Tag: Dunia Kerja

  • BPVP Banyuwangi Jadi Ruang Tumbuh Keterampilan di Tengah Tantangan Dunia Kerja

    BPVP Banyuwangi Jadi Ruang Tumbuh Keterampilan di Tengah Tantangan Dunia Kerja

    Di tengah tantangan dunia kerja yang terus berkembang, kehadiran Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) menjadi bukti nyata bahwa negara hadir dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

    Melalui berbagai program pelatihan berbasis kompetensi, BPVP memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan, memperluas peluang kerja, hingga membangun kemandirian ekonomi.

    BPVP sendiri merupakan unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia yang berfokus pada pengembangan keterampilan tenaga kerja dan peningkatan produktivitas masyarakat.

    Salah satunya BPVP Banyuwangi yang terus aktif menghadirkan berbagai pelatihan sesuai kebutuhan dunia industri dan usaha saat ini.

    Beragam pelatihan diberikan mulai dari bidang teknologi, otomotif, desain, tata boga, hingga kewirausahaan.

    Peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung agar lebih siap memasuki dunia kerja maupun membangun usaha mandiri.

    BPVP Banyuwangi juga terus mendorong penguatan kolaborasi dan sinergi dengan berbagai elemen masyarakat agar program pelatihan yang dijalankan semakin tepat sasaran dan mampu memberikan manfaat nyata.

    Sub Koordinator Bidang Pengukuran Peningkatan Produktivitas dan Pemantauan Pelatihan Vokasi BPVP Banyuwangi, Eko Wahyu Prasetyo, S.Pd., saat ditemui praktisi digital dan literasi Maulana Affandi, S.S., menyampaikan bahwa BPVP Banyuwangi terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak guna memperluas manfaat pelatihan kepada masyarakat.

    “BPVP Banyuwangi pada prinsipnya siap bersinergi dengan berbagai elemen masyarakat, komunitas, lembaga pendidikan maupun pemerintah daerah agar pelatihan yang diberikan benar-benar berdampak dan sesuai kebutuhan dunia kerja saat ini,” ujarnya saat ditemui pada Senin (11/5).

    Tak hanya itu, pelayanan BPVP Banyuwangi juga mendapat apresiasi positif karena dinilai terbuka dan responsif dalam menerima masyarakat yang ingin berkonsultasi maupun mengajukan program pelatihan.

    Salah satunya melalui petugas yang menangani proposal serta permohonan pelatihan TMT (Tailor Made Training), Puri Wulandari, S.Psi., yang aktif memberikan penjelasan terkait program-program yang dapat dijalankan dan disinergikan dengan kebutuhan masyarakat maupun komunitas.

    Ketua Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima yang juga aktif di Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), Aguk Wahyu Nuryadi, menilai program pelatihan BPVP menjadi salah satu solusi penting di tengah ketatnya persaingan kerja dan meningkatnya angka PHK.

    “Saat persaingan lapangan kerja semakin ketat hingga banyak terjadi PHK, maka keterampilan melalui pelatihan BPVP yang bersertifikat bisa menjadi salah satu solusi untuk memperoleh penghasilan demi menghidupi keluarga. Negara hadir melalui program BPVP Kemenaker, baik yang dilaksanakan di kantor maupun melalui TMT yang bisa dilakukan di balai desa, aula yayasan hingga gazebo komunitas sebagai ruang akses yang dapat dimanfaatkan semua kalangan,” ujarnya.

    Menurutnya, BPVP juga membuka ruang kesetaraan bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas maupun lulusan Paket PKBM agar memiliki kesempatan yang sama dalam meningkatkan keterampilan.

    “Harapannya tentu lahir para pengusaha baru yang mampu membuka lapangan pekerjaan. Karena amal tidak hanya dilakukan di tempat ibadah atau kepada dhuafa saja, tetapi membuka lapangan pekerjaan juga merupakan amal ibadah yang luar biasa,” tambahnya.

    Dengan pendekatan yang terbuka dan kolaboratif tersebut, BPVP Banyuwangi diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak peningkatan kualitas SDM sekaligus memperluas akses pelatihan kerja yang lebih merata bagi masyarakat.

