Tag: kerajaan

  • Kapan Majapahit Berdiri? Simak Sejarah Singkatnya

    Kerajaan Majapahit didirikan pada tanggal 10 November 1293. Pendiri kerajaan ini adalah Raden Wijaya, menantu dari raja terakhir Singasari, Kertanegara.

    Tanggal pendirian ini berdasarkan penobatan Raden Wijaya sebagai raja dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana di Trowulan.

    Kerajaan Majapahit kemudian menjadi salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Indonesia, dengan wilayah kekuasaan yang meliputi hampir seluruh Nusantara.

    Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Indonesia yang pernah berdiri di Nusantara. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293 M di Trowulan, Jawa Timur.

    Kejayaan Majapahit ditandai dengan wilayah kekuasaan yang luas, sistem pemerintahan yang teratur, dan perdagangan yang maju

    Namun, setelah Hayam Wuruk wafat, Majapahit mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh pada abad 15.

    Masa Kejayaan Majapahit

    • Raden Wijaya: Menjadi raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.
    • Hayam Wuruk: Raja keempat Majapahit yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1389. Dibawah kepemimpinannya, Majapahit mencapai puncak kejayaan.
    • Gajah Mada: Mahapatih Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya, bercita-cita untuk mempersatukan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.

    Faktor Kejayaan

    • Militer yang kuat: Majapahit memiliki pasukan yang kuat dan berhasil menaklukkan banyak wilayah di Nusantara.
    • Sistem pemerintahan yang teratur: Majapahit memiliki sistem pemerintahan yang terstruktur dan birokrasi yang rapi.
    • Perdagangan yang maju: Majapahit menjadi pusat perdagangan di Nusantara dan menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia.

    Masa Kemunduran

    • Perang saudara: Perebutan tahta kerajaan setelah Hayam Wuruk wafat memicu perang saudara.
    • Pemberontakan: Wilayah-wilayah jajahan Majapahit mulai melepaskan diri.
    • Munculnya kerajaan-kerajaan Islam: Kesultanan Demak dan kerajaan Islam lainnya di Jawa mulai menggeser kekuasaan Majapahit.
  • Pengertian Historiografi Tradisional, Ciri-Ciri, Kelebihan, dan Contohnya

    Historiografi Tradisional

    Historiografi tradisional adalah suatu bentuk sejarah yang memusatkan perhatian pada interpretasi fakta dan data yang diperoleh dari sumber-sumber secara tradisional.

    Historiografi tradisional juga bisa disebut sebagai penulisan sejarah yang dilakukan oleh para sastrawan atau pujangga keraton dan bangsawan kerajaan.

    Dalam historiografi tradisional, fakta dan data yang dianggap benar adalah yang terakhir ditemukan, dan historiografer berusaha untuk mengumpulkan lebih banyak informasi untuk melengkapi cerita sejarah.

    Meskipun dengan pendekatan ini historiografer bisa mendapatkan fakta-fakta yang akurat, pandangan subyektif historiografer tetap berpengaruh pada interpretasi sejarah yang diciptakannya.

    Historiografi tradisional mengacu pada cara-cara sejarah ditulis pada masa lalu, ketika sumber-sumber primer (baik yang ditulis, lisan, maupun arkeologis) merupakan satu-satunya sumber untuk mengumpulkan data sejarah.

    Sejarah sangat dipengaruhi oleh siapa yang memiliki akses ke sumber-sumber ini, sehingga gambaran sejarah yang diciptakan bisa sangat subyektif.

    Karena sumber-sumber tersebut dipandang sebagai otoritatif dan benar, maka historiografi tradisional sering menekankan pentingnya memperluas pengetahuan dan pengumpulan sumber untuk ”menceritakan” perjalanan sejarah yang benar.

    Ciri-Ciri Historiografi Tradisional

    Beberapa ciri-ciri dari historiografi tradisional adalah sebagai berikut:

    • Istana Sentris, artinya yang berpusat pada kehidupan istana kerajaan.
    • Religius Magis, dihubungkan dengan kepercayaan dan hal-hal yang gaib. Seorang raja dianggap sebagai wujud penjelmaan Dewa atau Tuhan, sehingga dianggap memiliki kekuatan magis atau gaib.
    • Feodalistis-aristokratis, artinya hanya membahas kehidupan kaum bangsawan feodal, tidak memuat riwayat kehidupan rakyat, tidak membicarakan segi sosial dan ekonomi dari kehidupan rakyat.
    • Tidak terlalu membedakan hal-hal yang khayal dan hal-hal yang nyata.
    • Bersifat regio-sentris atau kedaerahan (enocentrisme), artinya historiografi tradisional menekankan pada budaya dan suku bangsa di kerajaan tersebut.
    • Dalam penguraiannya banyak terjadi kesalahan-kesalahan, misalnya berkaitan waktu dan kaitannya dengan fakta sejarah, penggunaan kosa kata, penggunaan nama, dsb.

    Kelebihan Historiografi Tradisional

    Historiografi tradisional memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

    1. Sejarah dinasti untuk kepentingan generasi berikutnya

    Historiografi tradisional biasanya berfokus pada kisah raja atau penguasa, serta garis keturunan dan prestasinya. Hal ini penting untuk menjaga kontinuitas kekuasaan dan legitimasi raja.

    2. Penulisan menggunakan romantisme klasik

    Historiografi tradisional sering kali menggunakan bahasa yang indah dan puitis, serta diwarnai dengan unsur-unsur mitologi dan legenda. Hal ini membuat historiografi tradisional lebih menarik untuk dibaca dan dinikmati.

    3. Dapat menunjukan legitimasi dan kondisi politik kerajaan

    Historiografi tradisional biasanya ditulis untuk tujuan legitimasi kekuasaan raja. Oleh karena itu, historiografi tradisional sering kali menekankan pada aspek-aspek positif dari raja dan kerajaannya.

    4. Konsep genealogi (silsilah) runtut dan kronologis

    Hal ini memudahkan pembaca untuk memahami hubungan antara raja-raja dan peristiwa-peristiwa sejarah.

    Contoh Historiografi Tradisional

    Berikut adalah beberapa contoh historiografi tradisional di Indonesia:

    1. Pustaka Raja-Raja

    Karya ini ditulis oleh Mpu Prapanca pada abad ke-14 yang menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit, mulai dari masa pemerintahan Raden Wijaya hingga Hayam Wuruk.

