Tag: FKKS

  • Wujudkan Desa Sehat, Karangrejo Gelar Rapat Evaluasi dan Penyusunan RKPDes

    Wujudkan Desa Sehat, Karangrejo Gelar Rapat Evaluasi dan Penyusunan RKPDes

    Pemerintah Desa Karangrejo bersama jajaran terkait menggelar rapat koordinasi dan evaluasi kinerja Pokja Desa Sehat serta Rumah Desa Sehat (RDS) pada Rabu (10/9).

    Pertemuan ini dihadiri Kepala Desa Karangrejo Subandriyo, Sekretaris Desa Abdul Haris, Kepala Puskesmas Blimbingsari Indah Swartiningtyas, SST, Bd, M.Kes, perwakilan Forum Banyuwangi Sehat (FBS) Bung Aguk, dan Kasie PMK Kecamatan Blimbingsari Abdul Aziz, S.H., M.H.

    Agenda utama rapat adalah penyusunan program kegiatan tahun 2026 dengan fokus pada pemberdayaan perempuan, anak, serta peningkatan kesehatan masyarakat.

    Kepala Desa Karangrejo Subandriyo dalam sambutannya menegaskan bahwa evaluasi merupakan bagian penting dari setiap program dan menekankan perlunya kolaborasi antar pihak agar setiap kegiatan dapat terselesaikan dengan baik.

    “Kita harus kerja cepat, cerdas, dan tanggap. Setiap tim wajib memahami fungsi dan tugasnya masing-masing. Kolaborasi antar pihak tidak boleh berhenti supaya semua kegiatan bisa terselesaikan dengan baik,” ujar Subandriyo.

    Evaluasi kinerja Pokja Desa Sehat Kecamatan Blimbingsari

    Sementara itu, Aziz Kasi PMK Kecamatan Blimbingsari menjelaskan bahwa RDS (Rumah Desa Sehat) merupakan wadah berkumpulnya seluruh pelaku kesehatan desa sekaligus tempat Koordinasi dan evaluasi berbagai program Kesehatan serta Penyusunan Program Kegiatan untuk Tahun selanjutnya.

    Ia mengimbau agar rapat koordinasi dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan sekali.

    Beberapa aspek yang menjadi perhatian Pokja Desa Sehat antara lain penyelenggaraan pasar rakyat sehat, penataan lingkungan bebas sampah dan semak belukar, kerja bakti membersihkan parit dan selokan, serta kegiatan senam bersama.

    “RDS ini wadah strategis untuk membicarakan masalah kesehatan desa. Jadi rapat semacam ini dilakukan setiap tiga bulan sekali agar capaian lebih terukur. Kita bisa fokus pada kegiatan nyata, seperti penataan lingkungan bebas sampah, kerja bakti membersihkan parit, dan juga senam bersama,” jelas Aziz.

    Narasumber berikutnya, Bung Aguk, memberikan arahan terkait kendala kesehatan di tingkat desa. Ia menekankan pentingnya komunikasi langsung dari pelaku lapangan agar setiap permasalahan dapat segera dicarikan solusi.

    Disampaikan pula bahwa identitas kader seperti seragam, rompi, atau pin diperlukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa tanggung jawab.

    Tak hanya itu, Bung Aguk juga menyoroti kendala yang masih dihadapi dalam pelayanan kesehatan di tingkat desa. Ia menekankan pentingnya komunikasi langsung antara kader lapangan dengan pihak desa.

    “Kalau ada masalah di lapangan, jangan menunggu. Segera sampaikan agar bisa cepat dicari solusinya,” papar Bung Aguk.

    Kepala Puskesmas Blimbingsari, Indah, menekankan bahwa program desa sehat bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Ia mengungkapkan adanya peningkatan kasus gangguan mental di masyarakat sehingga puskesmas menyediakan layanan dan obat-obatan untuk penanganannya.

    Ia juga menyoroti prestasi Kecamatan Blimbingsari yang berhasil mempertahankan status zero stunting dan zero AKI.

    Selain itu, Indah memperkenalkan program baru PERMATA HATI berupa layanan persalinan rawat jalan yang dapat diakses 24 jam.

