Tag: gotong royong

  • Paguyuban Joko Ismoyo Gelar Ruwatan Massal dengan Semangat Tandang Bareng dan Gotong Royong

    Paguyuban Joko Ismoyo Gelar Ruwatan Massal dengan Semangat Tandang Bareng dan Gotong Royong

    Paguyuban Kerawitan Joko Ismoyo akan menggelar ruwatan massal sebagai ikhtiar bersama untuk saling mendoakan pribadi, keluarga, komunitas, hingga lembaga dan instansi.

    Kegiatan yang rencananya akan dilangsungkan pada 18 November 2026 tersebut diharapkan menjadi momentum menghadirkan aura positif, menjauhkan diri dari sengkala, sekaligus memperoleh kedamaian bagi para sukerta atau mereka yang dipercaya membawa bawaan tertentu sejak lahir.

    Ruwatan akan dipimpin oleh dalang Ki Gondo Bawono, kelahiran 1945 asal Tapanrejo, Kecamatan Muncar.

    Ia akan didampingi sinden sekaligus penyiap umbo rampe ritual, Hj. Soeswati (72), yang juga berprofesi sebagai perias pengantin.

    Soeswati dikenal kuat dalam tirakat serta memahami filosofi berbagai kebutuhan dalam rangkaian ikhtiar untuk menyingkirkan energi negatif.

    Ketua Paguyuban Joko Ismoyo, Ki Mudjiono (78), mengatakan gagasan untuk menggelar ruwatan massal tersebut sebenarnya telah muncul sejak empat hingga lima tahun lalu.

    Namun, niat tersebut baru akan diwujudkan tahun ini dengan membawa semangat kepahlawanan Bung Tomo dan Perang Puputan Bayu.

    Kegiatan dijadwalkan pada jam kerja, bertempat di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

    Pelaksanaan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyongsong Hari Jadi Banyuwangi ke-255 yang jatuh tepat satu bulan setelah pelaksanaan ruwatan.

    “Maturnuwun dukungan sesama penggemar wayang dan kerawitan serta Disbudpar yang tandang bareng mewujudkan niat mulia ini secara kolaborasi tanpa dana APBD. Jadi, murni dari sumbangan pribadi serta sari perorangan maupun komunitas, kantor dan perusahaan yang krenteg ikut manggayu bagyo,” tutur Ki Mudjiono.

    Ia mengatakan, pihaknya yang mayoritas merupakan kalangan sepuh menggandeng Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45, Sanggar Merah Putih ’45, serta EO Senyum Agmadina untuk mengemas kegiatan tersebut.

    Kolaborasi itu sekaligus menjadi upaya mengajak berbagai pihak berbuat untuk kebaikan Banyuwangi agar semakin harmonis dan penuh welas asih, sekaligus mendoakan Nuswantara dan Negara Indonesia.

    Ki Mudjiono yang merupakan Dewan Paripurna Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI) tersebut hingga kini masih aktif melatih kerawitan dan melakukan siaran Gending Jawa di Radio Fajar FM.

    Sebelumnya, sekitar dua dekade lalu, ia juga pernah menjadi pramusiar di Radio Komunitas Bung Tomo FM.

    Sementara itu, Pembina Ruwatan Massal Nuswantara, Agus Wahyu Nuryadi, yang akrab disapa Bung Aguk Darsono, menjelaskan bahwa konsep ruwatan tetap mengikuti pakem Jawa, tetapi dikreasikan dengan mengakomodasi adat dan tradisi ngelukat Osing.

    Selain itu, rangkaian kegiatan juga akan dilengkapi dengan doa ruqyah yang dipimpin tokoh agama asal Madura serta sentuhan hipnosis Smart Parenting.

    Pendekatan tersebut dimaksudkan untuk membantu mengurai berbagai aral dan mental block peserta sehingga diharapkan dapat lebih gangsar rejekinya serta membangun keluarga yang samawa dan mampu menghadirkan kebahagiaan lahir dan batin.

    “Saat pembukaan akan disaksikan perwakilan suku dan etnis dari Forum Pembauran Kebangsaan binaan Bakesbangpol. Dan saat siraman dari tujuh sumber mata air, antara lain dari Sumur Sritanjung dan Masjid Kuno maupun tempat sakral lainnya, selain dalang dan sinden, juga penting disiram oleh ibu atau ayahnya seraya mohon pangestu,” tambah Bung Aguk Darsono.

    Ketua Panitia Slamet Muhlisin, didampingi Sekretaris Andre Repelita Waluyo, berharap masyarakat luas di Bumi Blambangan maupun anggota Ikawangi Nusantara dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan upaya membersihkan diri secara bersama-sama.

