Tag: bulan bahasa 2025

  • Penyair Serumpun Asia Tenggara Temu Karya di Jember, Bahas Trauma dan Imajinasi Kebebasan

    Penyair Serumpun Asia Tenggara Temu Karya di Jember, Bahas Trauma dan Imajinasi Kebebasan

    Para penyair dari berbagai negara Asia Tenggara berkumpul di Jember dalam ajang Temu Karya Serumpun 2025 yang digelar di Seger Nusantara, Pakusari Jember pada 25–26 Oktober 2025.

    Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan antara sastrawan Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Timor Leste.

    Acara dibuka dengan Dialog Sastra Penyair Serumpun yang menghadirkan tokoh-tokoh sastra lintas negara.

    Dalam diskusi itu, penyair asal Pattani, Thailand, Abas Salae, menyoroti pentingnya peran bahasa dan sastra dalam menjaga persaudaraan di kawasan Asia Tenggara.

    Ia menilai, kesamaan sejarah dan latar budaya menjadi fondasi yang mempererat hubungan antarpenyair serumpun.

    Sementara itu, penyair dari Riau, Muhammad Asqalani E, turut berbagi pengalaman tentang bagaimana trauma masa lalu membentuk dirinya dalam menulis puisi.

    Ia menganggap pengalaman emosional dapat menjadi sumber inspirasi yang memperkaya makna karya sastra.

    Pandangan itu mendapat penguatan dari sejumlah tokoh lain seperti Rakmat Faisal dari Universitas Negeri Surabaya, Nurul Ludfiah dari Banyuwangi, Faidi Rizal Alief dari Sumenep, Muhammad Lefand dari komunitas Sastra Timur Jawa, dan Yogira Yogaswara dari Ciwedey, Jawa Barat. Diskusi tersebut dipandu oleh Fitri Nura Murti, dosen FKIP Universitas Jember.

    Sastrawan Tengsoe menambahkan bahwa dialog lintas negara semacam ini bukan sekadar ajang pertemuan para penyair, tetapi juga menjadi wadah refleksi bersama tentang kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut agar puisi tetap menjadi jembatan lintas budaya dan bahasa.

    Pada hari kedua, kegiatan berlanjut dengan Peluncuran dan Bedah Buku bertema “Semesta Ingatan: Trauma dan Imajinasi Kebebasan.”

    Dalam sesi tersebut, Prof. Taufiq menilai tema itu mencerminkan perjalanan batin manusia dalam menghadapi luka sejarah serta menemukan makna kebebasan melalui sastra. Ia juga menyebut bahwa ingatan kolektif menjadi sumber penting dalam proses penciptaan karya.

    Pandangan lain datang dari Acep Zamzam Noor, yang berpendapat bahwa trauma tidak selalu membawa dampak negatif, melainkan bisa menjadi kekuatan yang melahirkan karya sastra dengan kedalaman makna.

    Adziah Abd Aziz, penulis asal Malaysia, mengingatkan bahwa kebebasan berimajinasi harus disertai tanggung jawab moral agar tidak mengganggu ruang kreatif penulis lain.

    Sesi ditutup oleh Mashuri yang menegaskan pentingnya ketepatan berbahasa dalam dunia puisi. Ia menilai keindahan sebuah karya lahir dari disiplin berbahasa yang tinggi, sehingga kesalahan kecil pun bisa memengaruhi kekuatan puisi.

  • Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    SMK Muhammadiyah 8 Siliragung kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi di kalangan pelajar melalui kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” pada Minggu, (26/10).

    Tak hanya sukses sebagai pelaksana acara, Ekskul Models Jurnalisme Mojoer Media yang dibina oleh Cici Arista Devi ini juga tampil sebagai motor penggerak di balik suksesnya kegiatan ini.

    Rangkaian acara yang digelar di ballroom ED Hotel SMK Model Siliragung ini meliputi Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang diikuti oleh ratusan peserta SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi.

    Di balik kemeriahan tersebut, para jurnalis muda SMK Models menjadi tim dokumentasi, peliput, dan redaksi yang menyiarkan jalannya kegiatan secara profesional.

    Dipimpin oleh Rhifan Ahmad Aki Pansurna selaku Pimpinan Redaksi Mojoer Media, para jurnalis muda ini menjalankan peran layaknya awak media sesungguhnya, mulai dari melakukan wawancara, menulis berita, hingga mengelola konten publikasi sekolah.