    2. Pararaton

    Karya ini ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14. Pararaton menceritakan sejarah Kerajaan Singasari, mulai dari masa pemerintahan Ken Arok hingga Kertanegara.

    3. Sejarah Melayu

    Karya ini ditulis oleh Tun Sri Lanang pada abad ke-16. Sejarah Melayu menceritakan sejarah Kerajaan Melayu, mulai dari masa pemerintahan Iskandar Zulkarnain hingga Sultan Alauddin Riayat Syah.

    4. Hikayat Banjar

    Karya ini ditulis pada abad ke-17. Hikayat Banjar menceritakan sejarah Kerajaan Banjar, mulai dari masa pemerintahan Lambung Mangkurat hingga Sultan Tahmidullah II.

    5. Babad Tanah Jawi

    Karya ini ditulis pada abad ke-17. Babad Tanah Jawi menceritakan sejarah Kerajaan Mataram, mulai dari masa pemerintahan Panembahan Senopati hingga Sultan Agung.

  • 6 Alasan Mengapa Kerajaan Sriwijaya Disebut Sebagai Kerajaan Maritim

    6 Alasan Mengapa Kerajaan Sriwijaya Disebut Sebagai Kerajaan Maritim

    Kerajaan Sriwijaya dianggap sebagai kerajaan maritim karena posisinya yang strategis dan kuat dalam penguasaan wilayah maritim di wilayah Asia Tenggara pada masa kejayaannya.

    Ada beberapa alasan mengapa Sriwijaya dijuluki sebagai kerajaan maritim, antara lain:

    1. Lokasi Geografis

    Kerajaan Sriwijaya terletak di Sumatera, dekat dengan perairan Selat Malaka yang merupakan salah satu jalur perdagangan utama di Asia Tenggara.

    Posisi ini memungkinkan Kerajaan Sriwijaya untuk mengendalikan perdagangan maritim yang melintasi Selat Malaka, sehingga kerajaan ini memiliki kendali ekonomi yang kuat atas lalu lintas perdagangan.

    2. Kendali Terhadap Pelabuhan-Pelabuhan Strategis

    Kerajaan Sriwijaya memiliki kendali terhadap pelabuhan-pelabuhan penting di pulau-pulau sekitarnya. Hal ini membuat Sriwijaya dapat mengumpulkan pajak dari kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan ini.

    3. Kekuatan Angkatan Laut

    Kerajaan Sriwijaya membangun angkatan laut yang kuat untuk menjaga keamanan perairan dan mendukung proses perdagangan.

    Angkatan laut yang tangguh tersebut juga untuk mempertahankan kekuasaan dan menghadapi ancaman.

    4. Pengaruh Budaya dan Agama

    Selain perdagangan, Sriwijaya juga menyebarkan pengaruh budaya dan agama, terutama agama Buddha, melalui rute-rute perdagangan maritim. Hal ini memperkuat sebagai kerajaan maritim yang berpengaruh di wilayah tersebut.

    5. Pencapaian Navigasi

    Kerajaan Sriwijaya memiliki pengetahuan yang cukup maju dalam bidang navigasi dan teknologi perkapalan karena mampu mengembangkan kapal-kapal yang cocok untuk berlayar di perairan yang sulit.

    6. Perdagangan Antar Bangsa

    Sriwijaya menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan berbagai bangsa dan budaya di Asia Tenggara, Tiongkok, India, dan Arab. Sehingga menjadi kerajaan yang makmur dan berpengaruh secara ekonomi.

    Karena beberapa faktor tersebut, Kerajaan Sriwijaya dianggap sebagai salah satu kerajaan maritim yang paling berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara.

    Peran penting dalam perdagangan dan pengaruh budaya membuat Kerajaan Sriwijaya diingat sebagai salah satu kerajaan terbesar di wilayah maritim Asia Tenggara pada masa kejayaannya.

  • Mengenal 7 Warisan Budaya dari Kerajaan-Kerajaan Islam yang Pernah Berjaya di Indonesia

    Mengenal 7 Warisan Budaya dari Kerajaan-Kerajaan Islam yang Pernah Berjaya di Indonesia

    Indonesia adalah negara yang kaya akan warisan budaya, mulai dari zaman kerajaan. Sebagian warisan budaya tersebut datang dari kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berjaya pada masanya.

    Hal tersebut membuktikan jika kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia memberi pengaruh yang begitu kuat pada masyarakat sehingga banyak warisan budaya yang ditinggalkan hingga saat ini.

    Warisan Budaya Kerajaan Islam Indonesia

    Apa saja warisan budaya dari kerjaan-kerajaan Islam tersebut? Berikut diantaranya.

    1. Senjata Rencong

    Rencong adalah sebuah senjata pusaka khas Aceh yang sudah ada sejak abad ke-16 silam. Rencong tak hanya digunakan sebagai senjata saja, tapi juga simbol keberanian serta kepahlawanan.

    Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, hampir semua masyarakat Aceh membawa rencong dengan dikalungkan di pinggan.

    Rencong juga memiliki tingkatan yang mencerminkan strata masyarakat yang dilihat dari bahan dasar pembuat sarung dan belati.

    Jika terbuat dari gading dan emas, maka itu untuk raja/sultan dan ratu/sultanah. Sementara jika terbuat dari tanduk kerbau, kayu, kuningan, dan besi putih adalah simbol untuk masyarakat biasa.

    Menurut sejarah, ada setidaknya 5 jenis rencong yang dikenal oleh masyarakat Aceh, yaitu Rencong Meucugek, Rencong Pudoi, Rencong Hulu Puntong, Rencong Meukure, dan Rencong Meupucok.

    2. Tenun Songket Siak

    Kain tenun Siak adalah warisan budaya yang pertama kali dikenalkan oleh seorang pengrajin wanita bernama Wan Siti Binti Wan Karim pada masa Kerajaan Siak. Pengrajin tersebut berasal dari Kerajaan Terengganu di Malaysia.

    Pada masa kejayaan Kerajaan Siak, Tenun Songket Siak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan, seperti sultan, kerabat, dan para pembesar Istana Siak.

