Tag: Difabel Banyuwangi

  • NLR  Indonesia Gelar Lokakarya Pemantapan Peran Personal dan LSM Peduli Disabilitas di 3 Provinsi

    NLR Indonesia Gelar Lokakarya Pemantapan Peran Personal dan LSM Peduli Disabilitas di 3 Provinsi

    Lembaga donor NLR Indonesia yang didukung Liliane Foundation menggelar lokakarya bagi mitra SCN yang telah melalui masa transisi program hingga tahap input data calon penerima manfaat.

    Kegiatan ini berlangsung pada 10–13 Maret 2026 di tiga kota yang berada di tiga provinsi berbeda.

    Tiga kota yang menjadi lokasi penyelenggaraan lokakarya tersebut adalah Palu (Sulawesi Tengah), Kupang (Nusa Tenggara Timur), dan Jember (Jawa Timur).

    Untuk kegiatan di Jember, lokakarya diikuti oleh masing-masing tujuh peserta dari Kabupaten Jember yang akan menangani wilayah Arjasa, Silo, dan Ledokombo.

    Sementara itu, wilayah Besuki dan Bungatan menjadi tanggung jawab organisasi penyandang disabilitas (OPDis) Situbondo.

    Adapun LSM Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia akan melakukan pendampingan bagi penyandang disabilitas serta anak dan remaja terdampak kusta berusia 1–24 tahun di Kecamatan Kalipuro dan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.

    Materi lokakarya dirancang untuk memperkuat kapasitas pimpinan lembaga, officer program, bagian keuangan, serta tim Monitoring, Evaluation and Learning (MEL) dan koordinator lapangan Community Based Rehabilitation (CBR).

    Selain itu, peserta juga dibekali dengan pelatihan penyusunan proposal hingga penandatanganan kontrak kemitraan yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Maret ini.

    “Walau cuti Lebaran ke Ambon, kami tetap melakukan koreksi dan proses agar pada 1 April program sudah efektif berjalan dan segera berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk melakukan intervensi kepada penerima manfaat,” tutur fasilitator NLR, Nona, saat kegiatan berlangsung di Hotel Java Lotus Jember.

    Dalam kesempatan tersebut, Nella dan Anggun menyambut dengan senyum karena pihak donor menekankan pentingnya pemenuhan tenggat waktu, kelengkapan data, serta narasi pendukung program, tanpa melihat kondisi libur panjang atau tanggal merah.

    Selain sesi materi secara langsung, peserta di tiga kota juga mendapatkan bimbingan daring secara serentak dari narasumber Nurlia Wuliyanti dan Jasmine yang berada di kantor NLR Indonesia di Jakarta.

    Bimbingan tersebut memperkuat materi yang sebelumnya telah disampaikan melalui pertemuan daring pada pekan lalu.

    Beberapa materi utama yang dibahas dalam lokakarya ini antara lain Due Diligence, Standard Operating Procedure (SOP), timeline program, serta komitmen profesional yang menjunjung tinggi integritas dan etika kerja.

    Direktur Rumah Literasi Indonesia, Tunggul Harwanto, menyampaikan bahwa pertemuan teknis yang melibatkan mitra dari berbagai kota tersebut memberikan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kesiapan dalam menjalankan program sosial kemanusiaan.

    “Dengan pertemuan teknis dan standar NLR yang melibatkan mitra dari kota lainnya, maka kita bisa berbagi pengalaman dan semakin mantap menjalankan program sosial kemanusiaan ini,” tuturnya.

    Hal senada juga disampaikan oleh Indah Catur Cahyaningtyas, Divisi Program Yayasan Aura Lentera Indonesia.

    Ia menjelaskan bahwa kearifan lokal dapat menjadi kekuatan dalam mendukung keberhasilan program bagi anak dan remaja difabel, termasuk bagi mereka yang berada di luar empat desa pilot project selama masih berada dalam kecamatan yang sama.

    “Harapannya, sinergi para pihak dapat menghindarkan ego sektoral dan memperkuat kolaborasi supertim untuk mencapai visi dan misi bersama yang telah dipelopori Bupati dan didukung kepala dinas,” ujar Indah.

    Indah sendiri merupakan istri Nurhadi Windoyo, yang pernah menjabat sebagai Ketua Pertuni serta memiliki pengalaman dalam pengelolaan komputer Braille.

    Sementara itu, Umar Asmoro, yang aktif di Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), mengungkapkan rasa syukur karena Banyuwangi mendapatkan tambahan program Body Talk Kesehatan Reproduksi yang dipimpin oleh program officer Agus Wahyu Nuryadi.

    Selain itu, terdapat pula program Pengembangan Potensi Remaja yang akan dikelola oleh para relawan Rumah Literasi Indonesia yang memiliki minat bergabung dengan Youth Center PKBI serta akan berkolaborasi bersama Forum Anak Banyuwangi, yang diwakili oleh Annisa Rahmawati.