    “Menjadi jurnalis di SMK Models bukan hanya soal menulis berita, tapi juga belajar menyampaikan pesan secara utuh. Ibarat melihat gajah, kita tidak hanya melihat ekornya, tetapi keseluruhan bentuknya,” ujar Rhifan dalam wawancara di sela kegiatan Bulan Bahasa.

    Workshop Pentigraf SMK Models
    Workshop Pentigraf SMK Models Siliragung (Dok. sastrawacana.id/)

    Menurutnya, jurnalistik di sekolah menjadi ruang pembelajaran yang menantang sekaligus menyenangkan.

    Para siswa tidak hanya dilatih berpikir kritis dan menulis, tetapi juga berani berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami proses informasi secara mendalam.

    “Dulu kami hanya menulis untuk tugas sekolah. Tapi lewat Mojoer Media, kami belajar menulis untuk publik, untuk sekolah, bahkan untuk masyarakat. Itu pengalaman yang luar biasa,” tambahnya.

    Rhifan juga mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar bagi generasi muda saat ini adalah menumbuhkan kebiasaan literasi di tengah dominasi media digital.

    “Banyak teman yang terbiasa menghabiskan waktu dengan konten singkat. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan dunia digital sebagai ruang belajar dan menulis yang produktif,” jelasnya.

    Meski begitu, semangat tim Mojoer Media tidak surut. Mereka justru memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan berita kegiatan sekolah, promosi program, hingga publikasi karya siswa.

    Kini, Mojoer Media telah menerbitkan berbagai artikel, liputan kegiatan, dan bahkan buku antologi hasil karya tim jurnalistik.

    Mojoer Media

    “Teman-teman jurnalis kami sudah berani menulis buku. Itu langkah besar. Artinya, literasi di SMK Models sudah bergerak dari ruang kelas menuju ruang publik,” tutur Rhifan dengan bangga.

    Tak berhenti di situ, Rhifan menyebut bahwa ke depan Mojoer Media akan memperluas jangkauan liputan dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai media literasi di Banyuwangi.

    Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., memberikan apresiasi tinggi terhadap kiprah Mojoer Media.

    “Anak-anak jurnalistik kami adalah wajah sekolah. Mereka tidak hanya meliput, tapi juga membangun citra positif lembaga. Melalui tulisan dan karya mereka, SMK Models dikenal luas sebagai sekolah yang literat dan kreatif,” tandasnya.

    Sementara itu, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi media literasi sastrawacana.id/, turut memberikan apresiasi tinggi kepada tim Jurnalis SMK Models Mojoer Media atas kiprahnya dalam menghidupkan budaya menulis di lingkungan sekolah.

    Menurutnya, semangat dan profesionalitas para jurnalis muda SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menjadi bukti nyata bahwa literasi tidak lagi sekadar slogan, tetapi telah tumbuh menjadi gerakan yang berakar kuat di kalangan pelajar.

    “Saya melihat teman-teman Mojoer Media bekerja dengan etos seorang jurnalis sejati. Mereka meliput, menulis, dan mempublikasikan berita dengan tanggung jawab serta semangat belajar yang luar biasa. Semua ini tentu tidak lepas dari dukungan kepala sekolah dan para guru yang mendampingi,” ujarnya. (Heri Iskandar)

  • Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa 2025, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra.”

    Rangkaian kegiatan ini mencakup Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang digelar di Ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah Workshop Pentigraf yang menghadirkan narasumber Maulana Affandi, S.S., Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus penulis buku.

    Workshop Pentigraf SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Kegiatan ini diikuti oleh total 60 peserta, yang terdiri atas 13 peserta dari sekolah eksternal (SMP dan SMA), 21 jurnalis SMK Models, serta 26 peserta dari intra dan ekstrakurikuler sekolah.

    Dipandu oleh moderator Ananda Ayu, suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta dengan semangat tinggi mengikuti setiap sesi yang disampaikan pemateri.

    Dalam paparannya, Affandi tidak hanya membahas teori seputar penulisan pentigraf (cerita pendek tiga paragraf), tetapi juga mengajak peserta memahami makna literasi secara lebih luas.

