen Universitas Diponegoro
    • Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia
    • Dosen tetap di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
    • Anggota Dewan Kesenian Jakarta
    • Pelaksana harian Pusat Dokumentasi HB Jassin
    • Anggota redaksi majalah kebudayaan Basis
    • Country editor untuk majalah Tenggara
    • Koresponden untuk Indonesian Circle
    • Pendiri Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi

    Karya-Karya Sapardi Djoko Damono

    • Duka-Mu Abadi, Bandung (1969)
    • Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
    • Mata Pisau (1974)
    • Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis)
    • Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan)
    • Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan)
    • Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya)
    • Perahu Kertas (1983)
    • Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
    • Water Color Poems (1986; translated by J.H. McGlynn)
    • Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by J.H. McGlynn)
    • Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
    • Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
    • Hujan Bulan Juni (1994)
    • Black Magic Rain (translated by Harry G Aveling)
    • Arloji (1998)
    • Ayat-ayat Api (2000)
    • Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen)
    • Mata Jendela (2002)
    • Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002)
    • Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen)
    • Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an – 1910an) (2005; salah seorang penyusun)
    • Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
    • Kolam (2009; kumpulan puisi)
    • Sastra Lisan Indonesia (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
    • Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan
    • Dimensi Mistik dalam Islam (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel “Mystical Dimension of Islam”, salah seorang penulis.

    Penghargaan Sapardi Djoko Damono

    • Cultural Award dari Australia (1978)
    • Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)
    • SEA Write Award dari Thailand (1986)
    • Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)
    • Mataram Award (1985)
    • Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI
    • Penghargaan Achmad Bakrie (2003)
  • Biografi Hilman Hariwijaya, Penulis Cerpen Lupus

    Biografi Hilman Hariwijaya, Penulis Cerpen Lupus

    Biografi Hilman Hariwijaya

    Nama : Hilman Hariwijaya
    TTL    : Jakarta, 25 Agustus 1964
    Istri   : Nessa Sadin

    Biografi Singkat Hilman Hariwijaya

    Hilman Hariwijaya adalah seorang penulis Indonesia yang lahir di Jakarta pada Tanggal 25 Agustus 1964.

    Namanya dikenal sejak menulis cerita pendek yang diberi judul Lupus di majalah Hai [ada bulan Desember 1986, yang kemudian dibukukan menjadi sebuah novel.

    Sejak kecil, Hilman Hariwijaya sangat suka menulis. Adapun tulisannya mulai dari cerpen, puisi, maupun cerita-cerita drama.

    Setiap pulang sekolah, ia selalu menghabiskan waktunya ke kantor redaksi majalah Hai. Pada saat itu, ia sedikit demi sedikit ikut terlibat dalam redaksi majalah hingga menjadi wartawan paruh hari.

    Pada tahun 1978, ia mengikuti sayembara mengarang. Karya pertamanya yang berjudul “Bian, Adikku yang Tak Pernah Ada” berhasil memenangkan sayembara itu.

    Dari kemenangan itu, akhirnya Hilman semakin semangat dalam menulis hingga muncul karya-karya selanjutnya.

    Karya tulisnya yang paling terkenal dan fenomenal adalah yang berjudul Olga dan Lupus. Karya tersebut sangat laris dan akhirnya diangkat ke layar lebar.

    Kemudian, seiring berjalannya waktu, Hilman tetap menjadi seorang penulis. Hanya saja ia fokus ke penulis skenario dalam dunia perfilman dan sinetron.

    Salah satu karyanya dalam menulis skenario adalah pada sinetron Cinta Fitri yang diperankan oleh Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar.

    Karya-Karya Hilman Hariwijaya

    1. Lupus
    2. Lupus ABG
    3. Lupus Milenia
    4. Lupus Kecil
    5. Olga
    6. Lulu
    7. Vanya
    8. Vladd
  • Biografi Marah Roesli, Penulis Novel Siti Nurbaya

    Biografi Marah Roesli, Penulis Novel Siti Nurbaya

    Nama : Marah Rusli bin Abu Bakar
    TTL : Padang, 07 Agustus 1889
    Meninggal : 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.
    Ayah : Abu Bakar, seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran

    Biografi Marah Roesli

    Marah Roesli lahir di keluarga yang terpandang. Ayahnya bekerja sebagai Demang.

