Tag: jepang

  • Apa Arti Gerakan 3A pada Masa Pendudukan Jepang?

    Gerakan 3A adalah propaganda yang dilancarkan Jepang pada masa pendudukan Indonesia di Perang Dunia II. Gerakan ini bertujuan untuk menarik simpati dan dukungan rakyat Indonesia terhadap Jepang.

    Adapun arti dari 3A itu sendiri adalah:

    • Nippon Cahaya Asia (Nippon no Hikari): Jepang digambarkan sebagai penyelamat dan pembawa kemajuan bagi bangsa-bangsa Asia.
    • Nippon Pelindung Asia (Nippon no Goei): Jepang diposisikan sebagai pelindung bangsa-bangsa Asia dari penjajahan Barat.
    • Nippon Pemimpin Asia (Nippon no Hodoo): Jepang sebagai pemimpin yang akan mewujudkan “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya” di bawah kendalinya.

    Lewat Gerakan 3A, Jepang melancarkan berbagai program seperti:

    • Bidang pendidikan: Sistem pendidikan diubah dengan memasukkan nilai-nilai dan budaya Jepang.
    • Organisasi pemuda: Dibentuk organisasi pemuda seperti Putera dan Seinendan untuk mendapatkan dukungan dari generasi muda.
    • Propaganda media: Melalui radio, surat kabar, dan film, pencitraan Jepang sebagai pemimpin Asia terus digaungkan.

    Namun pada kenyataannya, Gerakan 3A lebih banyak propaganda dibanding tindakan nyata.

    Jepang tetap memberlakukan kerja paksa (romusha) dan eksploitasi sumber daya alam demi kepentingan perang mereka.

  • 4 Perbedaan Yukata dan Kimono yang Jarang Diketahui

    4 Perbedaan Yukata dan Kimono yang Jarang Diketahui

    Yukata dan kimono adalah pakaian tradisional Jepang yang sering dipakai untuk acara-acara resmi atau perayaan festival.

    Namun, meskipun keduanya memiliki kesamaan dalam hal tampilan, keduanya memiliki perbedaan dalam berbagai hal.

    Apa saja perbedaan yukata dan kimono? Berikut diantaranya.

    1. Desain

    Salah satu perbedaan utama antara yukata dan kimono terletak pada desainnya.

    Kimono memiliki desain yang lebih formal dan elegan dengan corak cerah dan bentuk yang lebih panjang, berbentuk lurus dan memakai sabuk lebar tepat di bawah payudara.

    Kimono sering digunakan dalam acara-acara resmi seperti pernikahan, upacara teh, dan acara budaya Jepang lainnya.

    Sedangkan yukata memiliki desain yang lebih sederhana dan santai, dengan corak lebih sederhana dan terbuat dari kain katun yang ringan.

    Bentuknya juga lebih lebar dan lebih pendek daripada kimono, dengan sabuk yang lebih sempit dan diletakkan lebih rendah di pinggang.

    Yukata sering digunakan sebagai pakaian sehari-hari atau untuk kegiatan rekreasi seperti festival, acara pantai, atau onsen.

    2. Jenis Kain

    Kain yang digunakan untuk membuat yukata dan kimono berbeda.

    Kimono biasanya terbuat dari kain sutra yang halus dan elegan, atau kain sintetis.

    Kain sutra memiliki tekstur yang kaku dan cocok untuk membentuk model kimono yang panjang dan elegan.

    Namun, karena kain sutra cukup mahal, banyak pengrajin kimono menggunakan bahan sintetis yang lebih murah.

    Sedangkan yukata biasanya terbuat dari kain katun yang lebih ringan dan memiliki tekstur yang halus dan lembut.

    Kain katun lebih nyaman digunakan di cuaca panas dan masih terlihat cantik dengan corak tradisional Jepang.

    3. Penggunaan

    Yukata dan kimono digunakan untuk keperluan yang berbeda.

    Kimono lebih sering digunakan pada acara formal seperti upacara pernikahan atau upacara budaya Jepang lainnya.

    Model kimono yang lebih formal biasanya memerlukan waktu untuk menyiapkannya seperti menggulung rambut atau mengenakan obi dengan benar.

    Sedangkan yukata digunakan dalam acara yang lebih santai seperti festival atau acara pantai.

    Yukata juga lebih mudah digunakan, karena tidak membutuhkan teknik khusus seperti kimono tradisional.

    Yukata dipakai dengan cara yang lebih sederhana dan tidak diperlukan keahlian yang khusus untuk mengenakannya.