    Ia membagikan trik sederhana agar peserta lebih mudah menulis, yakni dengan memulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    “Menulis pentigraf tidak harus dimulai dari inspirasi besar. Justru ide terbaik bisa lahir dari benda, pengalaman pribadi, atau emosi yang kita rasakan,” ungkapnya.

    Ia kemudian memperkenalkan formula menulis pentigraf melalui tiga elemen dasar, yaitu benda, emosi, dan tempat.

    Dengan menentukan ketiga unsur tersebut, penulis sudah memiliki kerangka cerita yang siap dikembangkan menjadi karya utuh.

    Workshop Pentigraf

    Untuk menambah semangat, Affandi memberikan tantangan spontan kepada beberapa peserta untuk membaca karya pentigraf dan puisi di depan forum. Peserta yang berani tampil mendapat hadiah buku terbitan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Memasuki pertengahan sesi, peserta langsung diberi waktu praktik menulis pentigraf.

    Dalam waktu kurang dari 30 menit, sebagian besar peserta berhasil menuntaskan karya mereka dengan mengikuti trik yang baru saja dipelajari. Suasana ruangan pun dipenuhi antusiasme dan rasa ingin tahu.

    Di akhir sesi, Affandi mengajak peserta melakukan refleksi. Salah satu peserta dari tim Jurnalis SMK Models, Aurelia Clarista menyampaikan kesannya bahwa setelah mengikuti kegiatan ini, ia merasa lebih percaya diri dan mampu menulis pentigraf dengan mudah.

    “Sebelumnya saya merasa kebingungan dalam menentukan ide pentigraf, setelah mendengar pemaparan dari Kak Affandi, ternyata ada trik menulis pentigraf jadi tidak butuh waktu lama,” ujarnya.

    Sebelum workshop ditutup, moderator membuka sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam kesempatan itu, Affandi berpesan kepada seluruh peserta, khususnya para jurnalis muda, untuk tidak minder dalam berkarya.

    Workshop Pentigraf di SMK Models Siliragung

    “Tidak ada karya yang buruk. Semua karya itu baik, jadi jangan pernah malu dengan karya kita sendiri,” pesannya.

    Ia juga berbagi pengalaman pribadinya sebagai jurnalis dan penulis, mendorong peserta untuk terus berkarya dan menjadikan tulisan sebagai sarana menebar manfaat.

    “Menulis itu bukan sekadar hobi, tapi jalan untuk memahami diri dan dunia. Dari satu tulisan kecil, bisa lahir perubahan besar,” ujarnya menutup sesi dengan tepuk tangan meriah dari peserta.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung yang bekerja sama dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

  • Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar Lomba Baca Puisi dan Bercerita tingkat SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (26/10).

    Kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” ini berlangsung meriah di ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Sejak pagi, ratusan peserta bersama guru dan orang tua memenuhi ruangan dengan antusiasme tinggi.

    Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai pembukaan lomba sekaligus pelaksanaan Workshop Pentigraf yang diikuti pelajar dari jenjang SMP hingga SMA sederajat.

    Dari jenjang SD/MI hingga SMP di wilayah Siliragung dan sekitarnya, antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa dunia literasi kini semakin dekat dan digemari.

    Untuk lomba baca puisi, kategori A diikuti oleh 20 peserta dan kategori B diikuti 50 peserta. Sementara lomba bercerita diikuti oleh 43 peserta.

    Dewan juri terdiri dari tokoh dan praktisi sastra, antara lain Andi BS (Ketua KOPIWANGI), Andi Sep Kurniawan (Penulis Cerita Dwi Bahasa Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur), Meilysa Ajeng Kartika (Dosen dan Penulis), Heri Iskandar (Sastrawan Using dan Konten Kreator), Efa ET (penulis), serta Indriana Laili (jurnalis dari sastrawacana.id/).

    Adapun Workshop Pentigraf diikuti 60 peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Narasumber utama, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi Sastrawacana dan Penerbit Lintang Banyuwangi, membagikan pengalaman menulis cerita tiga paragraf dengan pendekatan kreatif dan inspiratif.

    Suasana semarak literasi di ballroom ED Hotel SMK Muhammadiyah 8 Siliragung makin terasa hangat saat acara dibuka dengan sambutan dari Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan.

    Andi Budi Setiawan

    Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada pihak sekolah yang telah menghadirkan kegiatan literasi yang kreatif dan inspiratif.

