Tag: jawa barat

  • Apa Nama Kawasan di Cianjur yang Menjadi Lokasi UG Technopark?

    Apa Nama Kawasan di Cianjur yang Menjadi Lokasi UG Technopark?

    Kawasan UG Technopark berlokasi di Desa Jamali dan Desa Mulyasari, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

    UG Technopark dibangun sebagai kawasan riset dan pengembangan teknologi terpadu yang mencakup dua kawasan utama, yaitu Kawasan Riset & Pengembangan Teknologi dan Rekayasa serta Kawasan Wisata Agro yang dirancang dengan konsep integratif dan multidisiplin oleh Universitas Gunadarma.

    UG Technopark merupakan proyek pengembangan teknologi terpadu dari Universitas Gunadarma yang dibangun sejak sekitar tahun 2016 di area Desa Jamali dan Desa Mulyasari, tepatnya di wilayah Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

    Kawasan ini diinisiasi oleh Universitas Gunadarma sebagai pusat riset, pengembangan teknologi, pendidikan, dan Agro‑Techno Eco‑Edutourism, menempati lahan seluas sekitar 60 hingga 63 hektar, dan dirancang menjadi model integratif multidisiplin yang mencakup zona seperti Agropark, Ecopark, Technopark, Edupark, dan Sport Sciencepark.

    Dalam master plan-nya, kawasan UG TechnoPark dibagi menjadi zona-zona makro, meso, dan mikro yang mencerminkan pendekatan multidisiplin.

    Zona-zona ini meliputi antara lain Pomology Zone (koleksi buah-buahan), Systematic Garden, Koleksi Tanaman Langka, Smart Farming, Zona Padi & Palawija, Hortikultura, Zona Rempah-rempah, Zona Herbal, serta Pulau & Danau lengkap dengan fasilitas seperti Jembatan Königsberg, Labirin, dan Masjid Imam Bukhari.

  • Arti Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan di Jawa Barat

    Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan, masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi masing-masing, termasuk Jawa Barat.

    Di Jawa Barat, ada satu tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakat setempat, yakni Munggahan. Tahukah kamu apa itu Munggahan?

    Arti Munggahan

    Munggahan bukan hanya sekadar ritual, melainkan juga merupakan simbol kebersamaan dan persaudaraan yang erat dalam menyambut bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi bagian integral dari budaya lokal.

    Dalam penelitian yang berjudul “Perkembangan Tradisi Keagamaan Munggahan Kota Bandung Jawa Barat Tahun 1990-2020”, dijelaskan bahwa etimologi kata “Munggahan” berasal dari “Unggah,” yang merujuk pada kenaikan atau peningkatan.

    Pada masa lalu, tradisi ini diyakini sebagai upacara untuk menghormati roh nenek moyang atau kerabat yang telah meninggal.

    Dalam versi lain, ada juga yang menyebut makna Munggahan sebagai tanda kedatangan bulan Ramadan.

    Secara tersirat, konsep “Munggah” mencerminkan proses transformasi menuju kebaikan, berpindah dari bulan Sya’ban ke bulan Ramadan, dengan tujuan meningkatkan kedalaman spiritual selama pelaksanaan ibadah puasa.

    Terlepas dari itu, Munggahan juga dapat diartikan sebagai perjalanan menuju tingkat spiritual yang lebih tinggi, melambangkan pencapaian spiritual yang lebih agung ketika memasuki bulan Ramadan sebagai bulan penuh keberkahan.

    Adat yang serupa juga terdapat di wilayah Jawa Tengah yang dikenal dengan sebutan Pungguhan.

    Kedua tradisi, baik Munggahan maupun Pungguhan, memiliki kegiatan yang serupa, namun berbeda wilayah saja.

    Apa yang dilakukan saat munggahan?

    Sebenarnya, rangkaian prosesi munggahan dapat dikatakan cukup beragam. Beberapa kegiatan yang dilakukan selama munggahan antara lain:

    • Berkumpul atau berwisata bersama keluarga dan kerabat.
    • Makan bersama.
    • Berdoa bersama.
    • Saling memaafkan.
    • Melakukan ziarah atau nyekar ke makam orang tua atau tokoh-tokoh saleh.
    • Bersedekah sebagai bentuk amal menjelang bulan puasa, yang juga disebut dengan sedekah munggah.

    Meskipun tradisi munggahan memiliki variasi di setiap daerah, namun esensi atau inti dari tradisi tersebut tetap sama. Melestarikan tradisi merupakan tanggung jawab dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Melaksanakan dan menjaga tradisi merupakan bentuk penghormatan terhadap leluhur di daerah tempat tradisi tersebut berkembang.