    Salah satu ciri khas dari tenun Songket Siak adalah tenunan yang halus dan motif songket yang rumit. Hal tersebut melambangkan derajat dan kedudukan tinggi bagi yang mengenakannya.

    3. Kuliner Nasi Ndoreng

    Nasi ndoreng atau Sega ndoreng adalah salah satu kuliner khas dari Kerajaan Demak Bintoro yang sampai saat ini masih populer dan banyak disukai.

    Sekilas, penampilannya memang mirip dengan nasi pecel, tapi cara memasak dan penyajiannya jauh berbeda.

    Pada seporsi Nasi Ndoreng terdapat nasi matang yang ditumpuk dengan berbagai sayuran, seperti petai cina, jenthut (jantung pisang), kembang turi, pucuk daun, daun singkong muda, buah lamtoro mudadan glandir (daun ubi jalar).

    Kemudian, tumpukan nasi dan sayuran tersebut disiram dengan bumbu kacang. Uniknya, bumbu tersebut dimasak menggunakan tungku. Terakhir, ditaburi dengan serundeng di atasnya.

    Sementara untuk menyajikannya, Nasi Ndoreng dibungkus pada pincukan dari daun pisang atau daun jati.

    Urusan rasa jangan khawtir. Kuliner ini memiliki yang menggugah selera, mulai dari gurih, asin, pedas, dan manis.

    4. Alat Musik Kulintang Pring

    Kulintang pring adalah jenis musik tradisional yang berasal dari Lampung. Menurut sejarah, alat musik ini awalnya berkembang di wilayah Kerajaan Sekala Brak, Belalau, Lampung Barat.

    Namun, seiring berjalannya waktu, alat musik tadisional Lampung ini menyebar ke berbagai daerah. Hingga saat ini dapat ditemukan di beberapa wilayah, seperti Kabupaten Way Kanan, Lampung Tengah, dan Lampung Timur.

    Alat musik Kulintang Pring terdiri dari tujuh bilah bambu, disusun dari yang terpanjang hingga yang terpendek.

    Bunyi yang dihasilkan dari masing-masing bambu juga berbeda. Dimana, bambu terpanjang menghasilkan nada paling rendah, sedangkan bambu terpendek menghasilkan nada paling tinggi.

    Adapun cara memainkan alat musik tradisional Kulintang Pring adalah dengan cara dipukul seperti memainkan alat musik gamelan.

    5. Tari Serimpi

    Tari Serimpi adalah warisan budaya yang sudah dikenal sejak zaman kejayaan Kerajaan Mataram Islam ketika masa pemerintahan Sultan Agung.

    Tarian tradisional ini pada awalnya tergolong sebagai tarian sakral karena hanya dipentaskan di lingkungan Keraton.

    Dan tidak sembarang waktu dapat memainkan tarian ini. Sebab, Tari Serimpi hanya digunakan untuk keperluan upacara kenegaraan dan peringatan kenaikan tahta.

    Namun, seiring dengan berjalannya waktu, tarian ini kemudian dapat dinikmati oleh masyarakat umum, terutama pada acara resmi seperti saat penyambutan tamu atau acara lainnya.

    6. Hiasan Kepala Tangkulok

    Tangkulok sendiri merupakan hiasan kepala yang berbentuk seperti lidah yang terbuat dari selembar kain dilipat tanpa sambungan. Hiasan ini digunakan oleh para penari Seudati.

    Hiasan kepala Tangkulok diperkirakan pertama kali muncul pada masa Kesultanan Aceh.

    Konon, hiasan kepala Tangkulok terinspirasi dari bentuk ekor burung balam sehingga sangat cocok dikenakan pria agar terlihat lebih tangguh dan bijaksana.

    Pada masa kerajaan, Tangkulok dijahit manual dengan tangan tanpa menggunakan pola khusus. Sementara untuk mengikat bagian ujungnya, cukup dengan menggunakan jahitan tangan saja.

    7. Upacara Sekaten

    Upacara Sekaten adalah sebuah tradisi yang sudah dikenal sejak zaman kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Kerajaan Demak.

    Menurut sumber dari Kesultanan Yogyakarta, upacara atau ritual Sekaten diselenggarakan untuk memeringati kelahiran Nabi Muhammad.

    Kemudian, nama “Sekaten” juga punya sejarah sendiri. Beberapa berpendapat menyebut bahwa Sekaten berasal dari kata sekati, yaitu seperangkat gamelan dari zaman Majapahit.

    Dalam versi lain ada pendapat yang menyatakan bahwa istilah Sekaten berasal dari bahasa Arab, syahadatain, yaitu kalimat untuk menyatakan seseorang telah memeluk agama Islam, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Syahadat”.

    Sampai saat ini, ada empat keraton yang masih melaksanakan upacara Sekaten, yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kesultanan Kasepuhan, dan Kanoman Cirebon.

    Nah, itulah beberapa warisan budaya dari kerajaan-kerajaan Islam Indonesia. Keberadaan warisan budaya sangat penting untuk membuktikan eksistensi kerajaan yang pernah berjaya di masa lalu.

  • Kesultanan Banten Didirikan Oleh? Ini Sejarahnya

    Kesultanan Banten Didirikan Oleh? Ini Sejarahnya

    Kesultanan banten didirikan oleh Syarif Hidayatullah yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati pada 1525 M.

    Kemudian ia mengangkat anaknya, Sultan Maulana Hasanuddin sebagai raja pertama Kesultanan Banten.

    Pada masa kepemimpinan Sultan Maulana Hasanuddin, Kesultanan Banten mengalami kemajuan yang pesat, khususnya dalam bidang perdagangan.

    Salah satu hasil alam yang menjadi komoditas paling diunggulkan saat itu adalah lada yang dikuasai oleh Kesultanan Banten.

    Kemudian, ketika pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Kesultanan Banten disebut mencapai puncak keemasan keemasan (1651-1683 M).

    Di bawah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, banyak rakyat yang dipimpin untuk melakukan perlawanan terhadap VOC karena Belanda memonopoli perdagangan yang merguikan Kesultanan Banten.

    Namun, sekitar tahun 1860 an, Kesultanan Banten mengalami kemunduran yang didasari oleh perang saudara, dimana anak dari Sultan Ageng Tirtayasa, yakni Sultan Haji, berusaha merebut kekuasaan ayahnya.