    Sedangkan ibunya berasal dari Jawa dan keturunan Sentot Alibasyah, salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro.

    Marah Rusli sekolah di Padang yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar pada saat itu.

    Setelah lulus dari bangku Sekolah Dasar, ia melanjutkan ke sekolah Raja (Kweek School) di Bukit Tinggi dan lulus tahun 1910.

    Kemudian, Roesli kembali melanjutkan pendidikannya ke Vee Arstsen School (sekolah dokter hewan) di Bogor dan lulus tahun 1915.

    Setelah tamat, ia ditempatkan di Sumbawa Besar sebagai Ajung Dokter Hewan. Hingga akhirnya pada tahun 1916 ia menjadi Kepala Peternakan.

    Marah Rusli menikah dengan gadis keturunan sunda kelahiran Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1911 dan mempunyai 3 orang anak, dua laki-laki, satu perempuan.

    Sebenarnya hubungan Roesli dengan istrinya tidak mendapat restu orang tua, namun kegigihannya atas dasar cinta dapat meyakinkan keluarga bahwa pilihannya adalah yang terbaik.

    Roesli mencintai dunia sastra sejak kecil. Ia amat suka mendengarkan cerita-cerita sastra dari tukang kaba (Pencerita yang keliling di Sumatera Barat untuk menjual ceritanya).

    Dan hobinya membaca buku sastra menjadikan Roesli semakin tertarik pada dunia sastra.

    Hingga akhirnya Marah Roesli berhasil menulis roman yang berjudul ‘Siti Nurbaya’.

    Dalam karyanya ini, ia ingin mengutarakan landasan pemikirannya terhadap perjuangan rakyat dan emansipasi wanita.

    Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Roesli dinobatkan sebagai Bapak Roman Modern Indonesia oleh H.B Jasmin.

    Sebab, sebelum roman menjadi populer, kebanyakan karya sastra pada saat itu berbentuk hikayat.

    Setelah cukup banyak berkiprah di dunia sastra, Marah Roesli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.

    Karya-Karya Marah Roesli

    • Siti Nurbaya (1922)
    • La Hami (1924)
    • Anak dan Kemenakan (1956)
    • Memang Jodoh (otobiografi)
    • Gadis Yang Malang terjemahan novel karya Charles Dickens (1922)

  • Biografi Sutardji Calzoum Bachri, Sang Sastrawan Kontemporer

    Biografi Sutardji Calzoum Bachri, Sang Sastrawan Kontemporer

    Sutardji Calzoum Bachri atau yang lebih akrab disapa Bung Tardji lahir di Rengat, Indragiri Hulu, pada tanggal 24 Juni 1941. Dia adalah seorang pujangga terkemuka di Indonesia yang telah menciptakan banyak karya sastra.

    Bung Tardji merupakan putra dari pasangan Mohammad Bachri dan May Calzum. Mohammad Bachri sendiri berasal dari Kutoarjo, Jawa Tengah. Sedangkan May Calzum berasal dari Tanbelan, Riau.

    Bung Tardji kecil tumbuh kembang dengan hobinya, yaitu menulis. Hingga akhirnya setelah lulus SMA, Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung.

    Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya mulai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

    Sutardji Calzoum Bachri juga sering disebut sebagai sastrawacan pelopor puisi kontemporer. Dia mencoba memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia.

    Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.

    Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam.

    Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975.

    Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.

    Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.

    “O Amuk Kapak” merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979.

    Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

    Karya puisi yang telah dimuat dalam buku antologi:

    Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976),
    Writing from The Word (USA),
    Westerly Review (Australia),
    Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975),
    Ik Wil Nogdulzendjaar Leven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979),
    Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977),
    Parade Puisi Indonesia (1990),
    Majalah Tenggara,
    Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan
    Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).
    Kumpulan Sajak Sutardji Calzoum Bachri
    O, diterbitkan oleh Yayasan Indonesia (tahun  1971)
    Kucing, diterbitkan oleh Sinar  Harapan (tahun 1973)
    Amuk (tahun 1977)
    O, Amuk, Kapak, antologi, diterbitkan  oleh Sinar Harapan (tahun 1981)
    Aku Datang Padamu
    Perjalanan Kubur David  Copperfield.
    Realites’90 Tanah Air  Mata.

    Penghargaan yang pernah diraihnya adalah:

    Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand (1979);
    Menerima penghargaan Sastra Kabupaten Kepulauan Riau oleh Bupati Kepulauan Riau (1979);Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993);
    Menerima Anugrah Sastra Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jakarta. (1990an);
    Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan
    Dianugrahi gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).

  • Biografi Danarto, Sastrawan dan Penulis Senior di Indonesia

    Biografi Danarto, Sastrawan dan Penulis Senior di Indonesia

    Biografi Singkat Danarto

    Danarto adalah seorang penulis dan sastrawan Indonesia yang terbilang cukup senior. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kumpulan cerpen, Godlob.

    Kumpulan cerpennya yang lain seperti Adam Ma’rifat yang memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta. Tahun 2009 Danarto menerima Ahmad Bakrie Award untuk bidang kesusasteraan.

    Danarto sendiri lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 27 Juni 1941.

    Ayahnya, Djakio Hardjosoewarno berprofesi sebagai buruh pabrik gula Modjo menikah dengan Siti Aminah, seorang pedagang eceran batik.

    Mereka dikaruniai lima orang anak, Danarto adalah nomor empat. Kemudian, Danarto menikah dengan seorang psikolog, Siti Zainab Luxfiati pada 1 Januari 1986.

    Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar (SD), ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) bagian Sastra di Solo, Jawa Tengah.

    Lalu, pada tahun 1958–1961 Danarto belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis.

    Di kampus itulah Danarto aktif dalam Sanggar Bambu pimpinan pelukis Sunarto Pr dan ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta.

    Awal mula karirnya, pada tahun 1979-1985 Danarto bekerja di majalah Zaman.

    Kemudian, tahun 1976 Danarto mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat di usianya yang masih muda.

    Tidak berhenti sampai situ, pada tahun 1983 Danarto menghadiri Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.

    Danarto juga pernah bergabung dalam Teater Sardono, yang tersohor sampai ke Eropa Barat dan Asia, pada tahun 1974.

    Dia memiliki pengalaman segudang, selain dalam pameran Kanvas Kosong (1973) ia juga berpameran puisi konkret (1978).

    Namun sayangnya segudang prestasi itu tidak sebanding dengan kisah rumah tangganya. Rumah tangga Danarto berlangsung lebih kurang 15 tahun saja dengan psikolog cantik itu.

    Hidup Danarto dipenuhi dengan pengalaman memukau, baik di dalam negeri dan di luar negeri.

    Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis yang telah melahirkan beberapa karya. Sebagai pelukis, ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota dengan dibantu oleh rekan sejawat.

    Karya Danarto

    Asmaraloka (1999)
    Kumpulan Cerpen
    Godlob (1975)
    Adam Ma’rifat (1982)
    Berhala (1987)
    Orang Jawa Naik Haji, catatan perjalanan ibadah haji (1984)
    Gergasi (1993)
    Setangkai Melati di Sayap Jibril, kumpulan cerpen, (2000)
    Setangkai Melati di Sayap Zibril (2001)
    Kacapiring, (2008)

    Drama

    Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek (1976)
    Bel Geduwel Beh (1976)
    Kumpulan Esai
    Gerak-Gerak Allah (1996)

  • Biografi Dewi Lestari dan Karya-Karyanya

    Biografi Dewi Lestari dan Karya-Karyanya

    Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee adalah seorang penulis dan penyanyi yang lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976.

    Dee adalah lulusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan. Awalnya dia dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi.

    Namun, semenjak menerbitkan novel Supernova pada tahun 2001 silam, Dee juga dikenal sebagai novelis.

