Tag: cinta

  • Riset: Patah Hati Menyebabkan Kematian, Kok Bisa?

    Patah hati merupakan sebuah hal umum dan lumrah. Setiap orang pasti pernah merasakannya. Kalian juga pasti pernah patah hati bukan?

    Yang jadi bermasalah, jika orang-orang yang patah hati tersebut susah untuk move on atau bahkan tidak bisa sama sekali mengobati laranya.

    Karena sebuah riset terbaru mengatakan jika patah hati terlalu lama bisa menyebabkan kematian.

    Dalam dunia medis, sindrom patah hati bisa juga disebut sebagai sindrom Takotsubo.

    Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh jurnal American Society of Echocardiography dengan mengikutsertakan 52 pasien dalam risetnya.

    Hasil riset tersebut mengatakan bahwa sindrom Takotsubo sama berbahaya dengan gejala serangan jantung!

    Dikutip dari Huffington Post (9/7/2017) bahwa setidaknya ada 3.000 orang pertahun di Inggris mengalami sindrom yang berbahaya ini.

    Makanya, kalau kalian sedang patah hati, yuk buruan move on supaya tidak terjangkit sindrom Takotsubo.

    Karena dikatakan kalau patah hati berefek pada tidak stabilnya pemompaan jantung.

    Jika pemompaan jantung sudah tidak stabil lagi, maka gejala serangan jantung dan penyakit lain akan menghantui. Bahaya kan?

    Sumber : Google, Huffington Pos

  • Move On dengan Menulis – Tutup Luka itu Sebelum Mati Rasa

    Setiap manusia pasti memiliki hasrat dan keinginan untuk memiliki sebuah hubungan yang harmonis dan penuh dengan cinta. Saling menyayangi dan saling memberi topangan saat dibutuhkan. Saling mendengarkan saat ada sebuah rangkaian kata yang dilantunkan. Saling memijak saat kaki tak mampu lagi beranjak.

    Tapi, kadang harapan dan angan tersebut sirna. Kebahagiaan yang didambakan berujung kesedihan dan penderitaan.

    Ditinggal oleh kekasih memang menyayat hati dan meninggalkan luka yang cukup dalam. Luka tersebut tentunya sangat susah untuk ditambal. Jangankan untuk sembuh, menghilangkan nyeri karena kontraksinya saja terasa sangat sulit. Sehingga muncul pikiran-pikiran yang tidak rasional demi menghilangkan rasa nyeri tersebut.

    Sudah menjadi rahasia umum, saat mengalami putus cinta kebanyakan orang melakukan hal yang bisa mengobati luka namun sifatnya hanya sementara. Mencari kebahagiaan yang semu dan tidak ada kejelasan apakah kebahagiaan tersebut dapat membalut luka tersebut.

    Sebab, luka di dalam hati adalah luka yang serius dan tidak bisa disepelekan. Ingat, tidak bisa disepelekan. Jadi, jangan melakukan hal yang tidak masuk akal hanya untuk melupakan rasa sakit pada luka itu sedangkan luka dalam itu belumlah sembuh total.

    Menulislah. Ya, menulis. Mungkin kisah dan keluh kesah yang dirasakan mampu tertuang dalam rajutan kata. Melampiaskan ke goresan yang tak menambah luka.

    Ungkapkan segala isi hati kepada buku yang siap menjaga rahasia tentang cerita dan kronologi terjadinya luka tersebut. Setelah semua kegundahan dalam hati mampu tertuang kepada penjaga amanat terbaik yaitu buku, maka rasa nyeri pada luka itu akan sedikit menghilang.

    Saat rasa nyeri tersebut mulai menghilang, langkah terakhir adalah dengan menambal luka itu dan menunggu seseorang yang siap memberi perban sebagai pelindung agar luka tersebut tidak semakin parah karena gangguan-gangguan luar.

    Menunggu? Tidak! Seseorang pembawa perban tidak akan datang jika tidak dicari. Semakin lama menunggu, luka itu akan semakin membusuk sehingga bisa mati rasa. Pilihannya, membiarkan luka itu tetap ada atau membusukkan luka itu sehingga mati rasa? Tentu tidak keduanya.

    Pilihan yang tepat adalah mencoba memperbaiki diri dengan membuang segala keburukan ke dalam buku dengan tulisan. Saat semua keburukan sudah dituangkan ke dalam buku, tutup buku itu rapat-rapat agar aromanya tidak terendus selagi luka belum terobati.

    Lantas, carilah orang yang siap memberi perban untuk mengobati luka tersebut. Jangan biarkan luka itu terus berkembang sehingga membuat mati rasa.

    Penulis : Maulana Affandi