    Bagi pemilik BPJS layanan ini gratis, sementara masyarakat tanpa BPJS bisa mengajukan bantuan melalui aplikasi SIKS-NG dengan pendampingan operator desa.

    “Kesehatan mental sama pentingnya dengan fisik. Kami sudah menyiapkan layanan serta obat-obatan untuk masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, Blimbingsari berhasil mempertahankan status zero stunting, ini prestasi yang harus kita jaga bersama,” ujar Indah.

    Sekretaris Desa Abdul Haris menutup rapat dengan menyampaikan komitmennya untuk terus memperhatikan kesejahteraan kader desa.

    Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah mengajak kader berwisata sambil belajar mengenai lingkungan sehat.

    Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Desa Karangrejo bersama pihak terkait berharap dapat memperkuat sinergi dan menghadirkan program yang lebih efektif untuk mewujudkan masyarakat desa yang sehat, baik jasmani maupun rohani.

  • Banyuwangi Ikuti Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional

    Banyuwangi Ikuti Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional

    Banyuwangi kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman.

    Pada Senin, 11 Agustus 2025, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan inovasi pada sembilan tatanan Kabupaten Sehat dalam agenda verifikasi lanjutan tingkat nasional.

    Kegiatan ini berlangsung secara daring dari Aula Rempeg Jagapati Pemkab Banyuwangi.

    Dalam kesempatan tersebut, Bupati Ipuk didampingi oleh Wakil Bupati Mujiono, Sekretaris Daerah Guntur Priambodo, Asisten MY Bramudya, Kepala Bappeda Yayan TW, serta jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah.

    Turut hadir pula Ketua Forum Banyuwangi Sehat Soekarjo beserta jajaran, perwakilan Forum Kabupaten/Kota Sehat (FKKS) Frida, Camat Kota Banyuwangi Hartono, Ketua TP PKK Anna Nazili Hanim, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya yang berperan dalam pengembangan Kabupaten Sehat.

    Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional
    Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam pemaparannya, Bupati Ipuk menyoroti berbagai inovasi dan prestasi yang telah dicapai Banyuwangi pada masing-masing tatanan.

    Ia juga memaparkan penghargaan yang telah diraih, mulai dari tingkat nasional hingga pengakuan internasional seperti status Geopark.

    Semua pencapaian tersebut menjadi pertimbangan penting agar Banyuwangi kembali memperoleh penghargaan Swasti Sabha Wistara.

    Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi antarinstansi dan kolaborasi berbagai pihak yang terus bekerja melayani masyarakat.

    Agenda verifikasi lanjutan ini dimoderatori oleh perwakilan Kementerian Kesehatan RI, Anugerah, yang memberikan kesempatan kepada Dirjen untuk menyampaikan sambutan.

    Tim verifikator nasional kemudian memberikan catatan, masukan, dan permintaan data tambahan yang berkaitan dengan dokumen yang telah dikirim serta dinilai oleh pembina KKS Provinsi Jawa Timur.

    Tidak semua kota atau kabupaten lolos ke tahap verifikasi lanjutan. Bagi yang terpilih, tim nasional juga berpeluang melakukan tinjauan langsung ke lapangan untuk memastikan kesesuaian antara dokumen dan kondisi nyata.

    Asisten MY Bramudya dalam sambutannya menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan semata-mata untuk memperoleh penghargaan atau trofi.

    Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional

    Hal yang lebih penting adalah memastikan Banyuwangi tetap menjadi daerah yang bersih, nyaman, dan sehat, baik bagi warganya maupun bagi para tamu yang datang berkunjung.

    Sebagai tindak lanjut, seluruh catatan dari tim verifikasi nasional akan segera ditindaklanjuti.

    Dalam waktu maksimal 2 x 24 jam, data tambahan dan dokumen yang diminta akan disiapkan oleh SKPD terkait sesuai dengan sembilan tatanan Kabupaten Sehat.

    Penulis: Bung Aguk

    Editor: Maulana Affandi

  • Dari Camat Rogojampi hingga Kabat, Dukungan Terus Mengalir untuk Banyuwangi Menuju Kabupaten Sehat

    Dari Camat Rogojampi hingga Kabat, Dukungan Terus Mengalir untuk Banyuwangi Menuju Kabupaten Sehat

    Ikhtiar Forum Banyuwangi Sehat (FBS) untuk menyukseskan Swasti Sabha Wistara terus digencarkan. Selama bulan Mei hingga Juni 2025, FBS melakukan kunjungan langsung ke 25 Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS), termasuk di antaranya ke Pendopo Kecamatan Rogojampi pada Selasa, (17/06/25).