    Perpecahan tersebut dimanfaatkan oleh VOC yang kemudian memberi bantuan persenjataan kepada Sultan Haji yang membuat Sultan Ageng terpaksa harus mundur.

    Kemudian pada tahun 1863, Sultan Ageng ditahan oleh VOC dan ditahan di Batavia.

    Sejak saat itu, VOC semakin ikut campur dalam urusan Banten, termasuk dalam memonopoli perdagangan lada.

    Semenjak meninggalnya Sultan Haji, VOC semakin menekan Kesultanan Banten yang menjadi cikal bakal runtuhnya Kesultanan Banten.

  • Sejarah Kerajaan Singasari, Nama Raja dan Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Singasari, Nama Raja dan Peninggalannya

    Kerajaan Singosari/Singhasari (1222 M – 1293 M)

    Kerajaan Singosari adalah sebuah Kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222.

    Lokasi Kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Kabupaten Malang dan merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit (1293 M – awal abad ke 6 M).

    Nama resmi Kerajaan Singosari sendiri sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel.

    Menurut Kitab Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.

    Seperti yang tertulis pula pada Prasasti Kudadu.Menurut Kitab Pararaton, Tumapel semula hanya sebuah daerah bawahanKerajaan Kadiri/Kediri.

    Yang menjabat sebagai akuwu (setara jabatan Camat jaman sekarang) Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung.

    Ia mati dibunuh dengan cara tipu muslihat oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru.

    Ken Arok juga yang mengawini istri Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes.

    Ken Arok kemudian berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kerajaan Kediri.

    Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya (Raja Kediri) melawan kaum brahmana.

    Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi Raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.

    Perang melawan Kerajaan Kediri meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok.

    Keberadaan Kerajaan Singosari dibuktikan melalui candi-candi yang banyak ditemukan di Jawa Timur yaitu daerah Singosari sampai Malang.

    Juga melalui kitab sastra peninggalan zaman Majapahit yang berjudul Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang menjelaskan tentang raja-raja yang memerintah di Singosari serta kitab Pararaton yang juga menceritakan riwayat Ken Arok yang penuh keajaiban.

    Kitab Pararaton isinya sebagian besar adalah mitos atau dongeng tetapi dari kitab Pararatonlah asal usul Ken Arok menjadi raja dapat diketahui.

    Sebelum menjadi raja, Ken Arok berkedudukan sebagai Akuwu (Bupati) di Tumapel menggantikan Tunggul Ametung yang dibunuhnya, karena tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung.

    Selanjutnya ia berkeinginan melepaskan Tumapel dari kekuasaan kerajaan Kadiri yang diperintah oleh Kertajaya. Keinginannya terpenuhi setelah kaum Brahmana Kadiri meminta perlindungannya.

    Dengan alasan tersebut, maka tahun 1222 M /1144 C Ken Arok menyerang Kediri, sehingga Kertajaya mengalami kekalahan pada pertempuran di desa Ganter.

    Ken Arok yang mengangkat dirinya sebagai raja Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.

    Sistem Pemerintahan Kerajaan Kediri

    Ada dua versi yang menyebutkan silsilah kerajaan Singasari alias Tumapel ini. Versi pertama adalah versi Pararaton yang informasinya didapat dari Prasasti Kudadu.

    Pararaton menyebutkan Ken Arok adalah pendiri Kerajaan Singasari yang digantikan oleh Anusapati (1247–1249 M).

    Anusapati diganti oleh Tohjaya (1249–1250 M), yang diteruskan oleh Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250–1272 M). Terakhir adalah Kertanegara yang memerintah sejak 1272 hingga 1292 M.

    Sementara pada versi Negarakretagama, raja pertama Kerajaan Singasari adalah Rangga Rajasa Sang Girinathapura (1222–1227 M).

    Selanjutnya adalah Anusapati, yang dilanjutkan Wisnuwardhana (1248–1254 M). Terakhir adalah Kertanagara (1254–1292 M). Data ini didapat dari prasasti Mula Malurung.

    Kejayaan Kerajaan Singasari

    Kertanagara adalah raja terakhir dan raja terbesar dalam sejarah Singhasari (1268 – 1292).

    Ia adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa.

    Pada tahun 1275 ia mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikan Sumatra sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsa Mongol.

    Saat itu penguasa Sumatra adalah Kerajaan Dharmasraya (kelanjutan dari Kerajaan Malayu).

    Kerajaan ini akhirnya dianggap telah ditundukkan, dengan dikirimkannya bukti arca Amoghapasa yang dari Kertanagara, sebagai tanda persahabatan kedua negara.

    Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali.

    Pada tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta agar Jawa mengakui kedaulatan Mongol.

    Namun permintaan itu ditolak tegas oleh Kertanagara.

    Nagarakretagama menyebutkan daerah-daerah bawahan Singhasari di luar Jawa pada masa Kertanagara antara lain, Melayu, Bali,Pahang, Gurun, dan Bakulapura.

    Sumber Sejarah

    Adapun sumber sejarah dalam mempelajari kerajaan Singasari dapat diperoleh dari berbagai prasasti, karya sastra, catatan, maupun bangunan candi. Sumber tersebut meliputi :

    A. Kitab Pararaton

    Kitab ini berisi cerita mitos daririwayat Ken Arok yang penuh keajaiban hingga riwayat raja-raja Singasari.

    B. Kitab Negarakertagama

    Kitab ini merupakan karya Mpu Prapanca (1365) yang berisi perkembangan kehidupan kerajaan Majapahit dan memuat pula raja yang berkuasa di Singasari.

    C. Kidung Harsawijaya

    Kidung ini menyebutkan raja Jayakatwang sebagai samantharaja (raja bawahan) yang patuh kepada Kertanegara.

    Namun dalam perkembangannya, Jayakatwang pada akhirnya menyerang kedudukan Kertanegara.

    Raja-Raja Kerajaan Singasari

    1. Ken Arok (1222–1227 M)

    Pendiri Kerajaan Singasari adalah Ken Arok yang sekaligus juga menjadi Raja Singasari yang pertama dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi.

    Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindrawangsa).

    Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222–1227 M). Pada tahun 1227 M, Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok). Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa–Buddha.

    2. Anusapati (1227–1248 M)

    Dengan meninggalnya Ken Arok maka tahta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati.

    Dalam jangka waktu pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak banyak melakukan pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung ayam.

    Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra Ken Arok dengan Ken Umang).

    Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam sehingga diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa (tempat kediamanan Tohjoyo) untuk mengadakan pesta sabung ayam.

    Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo menyabut keris buatan Empu Gandring yang dibawanya dan langsung menusuk Anusapati. Dengan demikian, meninggallah Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.

    3. Tohjoyo (1248 M)

    Dengan meninggalnya Anusapati maka tahta Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo.

    Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati yang bernama Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya.

    Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki singgasana.

    4. Ranggawuni (1248–1268 M)

    Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 M dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti.

    Pemerintahan Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari.

    Pada tahun 1254 M Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuwaraja (raja muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan Singasari.

    Pada tahun 1268 Wisnuwardanameninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa.

    5. Kertanegara (1268-1292 M)

    Kertanegara adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita untuk menyatukan seluruh Nusantara.

    Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara.

    Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang mahamentri, yaitu mahamentri i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri sirikan.

    Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani.

    Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja. Setelah Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain.

    Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu 1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu.

    Hal ini ditandai dengan pengirimkan Arca Amoghapasa ke Dharmasraya atas perintah Raja Kertanegara.

    Kehidupan Ekonomi

    Dalam kehidupan ekonomi, walaupun tidak ditemukan sumber secara jelas. Ada kemungkinan perekonomian ditekankan pada pertanian dan perdagangan karena Singosari merupakan daerah yang subur dan dapat memanfaatkan sungai Brantas dan Bengawan Solo sebagai sarana lalu lintas perdagangan dan pelayaran.

    Kehidupan Budaya

    Gambaran perkembangan kebudayaan sejak berdirinya kerajaan Singosari terlihat dari di temukannya peninggalan berupa candi–candi dan patung yang di bangun dari zaman kekuasaan Singosari. Diantaranya seperti candi Kidal, Jago, dan candi Singosari.

    Sedangkan patung yang di temukan adalah patung Ken Dedes sebagai dewi Prajnaparamita lambang kesempurnaan ilmu, patung Kertanegara dalam bentuk Joko Dolok yang di temuksn dekat Surabaya dan patung Amoghapasa juga perwujudan dari raja Kertanegara yang dikirim ke Dharmacraya ibu kota kerajaan Melayu.

    Kedua perwujudan patung tersebut dapat di ketahui bahwa raja Kertanegara beragama Budha beraliran Tantrayana (Tantriisme).

    Peninggalan – peninggalan Kerajaan Singasari

    1. Candi Singosari

    Candi ini berlokasi di Kecamatan Singosari,Kabupaten Malang dan terletak pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna.

    Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama serta Prasasti Gajah Mada yang bertanggal 1351 M di halaman komplek candi.

    Candi ini merupakan tempat “pendharmaan” bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat (meninggal) pada tahun 1292 akibat istana diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangun.

    2. Candi Jago

    Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir.

    Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Sengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.

    3. Candi Sumberawan

    Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur.

    Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari, Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu.

    Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan.

    4. Arca Dwarapala

    Arca ini berbentuk Monster dengan ukuran yang sangat besar. Menurut penjaga situs sejarah ini, arca Dwarapala merupakan pertanda masuk ke wilayah kotaraja, namun hingga saat ini tidak ditemukan secara pasti dimanan letak kotaraja Singhasari.

    5. Prasasti Manjusri

    Prasasti Manjusri merupakan manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Arca Manjusri, bertarikh 1343, pada awalnya ditempatkan di Candi Jago dan sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

    6. Prasasti Mula Malurung

    Prasasti Mula Malurung adalah piagam pengesahan penganugrahan desa Mula dan desa Malurung untuk tokoh bernama Pranaraja.

    Prasasti ini berupa lempengan-lempengan tembaga yang diterbitkan Kertanagara pada tahun 1255 sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya Wisnuwardhana raja Singhasari.

    Kumpulan lempengan Prasasti Mula Malurung ditemukan pada dua waktu yang berbeda. Sebanyak sepuluh lempeng ditemukan pada tahun 1975 di dekat kota Kediri, Jawa Timur.

    Sedangkan pada bulan Mei 2001, kembali ditemukan tiga lempeng di lapak penjual barang loak, tak jauh dari lokasi penemuan sebelumnya. Keseluruhan lempeng prasasti saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

    7. Prasasti Singosari

    Prasasti Singosari, yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara Jawa.

    Prasasti ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada.

    Paruh pertama prasasti ini merupakan pentarikhan tanggal yang sangat terperinci, termasuk pemaparan letak benda-benda angkasa.

    Paruh kedua mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.

    8. Candi Jawi

    Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan – Kecamatan Prigen dan Pringebukan.

    Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara.

    Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.

    9. Prasasti Wurare

    Adalah sebuah prasasti yang isinya memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare (sehingga prasastinya disebut Prasasti Wurare). Prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta, dan bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289.

    Arca tersebut sebagai penghormatan dan perlambang bagi Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari, yang dianggap oleh keturunannya telah mencapai derajat Jina (Buddha Agung). Sedangkan tulisan prasastinya ditulis melingkar pada bagian bawahnya.

    10. Candi Kidal

    Candi Kidal adalah salah satu candi warisan dari kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, Raja kedua dari Singhasari, yang memerintah selama 20 tahun (1227 – 1248).

    Kematian Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan Singhasari, juga diyakini sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.

    Runtuhnya Kerajaan Singasari

    Sebagai sebuah kerajaan, perjalanan kerajaan Singasari bisa dikatakan berlangsung singkat.

    Hal ini terkait dengan adanya sengketa yang terjadi dilingkup istana kerajaan yang kental dengan nuansa perebutan kekuasaan.

    Pada saat itu Kerajaan Singasari sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa. Akhirnya Kerajaan Singasari mengalami keropos di bagian dalam.

    Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang, yang merupakan sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan dari Kertanegara sendiri.

    Dalam serangan itu Kertanegara mati terbunuh. Setelah runtuhnya Singasari, Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru di Kediri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singasari pun berakhir.

    Sumber: Wikipedia, Shining Blingjamong

  • Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Sriwijaya

    Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang cukup berjaya dan sangat kaya pada masanya.

    Hal tersebut dibuktikan dengan wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya yang sangat luas.

