Tag: hiv

  • Kader ATM, RDS, dan Pokja Desa Sehat se-Blimbingsari Dibekali Penyusunan Program dan Pendampingan Pasien Penyakit Menular

    Kader ATM, RDS, dan Pokja Desa Sehat se-Blimbingsari Dibekali Penyusunan Program dan Pendampingan Pasien Penyakit Menular

    Kader ATM (AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria), Rumah Desa Sehat (RDS) yang menghadirkan Kader Pembangunan Manusia (KPM), serta pengurus Pokja Desa Sehat dari 10 desa se-Kecamatan Blimbingsari mendapatkan pembekalan di Balai Desa Patoman, Rabu (13/05).

    Balai Desa Patoman tampak bersih dan tertata rapi. Meski berada di lahan yang relatif sempit, berbagai ruangan ditata dengan baik, mulai dari ruang BPD, Rumah Desa Sehat yang terintegrasi dengan Pokja Desa Sehat dan PKK, hingga ruang arsip.

    Fasilitas lain seperti musala, dapur bersih, dan ruang lounge juga tersedia.

    Desa Patoman juga dikenal sebagai desa dengan keberagaman yang harmonis. Desa ini ditetapkan sebagai Kampung Pancasila oleh Pangdam V/Brawijaya dan sebagai Desa Kebangsaan oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Bakesbangpol.

    Keharmonisan masyarakat terlihat dari keberagaman suku seperti Bali, Madura, Tionghoa, Osing, dan Jawa, serta sikap welas asih antarumat beragama dan penghayat kepercayaan, mulai dari Islam, Hindu, Buddha, hingga Katolik.

    Camat Blimbingsari Teddy Ardiansyah, S.STP melalui Kasi PMK Abdul Aziz, SH, MH menyampaikan bahwa berdasarkan surat edaran menteri hingga gubernur, serta hasil koordinasi lintas dinas dan badan melalui zoom meeting, diperlukan kegiatan kolaboratif untuk mendukung sinergi isu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

    FKKS Kecamatan Blimbingsari

    Sementara itu, Kepala Puskesmas Badean, Indah Swartiningtyas, SST.Bid., M.MKes menyampaikan data penderita ODHA sebanyak 40 orang, TBC 38 orang, dan malaria nihil.

    Menurutnya, terdapat berbagai faktor pemicu yang menyebabkan seseorang terpapar penyakit tersebut.

    “Semua tertangani dan ada yang sudah sembuh. Karena itu, masyarakat harus mengenali dan memahami gejalanya serta memastikan pasien mendapat pendampingan rutin minum obat. Tetap waspada seperti saat menangani corona, jaga kesehatan, dan gunakan APD,” ujarnya.

    Bidan yang meraih prestasi nasional dalam inovasi zero stunting tersebut juga menekankan pentingnya peran kader dalam pendampingan pasien di tingkat desa.

    Di kesempatan yang sama, Novita Ika Wulandari, S.AP selaku fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) menjelaskan bahwa terdapat alokasi dana sebesar Rp2,5 juta dari ADD khusus untuk program ATM.

    “Contoh program dan usulan anggaran sudah kami siapkan dan masih bisa dikreasikan sesuai kebutuhan desa. Dari dinas dan Kementerian Kesehatan juga diupayakan CSR untuk insentif kader,” jelasnya.

    Ia berharap KPM di Rumah Desa Sehat dapat bersinergi bersama bidan desa, kader KB, Pokja IV PKK, kader ATM, dan Pokja Desa Sehat dalam menyusun program beserta anggarannya.

    Pendamping desa juga diharapkan membantu melengkapi kebutuhan dasar kader guna mewujudkan satu data, dokumen, dan arsip terpadu agar pemerintah desa dan negara benar-benar hadir untuk kesehatan serta kesejahteraan masyarakat.

    Sementara itu, aktivis LSM Gotong Royong ’45 yang juga anggota Forum Banyuwangi Sehat berharap Forum Komunikasi Kecamatan Sehat dapat mengawal program, baik dari sisi administrasi maupun pendampingan di lapangan.

    Dokumentasi kegiatan berupa narasi dan foto timeline diunggah ke Google Drive Forum Banyuwangi Sehat dengan koordinator Kasi PMK.

    Ia juga menambahkan, apabila terdapat penyandang disabilitas fisik maupun intelektual yang belum bisa baca tulis, diharapkan segera didata untuk kemudian dilakukan advokasi.

    Aktivis yang juga pengawas Yayasan Aura Lentera Indonesia tersebut saat ini tengah menjalankan program bersama NLR Indonesia terkait mitigasi pemberdayaan disabilitas di wilayah Rogojampi dan Kalipuro.