    Kegiatan ini dihadiri oleh Muspika, Puskesmas, UPTD seperti Satkordikwilcam, para Kepala SMPN, Sekretaris Desa, serta kader PKK dan Pokja Desa Sehat.

    “Kami siap mendukung semangat OPD yang dipimpin oleh Kepala Bappeda serta membersamai 217 kepala desa dan lurah agar Kabupaten Banyuwangi tercinta kembali meraih Swasti Sabha Wistara ke Bumi Blambangan. Kita layak mendapatkannya karena berbagai inovasi dan prestasi yang telah dicapai, termasuk menjadi tujuan studi tiru dari berbagai daerah lain,” tekad Plt. Camat Rogojampi Edy Basuki, SE.

    Ia menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen menjaga pengelolaan IPAL Pasar, mengajak masyarakat mendukung program pengelolaan sampah “Banyuwangi Hijau”, serta meningkatkan pelayanan di semua sektor, terutama dalam pemenuhan 9 tatanan FBS.

    Camat Edy juga menggagas inovasi bersama Penerbit Lintang Kedaleman untuk menyambut Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) 2025 dengan menerbitkan buku berisi sejarah, adat istiadat, toponimi, serta potensi tematik dari 10 desa di wilayahnya.

    Sementara itu, Kepala Puskesmas Gitik, drg. A.I. Nurul, menyampaikan bahwa seluruh desa di wilayahnya telah aktif bergerak dan membangun sinergi yang baik.

    “Kami melihat perlunya tim khusus yang menangani dokumentasi dan pengarsipan. Dengan begitu, saat monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan, tersedia bukti nyata atas gerakan yang telah dilaksanakan oleh semua pihak,” ujarnya.

    Ia juga menyambut baik kehadiran FKKS dalam kegiatan di sekolah atau posyandu sebagai bentuk kolaborasi yang memperkuat implementasi program.

    Pernyataan tersebut disambut antusias oleh Ketua FKKS Rogojampi, Drs. Yaseni, M.Pd., yang juga aktif di PMI dan menjadi pelatih senam LTK.

    Hal senada diungkapkan Ketua FKKS Kecamatan Kabat, Yayuk Puji Rahayu, dalam rapat koordinasi di Balai Desa Pondoknongko usai menerima bimbingan teknis (bimtek) dari tim FBS: Bung Aguk Wahyu Nuryadi, Dewi Anggorowati, dan Qoriatul Adawiyah.

    “Kami bersama para kepala desa akan menggiatkan kaderisasi dan kolaborasi lintas program agar memiliki data dan fakta yang valid. Ini penting sebagai rujukan dalam menyusun program dan sebagai dasar pengambilan kebijakan yang tepat. Kami juga berharap semua pihak memahami bahwa kehadiran FBS dan FKKS ke kecamatan atau desa bukan dalam rangka pemeriksaan, tetapi sebagai upaya pembinaan,” jelas aktivis lingkungan yang juga aktif di PKK tersebut.

    Harapan serupa datang dari pelaku seni dan adat tradisi, Agus Hermawan, S.Sos., NL.P., yang kini menjabat Kepala Desa Tambong.

    Ia mendorong agar seluruh SKPD yang memiliki keterkaitan dengan program kesehatan dan pendidikan duduk bersama menyusun petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang dapat dituangkan dalam Peraturan Bupati (Perbup).

    “Dengan adanya juklak-juknis yang jelas, tidak terjadi tumpang tindih program di lapangan, dan kader tidak perlu merangkap terlalu banyak tugas. Untuk sarana prasarana dan infrastruktur, penting juga dilakukan koordinasi dengan desa agar benar-benar sesuai kebutuhan dan mendukung terciptanya Desa Sehat yang harmonis dengan kearifan lokal,” tegasnya.

    Ia juga menyebut pentingnya pembangunan MCK umum dengan sistem pengairan yang baik sebagai upaya mengikis budaya buang air besar di sungai, walaupun masyarakat sudah memiliki toilet pribadi di rumah masing-masing.