    Hingga saat ini, sebanyak 17 orang telah mendaftar. Panitia masih memberikan kesempatan pendaftaran hingga 10 November pukul 13.45 WIB.

    “Harapan kami peserta perorangan 33 orang dan lembaga 5-8 pihak hingga kumpulan lebih dari 40 orang, kan mustajab doanya. Kami ada form pendaftaran digital lewat aplikasi Gata. Pendaftaran ditutup bila sudah mencapai maksimal 99 pendaftar,” ujar pembaca karakter di TV Osing tersebut sambil tersenyum.

    Andre menambahkan, dalam pelaksanaan kegiatan, panitia juga menggandeng sejumlah media lokal sebagai mitramedia, yakni JRKBB-JRKI, Jurnal News, Sastrawacana, JNN Sumenep, serta Menara Madinah.com Surabaya. Selain itu, kegiatan ruwatan juga akan disiarkan secara langsung melalui YouTube BTD Channel.

    Para peserta nantinya mendapatkan bonus rekening bank dan voucher potongan biaya perjalanan umrah dari mitra panitia. Sementara bagi donatur dan sponsor, panitia menyediakan kartu nama digital melalui aplikasi Gata.

    Dalam kegiatan tersebut juga akan tersedia Bukalapak UMKM serta layanan konsultasi psikologi karakter dan spiritual adiluhung. (Qurrota A’Yunin/AWN)

  • Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, tetap teguh menjaga tradisi leluhur melalui ritual adat Kebo-Keboan.

    Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, ikhtiar, dan doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, serta hasil panen yang melimpah.

    Ketua Lembaga Adat Kebo-Keboan Alas Malang sekaligus Ketua Panitia Kebo-Keboan 2026, Doni Agus Ferdianto, menjelaskan bahwa tradisi tersebut lahir dari sebuah peristiwa pagebluk yang pernah melanda desa pada masa lampau.

    Wabah penyakit saat itu menyebar begitu cepat hingga merenggut banyak nyawa warga.

    “Konon, pada masa itu seseorang yang pagi hari jatuh sakit, sore harinya sudah meninggal. Dalam kondisi tersebut, Buyut Karti melakukan semedi di Watu Loso sebagai ikhtiar memohon kepada Tuhan agar pagebluk segera berakhir,” ujar Doni.

    Dari peristiwa itulah kemudian lahir ritual Kebo-Keboan yang terus dilaksanakan hingga kini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah, diberi keselamatan, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan dan pertanian.

    Kerbau dipilih sebagai simbol utama dalam ritual ini karena memiliki kedekatan yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris.

    Hewan tersebut dikenal kuat, tangguh, dan menjadi sahabat petani dalam mengolah sawah sejak dahulu.

    Selain itu, dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat, Danyang Watu Loso digambarkan sebagai sosok berbadan manusia berkepala kerbau yang dipercaya menjaga wilayah Alas Malang.

    Rangkaian ritual Kebo-Keboan dimulai sejak malam 1 Suro dengan menggelar selametan di Watu Loso, tempat yang diyakini sebagai lokasi Buyut Karti memperoleh petunjuk untuk mengakhiri pagebluk.

    Memasuki H-7, warga bergotong royong mendirikan Gapura Poro Bungkil yang kemudian dihiasi berbagai hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Tuhan.

    Pada H-3, panitia bersama masyarakat mengadakan santunan kepada anak-anak yatim yang diawali dengan pawai obor.

    Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus doa agar seluruh rangkaian ritual berlangsung dengan penuh keberkahan.

    Dua hari menjelang puncak acara, masyarakat kembali bergotong royong menghias gapura menggunakan beragam hasil pertanian, mulai dari padi, jagung, buah-buahan, hingga aneka sayuran yang menjadi hasil unggulan Desa Alas Malang.

    Sehari sebelum prosesi utama, warga mengikuti tasyakuran bersama yang digelar di sepanjang jalan dusun.

    Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika malam harinya, seusai salat Isya, masyarakat menanam berbagai jenis pohon di sepanjang jalan kampung sebagai simbol pelestarian alam dan harapan akan kehidupan yang terus tumbuh.

    Menjelang dini hari, para sesepuh adat melaksanakan ritual peletakan sesaji di empat batu yang dianggap sakral, yakni Watu Loso, Watu Nogo atau Watu Tumpeng, Watu Gajah, dan Watu Karangan.

    Keempat batu tersebut dipercaya telah ada sejak sebelum Desa Alas Malang berdiri dan diyakini menjadi penjaga Dusun Krajan dari berbagai ancaman maupun niat jahat.

    Ritual ini menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan para leluhur agar seluruh rangkaian Kebo-Keboan berjalan dengan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

    Lebih dari sekadar ritual adat, Kebo-Keboan juga menjadi ruang yang memperkuat solidaritas warga. Seluruh masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan, mulai dari membersihkan lingkungan, menghias kampung, menyiapkan perlengkapan ritual, hingga menyambut tamu yang datang dari berbagai daerah.