    4. Harga

    Kimono merupakan pakaian yang lebih formil dan memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan yukata.

    Harga kimono dapat mencapai hingga puluhan juta rupiah tergantung pada bahan dan desainnya.

    Sedangkan yukata yang lebih sederhana dapat ditemukan dengan harga yang lebih murah dan terjangkau.

    Itulah beberapa perbedaan yukata dan kimono. Sekarang sudah tahu, kan?

  • Tsundoku, Seni Menumpuk Buku yang Belum Dibaca

    Tsundoku, Seni Menumpuk Buku yang Belum Dibaca

    Pernah gak sih kamu merasa kagum lihat tumpukan buku yang berserakan di seluruh rumahmu?

    Atau mungkin kamu merasa bersalah karena tumpukan buku yang belum pernah kamu sentuh semakin bertambah?

    Kalau kamu pernah merasa begitu, berarti kamu sedang terjebak dalam apa yang disebut sebagai “tsundoku.”

    Istilah tersebut berasal dari bahasa Jepang untuk menggambarkan kebiasaan menumpuk buku yang belum sempat dibaca.

    Asal-usul Tsundoku

    Tsundoku”terdiri dari dua karakter kanji, yaitu “tsunde” yang berarti menumpuk, dan “oku” yang berarti membiarkan untuk sementara waktu.

    Jadi, kalau kita artikan secara sederhana, tsundoku itu adalah “menumpuk dan membiarkan untuk sementara waktu.

    Istilah ini pertama kali muncul di Jepang pada akhir abad ke-19, pada masa periode Meiji. Dan sejak itu, tsundoku menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya membaca Jepang.

    Jepang emang terkenal banget dengan budaya literasinya yang kaya, dimana buku dihargai sebagai harta karun dan membaca adalah cara untuk mengembangkan diri.

    Tapi, sebenernya, tsundoku itu juga mencerminkan sifat manusia, yaitu keinginan untuk terus belajar dan tumbuh. Hanya saja, kita sering kali terjebak dalam banyaknya pilihan buku yang menggiurkan.

    Tsundoku di Era Modern

    Waktu berlalu dan fenomena tsundoku pun nggak hanya terbatas di Jepang saja, tapi bisa kamu temui di seluruh dunia. Apalagi di era digital yang penuh dengan gadget dan akses mudah ke berbagai konten.

    Tsundoku jadi lebih dari sekadar menumpuk buku fisik, sekarang termasuk artikel yang belum dibaca, e-book yang belum selesai, atau bahkan daftar podcast yang terus bertambah.

    Nah, ada beberapa penyebab tsundoku. Salah satunya adalah gangguan terus-menerus dari perangkat elektronik kita.

    Kamu tahu sendiri kan, notifikasi pesan, medsos, dan email bisa dengan mudahnya mengalihkan perhatian kita dari buku yang sebenarnya ingin kita baca.

    Belum lagi, tekanan waktu yang tinggi dan tuntutan pekerjaan yang gila-gilaan membuat banyak orang kesulitan menemukan waktu untuk baca buku dengan fokus.

    Maka, buku-buku yang menumpuk itu jadi simbol dari impian baca yang belum kesampaian.

    Keindahan dalam Tumpukan Buku

    Tapi, meskipun terkesan seperti kebiasaan buruk, tsundoku sebenarnya juga punya sisi positifnya. Tumpukan buku itu adalah cerminan dari minat dan obsesi kita.

    Setiap buku yang ada dalam tumpukan mungkin memiliki cerita unik yang akan menarik kita suatu saat. Selain itu, tumpukan buku juga bisa memberikan nuansa berbeda pada rumah kita.

    Misalnya buku-buku tua dengan sampul klasik atau koleksi buku anak-anak yang penuh warna bisa menambah esetitka pada ruangan.

    Buku-buku tersebut adalah bagian dari dekorasi yang bisa membuat rumah kita terasa lebih pribadi dan hidup.

    Dampak Tsundoku

    Namun, seperti halnya segala sesuatu dalam hidup, tsundoku juga bisa punya dampak negatif. Ketika tumpukan buku terus bertambah, kita bisa merasa bersalah dan cemas.

    Kita merasa terbebani oleh tekanan untuk membaca semua buku yang kita beli atau simpan. Dan jika kita nggak bisa mengatasi tumpukan itu, bisa jadi kita merasa stres dan penasaran.