    “Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Kepala SMK Models Siliragung yang telah mengadakan event literasi yang begitu hebat. Tidak semua lembaga pendidikan mampu menghadirkan kegiatan sebesar dan seindah ini,” ungkap Andi penuh semangat.

    Ia juga berpesan kepada peserta untuk menjadikan lomba sebagai ruang kebahagiaan, bukan sekadar kompetisi.

    “Menang atau kalah itu biasa. Yang penting, tampil dengan hati senang dan sepenuh hati karena dari situlah semangat literasi sejati lahir,” tambahnya.

    Sementara itu, Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jembatan untuk memperluas wawasan dan memperhalus budaya.

    “Bahasa bukan sekadar retorika, melainkan sarana memahami kehidupan dan menebar kebaikan,” tuturnya.

    Muhlas juga menyoroti pentingnya kegiatan literasi di sekolah, khususnya melalui ekstrakurikuler jurnalistik yang aktif membina siswa SMP di wilayah Siliragung.

    “Anak-anak jurnalistik kami turun langsung ke sekolah-sekolah menengah untuk berbagi ilmu menulis berita. Ini bentuk nyata bahwa literasi dapat menjadi amal ibadah yang luas manfaatnya,” ujarnya.

    Dalam sambutannya, ia sempat bernostalgia tentang masa mudanya sebagai pimpinan redaksi media kampus.

    Pengalaman itu menurutnya menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana menulis dan berpikir kritis dapat membentuk karakter dan kepekaan sosial.

    Lomba Baca Puisi SMK Models Siliragung

    Setelah sambutan dan pembukaan resmi oleh Kepala Sekolah, para peserta diarahkan menuju ruang lomba masing-masing. Sementara itu, peserta Workshop Pentigraf tetap di ballroom untuk mengikuti sesi pelatihan intensif.

    Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi SMK Muhammadiyah 8 Siliragung dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Kesuksesan acara juga tak lepas dari kerja keras Tim Panitia Ekskul Models Jurnalisme di bawah koordinasi Cici Arista Devi, selaku tenaga pendidik sekaligus pembina dari tim jurnalis di  SMK Models Siliragung. (Andi BS)

  • Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Bertepatan dengan momentum Bulan Bahasa, dua buku baru, yaitu Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan resmi diluncurkan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Banyuwangi pada Jumat (17/10).

    Kegiatan yang digagas oleh Penerbit Lintang Banyuwangi, Komunitas Gotong Royong 45, dan Kopiwangi ini dihadiri oleh puluhan pegiat literasi, penulis, akademisi, serta perwakilan dari berbagai instansi pemerintah.

    Peluncuran dua buku tersebut mendapat sambutan positif. Selain menjadi ruang temu antarkomunitas, acara ini juga menegaskan semangat kolaborasi dalam memperkuat tradisi menulis di Banyuwangi.

    Dua buku yang diluncurkan memiliki karakter berbeda namun sama kuat secara pesan.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (3)

    Antologi Gotong Royong berisi kumpulan puisi dan pentigraf dua bahasa (Indonesia–Using) yang ditulis oleh puluhan penulis Banyuwangi, termasuk penyair difabel.

    Sementara Lamunan Seorang Wartawan karya Ricky Sulivan merupakan novel fiksi yang mengangkat realitas profesi jurnalis di lapangan.

    Acara peluncuran dipandu oleh Maria Ulfa dari Kopiwangi dan dibuka secara resmi oleh Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ selaku media partner.

    Dalam sambutannya, Affandi menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan peluncuran buku tersebut.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, mulai dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Dinas Kominfo, Komunitas Gotong Royong 45, Kopiwangi, hingga para penulis yang telah berkontribusi melahirkan karya,” ujarnya.

    Ia menambahkan, kolaborasi antara penerbit, komunitas literasi, dan para penulis menjadi bukti bahwa semangat menulis dan berkarya di Banyuwangi masih terus tumbuh.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh Lina Kamalin, M.Pd., selaku penasihat Kopiwangi. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menunjukkan kekuatan sinergi antarpenulis dan komunitas.