    Dalam sesi tanya jawab, peserta yang mayoritas perempuan tampak antusias membahas berbagai persoalan teknis, termasuk kekhawatiran risiko penularan saat merawat jenazah penderita AIDS.

    Para kader bahkan disebut sebagai “kaum penghuni surga” karena menjalankan tugas kemanusiaan yang mulia.

    Kepala Desa Patoman, Suwito, yang telah tiga periode memimpin desa dengan potensi panen cabai jamu tersebut berharap para kepala desa mengetahui kondisi warganya secara by name by address dengan tetap menjaga kerahasiaan data untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

    “Kebetulan saya punya pengalaman 17 tahun mendampingi pasien HIV akibat perilaku asusila di lokalisasi Blibis. Mulai dari bedah rumah hingga mengambilkan obat di RSUD maupun puskesmas sampai pasien sembuh. Hendaknya kita tidak berperilaku menyimpang dari hukum adat, agama, maupun negara,” pesannya.

    Keturunan Sakera tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan alat cukur di tempat pangkas rambut dengan menggunakan satu silet untuk satu pelanggan.

  • Gejala yang dialami apabila seseorang telah masuk fase pertama HIV adalah?

    Gejala yang dialami apabila seseorang telah masuk fase pertama HIV adalah?

    Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia secara bertahap.

    Pada tahap awal, atau dikenal sebagai fase akut atau infeksi primer HIV, virus mulai berkembang biak dengan sangat cepat dalam tubuh setelah seseorang terpapar.

    Meskipun pada fase ini gejalanya sering kali ringan dan mirip dengan flu biasa, inilah saat ketika jumlah virus (viral load) sangat tinggi dan risiko penularan kepada orang lain meningkat drastis.

    Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi karena gejalanya tampak umum dan tidak spesifik.

    Infeksi HIV Tahap Pertama (Fase Akut / Primer)

    Fase pertama infeksi HIV, juga dikenal sebagai sindrom retroviral akut atau infeksi HIV primer, biasanya muncul dalam waktu sekitar 2 hingga 4 minggu setelah paparan awal virus.

    Pada tahap ini, virus berkembang biak secara cepat di dalam tubuh, menyebabkan viral load sangat tinggi sehingga penularan dapat terjadi dengan lebih mudah.

    Beberapa gejala khas yang sering muncul pada infeksi HIV primer antara lain:

    • Demam dan flu ringan: Sebagian besar penderita mengalami demam yang bersifat menetap atau bergantian disertai gejala flu seperti sakit tenggorokan, batuk, pilek, sakit kepala, dan menggigil.
    • Kelelahan yang intens: Rasa lelah yang tidak biasa, terjadi tiba-tiba dan berkelanjutan, bahkan setelah melakukan aktivitas ringan. Ini muncul karena sistem imun bekerja keras melawan virus.
    • Pembengkakan kelenjar getah bening: Terjadi limfadenopati, terutama di leher, ketiak, atau pangkal paha. Kelenjar terasa lunak saat disentuh dan bisa bertahan berminggu-minggu.
    • Ruam kulit: Muncul bercak merah datar atau menonjol di dada, punggung, atau lengan, kadang disertai benjolan kecil dan rasa gatal atau nyeri.
    • Nyeri otot dan sendi: Keluhan pegal atau nyeri ringan pada otot dan sendi, sering terjadi tanpa aktivitas fisik yang berat.
    • Sakit tenggorokan dan sariawan: Radang tenggorokan yang menyakitkan saat menelan serta sariawan atau luka di mulut akibat penurunan imunitas tubuh.
    • Sakit kepala: Keluhan sakit kepala yang bisa disertai nyeri di belakang mata dan pegal, kadang sulit dibedakan dari flu biasa.
    • Gejala saluran pencernaan: Beberapa penderita mengalami mual, muntah, atau diare ringan yang berlangsung beberapa hari.
    • Berkeringat malam hari: Keringat berlebih pada malam hari, bahkan saat suhu ruangan normal; terjadi sebagai respons tubuh melawan virus.
    • Penurunan nafsu makan dan berat badan: Nafsu makan menurun serta berat badan mulai turun secara perlahan meski tidak sedang diet ketat.

    Gejala pada fase primer biasanya bersifat sementara (beberapa hari hingga minggu) dan sering disalahartikan sebagai infeksi virus biasa karena kemiripan gejalanya seperti flu.

    Setelah fase ini berlalu, sebagian besar orang masuk ke fase laten tanpa gejala yang jelas, meskipun virus tetap aktif secara diam-diam dalam tubuh dan merusak sistem imun secara progresif.

    Sumber: Alodokter