    Semangat gotong royong tersebut menjadi nilai penting yang terus diwariskan kepada generasi muda.

    Di sisi lain, penyelenggaraan Kebo-Keboan turut memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

    Ribuan wisatawan yang hadir setiap tahun membawa berkah bagi para pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penjual hasil pertanian, hingga penyedia jasa parkir dan transportasi lokal.

    Perputaran ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan ritual menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi warga.

    Momentum ini juga menjadi panggung bagi para pelaku seni dan budaya lokal untuk menunjukkan kreativitasnya.

    Kelompok kesenian tradisional, penabuh gamelan, penari, pembuat properti adat, hingga para perajin lokal turut ambil bagian dalam menyukseskan rangkaian acara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.

    Bagi masyarakat Desa Alas Malang, Kebo-Keboan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus hidup dan berkembang.

    Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual, gotong royong, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

    Melalui Kebo-Keboan, warisan budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga menjadi kekuatan yang mempersatukan warga sekaligus menggerakkan roda perekonomian desa.

  • Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Di tengah perubahan kehidupan sosial yang semakin dinamis pada abad ke-21, kemampuan masyarakat untuk bekerja sama, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan menjadi semakin penting.

    Kemajuan teknologi memang memudahkan komunikasi dan aktivitas sehari-hari, namun perubahan tersebut juga memunculkan tantangan baru dalam membangun relasi sosial yang sehat.

    Dalam situasi itu, warisan pemikiran Nusantara dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menemukan kembali nilai-nilai kehidupan bersama yang relevan dengan kondisi saat ini.

    Salah satu warisan tersebut adalah Sastra Gendhing, karya yang dikaitkan dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma.

    Nilai-nilai di dalamnya dikaji oleh Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd., Dosen FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), untuk melihat relevansinya dengan kehidupan sosial masyarakat kontemporer.

    Dalam proses kajiannya, Khoirul melibatkan KGPH Puger, putra PB XII sekaligus budayawan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

    Keterlibatan budayawan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif dalam membaca Sastra Gendhing, tidak hanya berdasarkan teks, tetapi juga dengan mempertimbangkan latar belakang kebudayaan Jawa yang melingkupinya.

    Kajian dari sudut pandang sosial-humaniora itu menemukan bahwa Sastra Gendhing tidak hanya berbicara mengenai persoalan filosofis dan spiritual.

    Karya tersebut juga memuat gagasan tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan bersama, membangun hubungan dengan sesama, serta menjaga keseimbangan dalam lingkungan sosial.

    Dari pembacaan tersebut, muncul pemahaman bahwa ajaran dalam Sastra Gendhing memiliki keterkaitan dengan etika kehidupan bersama, khususnya mengenai semangat gotong royong.

    Nilai ini menempatkan kepentingan bersama, tanggung jawab, dan keharmonisan sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan sosial.

    Perspektif tersebut dinilai masih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

    Kehidupan abad ke-21 menuntut setiap individu tidak hanya memiliki kemampuan personal, tetapi juga kecakapan untuk berkomunikasi, bernegosiasi, bekerja dalam tim, menghormati perbedaan, serta mengambil tanggung jawab dalam lingkungan sosial.

    Semangat yang tercermin dalam Sastra Gendhing menunjukkan bahwa terciptanya kehidupan yang harmonis membutuhkan kemauan untuk saling memahami dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

    Nilai tersebut dapat menjadi salah satu pijakan dalam membangun karakter masyarakat yang mampu berkolaborasi di tengah perubahan zaman.

    Khoirul Anwar menilai, mempelajari Sastra Gendhing tidak cukup hanya dengan menempatkannya sebagai peninggalan masa lalu yang perlu dilestarikan.

    Kandungan nilai di dalamnya perlu terus dibaca dan dikaitkan dengan persoalan kehidupan masyarakat masa kini.

    Menurutnya, semangat kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan upaya menjaga harmoni merupakan nilai yang tidak kehilangan relevansinya meskipun pola kehidupan masyarakat terus berubah.

    Karena itu, karya-karya intelektual Nusantara dapat diperlakukan sebagai sumber pengetahuan yang masih dapat diajak berdialog dengan persoalan sosial di era modern.

    Kajian tersebut sekaligus membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut terhadap berbagai karya pemikiran Nusantara dengan menggunakan pendekatan lintas disiplin.

    Pendekatan semacam ini memungkinkan warisan intelektual masa lalu tidak hanya dipahami dari sisi sejarah dan budaya, tetapi juga dikaji berdasarkan relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat sekarang.

