Tag: drama

  • Santri Pilihan Bunda Tayang Setiap Hari Apa? Ini Jadwal, Link, dan Sinopsisnya

    Santri Pilihan Bunda tayang setiap Sabtu pukul 07.00 WIB di platform streaming Vidio.

    Episode baru serial ini dirilis setiap minggunya, sehingga kita dapat mengikuti kisah menarik para santri di pesantren Al-Ikhlas setiap hari Sabtu.

    Santri Pilihan Bunda mendapatkan respon positif dari para penonton. Serial ini mendapatkan rating 7.4/10 di platform streaming Vidio.

    Penonton menyukai akting para pemain yang dinilai natural dan mampu membawa karakter mereka dengan baik.

    Cerita yang relatable dengan kehidupan sehari-hari juga menjadi salah satu daya tarik utama serial ini.

    Selain itu, “Santri Pilihan Bunda” juga dianggap memberikan pesan moral tentang pernikahan dan agama yang dikemas dengan cara yang ringan dan tidak menggurui.

    Sehingga Santri Pilihan Bunda merupakan serial drama religi yang menghibur dan edukatif, cocok untuk ditonton oleh semua kalangan.

    Link Nonton Santri Pilihan Bunda

    Untuk menonton Santri Pilihan Bunda, kita bisa langsung menginstall aplikasi Vidio. Serial ini masuk dalam kategori premiere dengan tag romantis dan drama.

    Jika belum punya aplikasi Vidio, kita bisa menginstal terlebih dahulu melalui Google Play Store secara gratis.

    Berikut adalah link nonton Santri Pilihan Bunda: https://www.vidio.com/premier/9643/santri-pilihan-bunda

    Sinopsis Santri Pilihan Bunda

    • Genre: Drama religi
    • Diadaptasi dari: Novel Wattpad karya Salsabila Falensia
    • Bintang: Naura Ayu, Fadi Alaydrus, Sarah Sechan
    • Jadwal tayang: Sabtu, 07.00 WIB

    Aliza, seorang mahasiswi modern yang bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri harus menerima kenyataan pahit ketika sang Bunda menjodohkannya dengan Ustadz Hafiz, seorang santri pilihan Bunda.

    Perbedaan prinsip dan gaya hidup antara Aliza yang modern dan Hafiz yang religius membuat pernikahan mereka penuh rintangan.

    Aliza yang terbiasa dengan kebebasan merasa terkekang dengan aturan-aturan di pesantren.

    Di sisi lain, Hafiz yang sabar dan penuh kasih sayang berusaha untuk memahami dan mendekatkan diri kepada Aliza.

    Perjalanan pernikahan mereka diwarnai dengan berbagai konflik dan kesalahpahaman.

    Namun, seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai belajar untuk saling memahami dan menerima perbedaan.

    Aliza mulai terinspirasi oleh nilai-nilai agama yang diajarkan oleh Hafiz, sementara Hafiz belajar untuk lebih terbuka dan memahami keinginan Aliza.

    Di tengah perjalanan pernikahan mereka, muncul berbagai rintangan yang berusaha untuk memisahkan mereka.

    Masa lalu Hafiz yang kelam dan keraguan Aliza terhadap pernikahannya menjadi ujian yang harus mereka lalui bersama.

    Akankah Aliza dan Hafiz mampu mempertahankan pernikahan mereka? Saksikan kisah inspiratif dan penuh makna dalam “Santri Pilihan Bunda”.

  • Samakah Drama dengan Sandiwara? Cari Jawabannya di Sini

    Drama dan sandiwara adalah dua bentuk pertunjukan yang telah lama digemari masyarakat. Keduanya memiliki banyak kesamaan, namun terdapat pula beberapa perbedaan yang perlu diketahui.

    Sebelum kita membahas persamaan serta perbedaannya, alangkah lebih baik jika kita mengetahui definisi masing-masing terlebih dahulu.

    Pengertian Drama

    Drama berasal dari bahasa Yunani yaitu draomai yang artinya berbuat, berlaku bertindak, atau beraksi (Soediro Satoto, 1991:5).

    Atar Semi (1993:156) menjelaskan drama adalah cerita atau tiruan perilaku manusia yang dipentaskan.

    Drama secara lebih khusus menunjuk pada lakon yang serius dapat berakhir suka maupun duka dengan masalah yang serius juga (Soediro Satoto, 1989:3)

    Drama adalah sebuah pertunjukan yang menceritakan kisah tentang kehidupan manusia dengan menggunakan dialog dan gerak.

    Drama biasanya dipentaskan di atas panggung oleh para aktor dan aktris, dan disaksikan oleh penonton.

    Cerita dalam drama umumnya mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan manusia, seperti cinta, kasih sayang, persahabatan, keluarga, perjuangan hidup, dan lain sebagainya.

    Tema-tema ini dikemas dalam bentuk cerita yang menarik dan penuh dengan konflik, sehingga dapat membangkitkan berbagai macam emosi penonton, seperti sedih, senang, marah, dan terharu.

    Sementara dalam kehidupan sehari-hari, drama merupakan situasi atau peristiwa yang melibatkan konflik, ketegangan, dan emosi yang kuat, mirip dengan cerita drama yang dipentaskan di atas panggung.

    Contohnya seperti pertengkaran antara anggota keluarga, konflik di tempat kerja, serta masalah-masalah lainnya.