    “Lahirnya Buku Antologi Gotong Royong ini merupakan cerminan dari proses panjang kolaborasi banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap dunia literasi. Setiap tahap, mulai dari penulisan hingga penerbitan, dijalani dengan semangat saling mendukung dan belajar bersama. Proses itulah yang membuat buku ini tidak hanya menjadi kumpulan tulisan, tetapi juga simbol nyata bagaimana kebersamaan dapat melahirkan karya yang bermakna bagi Banyuwangi,” ujarnya.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (4)

    Sambutan selanjutnya disampaikan oleh pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi H. Yusuf Khoiri yang menyampaikan bahwa pihaknya terus membuka ruang bagi kegiatan literasi publik.

    “Aula ini terbuka untuk siapa pun yang ingin menggelar kegiatan serupa. Kami ingin tempat ini menjadi ruang bersama bagi para pegiat literasi, penulis, maupun komunitas yang ingin berbagi gagasan dan karya. Buku Antologi Gotong Royong juga sudah kami unggah ke perpustakaan digital agar dapat diakses oleh masyarakat luas, semoga bisa menginspirasi banyak orang,” jelasnya.

    Selain peluncuran buku, acara juga dimeriahkan oleh sejumlah penampilan dari para peserta.

    Salah satunya datang dari Saimah, seorang veteran perdamaian yang membacakan puisi karyanya sendiri berjudul Masa Transisi.

    Saimah Veteran

    Dengan suara yang tegas namun sarat penghayatan, ia berhasil memikat perhatian. Suasana aula seketika hening, diiringi keharuan dan empati yang terasa menyelubungi ruangan.

    Penampilan dilanjutkan oleh Afina Alana Qolbi, siswi MI Darun Najah 2 Banyuwangi yang membawakan dongeng Legenda Banyuwangi. Dengan gaya bertutur khas anak-anak, ia berhasil menghidupkan kembali kisah klasik yang menjadi identitas daerah.

    Memasuki sesi diskusi, Ricky Sulivan menjelaskan bahwa Lamunan Seorang Wartawan ditulis berdasarkan pengalaman nyata selama bertahun-tahun menjadi jurnalis.

    “Saya melihat banyak rekan seprofesi yang kehilangan arah di tengah tekanan pekerjaan. Di satu sisi, jurnalis dituntut untuk cepat dan akurat, namun di sisi lain, nilai-nilai idealisme dan kemanusiaan juga sering terpinggirkan. Dari kegelisahan itu, buku ini lahir sebagai refleksi,” tuturnya.

    Sementara itu, dua panelis, Yeti Chotimah dan Andi Budi Setiawan, S.Pd, memaparkan pandangan mereka tentang penerbitan Antologi Gotong Royong.

    Keduanya sepakat bahwa buku ini hadir bukan hanya untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga sebagai bentuk nyata kolaborasi antarpenulis dan komunitas literasi di Banyuwangi.

    Yeti Chotimah menjelaskan, semangat utama dari penerbitan buku ini adalah menghidupkan kembali gairah menulis di kalangan generasi muda.

    “Kami ingin anak-anak muda terus menulis, membaca, dan menumbuhkan kecintaan terhadap literasi di daerahnya masing-masing. Semangat gotong royong adalah jantung dari gerakan ini,” ujar Yeti.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, menekankan pentingnya menjadikan kegiatan literasi sebagai bagian dari gerakan sosial yang berkelanjutan.

    “Literasi tidak boleh berhenti di acara peluncuran buku atau lomba menulis semata. Harus ada kesinambungan, ruang belajar, dan dukungan antarpegiat agar ekosistemnya tetap tumbuh,” kata Andi.

    Menjelang akhir acara, sejumlah kurator dan tokoh literasi memberikan apresiasi. Iqbal Baraas, dosen Universitas Ibrahimy, yang menilai bahwa karya para penulis Banyuwangi semakin matang, baik secara tema maupun teknik penulisan.

    Apresiasi juga disampaikan oleh Mujiono, S.H., Thomas Raharto, dan Drs. Jaenuri NZ. Mereka menilai kegiatan semacam ini perlu terus digelar agar literasi tidak hanya menjadi wacana, tetapi gerakan yang hidup di tengah masyarakat.

    Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto para penulis, kurator, dan tamu undangan.

    Peluncuran dua buku ini menjadi bukti bahwa semangat literasi Banyuwangi tidak pernah padam, melainkan terus tumbuh melalui kolaborasi dan kerja gotong royong.