    Bahkan digadang hampir menguasai seluruh wilayah Asia Tenggara.

    Nama Sriwijaya sendiri diambil dari dua suku kata, yaitu Sri yang artinya gemilang dan wijaya yang artinya adalah kemenangan.

    Jika digabungkan, nama Sriwijaya artinya adalah kemenangan yang bergemilang.

    Namun, mengingat bahwa kerajaan Sriwijaya sangat terkenal di Asia Tenggara, maka tak heran jika Sriwijaya memiliki sebutan yang berbeda-beda dari setiap negara.

    Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

    Karena daerah kekuasaan yang sangat luas, peninggalan kerajaan Sriwijaya tak hanya ditemukan di Indonesia saja, tapi juga di negara tetangga yang masih dalam lingkup Asia Tenggara.

    Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

    Adapun beberapa prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya adalah sebagai berikut:

    1. Prasasti Kedukan Bukit

    Prasasti kerajaan Sriwijaya ini ditemukan di wilayah pinggiran kota Palembang.

    Menurut para ahli, diperkirakan jika prasasti Kedutan Bukit sudah ada sejak tahun 683 Masehi.

    Isinya sendiri menceritakan tentang perjalanan raja Sriwijaya.

    2. Prasasti Telaga Batu

    Prasasti Telaga Batu ditemukan di Palembang oleh para arkeolog sekitar tahun 1935.

    Peninggalan kerajaan Sriwijaya ini berisi tentang kutukan atau mantra jahat yang berani berkhianat atau tidak patuh dengan aturan raja.

    3. Prasasti Talang Tuo

    Prasasti talang tuo ditemukan di wilayah bagian barat Palembang.

    Menurut para ahli sejarah, peninggalan kerajaan ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 684 Masehi yang berisi tentang pembangunan Taman Sriseta oleh raja Sriwijaya.

    4. Prasasti Karang Berahi

    Menurut para pengamat sejarah, prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya ini diperkirakan sudah ada dari tahun 868 Masehi silam.

    Adapun isinya tentang doa-doa yang ditujukan kepada dewa.

    5. Prasasti Kota Kapur

    Pemberian nama Prasasti Kota Kapur dikarenakan prasasti ini ditemukan di Kota Kapur, pesisir barat laut Pulau Bangka.

    Diperkirakan jika prasasti Kota Kapur sudah ada sejak tahun 686 Masehi.

    Prasasti Sriwijaya ini berisi tentang cerita upaya penyerangan kerajaan Sriwijaya yang ingin menguasai pulau Jawa.

    6. Prasasti Bukit Siguntang

    Prasasti Bukit Siguntang berisi cerita tentang suatu peperangan yang banyak memakan korban jiwa.

    Peninggalan Sriwijaya ini juga ditemukan bersamaan dengan peninggalan Budha Sakyamurni yang sedang mengenakan jubah.

    7. Prasasti Amoghapasa

    Prasasti Amoghapasa adalah prasasti yang tertulis pada bagian belakang stela patung batu yang disebut pāduka Amoghapāśa sebagaimana disebutkan dalam prasasti Padang Roco.

    8. Prasasti Hujung Langit

    Prasasti Hujung Langit atau yang sering disebut sebagai Prasasti Bawang adalah sebuah prasasti batu peninggalan Sriwijaya yang ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung, Indonesia.

    Aksara yang digunakan pada prasasti ini adalah Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno.

    Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

    Selain prasasti, ditemukan pula candi-candi peninggalan kerajaan Sriwijaya. Adapun beberapa candi tersebut sebagai berikut:

    • Candi Muara Takus
    • Candi Muaro Jambi
    • Candi Biaro Bahal
    • Candi Kota Kapur
    • Gapura Sriwijaya

    Raja Kerajaan Sriwijaya

    Berikut adalah nama-nama raja kerajaan Sriwijaya yang terkenal di seluruh bagian Asia Tenggara.

    • Raja Daputra Hyang
    • Raja Dharmasetu
    • Raja Balaputradewa
    • Raja Sri Sudamaniwarmadewa
    • Raja Sanggrama Wijayattunggawarman

    Nah, itulah sejarah singkat kerajaan Sriwijaya yang meliputi peninggalan dan nama-nama rajanya.

    Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel sejarah lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • Peninggalan Kerajaan Kediri (Candi, Prasasti, Kitab)

    Peninggalan Kerajaan Kediri (Candi, Prasasti, Kitab)

    Kerajaan Kediri atau yang sering disebut sebagai Kerajaan Panjalu ini berdiri pada tahun 1042 dan runtuh pada tahun 1222 di kota Daha, yang sekarang bernama Kediri, Jawa Timur.

    Dalam sejarahnya, Kerajaan Kediri memiliki banyak peninggalan-peninggalan yang patut dilestarikan. Adapun peninggalan tersebut mulai dari kitab, prasasti, sampai candi.

    Salah satu kitab peninggalan Kerajaan Kediri yang terkenal adalah kitab Kresnayana. Kemudian, prasasti peninggalan Kediri yang cukup tersohor adalah prasasti jaring. Sedangkan candi peninggalan Kerajaan Kediri yang dikenal sampai saat ini adalah Candi Penataran.

    Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

    Untuk lebih jelas, berikut adalah beberapa peninggalan Kerajaan Kediri:

    1. Candi Penataran

    Candi Penataran berada di lereng Gunung Kelud bagian Barat Daya, tepatnya di utara Kota Blitar. Banyak yang mengatakan ika Candi Penataran adalah candi termegah di Jawa Timur. Menurut sejarah, Candi Penataran dibangun saat masa kepemerintahan Raja Srengga hingga kepemerintahan Raja Wikramawardhana atau sekitar abad ke 12 hingga 14 Masehi.

    2. Candi Mirigambar

    Candi Mirigambar adalah candi peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan di lapangan desa Mirigambar, Kec. Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur. Candi Mirigambar diperkirakan sudah ada sejak tahun 1214 Saka. Strukturnya terbuat dari batu bata merah, seperti halnya kebanyakan candi-candi yang ada di Jawa Timur.

    3. Candi Tondowongso

    Candi Tondowongso ditemukan di Desa Gayam, Kec. Gurah, Kediri-Jawa Timur pada tahun 2007. Jika dilihat dari gaya dan bentuk arca yang ditemukan di sekitar candi, dipercaya bahwa candi ini dibangun pada abad ke 9.