    Sejak kecil Dee telah memang cukup akrab dengan seni musik. Padahal, ayahnya adalah seorang anggota TNI, tapi jago main piano secara otodidak.

    Sebelum tergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD), Dee juga pernah menjadi backing vocal untuk penyanyi kawakan sekelas Iwa K dan Chrisye.

    Sebelum Supernova lahir, nama Dee sangat terkenal sebagai vokalis, bukan novelis. Padahal dia berbakat, buktinya beberapa tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media.

    Salah satu cerpennya berjudul “Sikat Gigi” pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil.

    Kemudian, pada tahun 1993, Dee mengirim tulisan berjudul “Ekspresi” ke majalah Gadis yang saat itu tengah mengadakan lomba menulis.

    Alhasil, Dee berhasil menyabet juara pertama. Beberapa tahun berikutnya, Dee menulis cerita bersambung berjudul “Rico the Coro” yang juga dimuat di majalah Mode.

    Novel pertamanya yang cukup fenomenal, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001 laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari saja!

    Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan kembali “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan merangkul Harry Aveling (60), yang ahli dalam menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.

    Perlu diketahui, Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books.

    Kala itu, Dee bersaing dengan para sastrawan senior seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.

    Sukses dengan novel pertamanya, Dee kembali meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul “Akar” pada 16 Oktober 2002 lalu.

    Novel ini sempat mengundang kontroversi karena tulisan Dee dianggap melecehkan umat Hindu.

    Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya.

    Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.

    Lalu, pada bulan Januari tahun 2005 Dee merilis kembali novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Dee menulis novl ini masih berhubungan dengan dua novel sebelumnya.

    Namun, Dee memasukkan 4 tokoh baru dalam novel PETIR, seperti Elektra, tokoh sentral yang jadi pusat perhatian.

    Setelah cukup lama vakum, akhirnya pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yang berjudul RECTOVERSO.

    Dalam novel ini Dee mengusung tema Sentuh Hati dari Dua Sisi.

    Recto Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seakan terpisah, padahal sesungguhnya masih dalam satu kesatuan.

    Buku RECTOVERSO terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang mengusung Tagline Dengar Fiksinya, Baca Musiknya.

    Lalu, pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas yang juga diangkat sebagai sebuah film.

    Biodata Dewi Lestari

    Nama lahir: Dewi Lestari Simangunsong
    Lahir: 20 Januari 1976 Bandung, Jawa Barat, Indonesia
    Jenis musik: pop
    Pekerjaan: penyanyi, penulis
    Tahun aktif: 1995 – sekarang
    Perusahaan rekaman: Bulletin Musik
    Terkait dengan: Sita Nursanti, Rida, Marcell
    Pasangan: Marcell (2003 – 2008), Reza Gunawan (2008 – sekarang)
    Anak: Keenan Avalokita Kirana (5 Agustus 2004), Atisha Prajna Tiara (23 Oktober 2009)
    Orang tua: Yohan Simangunsong, Turlan br Siagian (alm)
    Almamater: Fakultas Hubungan Internasional Universitas Parahyangan (selesai)
    Agama: Buddha

    Karya Dewi Lestari

    Novel Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, 2001
    Novel Supernova 2: Akar, 2002
    Kumpulan Prosa dan Puisi “Filosofi Kopi” 2003
    Novel Supernova 3: Petir, 2004
    Kumpulan Cerita Rectoverso, 2008
    Novel Perahu Kertas, 2009
    Kumpulan Cerita Madre, 2011
    Novel Supernova 4: Partikel, 2012
    Novel Supernova 5: Gelombang, 2014
    Novel Supernova 6: Inteligensi Embun Pagi, 2016

    Diskografi

    Rida, Sita, Dewi: “Antara Kita” – Warna Musik, Indonesia, 1995
    Rida, Sita, Dewi: “Bertiga” – Warna Musik, Indonesia, 1997
    Rida, Sita, Dewi: “Satu” – Sony Music, Indonesia, 1999
    Rida, Sita, Dewi: “The Best of RSD” – Sony Music, Indonesia, 2002
    Dewi Lestari: “Out Of Shell” – Truedee Music, Indonesia, 2006
    Dewi Lestari: “Rectoverso” – Goodfaith Production, 2008