    Di sisi lain, generasi muda diharapkan tidak semakin jauh dari warisan pemikiran para intelektual Nusantara.

    Berbagai karya tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai nilai kehidupan, sekaligus ruang untuk memahami bagaimana gagasan masa lalu dapat diterapkan dan dimaknai kembali sesuai tantangan zaman.

    Melalui pembacaan kembali terhadap Sastra Gendhing, warisan pemikiran Sultan Agung tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah kebudayaan Jawa.

    Nilai-nilai di dalamnya dapat terus dihidupkan sebagai bahan refleksi untuk membangun masyarakat yang memiliki semangat gotong royong, mampu berkolaborasi, menghargai perbedaan, dan menjaga keharmonisan kehidupan bersama. (Miskawi)

  • Lomba Baca Puisi dan Story Telling Tutup Rangkaian Literasi Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Lomba Baca Puisi dan Story Telling Tutup Rangkaian Literasi Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Momentum peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 sekaligus Hari Ibu dimaknai melalui lomba baca puisi dan story telling yang digelar di Saestwo Cafe, Banyuwangi, Sabtu (20/12/2025).

    Dua cabang lomba tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan literasi yang sebelumnya telah berlangsung selama dua hari, 19–20 Desember 2025.

    Lomba baca puisi yang mengangkat karya dari Antologi Gotong Royong serta lomba story telling diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum.

    Pelaksanaan lomba dimulai pukul 13.00 WIB. Sejumlah peserta datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyuwangi untuk mengikuti kegiatan tersebut.

    Antusiasme terlihat dari kehadiran peserta yang tidak hanya berasal dari sekitar lokasi kegiatan, tetapi juga dari kecamatan lain.

    Sebelumnya, pada hari pertama, Jumat (19/12/2025), panitia telah menyelenggarakan lomba pidato cilik (pildacil) TPA/TPQ, bercerita menggunakan bahasa Using, serta lomba melukis di kanvas.

    Pelaksanaan hari pertama bertepatan dengan peringatan hari lahir Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi (KOPPIWANGI) yang ke-10 dan dihadiri Ketua KOPPIWANGI, H. Mujiono, S.H.

    Panitia menyebutkan, lomba baca puisi dan story telling pada hari kedua menjadi ruang bagi peserta untuk mengekspresikan gagasan, imajinasi, serta kepekaan terhadap nilai-nilai gotong royong.

    Kehadiran peserta dari berbagai daerah di Banyuwangi menunjukkan bahwa kegiatan literasi masih mendapat perhatian dan minat dari masyarakat..

    Pemenang Lomba Story Telling

    Pemenang lomba story telling event harjaba saestwo cafe

    Juara I: Berlian Ramadhani (MI Darunnajah II)

    Juara II: Queenbe Hilwa Tazkia (SD Lazuardi)

    Juara III: Abdul Ghani Ibrahim (MI Darussalam 1 Kalipuro)

    Harapan I: Adhira Kayyira Luneto

    Harapan II: Zahsy Rouwan Haqueena Yadid

    Harapan III: Chantika Irfa’

    Pemenang Lomba Membaca Puisi

    pemenang lomba baca puisi event harjaba saestwo cafe

    Juara I: Adilla Makhrisza Alharsi (SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya)

    Juara II: Mohammad Rizky Yulleo Altaf (SMK Muhammadiyah 8 Siliragung)

    Juara III: Muhammad Iqbal Maulana (Tenaga Kependidikan SMPN 3 Rogojampi)

    Harapan I: Kristanto (Guru SMA Negeri 1 Bangorejo)

    Harapan II: Farras Aryantaqi (SMK Pelayaran Kalipuro)

    Salah satu juri puisi, Andi Budi Setiawan, S.Pd, menyampaikan bahwa lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi.

    “Yang kami lihat bukan hanya teknik, tetapi keberanian peserta dalam menyuarakan nilai gotong royong dan kepekaan mereka terhadap lingkungan sosialnya. Itu yang membuat pembacaan puisi terasa hidup,” ujarnya.

    Sementara itu, ketua panitia menyebutkan bahwa kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai ajang lomba, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan ekspresi bagi anak-anak, remaja, dan masyarakat umum.

    “Melalui kegiatan ini, nilai literasi, seni, dan budaya lokal diharapkan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat,” ujar ketua panitia, H.M Shodiqin.

    Peringatan Harjaba ke-254 melalui kegiatan lomba literasi ini menjadi salah satu upaya memperkuat semangat gotong royong sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam pengembangan budaya baca, bercerita, dan berkarya di Banyuwangi.