    3. Candi Gurah

    Candi Gurah ditemukan di Kec. Gurah, Kediri Jawa Timur. Candi ini ditemukan pada tahun 1957 dengan ukuran 9 meter x 9 meter.

    4. Candi Tuban

    Candi Tuban adalah salah satu peninggalah Kerajaan Kediri yang terkenal. Namun sayang, kini telah luluh lantah dan hanya tersisa pondasinya saja. Candi ini berjarak sekitar 500 meter saja Candi Mirigambar.

    Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri

    1. Prasasti Jaring

    Prasasti Jaring adalah prasasti yang berada di Lodaya, tepatnya di Jaring, Kembangarum, Sutojayan, Blitar, Jawa Timur. Pertama kali ditemukan oleh Thomas Raffles. Ukurannya mencapai 166 cm x 86 cm x 67 cm. Menurut keterangannya, prasasti Jaring dibuat pada tanggal 19 November 1181 yang berisi seputar keinginan dan harapan para penduduk sekitar.

    2. Prasasti Kamulan

    Prasasti Kamulan adalah prasasti yang menceritakan kisah berdirinya Kabupaten Trenggalek pada tanggal 31 Agustus 1194 tepatnya pada hari Rabu Kliwon. Diperkirakan prasasti ini sudah ada sejak tahun 1194 Masehi pada masa pemerintahan Raja Ketajaya. Prasasti ini ditemukan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur tepatnya di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan.

    3. Prasasti Galunggung

    Prasasti Galunggung adalah prasasti peninggalan Kerajaan Kediri yang aksaranya terdapat ukiran aksara Jawa Kuno. Prasasti yang memiliki ukuran 160 cm X 80 cm X 75 cm ini ditemukan di Rejotangan, Tulung Agung, Jawa Timur.

    4. Prasasti Talan

    Prasati Talan diperkirakan sudah ada sejak tahun 1058 Saka atau 1136 Masehi. Prasati ini ditemukan di sekitar Desa Gurit, Blitar, Jawa Timur. Konon, Prasasti Talan bercerita mengenai masuknya Desa Talan ke wilayah Panumbang.

    5. Prasasti Panumbangan

    Prasasti Panumbangan adalah sebuah prasasti yang diperkirakan dibuat pada 2 Agustus 1120, yakni pada masa pemerintahan Maharaja Bameswara. Prasasti Panumbangan sendiri berisi informasi tentang penetapan Desa Panumbangan sebagai desa yang bebas pajak kala itu.

    6. Prasasti Ngantang

    Prasasti Ngantang adalah prasasti yang berada di Malang, Jawa Timur. Namun saat ini sudah ditempatkan di Museum Nasional. Diperkirakan prasasti ini dibuat pada tahun 1135 Masehi atau 1057 Saka.

    7. Prasasti Kertosono

    Prasasti Kertosono merupakan prasasti seputar keagamaan. Diperikirakan prasasti ini berisi seputar keagamaan pada masa pemerintahan Raja Kamesywara, yang berkuasa pada tahun 1180 sampai 1190.

    8. Prasasti Padelegan

    Prasasti Padelegan merupakan prasasti yang berbentuk stella dengan puncak kurawal 145 cm, lebar atas dan bawah 81 cm dan 70 cm, dan memiliki tebal 18 cm. Prasasti ini menggunakan bahasa Jawa Kuno. Dijelaskan jika prasasti ini dibuat pada 11 Januari 1117 Masehi atau 1038 Saka.

    9. Prasasti Ceker

    Prasasti Ceker adalah prasasti yang sengaja dibuat guna memberikan penghargaan pada masyarakat Desa Ceker yang mengabdi pada Kediri.

    10. Prasasti Sirah Keting

    Prasasti Sirah Keting dibuat untuk mengenang para warga Desa Sirah Keting yang pengabdiannya sangat tinggi pada Kerajaan Kediri. Kala itu, yang memimpin adalah Raja Jayawarsa.

    Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri

    1. Kitab Kakawin Bharatayudha

    Kitab Kakawin Bharatayudha adalah kitab yang dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh. Isinya sendiri menceritakan kisah perjuangan raja Jenggala, Jayabaya yang berhasil menaklukkan Panjalu. Kisah tersebut dianalogikan dengan kisah peperangan antara Kurawa dan Pandawa dalam kisah Mahabrata.

    2. Kitab Kresnayana

    Kitab Kresnayana dikarang oleh Empu Triguna isinya seputar biografi serta sejarah Krisna, seorang anak yang mempunyai kekuatan luar biasa dan sering menolong orang lain dengan ikhlas. Pada kala itu, cerita Krisna sangat digandrungi oleh rakyat.

    3. Kitab Gatotkacasraya

    Kitab Gatotkacasraya dikarang oleh Empu Panuluh pada zaman Rajabaya. Kitab ini berisi tentang Gatotkaca yang waktu itu dianggap sebagai pahlawan karena bisa menyatukan kembali putra Arjuna, yakni Abimayu dengan Siti Sundhari.

    4. Kitab Smaradhana

    Kitab smaradhana dikarang oleh Empu Dharmaja. Kitab ini menceritakan kisah Dewa Kama dan Dewi Ratih, sepasang suami istri yang hilang secara misterius. Hilangnya mereka berdua dikarenakan terkena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa.

    5. Kitab Hariwangsa

    Kitab Hariwangsa berisi tentang silsilah atau garis keturunan Wisnu atau sang Hari. Kitab Hariwangsa ini dibuat oleh Empu Panuluh pada masa Prabu Jayabaya, sekitar tahun 1135 – 1157 Masehi oleh.

    6. Kitab Sumarasantaka

    Kitab Sumarasantaka dikarang oleh Empu Monaguna. Kitab ini bercerita tentang kutukan Harini, seorang bidadari yang dikutuk menjadi manusia karena kesalahannya. Namun, kutukan itu tidak selamanya, Harini hanya butuh waktu agar kutukan tersebut bisa hilang dengan sendirinya.

    Demikian artikel tentang Sejarah Peninggalan Kerajaan Kediri lengkap yang bisa dijadikan sebagai referensi dan pengetahuan.