    Selain itu, tsundoku juga bisa menghambat pertumbuhan pribadi kita. Banyak orang yang punya tumpukan buku belum dibaca merasa seperti harus menyelesaikan semua buku itu dulu sebelum bisa melangkah ke hal-hal lain.

    Akibatnya, kita terjebak dalam siklus yang nggak produktif dan nggak bisa mengeksplorasi hal-hal baru.

    Cara Mengatasi Tsundoku

    Oke, sekarang kita sudah paham apa itu tsundoku dan dampaknya. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mengatasi tsundoku? Nah, ini dia beberapa solusi yang bisa kamu pertimbangkan:

    1. Buat Daftar Prioritas

    Mulailah dengan membuat daftar buku yang ingin kamu baca dalam waktu dekat. Ini akan membantu kamu untuk lebih fokus pada buku-buku yang paling penting atau paling menarik.

    Dengan memiliki daftar prioritas, kamu bisa menghindari godaan untuk membeli buku-buku baru tanpa rencana.

    2. Batasi Pembelian Buku Baru

    Terapkan aturan sederhana: jangan membeli buku baru sebelum kamu menyelesaikan beberapa buku yang sudah ada dalam tumpukanmu.

    Hal ini akan membantu kamu mengendalikan pertumbuhan tumpukan buku dengan lebih baik.

    3. Jelajahi Buku yang Sudah Ada

    Alihkan perhatianmu dari buku-buku baru dan berikan waktu untuk mengeksplorasi buku-buku yang sudah ada dalam tumpukan,

    Siapa tahu kamu akan menemukan permata tersembunyi di antara buku-buku tersebut yang selama ini terlupakan.

    4. Tetapkan Waktu Membaca Harian

    Sama seperti kamu memiliki jadwal untuk berolahraga atau bekerja, kamu juga bisa punya jadwal untuk membaca.

    Menetapkan waktu khusus setiap hari untuk membaca bisa membantu kamu memprioritaskan kegiatan ini.

    5. Gunakan Teknologi dengan Bijak

    Kalau kamu lebih suka baca e-book atau mendengarkan audiobook, kamu perlu menggunakan teknologi dengan bijak. Matikan notifikasi perangkat saat kamu membaca agar kamu nggak terganggu.

    6. Bagikan Pengalaman Membaca

    Berbicara dengan teman atau keluarga bisa jadi pengalaman yang seru. Cara ini bisa memotivasi kamu untuk membaca lebih banyak dan berdiskusi tentang buku tersebut.

    7. Donasikan atau Pertukarkan Buku

    Kalau kamu punya buku-buku yang sudah kamu baca dan nggak ingin simpan lagi, kamu bisa menyumbangkannya ke perpustakaan. Ini adalah cara yang baik untuk berbagi cinta pada buku dengan orang lain.

  • Jangan Keliru, Ini Arti Senpai dan Perbedaannya dengan Sensei

    Jangan Keliru, Ini Arti Senpai dan Perbedaannya dengan Sensei

    Senpai dan Sensei adalah istilah yang berasal dari Jepang, namun sering digunakan oleh orang-orang di seluruh dunia, salah satunya Indonesia.

    Hal ini karena budaya Jepang yang sangat terkenal, terlebih lagi dengan merajainya film animasi Jepang yang biasa disebut anime.

    Sebut saja salah satunya anime Naruto. Di Indonesia sendiri, anime ini sangat digandrungi oleh penonton dari segala usia dan kalangan.

    Nah, di dalam anime tersebut kita akan sering mendengar istilah “Senpai” dan “Sensei”.

    Maka, tak heran jika kedua kata tersebut sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari bahkan di sosial media.

    Lalu, apa sih arti Senpai dan Sensei?

    Arti Senpai

    Jadi, Senpai adalah panggilan kepada orang yang lebih tua atau senior yang menjadi mentor dalam suatu pelatihan atau pendidikan tertentu.

    Tapi jangan salah, senpai tidak selalu dinobatkan kepada orang yang lebih tua atau senior.

    Semisal kakak kelas, belum bisa disebut Senpai karena seringkali orang Jepang memanggil nama saja jika tidak ada hubungan khusus.

    Contoh Senpai adalah mahasiswa yang menjadi asisten dosen. Maka, mahasiswa tersebut sudah bisa disebut Senpai karena menjadi mentor atau membantu proses belajar bagi mahasiswa lainnya.

    Contoh lain penggunaan Senpai adalah saat kita menjadi anggota lama di sebuah organisasi yang membimbing anggota baru.

    Maka, kita dapat disebut sebagai Senpai karena dianggap senior dan lebih banyak pengalaman untuk mengajarkan mereka.