  • Kolaborasi Bareng Sungai Watch, Desa Mangir Gelar Aksi Big Clean Up Angkut 4,1 Ton Sampah

    Kolaborasi Bareng Sungai Watch, Desa Mangir Gelar Aksi Big Clean Up Angkut 4,1 Ton Sampah

    Banyuwangi – Upaya menjaga kebersihan sungai dan kelestarian lingkungan terus digencarkan di Kabupaten Banyuwangi.

    Salah satunya melalui aksi bersih-bersih sungai kolosal bertajuk “Big Clean Up” yang digelar di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, pada Jumat (19/12/2025).

    Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Mangir, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan organisasi lingkungan Sungai Watch.

    Mengusung semangat “Saatnya Sungai Kita Bernapas Kembali”, aksi ini menjadi wujud kepedulian bersama untuk membersihkan sungai dari pencemaran sampah plastik dan limbah lainnya.

    Hasil dari kegiatan gotong royong tersebut terbilang signifikan. Berdasarkan data di lapangan, total sampah yang berhasil diangkat dari aliran sungai mencapai 4.162,52 kilogram atau setara 4,1 ton.

    Sampah tersebut dikumpulkan dan dipilah ke dalam 871 karung (kampil).

    Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak. Sebanyak 45 personel Sungai Watch diterjunkan langsung untuk memimpin teknis pembersihan, dengan dukungan 111 relawan yang terdiri dari warga lokal dan berbagai komunitas.

    Aksi bersih sungai ini turut dihadiri oleh Forkopimka Kecamatan Rogojampi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pengairan, serta Dinas Pertanian.

    Sejumlah komunitas dan organisasi kepemudaan juga berpartisipasi aktif, di antaranya Tim Jebeng Thulik Banyuwangi, Pencinta Lingkungan Banyuwangi (PLC), PC IPNU Banyuwangi, dan Kelompok KIPAN Banyuwangi.

    Dari tingkat desa, dukungan penuh datang dari Pemerintah Desa Mangir bersama 3 Pilar, BPD, LPMD, HIPPA, TP PKK, Komite Persampahan, Gapoktan, Poktan, BUMDes, KDMP, serta Pendamping Desa Kemensos.

    Partisipasi kepala sekolah dan pelajar dari jenjang TK, SD, MI, hingga SMK se-Desa Mangir, serta anggota Linmas, semakin memperkuat semangat gotong royong dalam kegiatan tersebut.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan sungai merupakan tanggung jawab bersama demi menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

    Sungai Watch sendiri merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2020 di Bali.

    Saat ini, Sungai Watch memiliki lebih dari 100 anggota tim yang tersebar di wilayah Bali, Banyuwangi, dan Sidoarjo, Jawa Timur.

    Organisasi ini memiliki misi menghentikan sampah, khususnya anorganik, sebelum mencapai laut dengan cara membersihkan sungai.

    Sungai Watch juga mengembangkan teknologi jaring sampah yang telah terpasang di 180 titik.

    Setiap hari, tim Sungai Watch secara rutin membersihkan sampah yang tertangkap di jaring tersebut untuk kemudian dibawa ke lokasi pemilahan dan pengelolaan sampah yang berada di Station Bangorejo, Rogojampi, dan Giri.

    Hingga saat ini, Sungai Watch telah mengumpulkan lebih dari 4.000.000 kilogram sampah anorganik dari sungai, mangrove, dan pantai di berbagai wilayah Indonesia.

    Dalam kegiatan Big Clean Up di Desa Mangir, jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah plastik sekali pakai, styrofoam, dan kemasan sachet.

    Sampah hasil kegiatan ini tidak langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan dibawa ke Station Sungai Watch di Giri, Rogojampi, dan Bangorejo untuk dipilah, dibersihkan, dilakukan brand audit, serta didaur ulang.

    Langkah ini bertujuan mengurangi volume sampah residu yang berakhir di TPA sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.

  • Lomba Literasi dan Seni Meriahkan Peringatan Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Lomba Literasi dan Seni Meriahkan Peringatan Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254, Saestwo Cafe berkolaborasi dengan komunitas Gotong Royong 45 dan media sastrawacana.id/ menggelar lomba literasi dan seni pada Jumat (19/12/2025).

    Kegiatan ini didukung oleh sejumlah komunitas dan organisasi di Banyuwangi, antara lain BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, Koppiwangi, Gata, Jurnalnews, PERGUNU, ELC Sibon, dan Aura Lentera.

    Rangkaian lomba berlangsung selama dua hari, 19–20 Desember 2025, dengan melibatkan peserta dari kalangan anak-anak hingga dewasa.

    Lomba hari pertama diisi dengan tiga cabang, yakni pidato cilik (pildacil), bercerita menggunakan bahasa Using, serta lomba melukis.

    Lomba Pildacil Harjaba Saestwo Cafe

    Sejak siang, peserta silih berganti tampil di hadapan dewan juri, disaksikan orang tua dan pengunjung kafe yang turut memberi dukungan.