    Pengertian Sandiwara

    Sandiwara dibentuk dari kata sandi (Jawa) yang artinya rahasia dan wara (warah:Jawa) yang artinya pengajaran.

    Maka, sandiwara diartikan sebagai pelajaran yang diberikan secara rahasia atau diam-diam (Herman J. Waluyo, 2002:3).

    Sandiwara merupakan pertunjukan drama tradisional Jawa yang memiliki ciri khas dan nilai budaya yang tinggi.

    Sandiwara umumnya mengangkat cerita dan tema yang berkaitan dengan budaya Jawa, seperti legenda, sejarah, dan nilai-nilai moral.

    Cerita-cerita tersebut dikemas dengan cara yang menghibur dan mudah dipahami oleh masyarakat.

    Pertunjukan ini bukan hanya menghibur, tetapi juga memberikan edukasi dan nilai-nilai moral kepada penonton. Menyaksikan sandiwara berarti melestarikan budaya dan tradisi bangsa.

    Seiring perkembangan zaman, sandiwara juga mengalami modernisasi.

    Bentuk pertunjukannya tetap berpegang pada tradisi, namun dikemas dengan sentuhan modern agar lebih menarik bagi penonton masa kini.

    Penggunaan teknologi dan efek visual menjadi contoh modernisasi yang diterapkan dalam sandiwara.

    Samakah Drama dengan Sandiwara?

    Pertanyaan mengenai persamaan dan perbedaan antara drama dan sandiwara sering muncul.

    Pada dasarnya, drama dan sandiwara memiliki banyak kesamaan, namun ada pula beberapa perbedaan yang perlu diketahui.

    Kesamaan Drama dan Sandiwara

    • Definisi: Baik drama maupun sandiwara adalah pertunjukan yang menceritakan kisah tentang kehidupan manusia dengan menggunakan dialog dan gerak.
    • Tujuan: Tujuan utama keduanya adalah untuk menghibur dan memberikan edukasi kepada penonton.
    • Elemen: Drama dan sandiwara memiliki elemen-elemen yang sama, seperti cerita, karakter, dialog, gerak, kostum, tata rias, dan panggung.

    Perbedaan Drama dan Sandiwara

    • Asal-usul: Drama berasal dari Yunani Kuno, sedangkan sandiwara berasal dari Jawa, Indonesia.
    • Jenis: Drama memiliki banyak jenis, seperti drama tragedi, drama komedi, drama satir, dan lain sebagainya. Sandiwara umumnya hanya memiliki satu jenis, yaitu sandiwara tradisional Jawa.
    • Bahasa: Drama menggunakan berbagai bahasa, sedangkan sandiwara umumnya menggunakan bahasa Jawa.
    • Nilai-nilai: Drama dapat mengangkat nilai-nilai universal, sedangkan sandiwara lebih fokus pada nilai-nilai budaya Jawa.
  • Daftar Istilah dalam Seni Teater dan Artinya

    Dalam seni teater, ada beberapa istilah yang biasa digunakan oleh pemeran atau aktor.

    Istilah-istilah tersebut memiliki arti/makna yang sesuai dengan fungsi dalam pementasan. Nah, apa saja istilah-istilah dalam teater? Berikut diantaranya.

    Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak

    Additive Mixing : Pencampuran warna pada objek yang disinari dari dua atau lebih lampu yang berbeda

    Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan

    Aktor : orang yang melakukan akting

    Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno

    Amplifikasi : Penguatan energi listrik setelah melalui rangkaian elektronik

    Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium

    Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner

    Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara

    Aside : Dialog menyamping, atau suara hati dan pikiran tokoh

    Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan

    Audibility : Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendengaran

    Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium

    Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung

    Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh

    Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu

    Barndoor : Sirip empat sisi yang diletakkan pada lampu dan digunakan untuk mebatasi lebar sinar cahaya

    Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan

    Beats : Satu kesatuan arti terkecil dari dialog

    Belly to Belly : Dua lensa yang dipasang berhadapan dalam sebuah lampu dan jaraknya bisa diatur

    Bifocal : Lampu Bifocal adalah lampu profile standar yang ditambahi dengan shutter tambahan

    Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung

    Boom : Baris lampu yang dipasang secara vertikal

    Border : Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permainan yang digunakan

    Bracket : Pengait untuk memasang lampu pada boom. Disebut pula sebagai boom arm

    Catwalk : Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain

    Clamp : Klem atau pengait untuk memasang lampu pada bar, disebut juga sebagai C-clamp atau Hook Clamp

    Control Balance : Pengaturan tingkat kekerasan suatu sumber suara terhadap sumber suara yang lain

    Control Desk : Disebut juga Remote Control, alat untuk mengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya dari jarak jauh

    Cyc Light : Lampu flood yang dikhususkan untuk menerangi layar belakang (siklorama)

    Denotasi : Arti yang sebenarnya sesuai dengan arti yang terdapat dalam kamus

    Dialog : Percakapan para pemain.

    Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut

    Diffuse : Jenis refleksi cahaya yang memiliki pantulan merata serta panjang sinarnya sama

    Diftong : Kombinasi dua huruf vokal dan diucapkan bersamaan

    Diksi : Latihan mengeja kata dengan suara keras dan jelas

    Dimmer : Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya

    Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan

    Donut : Pelat metal yang digunakan untuk meningkatkan ketajaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu spot

    Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi

    Dramatic Irony : Aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dimana tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri

    Ekstensi : Menambah besarnya sudut antara dua bagian badan

    Eksposisi : Penggambaran awal dari sebuah lakon, berisi tentang perkenalan karakter, dan masalah yang akan digulirkan

    Elastisitas : Tingkat kekenyalan suatu objek sehingga dengan mudah bisa diterapkan atau digunakan

    Ellipsoidal : Jenis reflektor yang memiliki bentuk elips

    Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran

    Ephemeral : Sifat pertunjukan yang bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama

    ERS : Elliposoidal Reflector Spotlight. Lampu spot yang menggunakan reflektor berbentuk elips disebut juga lampu profile atau leko

    ERS Axial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang secara horisontal

    ERS Radial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang miring 45 derajat

    Farce : Seni pertunjukan yang menyerupai dagelan tetapi bukan dagelan yang seperti di Indonesia

    Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu

    Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini

    Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih

    Fleksi (flexion) : Membengkokkan suatu sendi untuk mengurangi sudut antara dua bagian badan

    Fleksibelitas : Daya lentur suatu objek / tingkat kelenturan suatu objek

    Flies : Disebut juga penutup. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya

    Floodligth : Jenis lampu yang sinar cahayanya menyebar serta tidak bisa diatur fokusnya

    Focal Point : Titik temu (pusat) pendar cahaya

    FOH : Front Of House. Bagian depan baris kursi penonton dimana di atasnya terdapat pipa baris lampu

    Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas

    Follow Spot : Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain

    Fore Shadowing : Bayang-bayang yang mendahului sebuah peristiwa yang sesungguhnya itu terjadi

    Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat

    Frequency Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum

    Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi

    Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat

    Gestus : Aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antar tokoh

    Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut

    Globe : Panggung yang tempat duduk penontonnya berkeliling, digunakan dalam pementasan teater jaman Elizabeth di Inggris

    Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya

    Groundrow : Lampu flood yang diletakkan di bawah untuk menerangi aktor atau siklorama dari bawah.

    Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya

    Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.

    Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.

    Insersio : Kearah mana otot itu berjalan atau arah jalannya otot yang bergerak.

    Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur

    Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu

    Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.

    Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran

    Karakter Teatrikal : Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.

    Kolokasi : Asosiasi kata dengan bahasa yang tidak formal, bahasa percakapan sehari-hari pada suatu tempat dan masa tertentu.

    Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya

    Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan

    Komunikan : Penerima komunikasi

    Komunikator : Penyampai kamunikasi

    Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.

    Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.

    Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerah kan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.

    Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita

    Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan

    Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi

    Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.

    Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi

    Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar

    Lever : Bilah yang dapat dinaikkan dan diturunkan yang terdapat pada control desk

    Ligamen : Jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang atau pembungkus sendi.

    Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton

    Membran : Selaput atau lapisan tipis yang sangat peka terhadap getaran

    Metacarpal : Disebut juga dengan metatarsus atau ossa metatarsalia yaitu tulang pertama dari jari

    Mime : Pertunjukan teater yang menitikberatkan pada seni ekspresi wajah pemain

    Mimetic/mimesis : Peniruan atau meniru sesuatu yang ada

    Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    Mixed : Jenis refleksi cahaya yang hasilnya bercampur antara relfeksi diffuse dan specular

    Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain

    Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman

    Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan

    Orchestra Pit : Tempat para musisi orkestra bermain

    Origio : Tempat otot timbul atau tempat asal otot yang terkuat

    Pageant : Panggung kereta abad Pertengahan yang digunakan untuk mementaskan teater secara berkeliling

    Panoramic : Kesan suara yang terdengar pada telinga kiri atau telinga kanan

    Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    PAR : Parabolic Aluminized Reflector. Lampu yang menggunkan reflektor parabola terangkai dalam satu unit dengan lensanya

    Parafrase : Latihan untuk menyatakan kembali arti dialog dengan menggunakan kata-kata kita sendiri, dengan tujuan untuk membuat jelas dialog tersebut

    PC : (1) Planno Convex, jenis lensa yang permukaannya halus. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa tunggal baik lensa Planno Convex atau Pebble Convex

    Pebble Convex : Jenis lensa yang mukanya halus tapi bagian belakangnya bergerigi

    Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).

    Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.

    Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater

    Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida

    Pita magnetic : Pita plastic yang dilapisi oleh serbuk magnet yang digunakan untuk menyimpan getaran listrik

    Planno Convex : Jenis lensa (lih. PC)

    Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu

    Polarity : Kemampuan maksimum dalam menangkap sumber suara

    Practical : Lampu sehari-hari atau lampu rumahan yang digunakan di atas panggung

    Preset : Pengaturan intensitas cahaya pada control desk disaat lampu dalam keadaan mati (tidak dinyalakan)

    Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan

    Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.

    Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita

    Proscenium : Bentuk panggung berbingkai

    Proscenium Arc : Lengkung atau bingkai proscenium

    Resonansi : Bergema atau bergaung

    Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif

    Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran

    Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik

    Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.

    Round Karakter : Karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya

    Scoop : Jenis lampu flood yang menggunakan reflektor ellipsoidal

    Sendi : Hubugan yang terbentuk antara dua tulang.