    Nah, sampai disini sudah paham kan apa itu Senpai? Jika sudah, kita lanjut ke arti Sensei.

    Arti Sensei

    Sensei adalah panggilan kepada orang yang melatih kita dalam mengembangkan bakat serta keterampilan. Singkatnya, Sensei dapat diartikan sebagai guru.

    Semisal kita belajar karate, maka pelatihnya disebut Sensei.

    Jadi, Sensei adalah orang yang berpengalaman dan menguasai satu bidang tertentu serta menyalurkan keahliannya tersebut kepada orang lain.

    Tidak sembarang orang bisa disebut Sensei. Jika hanya mengajarkan hal-hal yang sifatnya negatif, orang tersebut belum dapat disebut sebagai Sensei.

    Sebab, konotasi Sensei juga merujuk pada hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk khalayak ramai.

    Selain itu, Sensei juga selalu memiliki pengetahuan serta keterampilan yang mumpuni dalam suatu bidang tertentu.

    Lalu apa bedanya Senpai dengan Sensei?

    Perbedaan Senpai dengan Sensei

    Jika melihat definisi, Senpai dan Sensei memang seakan mirip, padahal sebenarnya keduanya memiliki perbedaan. Bahkan, tak sedikit yang salah menggunakan kedua kata ini.

    Maka dari itu, simak beberapa perbedaan Senpai dan Sensei berikut ini.

    Peran dan Tanggung Jawab

    Meski keduanya sama-sama memiliki peran sebagai mentor, tapi Sensei lebih memiliki otoritas. Sebab, Sensei lah yang memilih seseorang untuk menjadi Senpai dan membantunya dalam mengajarkan ilmu.

    Perbedaan Usia

    Meski tak selalu, tapi keduanya cenderung memiliki perbedaan usia. Sensei relatif lebih tua bila dibandingkan dengan Senpai.

    Sebab, Sensei adalah guru atau pendidik dari Senpai sehingga usianya tentu terpaut antara keduanya.

    Perbedaan Pengetahuan dan Keterampilan

    Sensei adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan serta keterampilan yang tinggi dan mengajarkan kepada murid-muridnya.

    Sementara murid yang berhasil mempelajari ilmu tersebut akan diangkat menjadi Senpai. Jadi, pengetahuan Senpai didapat dari Sensei.

    Meski ada beberapa murid yang lebih hebat daripada guru, namun ada beberapa hal dari guru yang tidak dimiliki oleh muridnya.

    Perbedaan Otoritas

    Perbedaan Sensei dan Senpai selanjutnya adalah terletak pada otoritas. Semisal dalam sebuah organisasi, Sensei adalah orang yang memiliki otoritas dan menentukan segala keputusan.

    Sementara Senpai hanyalah penasihat yang tidak mampu memberi keputusan, kecuali sudah diizinkan oleh Sensei nya.

    Contohnya ketika di sebuah perguruan karate akan diadakan perombakan struktur, maka Sensei yang memutuskan semuanya. Senpai hanya memberi masukan berdasarkan hasil pengamatan di lapangan.

    Perbedaan Pengalaman

    Biasanya sebelum menjadi Sensei, seseorang akan mengikuti serangkaian pelatihan serta ujian. Ketika lolos, barulah ia dinobatkan menjadi Sensei.

    Sementara Senpai harus menempuh beberapa pelatihan terlebih dahulu sebelum ia diangkat menjadi Sensei.

    Nah, itulah pengertian Senpai dan Sensei serta perbedaan antara keduanya. Sekarang sudah paham, kan?

    Semoga bermanfaat, jangan lupa membaca artikel lainnya di sastrawacana.id/.

    Author: Maulana Affandi

  • 7 Senjata Ninja Paling Mematikan Sepanjang Sejarah

    7 Senjata Ninja Paling Mematikan Sepanjang Sejarah

    Senjata ninja adalah serangkaian alat dan senjata tradisional yang digunakan oleh para ninja dalam praktik mereka.

    Senjata-senjata ini dirancang khusus untuk mendukung kemampuan mereka dalam perang gerilya, mata-mata, dan pertempuran jarak dekat maupun jauh.

    Senjata ninja memiliki fungsi dan karakteristik tersendiri yang memungkinkan para ninja untuk mengalahkan musuh dengan cepat dan efektif.

    Senjata Ninja Paling Mematikan

    Mau tahu apa saja senjata ninja yang paling mematikan sepanjang sejarah? Berikut diantaranya:

    1. Shuriken

    Shuriken adalah jenis senjata yang berbentuk bintang kecil dengan mata yang sangat tajam.