    Sementara itu, Plt. Camat Kabat, Teddy Radiansyah, S.STP, yang hadir didampingi Kapolsek dan Danramil, berpesan kepada para kepala desa untuk melakukan penyegaran Surat Keputusan (SK) serta membenahi sekretariat Pokja Desa Sehat, menyesuaikan dengan hasil bimtek yang dilakukan di ruang Pokja Desa Sehat Pondoknongko pada hari yang sama.

    Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga predikat Kabat sebagai wilayah 100 persen Open Defecation Free (ODF), yang menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian Kabupaten Sehat.

  • Bimtek Pokja Desa Sehat Digelar di Srono dan Cluring, Camat Tekankan Pentingnya Dokumentasi dan Sinergi

    Bimtek Pokja Desa Sehat Digelar di Srono dan Cluring, Camat Tekankan Pentingnya Dokumentasi dan Sinergi

    Camat Srono yang sekaligus menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Camat Cluring, Ir. Tri Wahyu Angembani secara resmi membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Kelembagaan Pokja Desa Sehat pada Kamis (12/06/2025).

    Kegiatan ini dilaksanakan di dua lokasi, yakni pagi hari di aula Kecamatan Srono dan siangnya di Kecamatan Cluring, dengan menghadirkan fasilitator dari Forum Banyuwangi Sehat (FBS).

    Dalam sambutannya, Ir. Tri Wahyu Angembani menyampaikan bahwa pada dasarnya seluruh program desa sehat telah berjalan dengan baik.

    Para aparat dan kader sudah aktif bergerak. Namun, ia menekankan perlunya peningkatan dalam hal dokumentasi dan pengarsipan yang seringkali belum dilakukan secara rapi dan terstruktur sesuai timeline.

    “Mung kadang luput didokumentasikan dengan timeline dan pengarsipan ndak rapi. Dan sebagai gerakan boleh dapat partisipasi CSR atau sumbangan tak mengikat yang bila bentuk makanan atau barang hendaknya dicatat dalam nilai rupiah!” tutur sosok perempuan energik yang juga dikenal sebagai ahli investasi dan penanaman modal. Ia merupakan teman semasa SMPP ’86 dari Wakil Bupati Ir. H. Mujiono, M.Si.

    Pejabat yang akan memasuki masa purna tugas di akhir tahun ini juga berharap agar seluruh pemangku kepentingan di bidang kesehatan desa dapat mengikuti bimtek ini secara seksama.

    Hal ini bertujuan agar masing-masing desa mampu mengirimkan data yang valid serta melakukan sinkronisasi program dengan semangat kolaborasi.

    Ia pun mengimbau agar para peserta membawa laptop untuk mendukung proses pelatihan yang lebih efektif.

    Ia menambahkan, apabila Banyuwangi berhasil meraih penghargaan Swasti Saba Wistara, hal tersebut tentu akan berdampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan, minat investor dalam menanamkan modal, serta mewujudkan masyarakat yang sentosa.

    Dari pihak Forum Banyuwangi Sehat (FBS), Desika Ulfarisa menjelaskan bahwa inti dari kelembagaan Pokja Desa Sehat mencakup lima hal utama, yakni Surat Keputusan (SK) pengurus, program kerja, laporan keuangan, sekretariat tetap, dan dokumentasi kegiatan.

    Penjelasan tersebut dilengkapi oleh Pipit Haryono yang turut membagikan link drive berisi panduan teknis, didampingi oleh Forum Komunikasi Kecamatan Sehat: M. Harun di Kecamatan Srono dan Imam di Kecamatan Cluring.

    Ditekankan bahwa pada bulan depan, laporan setengah semester tahun 2025 diharapkan sudah dapat disusun secara mandiri oleh masing-masing desa dengan mengedepankan kearifan lokal.

    Dari divisi TP PKK yang tergabung dalam FBS, Dewi Anggorowati menjelaskan bahwa penilaian Kabupaten Sehat meliputi sembilan tatanan, ditambah aspek kelembagaan yang kini menjadi perhatian utama.