    Sendratari : Pertunjukan drama yang di tarikan atau gabungan seni drama dan seni tari

    Side Wing : Bagian kanan dan kiri panggung yang tersem bunyi dari penonton, biasanya digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil

    Skeneri : Dekorasi yang mendukung dan menguatkan suasana permainan

    Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran

    Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri

    Specular : Jenis refleksi yang memantulkan cahaya seperti aslinya (efek cermin)

    Snoot : Disebut juga Top Hat, piranti yang digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya

    Spherical : Jenis reflektor yang memiliki bentuk setengah lingkaran

    Spread : Jensi refleksi cahaya yang mengenai objek dengan intensitas lebih tinggi garis cahayanya akan memendar dan direfleksikan lebih panjang dari yang lain

    Stand : Pipa untuk memasang lampu yang dapat berdiri sendiri

    Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.

    Suara Nasal : Suara yang dihasilkan oleh rongga hidung karena udara beresonansi.

    Suara Oral : Suara yang dihasilkan oleh mulut

    Subtractive Mixing: Pencampuran warna cahaya yang dihasilkan dari dua filter berbeda

    Surprise : Peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.

    Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.

    Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.

    Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.

    Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.

    Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan

    Thrust : Bentuk panggung yang sepertiga bagiannya menjorok ke depan

    Timbre : Warna suara yang memberi kesan pada kata-kata yang kita ucapkan

    Tirai Besi : Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung, tirai ini diturunkan sehingga api tidak menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.

    Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis

    Trapezium : Tulang yang ada pada antara pergelangan tangan dan ibu jari tangan

    Trap Jungkit : Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.

    Wicara : Cara kita berbicara dan cara mengucapkan sebuah dialog dalam naskah lakon

    Under : (tata suara) Hasil rekaman suara yang sangat lemah

  • Drama yang berisi kisah kisah yang sedih disebut?

    Drama yang berisi kisah kisah yang sedih disebut?

    Drama yang berisi kisah kisah yang sedih disebut tragedi.

    Dalam genre ini, cerita seringkali menggambarkan penderitaan, kegagalan, atau nasib buruk dari karakter utama.

    Tragedi dapat memiliki tema-tema seperti konflik, kehilangan, penyesalan, dan ketidakadilan, dan seringkali menghasilkan emosi yang kuat pada penonton atau pembaca.

    Dalam drama tragedi, karakter-karakter utama sering mengalami nasib yang tragis atau konflik yang tak terhindarkan yang mengarah pada kehancuran mereka.

    Konflik internal dan eksternal sering kali memainkan peran penting dalam mengembangkan plot dan menghasilkan ketegangan yang tinggi.

    Kisah-kisah dalam drama tragedi bisa sangat emosional dan menggugah perasaan, membuat penonton terlibat secara mendalam dengan perjuangan dan penderitaan karakter-karakter tersebut.

    Contoh terkenal dari drama tragedi adalah “Romeo dan Juliet” karya William Shakespeare.

  • 7 Perbedaan Drama dan Teater, Serupa Tapi Tak Sama

    Drama dan teater adalah dua seni peran yang sama-sama menghibur serta cenderung memiliki nilai moral dalam praktiknya.

    Lantas, keduanya juga berisi obrolan-obrolan yang kemudian diperagakan oleh pemeran atau aktor.

    Maka, secara umum sebenarnya drama dan teater memiliki kesamaan serta keterkaitan antara satu dengan lain.

    Sehingga, tak sedikit orang yang menganggap keduanya sama saja, meski sebenarnya ada beberapa perbedaan.

    Perbedaan Drama dan Teater

    Lantas, apa saja perbedaan drama dan teater? Berikut diantaranya.

    1. Berbeda dari Segi Istilah

    Secara istilah, keduanya tentu berbeda. Drama berasal dari bahasa Bahasa Yunani yaitu dramoai yang artinya menyampaikan.

    Sementara istilah teater berasal dari Bahasa Yunani yaitu theatron yang artinya tempat melihat.

    Sementara menurut KBBI, arti drama adalah cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater.

    Sedangkan arti teater adalah gedung atau ruangan tempat pertunjukan film, sandiwara, dan sebagainya.

    2. Berbeda pada Konteks Kisah

    Melihat kedua perbedaan istilah di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

    Drama adalah pertunjukan seni gerak untuk menyampaikan kisah yang berisi dialog berdasarkan naskah.

    Sementara teater lebih luas, dimana pertunjukannya tidak selalu berdasarkan naskah dan didukung oleh beragam alat, seperti dekor, musik, dan sebagainya.

    3. Berbeda dalam Segi Cerita

    Kemudian, perbedaan teater dan drama juga bisa dilihat dari segi ceritanya.

    Teater umumnya mengangkat cerita yang bersumber dari cerita rakyat maupun cerita yang sudah pernah digarap sebelumnya.

    Sementara drama mengangkat cerita yang bersumber dari kehidupan sehari-hari.

    4. Berbeda dalam Alur Cerita

    Dalam pementasan drama, ada runtutan peristiwa yang jelas seperti konflik, klimaks, dan penyelesaian.

    Sementara dalam teater, biasanya cenderung tidak menampilkan konflik, klimaks, dan penyelesaian karena bentuknya hanya pementasan saja.

    5. Berbeda Tempat Pementasan

    Drama tidak harus dipentaskan di atas panggung, tapi juga bisa dalam kehidupan sehari-hari dan tempat lainnya.

