Tag: jawa

  • Nama-Nama Dataran Rendah di Pulau Jawa, Menelusuri Keindahan Alam di Indonesia

    Nama-Nama Dataran Rendah di Pulau Jawa, Menelusuri Keindahan Alam di Indonesia

    Pulau Jawa sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia menyimpan beragam tempat wisata alam yang menakjubkan, terutama dataran rendah yang memukau.

    Nama-Nama Dataran Rendah di Pulau Jawa

    Dataran rendah di pulau Jawa menawarkan pemandangan alam yang indah dan beragam, serta menawarkan pengalaman wisata yang luar biasa.

    Berikut ini adalah nama-nama dataran rendah di Pulau Jawa dengan panorama yang memanjakan mata.

    1. Dataran Rendah Brebes

    Dataran Rendah Brebes terletak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tempat ini terkenal dengan keindahan sawahnya yang hijau, seperti di Desa Tegalreja dan Desa Srandil.

    Di sini juga terdapat banyak makanan khas Brebes yang patut untuk dicoba, seperti empal gentong dan sate blengong.

    2. Dataran Rendah Cirebon

    Dataran Rendah Cirebon terletak di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tempat ini terkenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan, seperti Pantai Kejawanan, Gunung Ceremai, dan Taman Wisata.

    3. Dataran Rendah Brebes

    Dataran Rendah Brebes terletak di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah.

    Dataran rendah ini menawarkan pemandangan alam yang indah dan menarik, seperti hamparan sawah yang luas dan pemandangan air terjun.

    Selain itu, Dataran Rendah Brebes juga terkenal dengan hasil pertaniannya yang melimpah, seperti bawang merah dan bawang putih.

    4. Dataran Serayu

    Dataran Serayu terletak di antara Pegunungan Serayu di sebelah utara dan Gunung Slamet di sebelah selatan, dan melintasi beberapa kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

    Dataran ini terkenal sebagai pusat pertanian utama dengan pemandangan yang sangat indah.

    Di sini, kamu dapat melihat sawah hijau yang luas, perkebunan teh yang menghijau, dan perkebunan sayuran yang subur.

    5. Dataran Kendal

    Dataran Kendal terletak di Provinsi Jawa Tengah dan menjadi pusat pertanian dan industri.

    Dataran ini dikelilingi oleh Pegunungan Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran, sehingga memberikan pemandangan yang sangat indah.

    Di sini, kamu dapat melihat sawah hijau yang luas, perkebunan teh yang menghijau, dan pemandangan alam yang menakjubkan.

    6. Dataran Aluvial Citarum

    Dataran Aluvial Citarum terletak di bagian barat laut Jawa Barat dan mencakup area seluas 10.000 km persegi.

    Dataran ini merupakan salah satu dataran rendah terbesar di Pulau Jawa dan menjadi pusat pertanian utama di Jawa Barat.

    Pemandangan di dataran ini sangat indah, dengan lanskap yang dipenuhi sawah hijau, sungai yang menyejukkan, dan pegunungan yang mempesona.

    7. Dataran Banyumas

    Dataran Banyumas terletak di Provinsi Jawa Tengah dan meliputi wilayah Kabupaten Banyumas dan sekitarnya.

    Dataran ini terdiri dari lahan yang cukup luas dan subur, sehingga sangat cocok untuk pertanian dan perkebunan.

    Selain itu, Dataran Banyumas juga dikenal sebagai daerah penghasil kopi yang berkualitas.

  • Sejarah Tanah Jawa dan Unsur Gaib di Dalamnya

    Sejarah Tanah Jawa dan Unsur Gaib di Dalamnya

    Sejarah Tanah Jawa

    Tanah Jawa atau Bhumi Jawa dan Daerah Jawa, merupakan beberapa daerah di pulau Jawa yang lebih condong ke wilayah Timur. Yang identik dengan Suku Jawa dan Adat istiadat Jawa.

    Pulau Jawa adalah pulau terbesar dan memiliki penduduk terbanyak di Indonesia. Kamu bisa menemukan Ibukota negara di pulau ini, sehingga menjadikan kota-kota sekitarnya lebih berkembang daripada kota yang berada di luar Pulau Jawa.

    Namun, apakah kamu mengetahui tentang asal muasal munculnya pulau ini? Berikut adalah sejarah tanah jawa yang kental dengan unsur gaib dan mistisnya.

    1. Proses Kemuculan Pulau Jawa

    Menurut ahli geologi menyebutkan proses terjadinya daratan yang terjadi di belahan Asia bagian selatan adalah akibat dari proses pergerakan anak benua India ke utara yang bertabrakan dengan lempengan sebelah utara. Pergerakan lempeng bumi inilah yang melahirkan gunung Himalaya.

    Konon, pada zaman dahulu anak benua di selatan sebagian terendam air laut, sehingga yang muncul di permukaan air adalah gugusan pulau yang merupakan mata rantai gunung berapi. Gugusan pulau itu adalah di Asia Tenggara salah satunya adalah Nuswantoro (Nusantara).

    2. Ditemukannya Pulau Jawa

    Setelah kemunculannya. Ternyata, tidak banyak warga dunia yang mengetahui keberadaan pulau ini. Hingga salah seorang peziarah dari china (Fa Hien) yang menemukannya pada tahun 414 Masehi.

    Menurut dari salah satu sumber menyebutkan bahwa pada 2.000 tahun sebelum Masehi. Pulau Jawa masuk dalam koloni bangsa Atlantis. Lalu, setelah Atlanstis hancur, hanya tinggal Jawa yang seperti sekarang ini.