    Senjata ninja yang satu ini memiliki berbagai ukuran dan desain, tetapi umumnya memiliki empat atau lebih mata tajam yang membentuk bintang.

    Shuriken umumnya dibuat dari logam dan digunakan sebagai serangan jarak dekat dan sedikit jauh. Ninja sering menggunakan shuriken untuk melempar ke arah musuh.

    Shuriken dapat digunakan sebagai senjata ofensif untuk melukai atau mengalihkan perhatian musuh, serta sebagai alat defensif untuk memblokir serangan.

    Selain digunakan dalam pertempuran, shuriken juga memiliki peran dalam taktik pengalihan dan pengaburan.

    Ninja dapat melemparkan shuriken ke tanah atau objek di sekitar untuk menciptakan gangguan visual dan mengaburkan pandangan musuh.

    Dengan begitu, ninja memiliki kesempatan untuk menghindar atau melancarkan serangan mendadak.

    2. Kunai

    Kunai adalah pisau kecil atau belati yang sering digunakan oleh ninja. Pisau ini memiliki ujung yang runcing dan umumnya memiliki lingkaran di bagian bawah pegangannya.

    Dalam penggunaannya, kunai sering digunakan dalam pertarungan jarak dekat dan menengah. Ninja menggunakan kunai untuk melukai target, mengalihkan perhatian lawan, atau menciptakan gangguan.

    Kemudian, kunai juga biasa digunakan ninja untuk membuat perangkap tersembunyi, mendapatkan akses ke area terbatas, atau untuk tujuan bertahan hidup.

    Selain itu, kunai juga digunakan untuk alat pendakian, dimana ninja menancapkan ujung kunai yang tajam ke dinding maupun pohon sebagai tumpuan untuk mendaki.

    Dalam serial anime Naruto, ada beberapa ninja yang ahli menggunakan kunai, salah satunya adalah Minato Namikaze.

    Bahkan, ia berhasil mengembangkan kunai sebagai jurus teleportasi untuk berpindah-pindah tempat dalam waktu singkat dengan kunai.

    3. Nunchaku

    Nunchaku terdiri dari dua batang kayu atau logam yang dihubungkan oleh rantai atau tali. Senjata ini digunakan untuk memukul, memutar, dan mengayunkan dengan cepat.

    Nunchaku sering digunakan dalam pertarungan jarak dekat dan menjadi salah satu senjata ikonik ninja.

    Ninja pengguna nunchaku biasanya adalah ninja yang terampil dalam taijutsu atau serangan fisik. Dalam serial Naruto, ninja yang terlihat menggunakan nunchaku adalah Maito Guy.

    Selain digunakan untuk bertarung, nunchaku juga sering digunakan untuk mempertahankan diri.

    Gerakan memutar dan memukul dengan nunchaku dapat digunakan untuk memblokir serangan dan menghalangi jangkauan lawan.

    Kemudian, nunchaku juga digunakan sebagai alat latihan untuk mengembangkan keterampilan dan kecepatan dalam seni bela diri.

    Latihan dengan nunchaku membantu meningkatkan koordinasi, fleksibilitas, dan konsentrasi.

    4. Fukiya

    Fukiya adalah sebuah senjata tradisional Jepang yang terdiri dari tabung panjang yang digunakan untuk menembakkan anak panah kecil.

    Ninja menggunakan fukiya untuk menyerang musuh dari jarak jauh dengan panah yang diracik dengan racun atau bahan lain yang mematikan.

    Cara penggunaannya, ninja akan meniup fukiya yang di dalamnya terdapat panah. Karena penggunaannya melalui mulut, alat ninja yang satu ini juga dikenal dengan blowgun.

    Fukiya terbuat dari tabung yang terbuat dari bambu atau logam dengan panjang berkisar antara satu hingga dua meter.

    Ujung tabung memiliki lubang kecil tempat anak panah dimasukkan dan ditembakkan.

    Fukiya biasanya digunakan dengan mengembuskan udara melalui tabung untuk melontarkan anak panah dengan kecepatan tinggi.

    5. Kusarigama

    Kusarigama adalah senjata yang unik yang terdiri dari sabit yang terpasang pada rantai panjang dengan bola logam di ujungnya.

    Ninja dapat menggunakan sabit untuk melukai musuh dari jarak dekat dan menggunakan bola logam untuk menangkap atau memukul lawan.