  • Yayasan Aura Lentera dan Rumah Literasi Bangun Jejaring Inklusif bagi Disabilitas dan Penyintas Kusta di Banyuwangi

    Yayasan Aura Lentera dan Rumah Literasi Bangun Jejaring Inklusif bagi Disabilitas dan Penyintas Kusta di Banyuwangi

    Kickoff Program Building Effective Network (BEN) & Meaningful Youth Participation (MYP) digelar di Hotel Aston Banyuwangi, Senin (10/11/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Kegiatan ini menegaskan semangat “superteam” dalam melayani disabilitas dan penyintas kusta.

    Acara yang dimoderatori oleh Indah Cahyaning Tyas, aktivis Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI), diawali oleh NS. Tunggul Harwanto, M.Kes., Ketua Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi, yang memaparkan edukasi tentang program BEN dan MYP.

    Program yang disuport oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia ini digagas untuk memperkuat kapasitas organisasi lokal, komunitas, serta para pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem dukungan yang berkelanjutan.

    Fokus utamanya adalah membangun jejaring efektif antar lembaga, sekolah, tenaga kesehatan, organisasi penyandang disabilitas, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok masyarakat agar anak serta remaja dengan disabilitas maupun yang terdampak kusta memperoleh akses setara terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan sosial.

    NLR Indonesia sebagai Grant Manager dari Program BEN dan MYP mendapat mandat untuk mengoordinasikan fase transisi, memastikan mekanisme koordinasi terbentuk, serta mempersiapkan peta jalan program Fase I (2026–2028).

    Program BEN saat ini telah dijalankan di tiga negara, yaitu Bangladesh, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, program ini dijalankan di tiga provinsi: Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.

    Kegiatan soft launching kickoff di Hotel Aston Banyuwangi dihadiri oleh pimpinan SKPD pemerintah daerah seperti Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Kemenag, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, serta Direktur RSUD Blambangan, juga organisasi penyandang disabilitas, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan remaja dengan disabilitas.

    Acara berlangsung hangat dengan sesi dialog interaktif, deklarasi komitmen bersama, serta pembentukan forum jejaring lokal.

    Tujuan kegiatan BEN dan MYP di Banyuwangi:

    1. Memperkenalkan kerangka program Building Effective Networks (BEN) kepada organisasi lokal dan pemangku kepentingan utama.

    2. Memfasilitasi pertukaran informasi dan pemahaman bersama terkait konteks, tantangan, dan peluang dalam memperkuat inklusi anak dan remaja dengan disabilitas.

    3. Membangun komitmen bersama untuk menjalankan fase transisi menuju tata kelola jaringan yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan.

    Diharapkan setelah kegiatan ini:

    • Peserta memiliki pemahaman yang jelas mengenai kerangka BEN, roadmap, dan struktur tata kelola yang akan dibangun.
    • Terbentuk kesepahaman awal terkait mekanisme koordinasi, peran, dan tanggung jawab organisasi lokal serta pemangku kepentingan.
    • Tersusunnya rencana tindak lanjut jangka pendek sebagai dasar pelaksanaan fase transisi.
    • Meningkatnya komitmen dan rasa kepemilikan (sense of ownership) dari organisasi lokal dan pemangku kepentingan terhadap tujuan BEN dan MYP di Banyuwangi.

    Bupati Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M., menyampaikan dukungan penuh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam sambutannya, Suratno menjelaskan bahwa Banyuwangi telah menjadi Kabupaten Inklusif sejak 2014 dan kini telah memiliki Perda serta Perbup Unit Layanan Difabel Terintegrasi.

    “Harapan kami, program ini menjadi energi positif berkelanjutan untuk pelayanan kesetaraan bagi saudara-saudara kita yang istimewa,” tuturnya.

    Sementara itu, Sekretaris Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Budi Wahono, S.T., memberikan edukasi tentang berbagai program inklusif yang telah dilakukan Pemerintah Daerah, termasuk membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara).

    Sebagai narasumber, Masfufah, S.Pd., Kepala SLB Negeri Banyuwangi yang juga mewakili PERKINS International, menyampaikan materi tentang manajemen ekosistem inklusif dengan pendekatan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Stakeholders Analysis.

    Ia juga mengulas mekanisme Sistem Layanan ULD Terintegrasi yang menjadi fondasi penguatan inklusi di tingkat daerah.

    Dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta memberikan masukan mewakili komunitasnya.
    Ricky Malebhy, Ketua Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia), menyampaikan kesulitan komunitas Tuli dalam menyusun program kesejahteraan, terutama terkait keterlibatan dalam aktivitas UMKM Difabel.

    Umar Asmoro, tokoh senior forum OPDis, menambahkan sejumlah masukan terkait pengelolaan masalah difabel dan perlunya langkah nyata dalam penanganannya.

    Yang paling menarik, datang dari Nurhadi Windoyo, seorang tuna netra yang menjabat sebagai Ketua Aura Lentera.

    Menurut Windoyo, “Kita jangan terjebak dalam inovasi yang tidak berkelanjutan. Lebih baik membangun kolaborasi yang kuat dengan berbagai pihak. Hambatan terbesar dalam kolaborasi biasanya adalah ego sektoral.”

    Sementara itu, Mbak Hanum, aktivis pemberdayaan masyarakat, menambahkan, “Kolaborasi syaratnya mau terbuka, mau mendengar, dan siap bekerja sama. Norma yang harus dijaga adalah jangan mengorbankan kepentingan mayoritas demi minoritas, karena itu bukan inklusif, tapi eksklusif. Kita harus membangun sistem layanan terbaik tanpa terjebak pada prosedur yang kaku. Jangan hanya menciptakan inovasi yang indah di permukaan, tapi lupakan pondasi yang kuat,” tegasnya sambil tersenyum.

    Tunggul dan Indah menutup acara dengan menyampaikan ajakan untuk terus bersinergi dan bergandeng tangan.

    Mereka juga mengumumkan telah terpilihnya tujuh enumerator yang akan bekerja sama dengan camat, kepala desa, dan kepala puskesmas untuk melakukan input data pendampingan di wilayah terpilih.

    “Temuan lokal di desa bisa membuka ruang dialog hingga tingkat kabupaten, bahkan menjadi ajang aspirasi nasional yang berpotensi menjadi isu global untuk kedamaian dan kesejahteraan bersama,” tutup mereka. (Andre/Aguk)

  • SIBABA, Inovasi Polresta Banyuwangi untuk Permudah Difabel Mengurus SIM D

    SIBABA, Inovasi Polresta Banyuwangi untuk Permudah Difabel Mengurus SIM D

    Suasana santai sekaligus penuh kegembiraan terlihat di halaman Satpas Polresta Banyuwangi, Rabu (28/7) ketika belasan kendaraan roda dua dan roda tiga milik anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI) serta Persatuan Sepakbola Amputasi Banyuwangi (Persawangi) memasuki area pelayanan.

    Sebanyak 19 orang penyandang disabilitas daksa mendapatkan pelayanan langsung dari petugas, mulai dari pengisian formulir, pelatihan aturan berkendara, hingga mengikuti ujian praktik untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM) D.

    Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., bersama tokoh-tokoh disabilitas daksa beberapa waktu lalu.

    Program SIBABA Polresta Banyuwangi

    Dalam pertemuan tersebut, disampaikan sejumlah permohonan, diantaranya kemudahan pengurusan SIM D, dukungan terhadap perkembangan sepak bola amputasi Banyuwangi, serta penyuluhan untuk meminimalisasi keterlibatan penyandang disabilitas dalam tindak kriminal.

    Program SIBABA atau SIM Bersama Disabilitas kemudian lahir sebagai salah satu inovasi pelayanan unggulan Satpas Polresta Banyuwangi.

    Dalam kesempatan itu, Kompol Elang Prasetyo selaku Kasatlantas Polresta Banyuwangi terlihat mendampingi proses ujian praktik. Ia bahkan sempat meneliti kondisi modifikasi kendaraan milik Temon, Ketua DMI.

    “Perangkat kemudi disesuaikan kebutuhan kami Pak, ada tukangnya khusus,” jelas Temon saat ditanya.

    Mendengar hal itu, Kompol Elang mengapresiasi sekaligus menegaskan bahwa fungsi kendaraan bagi para penyandang disabilitas bukan hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai penunjang pekerjaan sehari-hari.

    “Karena dipakai untuk bekerja, maka SIM harus diurus dengan baik. Kami berkomitmen melayani sepenuh hati. Jangan lupa setelah urus SIM, teman-teman juga tetap taat membayar pajak kendaraan bermotor,” ujarnya sambil tersenyum.

    Hal senada disampaikan AKP Dwi Satria Aryanto, Kanit Lantas Polresta Banyuwangi. Ia menyebut hampir setiap tahun selalu ada rekan-rekan disabilitas yang mengurus perpanjangan maupun pembuatan SIM baru.

    AKP Dwi Satria Aryanto

    “Kegiatan hari ini tidak lain untuk membantu saudara-saudara disabilitas. Kami memfasilitasi sepenuhnya agar mereka lebih mudah mendapatkan SIM. Satpas Polresta Banyuwangi punya program khusus yaitu SIBABA, SIM Bersama Disabilitas,” kata Satria.

    Ucapan terima kasih datang dari Hasyim Mahmud, Ketua Persawangi yang merasa sangat terbantu dengan pelayanan yang diberikan hingga para anggotanya bisa menyelesaikan ujian praktik.

    “Terima kasih Bapak Kapolresta dan Satpas Polresta Banyuwangi, kami dibantu sampai lulus ujian praktek,” ujarnya penuh sukacita.

    Perlu diketahui, sebagian besar kendaraan modifikasi milik penyandang disabilitas tidak hanya digunakan sebagai alat transportasi, melainkan juga sebagai sarana mencari nafkah.

    Beberapa di antaranya berprofesi sebagai penjual gas, air isi ulang, ayam, ikan segar, dan berbagai usaha lainnya. Karena itu, kemudahan dalam mengurus SIM menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti bagi mereka.

    AKP Dwi Satria Aryanto menutup dengan sebuah harapan. “Semoga dengan memiliki SIM D, saudara-saudara disabilitas dapat lebih berhati-hati dalam berkendara serta senantiasa menaati aturan lalu lintas,” pungkasnya.

    Penulis: Indah CC