  • Biografi Suwarsih Djojopuspito, Penulis Novel dengan Tiga Bahasa

    Biografi Suwarsih Djojopuspito, Penulis Novel dengan Tiga Bahasa

    Biografi Singkat Suwarsih Djojopuspito

    Nama penulis yang satu ini mungkin masih cukup asing, Suwarsih Djojopuspito adalah penulis kawakan yang berhasil menciptakan karya novel dalam tiga bahasa yakni Sunda, Belanda, dan Indonesia.

    Penulis wanita ini lahir di Cibatok, Bogor, 21 April 1912 dan meninggal di Yogyakarta, 24 Agustus 1977 silam.

    Suwarsih Djojopuspito merupakan salah satu penulis Indonesia yang hidup dan merasakan masa penjajahan di Indonesia pada waktu itu.

    Semasa hidupnya, Suwarsih sudah menghasilkan 9 buku. Karya-karyanya juga diakui di negeri Belanda.

    Salah satu karyanya yang terkenal berjudul Manusia Bebas atau Buiten het Gareel dalam bahasa Belanda.

    Suwarsih Djojopuspito juga terkenal dengan novel Manusia Bebas—novel yang awalnya ditulis dengan bahasa Belanda dan untuk publik intelektual Belanda dan Indonesia— menulis buku Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW yang pertama kali diterbitkan pada 1959, lalu untuk cetakan kedua diterbitkan Pustaka Jaya pada 1976.

    Menilik riwayat pendidikannya yang berbasis kebudayaan Eropa, perjuangan Suwarsih dalam sejarah politik dan pendidikan Indonesia, dan latar sejarah keluarga priyayi Jawa dalam pengalaman hidupnya, buku ini memberikan perspektif yang sangat menarik untuk kita baca saat ini, khususnya dilihat dari perspektif perempuan.

    Suwarsih sempat meminta cendekiawan kondang H. Abdul Malik Amrullah (Hamka) sebagai salah satu pakar sejarah Islam pada masa itu untuk “meminta pemeriksaan dan bandingan”, tapi tak digubris oleh Hamka.

    Secara umum, masih sangat sedikit sekali penulis perempuan yang menulis seorang nabi yang dalam tradisi agama monoteistik ibrahimi laki-laki.

    Kekurangan ini memang akan sangat terasa sekali jika kita melihat dalam tradisi keilmuan di Indonesia.

    Karya Novel Suwarsih Djojopuspito

    Buiten het gareel, De Haan Uitgevery, Utrecht, 1940.
    Tudjuh tjeritera pendek.
    Empat serangkai. Kumpulan tjerita pendek.
    Riwayat hidup Nabi Muhammad s.a.w.
    Marjanah.
    Siluman Karangkobar.
    Hati Wanita.
    Manusia Bebas.
    Maryati.

  • Biografi Taufik Ismail dan Karya-Karyanya yang Melegenda

    Biografi Taufik Ismail dan Karya-Karyanya yang Melegenda

    Biografi Taufik Ismail

    Nama lengkap : Taufiq Ismail
    Tempat lahir : Fort de Kock (Bukittinggi), Sumatera Barat
    Tanggal lahir : 25 Juni 1935
    Kewarganegaraan : Indonesia
    Pekerjaan : Penulis, penyair

    Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan.

    Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.

    Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963.

    Pada tahun 1971–1972 dan 1991–1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.

    Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.

    Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962).

    Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964).

    Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.

    Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.

    Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968).

    Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968–1978).

    Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990). Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.

    Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.

    Karya-Karyanya:

    1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)
    2. Benteng, Litera ( 1966)
    3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
    4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)
    5. Puisi-puisi Langit, Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
    6. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
    7. Ketika Kata Ketika Warna (1995)
    8. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998)

    Karya terjemahan:

    Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)
    Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
    Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964).