Tag: kecerdasan buatan

  • Era AI Tak Bisa Dihindari, Kepala LAN RI Bekali Mahasiswa UI Cordoba Strategi Jadi Pemimpin Masa Depan

    Era AI Tak Bisa Dihindari, Kepala LAN RI Bekali Mahasiswa UI Cordoba Strategi Jadi Pemimpin Masa Depan

    Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan berpikir kritis.

    Pesan itu disampaikan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Dr. Muhammad Taufiq, DEA, saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum Nasional di Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) Banyuwangi, Jumat (3/7).

    Kuliah umum bertema “Menjadi Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat: Kepemimpinan, Pelayanan Publik, dan Masa Depan Indonesia di Era Digital” tersebut diikuti ratusan mahasiswa, dosen, dan tamu undangan.

    Hadir pula Pembina Yayasan UI Cordoba sekaligus Menteri PANRB periode 2022–2024 Abdullah Azwar Anas, Ketua Yayasan UI Cordoba, jajaran pimpinan universitas, Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi, serta perwakilan organisasi perangkat daerah di Banyuwangi.

    Dalam paparannya, Muhammad Taufiq menegaskan bahwa perubahan yang dipicu perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat.

    Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal.

    “Perubahan hari ini bergerak sangat cepat. Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti ketika seseorang lulus dari bangku kuliah. Justru di situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai. Teruslah memperdalam ilmu, menguatkan daya analisis, dan jangan pernah merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki,” tegas Taufiq.

    Menurutnya, kemampuan analisis dan penguasaan ilmu menjadi pembeda di tengah derasnya arus informasi.

    Ia juga mengingatkan pentingnya menghargai kompetensi setiap profesi sebagai fondasi dalam pengambilan keputusan.

    “Tidak ada yang lebih memahami pendidikan selain guru, sebagaimana tidak ada yang lebih memahami kesehatan selain dokter. Maka, setiap profesi harus terus memperkuat kompetensinya agar mampu memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat,” ungkapnya.

    Dalam kesempatan itu, Taufiq juga menyoroti pesatnya perkembangan AI yang kini telah masuk ke berbagai sektor, mulai pendidikan, pemerintahan hingga pelayanan publik.

    Ia menilai teknologi tersebut harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelayanan, bukan dipandang sebagai ancaman.

    “Artificial Intelligence mampu membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan integritas, kebijaksanaan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, jangan hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga bangun karakter yang membuat teknologi digunakan untuk kemaslahatan,” pesannya.

    Pemaparan tersebut disambut antusias peserta. Sejumlah mahasiswa memanfaatkan sesi diskusi untuk mengajukan pertanyaan seputar transformasi birokrasi, penerapan AI dalam pelayanan publik, hingga kompetensi yang dibutuhkan agar mampu bersaing di era digital.

    Rektor Universitas Islam Cordoba, Prof. Dr. Agus Trihartono, S.Sos., M.A., Ph.D., mengatakan kuliah umum tersebut merupakan bagian dari upaya kampus menghadirkan wawasan kebangsaan dan kepemimpinan kepada mahasiswa melalui dialog langsung dengan para pemimpin nasional.

    “Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemimpin masa depan yang mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Kehadiran para pemimpin nasional di lingkungan kampus merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus menghubungkan dunia akademik dengan realitas kebijakan publik,” dawuh beliau dalam sambutannya.

  • Rektor IPB Dorong Generasi Muda Siap Hadapi Tantangan Teknologi dan Iklim

    Rektor IPB Dorong Generasi Muda Siap Hadapi Tantangan Teknologi dan Iklim

    Di tengah derasnya perubahan zaman, mahasiswa tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengetahuan.

    Mereka harus mampu beradaptasi, berinovasi, dan memimpin perubahan untuk menghadapi tantangan teknologi serta perubahan iklim global.

    Pesan tegas ini disampaikan Rektor Prof Arif Satria kepada lebih dari 8.000 mahasiswa baru IPB University angkatan 62, baik dari program Sarjana (S1) maupun Sarjana Terapan (D4), dalam acara Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) yang berlangsung pada 11–12 Agustus.

    “Setiap tahun kebutuhan skill berubah. Karena itu, kita harus menjadi pembelajar sepanjang hayat,” ujarnya.

    Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), akan menggeser banyak peran tradisional.

    Selain AI skill dan digital skill, saat ini berkembang pula green skill, kemampuan mengelola sumber daya alam secara efisien dan ramah lingkungan.

    “Setiap kenaikan satu derajat celcius suhu global dapat menurunkan produksi beras 10-20 persen. Bahkan, jika perubahan iklim tidak diantisipasi, kopi bisa punah pada 2080,” tambahnya.

    Menurut dia, era Society 5.0 menempatkan isu lingkungan dan kemanusiaan sebagai pusat perhatian.

    Banyak perusahaan besar mulai mencari ahli sosial, kemanusiaan, dan lingkungan. “Kita harus lead change sekaligus lead the future,” tegasnya.

    Kepada mahasiswa baru angkatan 62 ‘Jatayu Harsakala’, Prof Arif juga memberikan tiga pesan utama.

    Pesan pertama adalah menjadi insan inspiratif, yaitu orang yang mampu menggerakkan orang lain melalui gagasan, kepemimpinan, dan karya.

    “Ciri insan inspiratif adalah punya visi, mindset positif, semangat belajar, kegigihan, keberanian, dan empati,” ucapnya.

    Pesan kedua adalah memiliki growth mindset. Menurutnya, mahasiswa harus mampu melihat kegagalan sebagai peluang belajar, bukan batas kemampuan.

    “Masalah dan kegagalan akan selalu ada, tapi berhenti dari kegagalan adalah kesalahan terbesar. Pembelajar sejati adalah mereka yang mampu mengambil pelajaran dari siapa pun dan di mana pun,” katanya.

    Pesan ketiga adalah menjadi insan inovatif. Mahasiswa dituntut memiliki rasa ingin tahu tinggi, berpikir kreatif, berani mengambil risiko, fokus pada future practice, dan memiliki daya adaptasi.

    Semua orang bisa menuju puncak, tetapi bertahan di puncak adalah soal karakter,” ucap Rektor dengan penuh semangat.

    Bagi mahasiswa baru, pesan ini menjadi motivasi yang berarti. Hal itu diungkapkan oleh Rizki, peserta MPKMB, “Motivasi ini benar-benar membuat saya sadar bahwa pada akhirnya karakter menjadi hal yang sangat penting dalam hidup ini.”

    Menutup penyampaiannya, Prof Arif memaparkan visi IPB University sebagai Innopreneur University, yang memadukan riset dan inovasi untuk kepentingan bisnis (techno-preneurship) maupun sosial (socio-preneurship).

    “IPB University menyiapkan ekosistem pendidikan, riset, dan pengembangan kewirausahaan bagi mahasiswa sejak awal perkuliahan, termasuk melalui Talent Mapping, pelatihan 7 Habits, business mentoring, dan Startup School,” pungkasnya.