    Sementara itu, untuk hari kedua yang akan digelar hari Sabtu (20/12), panitia menjadwalkan lomba membaca puisi dari buku antologi Gotong Royong yang diterbitkan oleh Penerbit Lintang Banyuwangi dan story telling sebagai penutup rangkaian kegiatan.

    Pembukaan acara dilakukan oleh Ketua Panitia, H.M. Shodiqin yang juga Owner Saestwo Cafe.

    Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut digelar bukan sekadar untuk memeriahkan Harjaba, tetapi juga sebagai upaya menumbuhkan minat literasi dan apresiasi seni sejak usia dini.

    Lomba Bercerita Using Harjaba Saestwo Cafe

    “Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong tumbuhnya minat literasi dan apresiasi seni sejak usia dini. Anak-anak perlu diberi ruang untuk mengekspresikan gagasan dan kreativitasnya,” ujar Shodiqin.

    Ia juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan lomba ini sekaligus sebagai peringatan momentum Hari Ibu.

    Di sela sambutannya, Shodiqin mengajak seluruh peserta dan panitia menyanyikan lagu Kasih Ibu yang membuat suasana acara terasa lebih hangat dan penuh kebersamaan.

    Selain lomba, kegiatan hari pertama juga dihiasi dengan tasyakuran 10 tahun Koppiwangi (Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi).

    Tasyakuran tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Koppiwangi Mujiono, S.H., beserta jajaran pengurus dan anggota komunitas.

    Mujiono, S.H menyampaikan bahwa Koppiwangi sejak awal berdiri berkomitmen untuk mendukung akses dan kualitas pendidikan melalui berbagai kegiatan literasi.

    Tasyakuran 10 tahun Koppiwangi

    Menurutnya, kolaborasi lintas komunitas seperti ini penting untuk menjaga semangat gotong royong dalam dunia pendidikan.

    “Kegiatan seperti ini menjadi contoh bahwa literasi bisa tumbuh dari ruang-ruang alternatif, tidak harus selalu di sekolah atau ruang formal,” ujarnya.

    Kemeriahan acara juga didukung kehadiran pelaku ekonomi kreatif lokal.

    Green Jasmine dan Batik Gerilya tampak membuka lapak di area kegiatan, memamerkan berbagai produk unggulan seperti batik khas Banyuwangi dan aneka kerajinan tangan.

    Kehadiran mereka menambah warna tersendiri sekaligus menjadi ajang promosi produk lokal kepada masyarakat.

    Pemenang Lomba Melukis Harjaba Saestwo Cafe

    Dari sisi apresiasi peserta, panitia menyediakan berbagai hadiah menarik. Salah satunya dukungan dari PT Tulus Hijrah Baitullah yang memberikan hadiah berupa voucher uang muka (DP) umrah senilai Rp2 juta bagi setiap pemenang lomba.

    Kemudian, khusus untuk lomba pildacil, juara pertama mendapatkan hadiah tambahan berupa voucher menginap di Hotel Aston.

    Hadiah tersebut dipersembahkan oleh Ketua BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, Achmad Sururuddin, S.E., M.Pd., sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan potensi anak-anak di bidang dakwah dan public speaking.

    Panitia berharap, rangkaian lomba ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.

    Melalui peringatan Harjaba ke-254, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang bertemu bagi komunitas, orang tua, dan anak-anak untuk bersama-sama menumbuhkan budaya literasi, seni, serta semangat gotong royong di Banyuwangi.

  • KOPIWANGI Meriahkan Bulan Bahasa dengan Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong

    KOPIWANGI Meriahkan Bulan Bahasa dengan Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong

    Momen bulan bahasa kali ini berdeba dengan tahun sebelumnya. Launching buku antologi “Gotong Royong” pada hari Jumat (17/10) di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi menjadi tanda komitmen KOPIWANGI untuk terus berkarya dan berkiprah serius di dunia literasi.

    Acara launching buku antologi “Gotong Royong” ini bersamaan dengan launching buku “Lamunan Seorang Wartawan” karya Ricky Sulivan. Dimana kisahnya diangkat dari perjalanan Ricky yang berprofesi sebagai seorang wartawan.

    Buku antologi “Gotong Royong” ini merupakan kolaborasi antara penerbit Lintang Banyuwangi dengan KOPIWANGI dan Komunitas Gotong Royong. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya dimana penulisnya merupakan anggota KOPIWANGI.

    Butuh proses panjang bisa menerbitkan buku antologi “Gotong Royong” ini. Sebagai bekal penulis mendapat pelatihan sebanyak dua kali secara daring lewat aplikasi zoom.