    3. Ajaran Yang Ditinggalkan Bangsa Atlantis

    Sejarah gaib tanah jawa tak lepas dari pengaruh bangsa Atlantis yang berkuasa. Ketika pulau Jawa masih dikuasai oleh bangsa Atlantis, ajaran gaib dan mistis mulai mereka ajarkan kepada rakyat Jawa yang tinggal di sini. Sehingga menjadikan rakyat Jawa pada kala itu memuja para dewa.

    Raja pada waktu itu meminta pagar gaib untuk melindungi Pulau Jawa. Selain itu, tujuannya adalah agar pengaruh ajaran gaib hitam ini tetap berlanjut dari abad ke abad. Tentu saja hal tersebut cukup merusak tatanan kehidupan yang ada saat itu.

    4. Datangnya Agama Hindu Yang Penuh Lika Liku

    Sekitar 1.200 tahun sebelum masehi, Raja Vaivasvata yang beragama Hindu datang secara damai ke Tanah Jawa. Awalnya, mereka membuat perdagangan kecil kemudian seiring berjalannya waktu pendatang Hindu meningkat pesat dan akhirnya mereka menjadi dominan dalam komunitas.

    Meskipun ajaran agama Hindu sudah bisa diterima di kalangan rakyat Jawa. Namun, mereka kembali ke ajaran lama yaitu ajaran ilmu hitam yang semakin menjadi-jadi.

    Setelah itu, datang lah seorang pemimpin Ekspedisi yaitu Aji Saka yang diemban tugaskan oleh Raja Vaivasvata untuk memberantas aliran hitam di pulau ini.

    Aji Saka menanamkan jimat yang memiliki magnet kuat yang ditanam di titik Pulau Jawa untuk memusnahkan aliran hitam di pulau ini. Saat itu juga Aji Saka dianggap melambangkan kedatang Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Budha).

    5. Aliran Sesat Yang Kembali Di Tanah Jawa

    Setelah penanaman jimat dari Aji Saka, memang bertahan hingga ratusan tahun. Namun setelahnya, keadaan kembali seperti semula. Di mana jin mulai berkuasa dan bencana merajalela. Pada masa itu ajaran sesat semakin berkembang. Dibuktikan dengan munculnya kejawen, klenik, dan juga kebatianan.

    6. Kedatangan Syekh Subakir

    Hingga pada abad ke 13, seorang ulama yang dikirm oleh Turki Utsmaniah ke Tanah Jawa untuk memberantas dari pengaruh buruk ajaran sesat, yaitu Syekh Subakir.

    Ia mengetahui bahwa pengaruh ilmu gaib sangat kuat di sini. Sehingga ia membawakan batu hitam dari Arab yang telah dirajah.

    Kemudian, Syekh Subakir memasangnya di Puncak Gunung Tidar, Magelang. Konon di puncak inilah titik pertengahan dan paku dari Tanah Jawa. Sehingga pengaruh gaib dapat dihalau.

    Setelah masa Syekh Subakir yang memagarai pengaruh gaib berakhir, kemudian perjuangan ini dilanjutkan oleh Wali Songo. Para wali ini berjuang dengan cara menyebarkan Agama Islam kepada seluruh Rakyat di Tanah Jawa.

    Nah, itulah sejarah asal muasal terbentuknya Pulau Jawa hingga masuknya beberapa Agama di pulau ini. Sungguh penuh perjuangan para pendahulu-pendahulu yang ingin menyelamatkan Tanah Jawa dari Pengaruh Negatif hingga menjadi pulau yang seperti ini sekarang.

    Sumber :

    Sindonews (https://daerah.sindonews.com/read/998989/29/kisah-sejarah-gaib-tanah-jawa-1431076748)

  • Filosofi Semar, Tokoh Wayang dalam Kebudayaan Jawa

    Filosofi Semar, Tokoh Wayang dalam Kebudayaan Jawa

    Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya. Bebadra = Membangun sarana dari dasar dan Naya (Nayaka) = Utusan mangrasul. Bila dipadukan maka artinya: Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

    Filosofi Biologis Semar

    Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun).

    Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”.

    Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

    Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang= gersang) dempel= keteguhan jiwa.

    Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

    Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

    Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

    Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

    Ciri sosok semar adalah :

    • Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
    • Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
    • Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
    • Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
    • Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

    Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

    Dikalangan spiritual Jawa, tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual.

    Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

    Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

    Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :

    Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

    Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa.

    Manusia Jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya: “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

    Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri

    Dalam Etika Jawa (Sesuno, 1988 : 188) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan Abdi Pamomong yang paling dicintai.

    Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

    Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara (Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25).

    Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa (Brandon dalam Suseno, 1988 : 188). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa.

    Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” (menjadi manusia) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

    Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa (Poedjowijatno, 1975 : 49) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia (Geertz 1969 : 264).

    Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya (Suseno 1988 : 190).

    Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia (Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193)

    Dari segi etimologi, joinboll (dalam Mulyono 1978 : 28) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “.

    Jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa (Mulyono 1978 : 18) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah.

    Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula (Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191).

    Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto (1969 : 31) berpendapat dan menggambarkan (dalam bentuk kaligrafi) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

    Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih (timoer, tt : 13).

    Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ”rasa ingat” (timoer 1994 : 4), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta.

    Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma (Mulyono 1978 : 35)

    Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon “Semar Mbabar Jati Diri”.

    Gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995.

    Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 (Cermomanggolo 1995 : 5).

    Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono (Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10).

    Dikemukan oleh Arum (1995:10) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ”Semar Mbabar Jadi Diri” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi, ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

    Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer (1994:4) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup.

    Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito (dalam Ciptoprawiro 1991:46) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

    Sumber: Alangalangkumitir