    “Mari semangat tanpa perlu dioprak dengan injuri time, sudah bisa dicicil sesuai data dan fakta!” harapnya di hadapan peserta yang terdiri dari Kasie Kesra, Pokja Desa Sehat, kader PKK, Posyandu, dan KPM Rumah Desa Sehat.

    Ia juga mengingatkan agar sepulang dari Bimtek, seluruh peserta segera melakukan koordinasi dengan bagian perencanaan, sekretaris desa, serta pemangku kepentingan di bidang kesehatan guna menindaklanjuti materi yang telah diterima.

    Dalam sesi diskusi, terungkap berbagai keluhan dan kebingungan yang sering ditemui di lapangan.

    Namun, peserta mengaku merasa lebih lega dan tercerahkan setelah mengikuti bimtek, karena pada dasarnya sebagian besar program dan kegiatan tersebut telah dijalankan.

    Melalui pelatihan ini, terbentuk kesamaan persepsi mengenai tujuan bersama yaitu mewujudkan masyarakat yang sehat, sejahtera, aman, asri, bersih, dan bahagia.

    Kehangatan dan antusiasme peserta turut terlihat dari senyuman Kasie PMK Kecamatan Srono, Imam Basori, dan Kasie PMK Kecamatan Cluring, Arif, yang juga hadir sebagai penasehat bersama Sekretaris Camat.

    Sementara itu, PLKB Cluring, Syaiful Bahri yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Forum Komunikasi Kesehatan Sekolah (FKKS) di Sempu, menyampaikan bahwa mulai tahun ini diharapkan adanya dokumen valid yang dapat menjadi acuan utama bagi para pengambil kebijakan.

    Ia mengakui bahwa proses pembelajaran terkadang terasa tumpang tindih, namun menjadi lebih ringan dan menyenangkan karena dijalani bersama dengan semangat gotong royong untuk kepentingan bersama, sesuai amanat dan tanggung jawab masing-masing pihak.

  • Kolaborasi Pokja dan Rumah Desa Sehat di Blimbingsari Hadirkan Sinergi Baru bagi Pembangunan Kesehatan Masyarakat

    Kolaborasi Pokja dan Rumah Desa Sehat di Blimbingsari Hadirkan Sinergi Baru bagi Pembangunan Kesehatan Masyarakat

    Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Blimbingsari mempertemukan dua lembaga yang sama penting dan berbasis pada tema kesehatan, namun di lapangan terasa berjalan sendiri-sendiri.

    Kedua lembaga tersebut adalah Pokja Desa Sehat yang dimotori oleh Kementerian Kesehatan dan Bappenas, serta Rumah Desa Sehat (RDS) yang diinisiasi oleh Kementerian Desa.

    Keduanya juga memiliki regulasi bersama dari Kementerian Dalam Negeri yang melibatkan Gubernur, Bupati/Wali Kota, serta Camat, dengan sasaran yang sama yaitu melibatkan Kepala Desa dan masyarakat.

    Di lapangan, terdapat pihak-pihak lain yang juga bergerak dalam bidang yang sama, seperti PKK (khususnya Pokja IV PKK) serta Bidan Wilayah/Bidan Desa dari Puskesmas, sehingga terkadang tumpang tindih dan terkesan ego-sentris.

    Bertempat di Balai Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, telah dilaksanakan serangkaian sosialisasi pembangunan sumber daya manusia dan lingkungan yang menghadirkan pengurus PKK, Pokja Desa Sehat, serta kader RDS dari 10 desa.

    Plt. Camat Blimbingsari, H. Khoirul Anam, dalam sambutannya menyampaikan betapa pentingnya kolaborasi dan komunikasi antar pemerintahan desa untuk pengembangan sumber daya manusia.

    “Kolaborasi dan komunikasi antar pemerintahan desa di tingkat desa sangat menyokong tumbuh kembangnya pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya. Untuk itu, diharapkan kader desa dapat menjadi jembatan antar program pemerintah yang sesungguhnya saling mendukung untuk kepentingan desa itu sendiri, yang misinya adalah masyarakat sehat, nyaman, aman, sejahtera, dan bahagia!” tuturnya.

    Ia juga berpesan agar semua pihak menjaga kebersihan lingkungan, termasuk mengawasi MCK di sungai karena Kabupaten Banyuwangi telah mendeklarasikan 100% ODF (Open Defecation Free).