    Kusarigama digunakan dengan cara melontarkan sabit dan mengayunkannya menggunakan rantai.

    Rantai yang terhubung dengan sabit memungkinkan penggunanya untuk mengendalikan jangkauan serangan dan memberikan kejutan kepada lawan.

    Selain digunakan dalam pertempuran, kusarigama juga dapat digunakan sebagai alat pengganggu atau perangkap.

    Misalnya, bola besi di ujung rantai dapat digunakan untuk mengenai atau menghantam musuh dari jarak jauh atau sebagai alat untuk menjebak lawan.

    6. Tantō

    Tantō adalah pisau pendek berkisar antara 15 hingga 30 cm yang sering digunakan oleh ninja untuk pertarungan jarak dekat.

    Bilah yang tajam memungkinkan serangan yang efektif dan dapat menimbulkan luka yang serius pada target.

    Selain untuk menyerang, tantō juga digunakan sebagai senjata pertahanan.

    Ninja dapat menggunakan tantō untuk memblokir serangan lawan atau menjaga jarak dengan memanfaatkan kemampuan dan kelincahan dalam menghindari serangan musuh.

    Tantō juga merupakan alat serbaguna yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

    Ninja dapat menggunakan tantō untuk memotong tali, membuka kunci, atau dalam kegiatan sehari-hari yang membutuhkan pisau pendek.

    7. Kyoketsu-shoge

    Kyoketsu-shoge adalah senjata yang terdiri dari sabit kecil dengan mata runcing dan tali panjang yang dilengkapi dengan penjepit atau cakar.

    Senjata ini dapat digunakan untuk menyerang, melingkarkan tali pada lawan, atau sebagai alat pengganggu.

    Ninja dapat menggunakan sabit untuk memotong atau menusuk lawan, sementara tali panjang dan penjepit dapat digunakan untuk melingkarkan tali pada musuh atau untuk menghalangi gerakan.

    Kyoketsu-shoge juga digunakan sebagai alat pengganggu.

    Ninja dapat mengayunkan atau melemparkan sabit ke arah lawan untuk menciptakan gangguan atau menyebabkan kerusakan pada perlengkapan musuh.

    Tali panjang dapat digunakan untuk membelit atau mengikat musuh untuk membatasi gerakan mereka.

    Kyoketsu-shoge juga berguna sebagai alat penjelajahan dan pergerakan. Tali panjang dapat digunakan untuk melintasi jurang atau penghalang, atau untuk membantu memanjat dinding atau bangunan.

    Itulah beberapa senjata ninja yang terkenal dan mematikan. Selain senjata-senjata tersebut, ninja juga menggunakan berbagai alat lainnya yang membantu mereka dalam melaksanakan tugas-tugas rahasia.

    Misalnya alat perangkap seperti caltrops (benda tajam yang digunakan untuk melambatkan atau melukai musuh), bom asap untuk mengaburkan penglihatan, atau metsubushi (taburan serbuk yang digunakan untuk mengalihkan perhatian musuh).

    Author: Maulana Affandi

  • 4 Panggilan Ayah dalam Bahasa Jepang

    4 Panggilan Ayah dalam Bahasa Jepang

    Panggilan Ayah dalam Bahasa Jepang

    Panggilan Ayah dalam Bahasa Jepang memang cukup beragam.

    Apalagi, Negeri Sakura ini juga merupakan salah satu negara dengan kebudayaan menghargai orang tua sehingga julukan atau panggilan kepada orang tua cukup beragam.

    Namun, kali ini sastrawacana.id/ akan merangkum beberapa panggilan Ayah dalam Bahasa Jepang yang dibedakan berdasarkan kegunaan serta tingkat keformalannya. Yuk disimak!

    1. Otou-san

    Otou-san adalah panggilan Ayah yang paling umum dalam Bahasa Jepang.

    Jika kamu penggemar  film serial ataupun anime Jepang, kamu akan sering mendengar panggilan ini. Panggilan Otou-san termasuk panggilan formal.

    Untuk menambah rasa hormat, biasanya masyarakat Jepang mengubahnya menjadi Otou-sama.

    Tak sedikit juga yang menyingkatnya menjadi tou-san atau tou-can untuk meningkatkan keakraban.

    2. Chichi

    Chichi merupakan panggilan Ayah dalam Bahasa Jepang yang sifatnya lebih santai, alias tidak formal.

    Namun, kata ini jarang digunakan ketika membicarakan Ayah orang lain karena dianggap kurang sopan.

    Ketika membicarakan Ayah orang lain, warga Jepang tetap menggunakan Otou-San.