    Sementara teater harus dipentaskan di atas panggung saja.

    6. Berbeda Interpretasi

    Dalam pementasan drama, interpretasi kisah yang diperagakan bergantung pada penafsiran audiens.

    Sedangkan dalam teater, interpretasi kisahnya ditentukan oleh penafsiran dari pemain.

    7. Berbeda Cara Menikmati

    Dalam adegan drama, penonton cenderung diajak untuk merasakan kisah yang sedang diperagakan oleh pemain.

    Sementara dalam adegan teater, penonton cenderung hanya menyaksikan serta menikmati kisah yang diperagakan.

    Nah, itulah beberapa perbedaan drama dan teater yang perlu diketahui. Jangan lupa baca artikel lainnya di sastrawacana.id/.

  • 12 Pengertian Drama Menurut Para Ahli

    12 Pengertian Drama Menurut Para Ahli

    Drama merupakan salah satu genre sastra yang memiliki keunikan karena tidak hanya dinikmati melalui bacaan, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk pertunjukan di atas panggung.

    Di dalam drama, cerita disampaikan melalui dialog, gerak, dan ekspresi tokoh-tokohnya sehingga mampu menggambarkan kehidupan manusia secara nyata dan hidup.

    Pengertian Drama Menurut Para Ahli

    Berikut ini beberapa definisi drama menurut para ahli.

    1. Budianta dkk (2002)

    Pengertian drama secara umum ialah genre sastra yang menawarkan penampilan fisik secara ekspresi setiap percakapan atau obrolan antara pemimpin di sana.

    2. E. R. Reaske (1966)

    Pengertian drama berdasarkan E. R. Reaske ialah sebuah karya sastra atau sebuah komposisi yang menggambarkan kehidupan dan acara insan dengan segala penampilan, banyak sekali tindakan dan obrolan antara sekelompok tokoh di dalamnya.

    3. Sumarjo (1984)

    Pengertian drama berdasarkan Sumarjo ialah karya sastra yang ditulis dalam bentuk obrolan dengan maksud dipertunjukkan oleh aktor.

    4. Moulton

    Pengertian drama berdasarkan Moulton ialah kisah hidup digambarkan dalam bentuk gerak serta disajikan eksklusif dalam tindakan.

    5. Balthazar Vallhagen

    Definisi drama berdasarkan Balthazar Vallhagen merupakan sebuah seni yang menggambarkan alam dan sifat insan dalam gerakan.

    6. Tambojang (1981)

    Menurut Tambojang, drama ialah dongeng yang unik yang dibentuk tidak hanya untuk dibaca saja, tetapi untuk dipertunjukkan sebagai tontonan pada para penonton.

    7. Ferdinand Brunetierre

    Arti drama berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Ferdinand Brunetierre yaitu sebuah drama harus melahirkan harapan oleh agresi atau gerakan.

    8. Wildan

    Menurut Wildan, pengertian drama ialah komposisi berdasarkan beberapa cabang seni, sehingga drama dibagi menjadi dua, yaitu drama dalam bentuk teks tertulis dan drama dipentaskan.

    9. Anne Civardi

    Pengertian drama berdasarkan pendapat dari Anne Civardi merupakan sebuah kisah yang diceritakan melalui kata-kata dan gerakan.

    10. Krauss (1999)

    Pengertian drama berdasarkan Krauss ialah suatu bentuk citra seni yang tiba dari nyanyian dan tarian ibadat Yunani kuno, yang di dalamnya dengan terang terorganisasi obrolan dramatis, sebuah konflik dan penyelesaiannya digambarkan di atas panggung)

    11. Tjahjono (1988)

    Menurut Tjahjono, drama diciptakan bukan untuk dibaca saja, namun juga harus mempunyai kemungkinan untuk dipentaskan. Drama sebagai tontonan atau pertunjukan disebut dengan istilah teater yang mempunyai sifat ephemeral, yang berarti bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama.

    12. Seni Handayani

    Drama merupakan sebuah bentuk komposisi berdasarkan dua cabang seni, seni sastra dan seni pertunjukan sehingga drama dibagi menjadi dua, yaitu drama dalam bentuk teks tertulis dan drama dipentaskan.

  • Daftar Istilah Dalam Seni Teater

    Daftar Istilah Dalam Seni Teater

    Dalam seni teater, ada beberapa istilah yang biasa digunakan oleh pemeran atau aktor. Istilah-istilah tersebut memiliki arti/makna yang sesuai dengan fungsi dalam pementasan. Nah, apa saja istilah-istilah dalam teater? Berikut diantaranya.

    Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak

    Additive Mixing : Pencampuran warna pada objek yang disinari dari dua atau lebih lampu yang berbeda

    Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan

    Aktor : orang yang melakukan akting

    Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno

    Amplifikasi : Penguatan energi listrik setelah melalui rangkaian elektronik

    Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium

    Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner

    Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara

    Aside : Dialog menyamping, atau suara hati dan pikiran tokoh

    Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan

    Audibility : Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendengaran

    Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium

    Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung

    Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh

    Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu

    Barndoor : Sirip empat sisi yang diletakkan pada lampu dan digunakan untuk mebatasi lebar sinar cahaya

    Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan

    Beats : Satu kesatuan arti terkecil dari dialog

    Belly to Belly : Dua lensa yang dipasang berhadapan dalam sebuah lampu dan jaraknya bisa diatur

    Bifocal : Lampu Bifocal adalah lampu profile standar yang ditambahi dengan shutter tambahan

    Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung

    Boom : Baris lampu yang dipasang secara vertikal

    Border : Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permainan yang digunakan

    Bracket : Pengait untuk memasang lampu pada boom. Disebut pula sebagai boom arm

    Catwalk : Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain

    Clamp : Klem atau pengait untuk memasang lampu pada bar, disebut juga sebagai C-clamp atau Hook Clamp

    Control Balance : Pengaturan tingkat kekerasan suatu sumber suara terhadap sumber suara yang lain

    Control Desk : Disebut juga Remote Control, alat untuk mengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya dari jarak jauh

    Cyc Light : Lampu flood yang dikhususkan untuk menerangi layar belakang (siklorama)

    Denotasi : Arti yang sebenarnya sesuai dengan arti yang terdapat dalam kamus

    Dialog : Percakapan para pemain.

    Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut

    Diffuse : Jenis refleksi cahaya yang memiliki pantulan merata serta panjang sinarnya sama

    Diftong : Kombinasi dua huruf vokal dan diucapkan bersamaan

    Diksi : Latihan mengeja kata dengan suara keras dan jelas

    Dimmer : Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya

    Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan

    Donut : Pelat metal yang digunakan untuk meningkatkan ketajaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu spot

    Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi

    Dramatic Irony : Aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dimana tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri

    Ekstensi : Menambah besarnya sudut antara dua bagian badan

    Eksposisi : Penggambaran awal dari sebuah lakon, berisi tentang perkenalan karakter, dan masalah yang akan digulirkan

    Elastisitas : Tingkat kekenyalan suatu objek sehingga dengan mudah bisa diterapkan atau digunakan

    Ellipsoidal : Jenis reflektor yang memiliki bentuk elips

    Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran

    Ephemeral : Sifat pertunjukan yang bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama

    ERS : Elliposoidal Reflector Spotlight. Lampu spot yang menggunakan reflektor berbentuk elips disebut juga lampu profile atau leko

    ERS Axial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang secara horisontal

    ERS Radial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang miring 45 derajat

    Farce : Seni pertunjukan yang menyerupai dagelan tetapi bukan dagelan yang seperti di Indonesia

    Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu

    Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini

    Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih

    Fleksi (flexion) : Membengkokkan suatu sendi untuk mengurangi sudut antara dua bagian badan

    Fleksibelitas : Daya lentur suatu objek / tingkat kelenturan suatu objek

    Flies : Disebut juga penutup. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya

    Floodligth : Jenis lampu yang sinar cahayanya menyebar serta tidak bisa diatur fokusnya

    Focal Point : Titik temu (pusat) pendar cahaya

    FOH : Front Of House. Bagian depan baris kursi penonton dimana di atasnya terdapat pipa baris lampu

    Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas

    Follow Spot : Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain

    Fore Shadowing : Bayang-bayang yang mendahului sebuah peristiwa yang sesungguhnya itu terjadi

    Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat

    Frequency Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum

    Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi

    Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat

    Gestus : Aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antar tokoh

    Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut

    Globe : Panggung yang tempat duduk penontonnya berkeliling, digunakan dalam pementasan teater jaman Elizabeth di Inggris

    Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya

    Groundrow : Lampu flood yang diletakkan di bawah untuk menerangi aktor atau siklorama dari bawah.

    Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya

    Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.

    Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.

    Insersio : Kearah mana otot itu berjalan atau arah jalannya otot yang bergerak.

    Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur

    Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu

    Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.

    Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran

    Karakter Teatrikal : Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.

    Kolokasi : Asosiasi kata dengan bahasa yang tidak formal, bahasa percakapan sehari-hari pada suatu tempat dan masa tertentu.

    Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya

    Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan

    Komunikan : Penerima komunikasi

    Komunikator : Penyampai kamunikasi

    Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.

    Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.

    Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerah kan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.

    Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita

    Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan

    Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi

    Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.

    Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi

    Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar

    Lever : Bilah yang dapat dinaikkan dan diturunkan yang terdapat pada control desk

    Ligamen : Jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang atau pembungkus sendi.

    Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton

    Membran : Selaput atau lapisan tipis yang sangat peka terhadap getaran

    Metacarpal : Disebut juga dengan metatarsus atau ossa metatarsalia yaitu tulang pertama dari jari

    Mime : Pertunjukan teater yang menitikberatkan pada seni ekspresi wajah pemain

    Mimetic/mimesis : 
    Peniruan atau meniru sesuatu yang ada

    Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    Mixed : Jenis refleksi cahaya yang hasilnya bercampur antara relfeksi diffuse dan specular

    Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain

    Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman

    Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan

    Orchestra Pit : Tempat para musisi orkestra bermain

    Origio : Tempat otot timbul atau tempat asal otot yang terkuat

    Pageant : Panggung kereta abad Pertengahan yang digunakan untuk mementaskan teater secara berkeliling

    Panoramic : Kesan suara yang terdengar pada telinga kiri atau telinga kanan

    Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    PAR : Parabolic Aluminized Reflector. Lampu yang menggunkan reflektor parabola terangkai dalam satu unit dengan lensanya

    Parafrase : Latihan untuk menyatakan kembali arti dialog dengan menggunakan kata-kata kita sendiri, dengan tujuan untuk membuat jelas dialog tersebut

    PC : (1) Planno Convex, jenis lensa yang permukaannya halus. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa tunggal baik lensa Planno Convex atau Pebble Convex

    Pebble Convex : Jenis lensa yang mukanya halus tapi bagian belakangnya bergerigi

    Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).

    Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.

    Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater

    Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida

    Pita magnetic : Pita plastic yang dilapisi oleh serbuk magnet yang digunakan untuk menyimpan getaran listrik

    Planno Convex : Jenis lensa (lih. PC)

    Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu

    Polarity : Kemampuan maksimum dalam menangkap sumber suara

    Practical : Lampu sehari-hari atau lampu rumahan yang digunakan di atas panggung

    Preset : Pengaturan intensitas cahaya pada control desk disaat lampu dalam keadaan mati (tidak dinyalakan)

    Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan

    Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.

    Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita

    Proscenium : Bentuk panggung berbingkai

    Proscenium Arc : Lengkung atau bingkai proscenium

    Resonansi : Bergema atau bergaung

    Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif

    Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran

    Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik

    Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.

    Round Karakter : Karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya

    Scoop : Jenis lampu flood yang menggunakan reflektor ellipsoidal

    Sendi : Hubugan yang terbentuk antara dua tulang.

    Sendratari : Pertunjukan drama yang di tarikan atau gabungan seni drama dan seni tari

    Side Wing : Bagian kanan dan kiri panggung yang tersem bunyi dari penonton, biasanya digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil

    Skeneri : Dekorasi yang mendukung dan menguatkan suasana permainan

    Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran

    Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri

    Specular : Jenis refleksi yang memantulkan cahaya seperti aslinya (efek cermin)

    Snoot : Disebut juga Top Hat, piranti yang digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya

    Spherical : Jenis reflektor yang memiliki bentuk setengah lingkaran

    Spread : Jensi refleksi cahaya yang mengenai objek dengan intensitas lebih tinggi garis cahayanya akan memendar dan direfleksikan lebih panjang dari yang lain

    Stand : Pipa untuk memasang lampu yang dapat berdiri sendiri

    Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.

    Suara Nasal : Suara yang dihasilkan oleh rongga hidung karena udara beresonansi.

    Suara Oral : Suara yang dihasilkan oleh mulut

    Subtractive Mixing: Pencampuran warna cahaya yang dihasilkan dari dua filter berbeda

    Surprise : Peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.

    Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.

    Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.

    Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.

    Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.

    Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan

    Thrust : Bentuk panggung yang sepertiga bagiannya menjorok ke depan

    Timbre : Warna suara yang memberi kesan pada kata-kata yang kita ucapkan

    Tirai Besi : Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung, tirai ini diturunkan sehingga api tidak menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.

    Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis

    Trapezium : Tulang yang ada pada antara pergelangan tangan dan ibu jari tangan

    Trap Jungkit : Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.

    Wicara : Cara kita berbicara dan cara mengucapkan sebuah dialog dalam naskah lakon

    Under : (tata suara) Hasil rekaman suara yang sangat lemah

  • Apresiasi Drama Menurut Para Ahli

    Apresiasi Drama Menurut Para Ahli

    Pengertian Drama

    Apresiasi Drama – Secara bahasa, Drama berasal dari bahasa Yunani, yaitu Draomai yang berarti ‘berbuat’ atau ‘beraksi’ dan ‘bertindak’. Dan Drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah.

    Dalam arti luas, drama bisa dikatakan sebagai bentuk seni yang menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan perilaku, tindakan, serta emosi melalui akting dan dialog berdasarkan naskah.

    Budianta, dkk (2002:95) berpendapat bahwa drama merupakan sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada.

    Pendapat ini hampir sama dengan pendapat bahwa drama merupakan karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog (Sudjiman, 1990 dalam Siswanto, 2008:163).

    Jenis-Jenis Drama

    Drama dapat dibedakan beberapa jenis berdasarkan bentuk dan isi ceritanya, yaitu sebagai berikut:

    • Opera: drama yang dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik.
    • Tragedi: drama yang penuh dengan kesedihan
    • Komedi: drama penggeli hati yang penuh dengan kelucuan.
    • Tragekomedi: perpaduan antara drama tragedi dan komedi.
    • Farce: drama yang menyerupai dagelan, tetapi tidak sepenuhnya dagelan.
    • Tablo: jenis drama yang mengutamakan gerak, para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan.
    • Melodrama: drama yang dialognya diucapkan dengan diiringi melodi/musik.
    • Sendratari: gabungan antara seni drama dan seni tari.

    Unsur Intrinsik Drama

    1. Tema

    Inti atau ide pokok yang mendasari jalan cerita dalam naskah drama. Contoh: Drama berjudul “Opera Kecoa”, maka temanya adalah tentang Sosial atau Politik.

    2. Dialog / Teks

    Dialog adalah percakapan dalam drama yang merupakan unsur penting. Sebab, dengan adanya dialog atau percakapan, maka drama dapat dilakoni secara verbal. Dialog dalam drama dibagi menjadi 3, yaitu:

    • Prolog, yaitu kata-kata pendahuluan atau pembuka dalam drama.
    • Epilog, yaitu kata-kata penutup atau kata-kata akhir dalam drama.
    • Monolog, yaitu percakapan yang dilakukan sendiri.