    Plt. Camat yang kini menempati kantor baru di kawasan Pantai Pecemengan ini juga menyampaikan sejumlah prestasi tematik desa-desa di Kecamatan Blimbingsari.

    Di antaranya Desa Sukojati sebagai Desa Anti Korupsi, Desa Patoman sebagai Desa/Kampung Pancasila dan Kampung Kebangsaan, Gintangan yang akan menerima tamu studi banding UMKM kerajinan bambu dan gula kelapa, serta Desa Karangrejo yang baru saja menjuarai lomba Perpustakaan Desa dan Rumah Desa Sehat.

    “Dan Desa Bomo sendiri maju ke tingkat nasional atas kinerja zero stunting. Mohon doa restunya!” tambahnya seraya disambut tepuk tangan para hadirin.

    Sementara itu, Kepala Desa Bomo, Ir. M. Sutikno, dalam sambutan selamat datangnya juga mendoakan agar H. Khoirul Anam dapat segera menjadi Camat definitif karena simpati dan kinerjanya yang baik.

    Sekretaris FKKS Blimbingsari yang juga Kasie PMK Kecamatan Blimbingsari, Abdul Aziz, S.H., M.H., selaku moderator mempersilakan narasumber pertama, Aguk Wahyu Nuryadi dari Forum Banyuwangi Sehat.

    Ia mengapresiasi pertemuan yang mempertemukan Forum Banyuwangi Sehat (FBS) dengan DPMD Kabupaten Banyuwangi yang selama ini memiliki program RDS yang masih dipertanyakan di semua kecamatan.

    Kini, telah ditemukan titik temu yang bisa menjadi inspirasi bagi kecamatan lainnya.

    Narasumber kedua, Novita Eka Herawati, S.AP., Fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat Bidang Pemberdayaan Kelembagaan Masyarakat dan Sosial Budaya DPMD, dalam paparannya menyampaikan bahwa Rumah Desa Sehat merupakan rumah bersama semua kelembagaan kesehatan dan menjadi pintu untuk mengumpulkan data, dokumen, hingga menjadi sarana advokasi yang menjadi rekomendasi bagi pemegang kebijakan dalam mengambil keputusan.

    “Semua penting dan semua harus dirangkul dengan semangat gotong royong. Saat banyak FKKS dan Pokja Desa Sehat bertanya soal isian data FBS, saya menghubungi kader RDS untuk sinergi. Maka camat bisa tenang saat ada forum di Bappeda. Saya juga menunggu undangan dari camat atau FKKS soal kolaborasi ini. Baru Blimbingsari yang mengawali langkah untuk duduk bersama menyamakan persepsi dan mimpi bersama ini!” tutur.

    KTU Puskesmas, Tuti Lestari A. Jd. Keb., juga menyambut baik pertemuan ini.

    “Maka narasi dan potret timeline bidan desa bisa digunakan untuk mendukung Pokja dan RDS. Kita bisa bersama-sama dalam satu rumah, satu WAG, untuk membuat data tunggal yang nantinya akan dipilah oleh pengurus harian RDS. Mereka punya komputer dan printer, lalu data akan diolah oleh Kasie PMK Kecamatan ataupun pengurus FKKS,” tutur pembina RDS Desa Karangrejo yang siap melangkah ke tingkat provinsi.

    Selesai dialog, peserta masih melanjutkan diskusi. Harapan moderator, kegiatan ini tidak hanya berhenti di administratif saja, tetapi juga bisa berjalan sesuai harapan dalam pelaksanaannya di lapangan.

    Sementara itu, Camat bersama Kepala Desa dan BPD Bomo melakukan kunjungan dan memberikan tali asih kepada warga Dusun Kedunen yang semalam tertimpa musibah kebakaran.

  • FKKS Srono Perkuat Relawan Sehat dan Ajak Generasi Muda Berperan Aktif

    FKKS Srono Perkuat Relawan Sehat dan Ajak Generasi Muda Berperan Aktif

    Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Srono memperkuat kelembagaan dengan melakukan penyegaran pengurus dan merekrut kader generasi muda sebagai relawan di Pokja Desa Sehat.

    Langkah ini diputuskan dalam pertemuan dengan Forum Banyuwangi Sehat (FBS) yang digelar di Balai Desa Sukonatar, Kecamatan Srono, pada Jumat (18/10).