    Panggilan Chici juga digunakan untuk penyebutan Hari Ayah dalam Bahasa Jepang, yaitu : Chichi no Hi.

    3. Oton

    Oton adalah panggilan Ayah dalam Bahasa Jepang yang umum digunakan oleh masyarakat di pedesaan.

    Panggilan ini paling banyak digunakan oleh warga Jepang yang menggunakan dialek Kansai (gaya bahasa daerah Osaka).

    Kata panggilan Oton memang cukup kental dengan kesan pedesaan sehingga kurang begitu tepat jika digunakan dalam pembicaraan formal.

    4. Chichioya

    Chichioya adalah panggilan Ayah dalam Bahasa Jepang yang sering digunakan sebagai pengumuman atau pernyataan tertulis.

    Chichioya tidak digunakan dalam percakapan langsung karena penggunaannya lebih ke arah pengertian atau ilmu bahasa.

    Nah, itulah beberapa panggilan Ayah Bahasa Jepang yang perlu kamu ketahui.

    Sekarang sudah tahu, kan?

    Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/ ya!

  • Nyaris Sama, Inilah 6 Perbedaan Budaya Jepang dan Korsel

    Nyaris Sama, Inilah 6 Perbedaan Budaya Jepang dan Korsel

    Perbedaan Budaya Jepang dan Korsel

    Jepang dan Korea Selatan adalah dua negara maju yang menjadi percontohan banyak negara berkembang di dunia.

    Selain itu, kedua negara ini juga memiliki banyak kemiripan, mulai dari bentuk fisik warganya hingga tradisi serta budaya.

    Namun, meskipun memiliki kemiripan dalam budaya, faktanya ada perbedaan yang cukup signifikan antara keduanya.

    Hal ini menarik untuk dibahas karena tidak sedikit orang yang salah menyimpulkan sehingga sering tertukar.

    Agar lebih jelas, simak beberapa perbedaan budaya Jepang dan Korea Selatan berikut ini.

    1. Cara Memberi Salam

    Jepang dan Korsel memang memiliki kesamaan dalam memberi salam kepada orang lain, yaitu membungkuk.

    Namun, yang membedakan adalah orang Jepang membungkuk lebih rendah daripada orang Korea Selatan.

    Selain itu, di Jepang ada sebuah tradisi membungkuk berulang-ulang karena mereka menganggap orang yang terakhir membungkuk adalah sopan.

    Sedangkan di Korsel, mereka hanya membungkuk sekali saja.

    2. Arsitektur Bangunan

    Jika dilihat sekilas, kedua negara ini sepertinya memiliki bentuk bangunan yang nyaris sama karena identik dengan kuil dan istana.

    Padahal sebenarnya tidak. Ada ukiran-ukiran serta motif yang berbeda diantara keduanya.

    Selain itu, di Korsel terdapat banyak istana-istana sisa zaman kerajaan.

    Sedangkan di Jepang, lebih banyak kuil peninggalan zaman dulu yang difungsikan hingga sekarang.

    3. Budaya Pendidikan

    Jepang dan Korea Selatan memiliki sistem pendidikan yang sama majunya dengan mengedepankan teknologi.

    Hanya saja, di Jepang juga ada sebuah materi pembelajaran informal yang mengajarkan tentang etika dan sopan santun, khususnya kepada orang yang lebih tua.

    Namun untuk urusan formal, mereka berdua sama-sama memiliki sistem yang apik.

    4. Budaya Berpakaian

    Jepang memiliki pakaian tradisional yang bernama Kimono. Sedangkan Korsel memiliki pakaian tradisional yang bernama Hanbok.

    Meski terlihat sama, padahal keduanya memiliki perbedaan. Salah satunya adalah dari motif dan garis.

    Hanbok umumnya lebih cerah dengan garis yang sederhana dan tidak memiliki saku.

    Sedangkan Kimono umumnya memiliki motif ramai, misalnya bunga sakura atau motif lain sesuai dengan budaya setempat.

    5. Bentuk Wajah

    Wajah orang Jepang dan Korea Selatan memang rupawan. Tapi ada perbedaan diantara keduanya.

    Umumnya orang Jepang memiliki bentuk wajah yang sedikit oval dengan tulang pipi sedikit ke bawah.

    Sedangkan orang Korea memiliki bentuk wajah sedikit datar dengan tulang pipi terangkat.

    6. Bentuk Mata

    Orang Jepang memiliki bentuk mata yang lebih besar dibandingkan orang Korea.