    Pelatihan pertama materi dasar tentang menulis puisi dan pentigraf berbahasa Indonesia dan Using. Pelatihan kedua peserta lebih banyak berdiskusi dengan narasumber tentang karya yang ditulis sampai selesai. Untuk selanjutnya dilakukan kurasi karya.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan
    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (Dok. sastrawacana.id/)

    Beberapa narasumber pelatihan menulis, diantaranya Yeti Chotimah ketua MGMP SMP Bahasa Using, Heri Iskandar Sastrawan Using dan Andi Budi Setiawan sastrawan sekaligus ketua KOPIWANGI dengan Koordinator kurasi karya Muhammad Iqbal Baras.

    Acara peluncuran dipandu oleh Maria Ulfa dari Kopiwangi dan dibuka secara resmi oleh Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ selaku media partner.

    Dalam sambutannya, Affandi menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam menyukseskan peluncuran buku tersebut.

    Ia menegaskan, sinergi antara penerbit, komunitas literasi, dan para penulis merupakan cerminan nyata bahwa semangat menulis dan berkarya di Banyuwangi terus berkembang dan tidak pernah padam.

    Pada kesempatan berikutnya, Lina Kamalin, M.Pd, selaku penasihat KOPIWANGI, menyampaikan bahwa terselenggaranya kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi yang harmonis antara penulis dan komunitas dalam menumbuhkan semangat literasi.

    “Buku Antologi Gotong Royong lahir dari perjalanan panjang yang melibatkan banyak pihak dengan kepedulian mendalam terhadap dunia literasi. Dari proses penulisan hingga penerbitan, setiap langkah dijalani dalam semangat kolaborasi, saling mendukung, dan tumbuh bersama. Karena itu, buku ini tidak sekadar menghimpun karya tulis, melainkan menjadi wujud nyata bahwa kebersamaan dapat menumbuhkan karya bermakna bagi Banyuwangi.” ujarnya.

    Lina Kamalin berharap, dalam beberapa bulan ke depan karya yang tengah digarap dapat segera rampung. Dengan demikian, tahun mendatang diharapkan menjadi momen peluncuran karyanya, agar dapat dinikmati dan menginspirasi para pembaca.

    Selanjutnya dilakukan seremonial penyerahan buku antologi “Gotong Royong” dan “Lamunan Seorang Wartawan” kepada pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Perpusda) Banyuwangi. Penyerahan tersebut diwakili oleh Yusuf Khoiri, disusul oleh Lina Kamalin yang mewakili KOPIWANGI, serta Iqbal Baras sebagai perwakilan kurator.

    “Terima kasih kepada Penerbit Lintang Banyuwangi yang telah menghibahkan kedua buku ini kepada Perpusda, sehingga dapat dinikmati oleh pembaca, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional melalui tautan e-book yang telah kami sediakan di laman https://ebookbanyuwangi.id,” jelas Yusuf Khoiri di sela-sela sambutannya.

    Saimah Veteran

    Selain peluncuran buku, acara turut dimeriahkan oleh berbagai penampilan peserta.
    Saimah, seorang veteran perdamaian, membacakan puisi karyanya berjudul Masa Transisi dengan suara tegas dan penuh penghayatan, membuat suasana aula hening dan haru.

    Penampilan berikutnya datang dari Afina Alana Qolbi, siswi MI Darun Najah 2 Banyuwangi, yang membawakan dongeng Legenda Banyuwangi dengan gaya bertutur khas anak-anak, menghidupkan kembali kisah klasik daerah.

    Dalam sesi diskusi, Ricky Sulivan menjelaskan bahwa Lamunan Seorang Wartawan lahir dari pengalaman pribadinya selama bertahun-tahun sebagai jurnalis. Ia mengungkapkan, banyak jurnalis yang kehilangan arah di tengah tekanan pekerjaan, antara tuntutan kecepatan dan akurasi dengan idealisme serta nilai kemanusiaan yang sering terabaikan. Buku ini, lanjutnya, menjadi bentuk refleksi atas kegelisahan tersebut.

    Dua panelis, Yeti Chotimah dan Andi Budi Setiawan, S.Pd., memaparkan pandangan mereka tentang penerbitan Antologi Gotong Royong. Keduanya sepakat, buku ini tidak hanya untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga menjadi wujud kolaborasi antarpenulis dan komunitas literasi di Banyuwangi.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd., menekankan pentingnya menjadikan literasi sebagai gerakan sosial berkelanjutan.

    “Literasi tidak boleh berhenti pada peluncuran buku atau lomba menulis saja, tetapi perlu kesinambungan dan dukungan antarpegiat agar ekosistemnya terus tumbuh,” ungkapnya.

    Yeti menegaskan, semangat utama penerbitan ini adalah membangkitkan kembali gairah menulis di kalangan generasi muda.