    Di samping itu, munggahan bertujuan untuk membersihkan diri setiap orang dari perbuatan buruk yang mungkin dilakukan selama satu tahun terakhir.

    Hal ini bertujuan agar seseorang dapat menjalani ibadah di bulan Ramadan tanpa beban dosa.

    Seiring berlalunya waktu, munggahan menjadi sarana untuk menjalin dan mempererat tali silaturahmi antaranggota masyarakat.

    Sebagaimana diketahui, masyarakat Sunda dikenal memiliki tingkat kekerabatan dan emosional yang cukup tinggi.

  • Waduk Cirata: Lokasi, Sejarah, dan Kisah Mistisnya

    Waduk Cirata adalah bendungan buatan di Purwakarta dengan luas 43 ribu hektar sehingga bisa disebut sebagai waduk buatan terbesar di Asia Tenggara.

    Selain sebagai pengairan lahan, Waduk Cirata juga digunakan sebagai tempat wisata, baik bagi tamu lokal maupun luar daerah.

    Sumber air di waduk ini melimpah deras sehingga mampu mengaliri tiga kabupaten, yaitu Cianjur, Purwakarta, dan Bandung Barat.

    Baca juga: Rekomendasi Hotel Nyaman di Pangandaran, Harga Murah Fasilitas Lengkap

    Lokasi Waduk Cirata

    Waduk Cirata berada di Desa Cadas Sari, Kecamatan Tegal Waru Plered, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.

    Bagi masyarakat Purwakarta, tentu saja waduk ini sudah tak asing lagi. Fungsi utamanya adalah sebagai PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Cirata dengan kapasitas produksi listrik mencapai 1428 GWh/tahun.

    Mesin serta alat pembangkitnya tertanam di bawah tanah yang dikenal dengan sebutan Power House.

    Adapun operasinya adalah untuk Jawa-Bali, yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) yang merupakan anak perusahaan dari PLN.

    Baca juga: 5 Wisata Semarang Paling Populer Tahun 2023, Yuk Intip!

    Sejarah Waduk Cirata

    Menurut informasi yang dihimpun, Waduk Cirata mulai dibangun pada tahun 1982 hingga 1987 dengan kurang lebih 5.000 tenaga dari Indonesia dan asing.

    Kemudian proses pembangunannya adalah dengan cara membendung aliran sungai Citarum. Sementara perancang Waduk Cirata adalah Indra Karta dan NEWJEC.

    Saat pembangunan selesai, Waduk Cirata diresmikan oleh presiden RI kedua, Soeharto. Alasan waduk ini dibangun adalah untuk pembangkit listrik Jawa – Bali yang sampai saat ini terus beroperasi.

    Dalam proses pembangunannya, bendungan buatan ini dibangun dalam dua tahap.

    Pertama pada tahun 1983-1988 dengan daya 504 megawatt, kemudian tahap kedua tahun 1995-1997 dengan daya yang sama, sehingga total keseluruhan dayanya menjadi 1008 megawatt.

    Saat ini Waduk Cirata mampu memproduksi energi listrik rata-rata 1.428 GWh pertahun yang kemudian disalurkan via jaringan transmisi dengan tegangan tinggi 500 kV ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali.

    Baca juga: Umbul Brondong, Wisata Kolam Alami di Klaten

    Kisah Mistis Waduk Cirata

    Namun di balik kemegahannya, Waduk Cirata juga menyimpan kisah mistis yang sempat menggegerkan warga sekitar.

    Konon, di sekitar Waduk Cirata ada sosok ular raksasa yang berdiam di diri di dasar air. Kabarnya ular ini mampu berenang dengan kecepatan tinggi ketika menerkam mangsa.

    Setelah berhasil memakan mangsanya, ular ini akan kembali ke dasar air dan tidak akan pernah naik hingga kurun waktu tertentu.

    Selain ular raksasa, ada juga kisah misteri lain di Waduk Cirata, yaitu para pekerja yang mengalami kejadian-kejadian aneh ketika membangun bendungan.

    Konon katanya, dahulu para pekerja mengalami kejadian-kejadian aneh seperti tiba-tiba tercebur ke air hingga tersengat listrik.

    Tragisnya, korban-korban tersebut sulit dicari hingga akhirnya akan muncul dengan sendirinya setelah beberapa hari.

    Dan satu lagi kisah mistis di sana adalah adanya pintu menuju alam gaib. Konon pernah ada orang yang disesatkan ketika melintas di jembatan.

    Alhasil orang tersebut menuju rute yang salah dan tidak kembali hingga sekarang.

    Namun, itu hanya cerita mistis yang beredar di masyarakat. Percaya atau tidak, dikembalikan ke pribadi masing-masing.