    Bentuk mata orang Jepang kecil memanjang yang terlihat jelas pada perempuannya.

    Sedangkan bentuk mata orang Korea lebih kecil lagi dengan satu kelopak mata.

  • 7 Fakta Origami, Seni Lipat Kertas dari Jepang

    7 Fakta Origami, Seni Lipat Kertas dari Jepang

    Origami adalah sebuah seni melipat kertas yang berasal dari Jepang.

    Menurut bahasa, Origami (折り紙, dari ori berarti "lipat", dan kami yang berarti "kertas".

    Umumnya, origami menggunakan kertas, tapi bisa juga menggunakan kain yang tujuannya sama, yaitu dibentuk sedemikian rupa menjadi pola yang unik dan lucu, misal binatang.

    Seni origami sangat populer di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

    Di negara kita tercinta, kebanyakan anak-anak PAUD atau TK sudah diajarkan origami.

    Dalam membuat origami, tidak ada aturan khusus sehingga setiap anak bisa berkreativitas tanpa batas.

    Nah, bicara tentang origami, ada beberapa fakta menarik yang jarang diketahui.

    Apa saja fakta tentang origami tersebut?

    Dari berbagai sumber yang dihimpun, sastrawacana.id/ telah merangkum beberapa fakta menarik tentang origami, yuk disimak!

    1. Origami Bukan Berasal Dari Jepang

    Muncul kabar jika seni origami bukanlah berasal dari Jepang.

    Menurut informasi yang dihimpun, seni lipat kertas ini sudah ada sejak tahun 507 Masehi.

    Yang mengejutkan lagi, Tiongkok juga telah lama mengenal seni melipat kertas ini, hanya saja namanya bukan origami.

    Selain itu, masyarakat Eropa juga telah lama melakukan kegiatan seni melipat kertas.

    Kendati demikian, Jepang lah yang mempopulerkan seni ini sehingga diakui dunia bahwa origami berasal dari Jepang.

    2. Awalnya Origami Hanya Dilakukan Oleh Kaum Elit

    Pada mulanya, origami hanya dilakukan oleh kaum elit di Jepang.

    Hal ini dikarenakan pada saat itu, komoditas kertas cukup langka dan harganya tinggi.

    Sehingga tidak semua orang bisa memaikan seni lipat kertas ini.

    Seiring perkembangan zaman, komoditas kertas semakin banyak sehingga semua kalangan bisa memainkan seni ini.

    3. Buku Origami Pertama Terbit Tahun 1797

    Ada sebuah buku yang membahas seni origami pada tahun 1797 yang ditulis oleh Akisato Rito.

    Buku itu berjudul “Sembazuru Orikata” (Thousand Crane Folding).

    Pada buku tersebut, tidak hanya berisi tentang cara membuat origami, tapi juga berisi tentang histori dan sejarah origami.

    4. Origami Bermanfaat untuk Kesehatan

    Fakta ini dikemukakan oleh sebuah artikel yang dirilis oleh AARP (American Association of Retired People) yang berjudul Boost Your Brain Health.

    Disebutkan bahwa origami bisa melatih fokus dan kinerja otak manusia.

    Hebatnya lagi, origami dikatakan bisa memperbaiki kesehatan mental manusia.

    5. Ada Makna di Setiap Bentuk

    Masyarakat Jepang tidak serta merta melipat kertas dengan bentuk dan pola yang tanpa makna.

    Sebab, dari bentuk-bentuk yang dibuat, ternyata mengandung makna tersendiri.

    Misalnya bentuk burung bangau yang paling populer itu adalah sebuah simbol perdamaian.

    6. Ada Mitos di Balik Origami

    Ada sebuah mitos di balik seni melipat kertas.

    Mitos origami itu berkenaan dengan sebuah harapan.

    Dimana, jika seseorang berhasil membuat 1.000 origami burung bangau, maka setiap keinginan dan permintaannya akan terkabul.

    Entah benar atau tidak, yang jelas masih banyak anak-anak di Jepang yang mempercayai kisah ini.

    7. Sebelum Origami, Namanya Adalah Orikata

    Nama origami baru diresmikan sekitar tahun 1880.

    Sebelumnya, seni melipat kertas ini bernama orikata yang artinya: bentuk yang dilipat (folded shapes) dengan menggunakan kertas.

    Seiring berjalannya waktu, namanya mulai berubah sebagai origami dan terkenal sampai penjuru dunia.

    Nah, itulah beberapa fakta menarik tentang origami yang jarang diketahui.

    Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/, ya!