    “Kami ingin anak-anak muda terus menulis, membaca, dan mencintai literasi di daerahnya. Semangat gotong royong adalah jantung gerakan ini,” ujarnya.

    Sebagai penutup, kurator sekaligus tokoh literasi, Iqbal Baraas yang merupakan dosen Universitas Ibrahimy menyampaikan apresiasinya. Ia menilai karya para penulis Banyuwangi semakin matang, baik dari segi tema maupun teknik penulisan.

    Menurutnya, puisi menjadi media kuat untuk mengekspresikan kegelisahan batin, di mana penyair menuangkan perasaan, kekhawatiran, atau keresahan jiwa melalui rangkaian kata yang indah dan imajinatif.

    Tema kegelisahan, tambahnya, kerap muncul dalam puisi dan sering digambarkan lewat simbol alam maupun pergulatan batin penyair.

    Sementara itu, apresiasi juga disampaikan oleh Mujiono, S.H., Thomas Raharto, dan Drs. Jaenuri NZ. Ketiganya berharap kegiatan literasi seperti ini terus berlanjut agar literasi menjadi gerakan yang tumbuh di tengah masyarakat, bukan sekadar wacana.

    Peluncuran dua buku ini menjadi bukti bahwa semangat literasi di Banyuwangi tidak pernah padam, khususnya bagi KOPIWANGI yang hingga kini telah menerbitkan tiga buku, yakni Lentera di Pengujung Asa (Maret 2024), Pena Sang Surya (Juli 2024), dan Antologi Gotong Royong (Oktober 2025). Seluruh karya tersebut sejalan dengan slogan “Bergerak Bersama Majukan Literasi Banyuwangi.”

  • Jalan Sehat Tutup Rangkaian Peringatan HUT RI ke-80 di SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi

    Jalan Sehat Tutup Rangkaian Peringatan HUT RI ke-80 di SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi

    SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi menggelar kegiatan jalan sehat sebagai penutup rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 pada Sabtu (23/8).

    Kegiatan ini berlangsung meriah dengan diikuti siswa, guru, karyawan, wali murid, serta berbagai amal usaha Muhammadiyah di wilayah Rogojampi.

    Sejak 19 Agustus 2025, sekolah telah menyelenggarakan beragam perlombaan yang tidak hanya menumbuhkan semangat kebersamaan tetapi juga memperkuat nilai-nilai gotong royong.

    Jalan Sehat SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi

    Tahun ini ada yang berbeda karena pihak sekolah berinisiatif mengadakan lomba safety riding bekerja sama dengan Polsek Rogojampi.

    Lomba tersebut bertujuan menanamkan kesadaran keselamatan berkendara pada siswa dan karyawan.

    Selain itu, berbagai lomba menarik lainnya juga digelar, mulai dari lomba terompa, ketangkasan, estafet hula hoop, memancing lele, karaoke, hingga lomba videografi siswa.

    Ada pula lomba kebersihan dan keindahan kelas dengan tema Tujuh Kebiasaan Anak Hebat.

    Untuk wali murid, pihak sekolah menyiapkan perlombaan khusus seperti lomba memasak tahu lontong, parut kelapa, hingga lomba video testimoni.

    Kepala SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi, Fahima Sholatin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pesan utama dalam peringatan HUT ke-80 tahun ini adalah memperkuat kekompakan seluruh civitas sekolah, siswa, wali murid, serta seluruh stakeholder Muhammadiyah di Rogojampi.

    “Kami berharap kegiatan ini membuat siswa semakin kompak, semakin solid, serta terjalin kerjasama yang lebih baik dengan orang tua. Semua dilakukan demi pendidikan yang lebih berkualitas agar lahir generasi yang cerdas, berilmu, dan berakhlak mulia,” ujarnya.

    Jalan sehat yang digelar sebagai acara puncak diikuti oleh siswa-siswi dari SD Muhammadiyah 19, SMP Muhammadiyah 11, guru, karyawan, serta perwakilan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan maupun kesehatan.

    Bazar SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi ikut terlibat sebagai tim kesehatan, sementara ortom-ortom di bawah pimpinan cabang Muhammadiyah Rogojampi juga hadir memberikan dukungan.

    Panitia menyediakan berbagai hadiah menarik yang dibagikan melalui undian kupon kepada peserta yang berhasil mencapai garis finis.

    Kehadiran ribuan peserta membuat suasana semakin semarak, mencerminkan semangat kebersamaan sekaligus wujud syukur atas kemerdekaan yang telah diraih bangsa.

    Dengan berakhirnya kegiatan jalan sehat ini, rangkaian peringatan HUT RI ke-80 di SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi resmi ditutup dengan penuh suka cita dan kebersamaan.

    Penulis: Heri Iskandar