  • Sejarah Kerajaan Kutai dan Nama Nama Rajanya

    Sejarah Kerajaan Kutai dan Nama Nama Rajanya

    Sejarah Kerajaan Kutai

    Kerajaan Kutai (Martadipura) adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang diperkirakan ada pada abad ke 5 atau ± 400 Masehi.

    Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong), tepatnya di hulu sungai Mahakam.

    Nama Kutai sendiri diambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut.

    Nama Kutai dinobatkan oleh para ahli karena tidak ada prasasti atau peninggalan yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini.

    Keberadaan kerajaan Kutai diketahui berdasarkan sumber berita yang ditemukan yaitu berupa prasasti yang berbentuk yupa berjumlah 7 buah.

    Yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sansekerta itu dapat disimpulkan tentang keberadaan Kerajaan Kutai dalam berbagai aspek kebudayaan, antara lain politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

    Adapun isi prasati tersebut menyatakan bahwa raja pertama Kerajaan Kutai bernama Kudungga.

    Dalam sejarah, dijelaskan jika Kudungga memiliki seorang putra bernama Asawarman yang akrab disapa Wamsakerta (pembentuk keluarga).

    Setelah meninggal, Asawarman digantikan oleh Mulawarman.

    Raja-Raja Kerajaan Kutai

    Berikut adalah nama raja-raja dari Kerajaan Kutai.

    1. Maharaja Kudungga

    Maharaja Kudungga adalah raja pertama di kerajaan Kutai.

    Nama Maharaja Kudungga ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India.

    Konon, kedudukan Raja Kudungga pada awalnya adalah sebagai kepala suku.

    Dengan masuknya pengaruh ajaran Hindu, ia mengubah struktur pemerintahannya menjadi kerajaan dan mengangkat dirinya sebagai raja, sehingga penggantian raja dilakukan secara turun temurun.

    2. Maharaja Asmawarman

    Selanjutnya, Kutai dipimpin oleh Mahara Asmawarman.

    Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kutai semakin luas.

    Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai upacara keagamaan.

    Upacara-upacara ini pernah dilakukan di India pada masa pemerintahan Raja Samudragupta ketika ingin memperluas wilayahnya.

    Dalam upacara itu, diikuti dengan pelepasan kuda yang tujuannya untuk menentukan batas kekuasaan Kerajaan Kutai (ditentukan dengan tapak kaki kuda yang terakhir).

    Biasanya, pelepasan kuda-kuda tersebut diikuti oleh prajurit Kerajaan Kutai.

    3. Maharaja Mulawarman

    Raja Mulawarman merupakan anak dari Raja Aswawarman.

    Nama kedua raja ini sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta.

    Raja Mulawarman adalah raja terbesar dari Kerajaan Kutai.

    Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Kutai mengalami masa kejayaannya.

    Diceritakan jika rakyat hidup tentram dan sejahtera sehingga Raja Mulawarman mengadakan upacara kurban emas yang jumlahnya tak terhingga.

    Adapun beberapa raja penerus dari Kerajaan Kutai adalah sebagai berikut:

    • Maharaja Irwansyah
    • Maharaja Sri Aswawarman
    • Maharaja Marawijaya Warman
    • Maharaja Gajayana Warman
    • Maharaja Tungga Warman
    • Maharaja Jayanaga Warman
    • Maharaja Nalasinga Warman
    • Maharaja Nala Parana Tungga
    • Maharaja Gadingga Warman Dewa
    • Maharaja Indra Warman Dewa
    • Maharaja Sangga Warman Dewa
    • Maharaja Singsingamangaraja XXI
    • Maharaja Candrawarman
    • Maharaja Prabu Nefi Suriagus
    • Maharaja Ahmad Ridho Darmawan
    • Maharaja Riski Subhana
    • Maharaja Sri Langka Dewa
    • Maharaja Guna Parana Dewa
    • Maharaja Wijaya Warman
    • Maharaja Indra Mulya
    • Maharaja Sri Aji Dewa
    • Maharaja Mulia Putera
    • Maharaja Nala Pandita
    • Maharaja Indra Paruta Dewa
    • Maharaja Dharma Setia

    Bukti Sejarah Peninggalan Kerajaan Kutai

    Berikut adalah beberapa peninggalan Kerajaan Kutai:

    • Prasasti Yupa
    • Ketopong Sultan
    • Kalung Ciwa
    • Kalung Uncal
    • Kura-Kura Emas
    • Pedang Sultan Kutai
    • Tali Juwita
    • Keris Bukit
    • Kelambu Kuning
    • Singgasana Sultan
    • Meriam Kerajaan kutai
    • Tombak Kerajaan Majapahit
    • Keramik Kuno Tiongkok
    • Gamelan Gajah Prawoto

    Kehidupan Ajaran Agama Kerajaan Kutai

    Menurut sejarahnya, Raja Kudungga adalah raja pertama yang berkuasa di Kerajaan Kutai.

    Akan tetapi, apabila dilihat dari nama Raja yang masih menggunakan nama Indonesia.

    Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa pada masa pemerintahan Raja Kudungga, pengaruh Hindu baru masuk ke wilayahnya.

    Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kutai

    Dalam prasasti disebutkan jika Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan menghadiahkan 20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana.

    Tidak diketahui secara pasti asal emas dan sapi tersebut diperoleh.

    Namun, bisa disimpulkan jika kerajaan yang satu ini memang memiliki kehidupan ekonomi yang baik pada masa itu.

    Kejayaan Kerajaan Kutai

    Masa kejayaan Kerajaaan Kutai berada pada massa pemerintahan Raja Mulawarman.

    Hal ini dikarenakan Raja Mulawaran cukup bijaksana dan royal untuk hal yang religius.

    Buktinya, para brahmana dihadiahi emas, tanah, dan ternak secara adil.

    Dibuktikan juga dengan pemberian sedekah kepada kaum Brahmana berupa 20.000 ekor sapi.

    Jumlah 20.000 ekor sapi ini membuktikan bahwa pada masa itu kerajaan Kutai telah mempunyai kehidupan yang makmur dan telah mencapai massa kejayaannya.

    Runtuhnya Kerajaan Kutai

    Kerajaan Kutai berakhir saat dipimpin oleh Maharaja Dharma Setia.

    Ia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.

    Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute).

    Kutai Kartanegara inilah yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama di tahun 1365.

    Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

    Sumber : wikipedia