    Dewi Anggorowati, perwakilan dari Forum Banyuwangi Sehat menyampaikan pentingnya mendokumentasikan serta memberi narasi kegiatan sesuai tupoksi yang ada.

    Dalam paparannya, ia menjelaskan 9 tatanan kabupaten sehat, yang menjadi pedoman FKKS dan Pokja Sehat dalam menjalankan program.

    “Setelah ini, silakan laporkan hasil rembuk ini kepada kepala desa agar segera ditindaklanjuti,” ujar Dewi, yang juga merupakan pengurus TP PKK Banyuwangi.

    Menindaklanjuti paparan tersebut, Sekretaris Camat Srono, Suryatik S, SE, serta Kasie PMD Imam Basori, S.Sos, mengimbau kepada sekretaris desa dan kesra di masing-masing desa untuk segera membuat SK pengurus Pokja Sehat yang baru, mengingat masa bakti pengurus saat ini segera berakhir.

    Menurut mereka, pengurus baru harus mencakup perwakilan ASN atau perangkat desa, serta melibatkan tokoh masyarakat, LSM peduli lingkungan dan kesehatan, aktivis pemuda, serta mahasiswa.

    Ketua FKKS Srono, Drs. Heri Suprianto yang juga memiliki galeri batik di Wagud Kebaman, menyampaikan pentingnya peran desa dalam melaporkan kegiatan ke kecamatan.

    “Tanpa gerakan desa, kecamatan tidak punya data untuk dilaporkan ke FBS,” ujarnya.

    Heri menambahkan bahwa calon pengurus baru yang terpilih merupakan orang-orang yang cerdas di bidang teknologi informasi, pelaku UMKM online, serta aktif dalam kegiatan kepemudaan dan keagamaan.

    Heri juga menyampaikan kebanggaannya terhadap aspirasi Ketua Pokja Desa Sehat dari beberapa desa, seperti Siti Romlah dari Kepundungan, Nur Azizah dari Parijatah Wetan, dan Fitroh dari Sukamaju, yang mendapat apresiasi dari FBS sebelum pandemi.

    Camat Srono, Ir. Tri Wahyu Angembani, yang membuka acara, menegaskan bahwa sekretariat FKKS sudah siap beroperasi di rumah joglo yang berdampingan dengan Panti PKK.

    Ia berharap FKKS dan Pokja Desa Sehat dapat berperan aktif dalam menangani masalah lingkungan, seperti darurat sampah, serta mempromosikan budaya hidup sehat.

    “Kami berterima kasih kepada semua kader posyandu, KB, PKK, KPM, dan semua pihak yang mendukung berbagai program daerah maupun kementerian,” ujar Tri Wahyu.

    Ia juga berharap FBS dapat menjadi mediator untuk berkolaborasi dengan SKPD dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan 9 tatanan kabupaten sehat.

    Di akhir acara, Tri Wahyu turut pamitan sebagai Plt Camat Cluring, mengingat ia akan terlibat dalam kerja bakti kebersihan sungai dan pasar sebagai persiapan Festival Batik yang akan digelar di Destinasi Wisata Djawatan pada 18-19 Oktober 2024.

  • FKKS Sempu Gelar Sosialisasi di Desa Karangsari: Dorong Kolaborasi untuk Wujudkan Desa Sehat

    Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) sebagai bagian dari Forum Banyuwangi Sehat (FBS) mengadakan sosialisasi di Balai Desa Karangsari, Sempu, Banyuwangi, pada Rabu (14/8/2024).

    Adapun acara tersebut dihadiri oleh Ketua FKKS Sempu, PMK Kecamatan Sempu, PKK Kecamatan Sempu, PKK Desa Karangsari, serta Pemerintah Desa Karangsari yang diwakili oleh Kepala Desa Agus Firmanto, SE.

    Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti oleh seluruh peserta, kemudian sambutan oleh Agus Nurwakhid, ST selaku Kasi PMK, dilanjut Kepala Desa Karang Karangsari Agus Firmanto, SE.

    Dalam sambutannya, Agus Nurwakhid, ST mengapresiasi Pemerintahan Desa Karangsari karena telah memberi fasilitas tempat untuk menggelar kegiatan.