  • Riset Terbaru: Banyak Pekerja Mudah Ogah Menerima Promosi Jabatan, Ini Alasannya

    Riset Terbaru: Banyak Pekerja Mudah Ogah Menerima Promosi Jabatan, Ini Alasannya

    sastrawacana.id/ – Dulu, tawaran naik jabatan adalah tiket emas yang dikejar semua orang. Namun di awal 2026, tren tersebut resmi berbalik.

    Alih-alih merasa bangga, banyak pekerja muda justru merasa “ngeri” saat disodori promosi, memilih untuk tetap di posisi staf demi menyelamatkan kesehatan mental dan waktu tidur mereka.

    Fenomena yang disebut “Quiet Ambition” ini bukan sekadar malas gerak, melainkan pergeseran nilai besar-besaran di mana waktu luang kini dianggap lebih mewah daripada sekadar gelar di kartu nama.

    Baca juga: 5 Fakta Tren De-influencing 2026: Saat Netizen Mulai Bosan Dipaksa Belanja oleh Konten Viral!

    Pergeseran sosiologis ini pun bukan tanpa dasar. Berikut adalah 5 fakta di balik fenomena Quiet Ambition yang kini tengah marak terjadi:

    1. Hanya 38% Karyawan yang Mengincar Jabatan Manajer

    Berdasarkan riset terbaru dari Visier, sebuah perusahaan analisis tenaga kerja global, ditemukan bahwa hanya sekitar 38% karyawan yang saat ini memiliki ketertarikan untuk naik ke level manajemen.

    Mayoritas responden menyatakan lebih memilih untuk tetap menjadi kontributor individu.

    Riset ini mengonfirmasi bahwa ambisi untuk memimpin tim bukan lagi menjadi prioritas utama bagi sebagian besar pekerja di tahun 2026.

    2. Beban Psikologis “Middle Management” yang Berat

    Laporan dari Deloitte Gen Z and Millennial Survey menyoroti bahwa posisi manajer menengah (middle management) kini dianggap sebagai posisi paling rentan terhadap stres.

    Mereka terjepit di antara tekanan performa dari jajaran eksekutif dan tuntutan kesejahteraan dari staf di bawahnya.

    Ketidakseimbangan antara beban kerja dan tanggung jawab emosional ini membuat banyak pekerja muda memandang promosi sebagai beban, bukan penghargaan.

    3. Prioritas Fleksibilitas di Atas Otoritas

    Data dari LinkedIn Workplace Learning Report menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam bekerja.

    Karyawan saat ini lebih menghargai fleksibilitas waktu dan otonomi kerja daripada otoritas formal atau kekuasaan untuk memerintah.

    Di tahun 2026, kemampuan untuk mengatur jadwal kerja sendiri dianggap sebagai “kemewahan baru” yang sering kali hilang ketika seseorang naik ke jabatan manajerial yang menuntut ketersediaan waktu lebih banyak.

    4. Kesenjangan Kompensasi yang Tidak Sebanding

    Ditemukan fakta di lapangan bahwa kenaikan gaji (pay raise) untuk promosi jabatan sering kali tidak sebanding dengan peningkatan volume kerja.

    Analisis ekonomi tenaga kerja menunjukkan bahwa setelah pajak dan peningkatan biaya gaya hidup manajerial, kenaikan pendapatan riil sering kali tidak signifikan.

    Hal ini mendorong pekerja untuk lebih memilih fokus pada side hustle atau pengembangan skill spesifik yang memiliki nilai pasar tinggi tanpa harus terikat tanggung jawab manajerial.

    5. Krisis Kepemimpinan di Masa Depan

    Fenomena ini memicu kekhawatiran serius di kalangan praktisi HR. Jika talenta terbaik terus menolak promosi, perusahaan akan menghadapi krisis kepemimpinan di masa depan.

    Perusahaan-perusahaan besar kini mulai dipaksa untuk merombak struktur organisasi mereka, menciptakan jalur karier “pakar” (expert track) yang memungkinkan karyawan naik gaji tanpa harus menjadi manajer, demi mempertahankan talenta terbaik mereka.

    Fenomena Quiet Ambition di tahun 2026 ini memberikan pesan kuat bahwa kesehatan mental dan waktu luang kini memiliki nilai tawar yang lebih tinggi dibanding gelar jabatan.

    Bagaimana dengan kamu, apakah masih mengejar kursi manajer, atau lebih memilih hidup tenang sebagai staf ahli?