Tag: kolonialisme

  • Rektor UI Cordoba Banyuwangi Kenalkan Konsep Food Mobility di Forum Internasional Malaysia MALAYSIA

    Rektor UI Cordoba Banyuwangi Kenalkan Konsep Food Mobility di Forum Internasional Malaysia MALAYSIA

    Rektor Universitas Islam (UI) Cordoba Banyuwangi, Prof. Dr. Agus Trihartono, memperkenalkan konsep Food Mobility dalam forum akademik internasional bertajuk Global Classroom on Human Migration yang digelar oleh Faculty of Humanities and Social Sciences (FUHA), Universiti Sultan Zainal Abidin (UNISZA), Malaysia, Rabu (24/6).

    Dalam kuliah umum berjudul Beyond Migration: Food Mobility, Colonial Legacies, and Gastrodiplomacy in Asia, Agus mengajak peserta melihat isu migrasi dari sudut pandang yang berbeda.

    Menurutnya, pembahasan migrasi selama ini lebih banyak berfokus pada perpindahan manusia, sementara makanan juga memiliki perjalanan lintas negara yang sarat makna sejarah dan budaya.

    “Ketika mempelajari migrasi, kita mengikuti manusia. Ketika mempelajari kolonialisme, kita mengikuti kekuasaan. Ketika mempelajari diplomasi, kita mengikuti negara. Namun untuk memahami Asia, kita juga perlu mengikuti makanan,” kata Agus dalam paparannya.

    Agus menjelaskan, mobilitas makanan tidak dapat dipisahkan dari sejarah migrasi manusia. Ia mencontohkan bagaimana diaspora India di Inggris turut menjadikan kari sebagai salah satu hidangan populer di negara tersebut.

    Menurutnya, Malaysia juga menjadi contoh menarik karena kekayaan kulinernya terbentuk dari pertemuan berbagai budaya, mulai Melayu, Tionghoa, India hingga Arab.

    “Makanan sesungguhnya adalah arsip sejarah yang merekam perjalanan manusia dan pertemuan antarperadaban,” ujarnya.

    Selain migrasi, Agus juga menyoroti pengaruh kolonialisme terhadap perkembangan kuliner di berbagai negara.

    Salah satu contoh yang diangkat adalah Rijsttafel, tradisi jamuan makan yang berkembang pada masa kolonial Belanda di Hindia Belanda.

    Melalui contoh tersebut, ia menjelaskan bahwa makanan tidak hanya bergerak bersama migran, tetapi juga menyebar melalui relasi kekuasaan dan sejarah kolonial.

    “Belanda telah meninggalkan Indonesia, tetapi makanan Indonesia tidak pernah meninggalkan Belanda,” katanya.

    Dalam forum yang diikuti ratusan mahasiswa hubungan internasional dari Indonesia dan Malaysia itu, Agus juga memaparkan peran makanan sebagai instrumen diplomasi publik atau gastrodiplomacy.

    Ia mencontohkan keberhasilan Jepang, Korea Selatan, dan Thailand memanfaatkan kuliner untuk membangun citra positif negara, menarik wisatawan, memperluas pertukaran budaya, hingga mendorong mobilitas pendidikan dan migrasi.

    Pada kesempatan tersebut, Agus memperkenalkan Food Mobility Model, sebuah konsep yang menjelaskan keterkaitan antara migrasi manusia, mobilitas makanan, warisan kolonial, dan diplomasi kuliner dalam membentuk hubungan antarbangsa.

    Program Global Classroom on Human Migration menghadirkan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia, di antaranya Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Andalas, Universitas Jember, serta Universiti Sultan Zainal Abidin.

    Agus berharap konsep Food Mobility dapat memperkaya kajian migrasi internasional yang selama ini cenderung berpusat pada perpindahan manusia.

    “Makanan bukan hanya mengikuti sejarah. Dalam banyak kasus, makanan juga menciptakan sejarah baru,” pungkasnya. (*)

  • Bagaimana Keterkaitan Antara Jatuhnya Konstantinopel 1453 Dengan Perjumpaan Bangsa Indonesia Dengan Bangsa Eropa Dalam Jalur Rempah?

    Bagaimana Keterkaitan Antara Jatuhnya Konstantinopel 1453 Dengan Perjumpaan Bangsa Indonesia Dengan Bangsa Eropa Dalam Jalur Rempah?

    Jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 memiliki hubungan erat dengan perjumpaan bangsa Indonesia dengan bangsa Eropa dalam konteks jalur rempah.

    Peristiwa ini bukan sekadar perubahan politik di Eropa dan Asia, tetapi juga menjadi titik balik dalam sejarah perdagangan dunia.

    Ketika Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Utsmani, jalur perdagangan tradisional antara Eropa dan Asia yang sebelumnya melalui Laut Tengah terputus atau setidaknya menjadi sangat terbatas.

    Bangsa Eropa yang selama ini mendapatkan rempah-rempah, sutra, dan komoditas Asia melalui pedagang Arab dan Turki mendapati harga barang semakin mahal karena adanya monopoli dan pajak tinggi.

    Dalam jurnal The Spice Prices in the Near East in the 15th Century oleh E. Ashtor disebutkan bahwa setelah periode abad ke-15, harga rempah dan produk India di pasar Timur Tengah (Near East) menjadi semakin tinggi karena perubahan kondisi perdagangan, termasuk kemunculan tekanan pada rute utama pengiriman dan biaya transportasi. Hal ini membuat barang-rempah menjadi lebih mahal di pasaran Eropa.

    Hal ini mendorong bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris untuk mencari jalur alternatif menuju “Sumber Rempah” di Asia.

    Dalam pencarian jalur baru inilah ekspedisi besar-besaran dilakukan. Portugis, misalnya, memutar ke selatan Afrika, melintasi Tanjung Harapan, lalu masuk ke Samudra Hindia hingga akhirnya mencapai Malaka pada awal abad ke-16.

    Dari Malaka, mereka mengetahui jalur menuju Kepulauan Maluku yang dikenal sebagai pusat rempah dunia.

    Demikian pula, Spanyol berlayar ke arah barat, hingga kemudian menemukan jalur ke Filipina dan berusaha mencapai Maluku melalui jalur Pasifik.

    Bagi bangsa Indonesia, khususnya wilayah penghasil rempah seperti Maluku, Banda, dan sekitarnya, kedatangan bangsa Eropa merupakan awal dari perjumpaan intensif dengan dunia Barat.

    Rempah-rempah seperti cengkih, pala, dan fuli yang selama ini hanya diperdagangkan melalui perantara, kini menjadi incaran langsung bangsa-bangsa Eropa.

    Perjumpaan ini lambat laun bukan hanya soal perdagangan, tetapi juga membawa pengaruh politik, sosial, budaya, bahkan penjajahan yang berlangsung berabad-abad.

    Dengan demikian, keterkaitan antara jatuhnya Konstantinopel dan perjumpaan bangsa Indonesia dengan bangsa Eropa terletak pada dampak perdagangan global.

    Jatuhnya kota itu memutus jalur lama dan memaksa bangsa Eropa mencari jalur baru, yang pada akhirnya mempertemukan mereka dengan Nusantara sebagai pusat rempah dunia.