    Ia juga menyampaikan amanat dari Camat Sempu yang berhalangan hadir karena ada kegiatan lain. Camat berpesan kepada peserta agar kegiatan ini bisa dicermati dan diperhatikan hingga selesai.

    “Pesan dan salam dari Camat agar peserta dapat mencermati sosialisasi hingga selesai,” tuturnya.

    Sementara itu, Agus Firmanto, SE selaku Kepala Desa Karangsari meminta maaf kepada peserta dan penyelenggara jika ada kekurangan dalam memfasilitasi kegiatan tersebut.

    Ia mengatakan jika Pemdes Karangsari sangat mendukung komunikasi kegiatan positif dan menyehatkan.

    Kemudian, Agus Firmanto, SE menjelaskan bahwa Pemdes Karangsari juga telah menerapkan beberapa kegiatan positif yang bertujuan untuk mewujudkan desa sehat, salah satunya menyanjikan jingle yang rutin diikuti oleh seluruh aparatur pemerintahan desa.

    “Desa Karangsari juga rutin melakukan kegiatan positif. Jam 07.15 WIB doa pagi, dilanjutkan menyanyikan jingle dan diakhiri dengan diskusi dengan para Kasun,” ujarnya.

    Di akhir sambutannya, Agus Firmanto SE juga mengabarkan bahwa Desa Karangsari akan menggelar jalan sehat pada hari Minggu, (18/8/2024).

    Jalan sehat dengan rute 2 kilometer tersebut bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang sehat bagi masyarakat.

    Adapun untuk menarik minat masyarakat, pihaknya telah menyediakan doorprize berupa satu unit sepeda motor dan beberapa hadiah menarik lainnya.

    Untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas, Agus Firmanto, SE mengimbau kepada linmas dan keamanan desa agar mampu menjaga kondusifitas serta memberi arahan yang humanis kepada pengguna jalan raya.

    Usai sambutan, kegiatan sosialiasi diisi oleh Dewi Anggorowati dari FBS. Sebelum memulai materinya, Dewi mengapresiasi Desa Karangsari yang memiliki jingle sendiri.

    “Sehat itu bukan hanya fisik, tapi juga mental. Seperti jingle, menandakan Desa Karangsari punya mental yang sehat. Semoga desa lain juga punya jingle sendiri,” ujarnya.

    Dalam materinya, Dewi menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memujudkan kota sehat, antara lain:

    1. Kehidupan Masyarakat Sehat Mandiri
    2. Pemukiman dan Fasilitas Umum
    3. Pasar
    4. Satuan Pendidikan
    5. Pariwisata
    6. Transportasi dan Tertib Lalu Lintas Jalan
    7. Perkantoran dan Perindustrian
    8. Perlindungan Sosial
    9. Pencegahan dan Penanganan Bencana

    Dewi mengimbau kepada PKK Kecamatan Sempu dan Desa Karangsari untuk memaksimalkan program yang ada kemudian didokumentasikan via media sosial agar ada jejak digitalnya.

    “Tidak perlu buat program baru, tapi program yang ada dimaksimalkan dan didokumentasikan, seperti posyandu, pencegahan stunting, dan sebagainya,” ujarnya.

    Dewi juga sempat menceritakan bagaimana sejarah Forum Banyuwangi Sehat (FBS) yang sudah terbentuk sejak tahun 2011 lalu dan pernah meraih prestasi pada tahun 2015.

    Senada dengan Dewi, pemateri kedua, Hendy Setiyantoro, SKep.Ns menjelaskan prosedur bagaimana mewujudkan desa sehat. Ia juga memberi kiat agar dapat memaksimalkan program kesehatan yang telah dijalankan.

    Kemudian, Hendy juga sedikit menyinggung tentang indikator desa bisa dikatakan sehat, salah satunya adalah seberapa tinggi angka keselamatan ibu melahirkan.

    Di akhir sesi, Agus Nur Wahyudi dari FBS menambahkan agar tercipta sinergi dan kolaborasi untuk mewujudkan desa yang sehat.

    “Karena ini menyangkut banyak hal, maka lebih baik jika sinergi dikembangkan dan melakukan kolaborasi dengan pihak lain,” ujarnya. ***