    3. Watak atau Penokohan

    Yaitu sifat-sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh para pemeran drama. Watak/penokohan dibagi menjadi 3, yaitu:

    • Protagonis, tokoh utama yang biasanya berperilaku baik.
    • Antagonis, penentang tokoh utama yang biasanya bersifat jahat.
    • Tritagonis, tokoh yang perannya hanya sebagai pembantu atau sampingan.

    4. Plot/Alur

    Sebuah urutan atau jalan cerita. Struktur alur cerita dalam drama adalah sebagai berikut:

    • Tahap perkenalan, yaitu perkenalan tokoh, menjelaskan tentang peristiwa yang akan terjadi.
    • Tahap konflik awal, yaitu mulai munculnya konflik atau masalah yang terjadi antara para tokoh.
    • Tahap komplikasi, yaitu konflik yang dimunculkan menjadi lebih serius.
    • Tahap klimaks, yaitu konflik yang datang mencapai titik kulminasi atau mencapai puncak tegangnya.
    • Tahap antiklimaks, yaitu konflik yang tegang tadi mulai menurun dan mereda.
    • Tahap penyelesaian, yaitu tahap terakhir yang menandakan konflik telah selesai.

    Unsur Ekstrinsik Drama

    Adapun unsur ekstrinsik dari drama adalah sebagai berikut:

    • Pimpinan produksi yang bertanggung jawab atas kelangsungan pentas drama
    • Sutradara
    • Tim Kreatif
    • Make up
    • Tata Busana / Kostum
    • Sound system
    • Konsumsi
    • Organisasi pendukung lainnya dalam pementasan suatu drama

    Jenis-Jenis Apresiasi Drama

    1. Apresiasi langsung

    Berhadapan atau interaksi secara langsung dengan karya sastra drama baik dalam bentuk teks tertulis maupun dalam bentuk pementasan.

    2. Apresiasi drama tidak langsung

    Ketika belajar teori drama, sejarah drama, kritik drama. Baik dalam sekolah, kuliah maupun belajar sendiri melalui buku maupun surat kabar dan majalah sastra.

    Tingkatan Apresiasi Drama

    Disick (dalam Herman J. Waluyo, 2002: 45) menyebutkan bahwa apresiasi berhubungan dengan sikap dan nilai. Beliau juga menyebutkan adanya empat tingkatan apresiasi, yaitu sebagai berikut:

    1. Tingkat menggemari

    Seseorang yang baru sampai pada tingkat menggemari, keterlibatan batinnya belum kuat. Dia baru terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan drama. Jika ada drama dia akan senang membaca. Jika ada acara pembacaan drama, secara langsung atau berupa siaran tunda di televisi, ia akan menyediakan waktu untuk menontonnya.

    2. Tingkat menikmati

    Keterlibatan batin pembaca terhadap drama sudah semakin mendalam. Pemirsa akan ikut sedih, terharu, bahagia, dan sebagainya ketika melihat drama mampu menikmati keindahan yang ada dalam drama itu secara kritis.

    3. Tingkat mereaksi

    Sikap kritis terhadap drama lebih menonjol karena ia telah mampu menafsirkan dan mampu menilai baik-buruknya sebuah drama. Penafsiran drama mampu menyatakan pemahaman drama dan menunjukkan di mana letak pemahaman tersebut. Demikian juga, jika seseorang dalam mengapresiasi dapat menyatakan kekurangan suatu drama, orang tersebut akan mampu menunjukkan di mana letak kekurangan tersebut.

    4. Tingkat produktif

    Apresiator drama mampu menghasilkan, mengkritik, dan membuat resensi terhadap sebuah drama secara tertulis. Dengan kata lain, ada produk yang dihasilkan oleh seseorang yang berkaitan dengan drama.

    Cara Mengapresiasi Sastra

    1. Apresiasi Sastra Secara Reseptif

    Dalam apresiasi sastra, drama dapat diapresiasikan secara reseptif. Apresiasi drama secara reseptif dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan, dan menyaksikan pementasan drama

    2. Apresiasi Sastra Secara Produktif

    Dalam apresiasi sastra, drama dapat diapresiasikan secara produktif. Apresiasi drama secara produktif dapat dilakukan dengan cara membuat naskah drama.

    Nah, begitulah penjelasan tentang apresiasi drama secara lengkap. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di Sastrawacana.

  • Apa itu Teater? Ini Penjelasan Lengkapnya

    Pengertian teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafsiran, penggarapan, penyajian atau pementasan.  Di mana, sebuah teks drama akan ditampilkan ke dalam sebuah karya dalam panggung.

    Teater berasal dari kata theatron yang diturunkan dari kata theaomai (bahasa yunani) yang artinya takjub melihat atau memandang.

    Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis.

    Sedangkan teater dalam arti luas adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak, contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.

    Arti Drama

    Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak  Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

    Arti Teater

    Secara etimologis: Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.

    Dalam arti luas: Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak.

    Dalam arti sempit: Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas.

    Akting yang Baik

    Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak. Dialog yang baik ialah dialog yang terdengar (volume baik), jelas (artikulasi baik), dimengerti (lafal benar), menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah).

    Penjelasan :

    Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar oleh penonton secara jelas. Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata harus terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali.

    Jangan sampai kata-kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih. Lafalkanlah yang benar sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang berlaku. Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah.