Tag: komunitas

  • KOPIWANGI Dampingi Penulis Lokal Banyuwangi Terbitkan Buku hingga Pengajuan ISBN

    KOPIWANGI Dampingi Penulis Lokal Banyuwangi Terbitkan Buku hingga Pengajuan ISBN

    Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem literasi di Banyuwangi.

    Melalui program pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya, komunitas ini aktif menjadi jembatan literasi bagi para penulis lokal agar karya mereka dapat diterbitkan dan dikenal lebih luas.

    Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut terlihat dalam pendampingan penerbitan buku berjudul Seribu Cahaya Dari Satu Harapan.

    Proses penerbitan buku tersebut dilakukan bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Banyuwangi sebagai mitra pengembangan literasi daerah.

    KOPIWANGI tidak hanya fokus pada kegiatan menulis, tetapi juga mendampingi penulis sejak tahap awal penyusunan naskah hingga proses pengajuan ISBN.

    Program tersebut selaras dengan visi komunitas untuk bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi melalui penerbitan buku fisik maupun digital.

    Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan, mengatakan bahwa banyak penulis lokal memiliki karya yang layak diterbitkan, tetapi terkendala akses ke penerbit komersial. Karena itu, komunitas hadir untuk memberikan alternatif agar karya tetap bisa diterbitkan menjadi buku.
    “Tidak semua penulis memiliki kesempatan menerbitkan karya di penerbit komersial. Karena itu,

    KOPIWANGI hadir memberikan pendampingan dan membuka jalan agar karya-karya lokal tetap bisa diterbitkan serta dibaca masyarakat luas,” ujarnya.

    Penulis dengan nama pena Bintang Senja menjadi salah satu anggota KOPIWANGI yang mendapatkan pendampingan intensif dalam penyelesaian buku pertamanya.

    Pendampingan dilakukan mulai dari penyusunan struktur buku, penulisan kata pengantar, daftar isi, hingga profil penulis.

    Menurut Bintang Senja, proses pendampingan tersebut sangat membantu dirinya dalam memahami tahapan penerbitan buku. Ia mengaku lebih percaya diri untuk menyelesaikan naskah karena mendapat arahan yang jelas dari komunitas.

    “Terima kasih KOPIWANGI yang telah mendampingi dalam penulisan buku. Mulai dari pembuatan kata pengantar, daftar isi, sampai penulisan profil penulis. Ini sangat membantu agar tulisan saya bisa segera diterbitkan,” jelasnya.

    Selain pendampingan penulisan, KOPIWANGI juga memberikan pelatihan layout buku bagi anggota yang ingin belajar secara mandiri. Pelatihan tersebut menjadi bekal penting agar penulis memahami tata letak buku sesuai kaidah penerbitan.

    Bintang Senja menilai pelatihan layout buku memberi manfaat besar bagi penulis pemula. Dengan kemampuan tersebut, penulis tidak hanya mampu menyusun naskah, tetapi juga mendesain buku sesuai kebutuhan.

    “Pelatihan layout buku ini sangat bermanfaat. Sebagai penulis, saya bisa mendesain layout buku sendiri sesuai keinginan, namun tetap mengikuti aturan yang ada. Harapannya, saya juga bisa membantu teman-teman penulis lain di KOPIWANGI,” tambahnya.

    Setelah proses layout selesai, naskah Seribu Cahaya Dari Satu Harapan kemudian dikirim ke Dispusip Banyuwangi untuk tahap verifikasi.

    Jika dinyatakan lengkap dan sesuai ketentuan, naskah dilanjutkan dengan penandatanganan surat keaslian karya sebelum diajukan ke Perpustakaan Nasional untuk memperoleh ISBN.

    Dalam proses tersebut, KOPIWANGI juga mendampingi penulis saat melakukan penandatanganan dokumen administrasi di Dispusip Banyuwangi.

    Selain itu, komunitas turut berdiskusi mengenai berbagai jenis karya tulis yang dapat diajukan ISBN.

    Pustakawan Ahli Madya Dispusip Banyuwangi, Yusup Choiri, menjelaskan bahwa peluang penerbitan ISBN terbuka untuk berbagai jenis karya tulis.

    Menurutnya, Dispusip Banyuwangi berkomitmen mendukung para penulis lokal agar karya mereka dapat dipublikasikan secara lebih luas.

    “Selain puisi, karya seperti cerpen, novel, esai, opini, dan artikel juga bisa diajukan ISBN. Kami terus berupaya memberikan fasilitasi dan pendampingan bagi penulis lokal agar karya yang dihasilkan bisa dikenal masyarakat lebih luas,” jelas Yusup Choiri.

    Kehadiran para penulis lokal dinilai menjadi tanda meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendokumentasian ide dan karya sastra dalam bentuk buku.

    Hal tersebut juga sejalan dengan semangat KOPIWANGI yang konsisten membangun jembatan literasi di lingkungan sekolah, komunitas, maupun masyarakat umum.

    Menutup kegiatan tersebut, Andi Budi Setiawan menegaskan bahwa KOPIWANGI hadir bukan untuk bersaing dengan pihak lain, melainkan menjadi pelengkap dalam membangun budaya literasi di Banyuwangi.

    “KOPIWANGI hadir dengan memberikan warna yang berbeda. Bukan sebagai kompetitor, tetapi pelengkap dalam membangun ekosistem literasi di Banyuwangi,” tutupnya.

    Melalui kolaborasi antara komunitas, penulis, dan pemerintah daerah, gerakan literasi di Banyuwangi diharapkan terus berkembang. Dukungan masyarakat untuk membaca, menulis, dan mengapresiasi karya lokal menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya literasi di daerah.

  • BPVP Banyuwangi Jadi Ruang Tumbuh Keterampilan di Tengah Tantangan Dunia Kerja

    BPVP Banyuwangi Jadi Ruang Tumbuh Keterampilan di Tengah Tantangan Dunia Kerja

    Di tengah tantangan dunia kerja yang terus berkembang, kehadiran Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) menjadi bukti nyata bahwa negara hadir dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

    Melalui berbagai program pelatihan berbasis kompetensi, BPVP memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan, memperluas peluang kerja, hingga membangun kemandirian ekonomi.

    BPVP sendiri merupakan unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia yang berfokus pada pengembangan keterampilan tenaga kerja dan peningkatan produktivitas masyarakat.

    Salah satunya BPVP Banyuwangi yang terus aktif menghadirkan berbagai pelatihan sesuai kebutuhan dunia industri dan usaha saat ini.

    Beragam pelatihan diberikan mulai dari bidang teknologi, otomotif, desain, tata boga, hingga kewirausahaan.

    Peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung agar lebih siap memasuki dunia kerja maupun membangun usaha mandiri.

    BPVP Banyuwangi juga terus mendorong penguatan kolaborasi dan sinergi dengan berbagai elemen masyarakat agar program pelatihan yang dijalankan semakin tepat sasaran dan mampu memberikan manfaat nyata.

    Sub Koordinator Bidang Pengukuran Peningkatan Produktivitas dan Pemantauan Pelatihan Vokasi BPVP Banyuwangi, Eko Wahyu Prasetyo, S.Pd., saat ditemui praktisi digital dan literasi Maulana Affandi, S.S., menyampaikan bahwa BPVP Banyuwangi terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak guna memperluas manfaat pelatihan kepada masyarakat.

    “BPVP Banyuwangi pada prinsipnya siap bersinergi dengan berbagai elemen masyarakat, komunitas, lembaga pendidikan maupun pemerintah daerah agar pelatihan yang diberikan benar-benar berdampak dan sesuai kebutuhan dunia kerja saat ini,” ujarnya saat ditemui pada Senin (11/5).

    Tak hanya itu, pelayanan BPVP Banyuwangi juga mendapat apresiasi positif karena dinilai terbuka dan responsif dalam menerima masyarakat yang ingin berkonsultasi maupun mengajukan program pelatihan.

    Salah satunya melalui petugas yang menangani proposal serta permohonan pelatihan TMT (Tailor Made Training), Puri Wulandari, S.Psi., yang aktif memberikan penjelasan terkait program-program yang dapat dijalankan dan disinergikan dengan kebutuhan masyarakat maupun komunitas.

    Ketua Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima yang juga aktif di Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), Aguk Wahyu Nuryadi, menilai program pelatihan BPVP menjadi salah satu solusi penting di tengah ketatnya persaingan kerja dan meningkatnya angka PHK.

    “Saat persaingan lapangan kerja semakin ketat hingga banyak terjadi PHK, maka keterampilan melalui pelatihan BPVP yang bersertifikat bisa menjadi salah satu solusi untuk memperoleh penghasilan demi menghidupi keluarga. Negara hadir melalui program BPVP Kemenaker, baik yang dilaksanakan di kantor maupun melalui TMT yang bisa dilakukan di balai desa, aula yayasan hingga gazebo komunitas sebagai ruang akses yang dapat dimanfaatkan semua kalangan,” ujarnya.

    Menurutnya, BPVP juga membuka ruang kesetaraan bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas maupun lulusan Paket PKBM agar memiliki kesempatan yang sama dalam meningkatkan keterampilan.

    “Harapannya tentu lahir para pengusaha baru yang mampu membuka lapangan pekerjaan. Karena amal tidak hanya dilakukan di tempat ibadah atau kepada dhuafa saja, tetapi membuka lapangan pekerjaan juga merupakan amal ibadah yang luar biasa,” tambahnya.

    Dengan pendekatan yang terbuka dan kolaboratif tersebut, BPVP Banyuwangi diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak peningkatan kualitas SDM sekaligus memperluas akses pelatihan kerja yang lebih merata bagi masyarakat.

  • Perkuat Posisi, Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi Segera Urus Legalitas

    Perkuat Posisi, Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi Segera Urus Legalitas

    Banyuwangi, sastrawacana.id/ – Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi menggelar rapat anggota pada Selasa, 12 November 2024, di Kedai Makmoer, Banyuwangi.

    Acara yang berlangsung dalam suasana santai ini dibuka oleh Sekretaris Komunitas, Qurrota A’yunin dan dipimpin oleh Ketua Komunitas, Budy Amboyna.

    Ada banyak ide serta masukan dari para anggota dalam kopi darat tersebut, salah satunya adalah memutuskan untuk segera mengurus legalitas ke Kementerian Hukum dan HAM (Menkumham).

    Keputusan itu diambil sebagai upaya untuk memperkuat posisi tawar para peternak lebah madu di wilayah Banyuwangi.

    Dari diskusi tersebut, anggota komunitas sepakat untuk melegalkan komunitas agar dapat menghadapi tekanan para cukong madu yang cenderung membeli hasil panen dengan harga sangat rendah.

    Dengan disahkannya Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), diharapkan dapat meningkatkan bargaining power (daya tawar) para peternak, sekaligus mempertahankan praktik peternakan yang sehat.

    Selain itu, komunitas juga menargetkan untuk tetap memproduksi madu murni berkualitas tinggi khas dari Banyuwangi, menjaga ekosistem, serta melindungi vegetasi bunga nektar yang berguna bagi kelangsungan lebah madu.

    Banyuwangi Memiliki Potensi

    Banyuwangi memiliki kawasan hutan terluas di Jawa Timur dengan beragam vegetasi bunga yang menjadi sumber nektar utama bagi lebah madu.

    Kondisi ini sebenarnya menjadi ‘surga’ bagi peternak lebah madu, tapi ada beberapa kendala yang dihadapi para peternak, salah satunya keterbatasan wawasan bisnis dan lingkungan sehingga membuat posisi mereka lemah.

    Selain itu, juga ada tekanan dari para cukong untuk membeli madu dengan harga murah serta persaingan dengan madu berkualitas rendah.

    Alhasil, beberapa peternak tergoda menjual madu dengan harga rendah atau mencampur madu murni dengan bahan lain sehingga dapat menurunkan citra madu Banyuwangi.

    Sebagai informasi tambahan, produksi madu murni Banyuwangi terbesar saat ini berasal dari Wongsorejo, Licin, dan Kalipuro.

    Kecamatan Wongsorejo dikenal sebagai penghasil madu bunga randu dengan aroma harum, madu vernonia, madu mangga, dan madu karet.

    Kemudian kawasan Alas Baluran juga menghasilkan madu bunga kosambi dan bidara.

    Sementara di wilayah Licin dan Kalipuro, peternak memanfaatkan vegetasi bunga kopi, mangga, dan pohon karet yang menjadi bahan baku madu.

    Harapan Dukungan dari Pemerintah Daerah

    Melihat potensi besar tersebut, Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi berharap Pemerintah Daerah (Pemda) setempat dapat ikut serta dalam mendukung kesejahteraan peternak lebah.

    Selain itu, komunitas juga berharap agar Pemda dapat berkolaborasi dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan yang ramah bagi lebah madu.

    Adapun dukungan tersebut bisa berupa pelestarian vegetasi, edukasi kepada para peternak, hingga pengembangan kawasan wisata bertema “Lebah dan Madu” yang tidak hanya mendukung peternak lebah, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

    Dengan langkah legalitas yang diambil dan harapan akan dukungan Pemda, Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi optimis untuk melangkah maju, memperkuat eksistensi dan menjaga kelestarian madu berkualitas Banyuwangi untuk masa depan yang lebih baik. (AW)

  • KOPIWANGI Gelar Olimpiade Literasi Khusus Pelajar untuk Rayakan Bulan Bahasa di Banyuwangi

    KOPIWANGI Gelar Olimpiade Literasi Khusus Pelajar untuk Rayakan Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi yang lebih dikenal sebagai KOPIWANGI mengadakan Olimpiade Literasi Baca Puisi & Bercerita dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Oktober 2024.

    Pesertanya adalah pelajar dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Banyuwangi, mulai dari tingkat SD/MI, SMP/MTS, hingga SMA/SMK/MA.

    Olimpiade pertama dari KOPIWANGI ini diselenggarakan sebagai wadah bagi siswa yang memiliki minat dan bakat di bidang literasi, terutama baca puisi dan bercerita.

    Dengan berkompetisi dalam olimpiade ini, para peserta diharapkan dapat mengukur sejauh mana kemampuan mereka serta mengekspresikan bakat yang mereka miliki.

    Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan S.Pd menuturkan jika komunitasnya berkomitmen untuk mengembangkan literasi di Banyuwangi, terutama bagi pelajar.

    “Harapannya, literasi di Banyuwangi bisa lebih berkembang, khususnya di kalangan pelajar,” ujarnya.

    Ia juga berharap jika KOPIWANGI mampu menjadi wadah untuk menguatkan budaya membaca dan menulis di Banyuwangi.

    “Semoga KOPIWANGI bisa menguatkan literasi di Banyuwangi, terutama budaya membaca dan menulis,” imbuhnya.

    Sesuai rencana awal, event ini akan digelar di Pendopo Kecamatan Rogojampi pada tanggal 27 Oktober 2024 dan terbuka bagi seluruh pelajar di wilayah Banyuwangi.

    Peserta dapat didampingi oleh guru pembina maupun orang tua, sehingga diharapkan dukungan dari pihak sekolah dan keluarga turut mendorong potensi yang dimiliki oleh peserta atau anak didik.

    Momen ini dianggap istimewa bagi banyak peserta karena dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada acara serupa yang diselenggarakan, terutama di wilayah Rogojampi.

    Olimpiade ini akan melombakan dua bidang utama, yaitu Baca Puisi dan Bercerita.

    Untuk lomba baca puisi, tema yang diusung adalah Pahlawan atau Pemuda, sedangkan lomba bercerita memiliki tema bebas asalkan tidak menyinggung unsur SARA.

    Dalam lomba ini, setiap kategori akan memperebutkan posisi juara 1 hingga 3 serta harapan 1 hingga 3. Pembagian kategori berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu:

    • SD/MI: Juara 1-3 dan Harapan 1-3
    • SMP/MTS: Juara 1-3 dan Harapan 1-3
    • SMA/SMK/MA: Juara 1-3 dan Harapan 1-3

    Setiap peserta yang ikut serta dalam olimpiade ini akan mendapatkan sertifikat penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.

    Dukungan dari sekolah-sekolah di Banyuwangi dianggap sangat penting untuk menyukseskan acara ini.

    Selain itu, KOPIWANGI berencana menjadikan olimpiade ini sebagai acara tahunan, sejalan dengan program mereka di bidang Event Literasi.

    Sebagai informasi tambahan, KOPIWANGI telah rutin mengadakan berbagai kegiatan literasi, baik secara daring maupun luring, seperti lomba cipta puisi, baca puisi, bercerita, hingga menulis esai.

  • Pembelajaran Sosial dan Emosional bagi siswa merupakan pembelajaran secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah

    Pembelajaran Sosial dan Emosional bagi siswa merupakan pembelajaran secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan siswa untuk memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar memiliki kompetensi berikut ini, kecuali?

    a. Membuat keputusan yang bertanggung jawab
    b. Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif
    c. Menetapkan dan mencapai tujuan belajarnya
    d. Memahami, menghayati, dan mengelola emosi
    e. Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain

    Jawaban:

    c. Menetapkan dan mencapai tujuan belajarnya

    Pembahasan:

    Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) lebih fokus pada aspek sosial dan emosional siswa serta pengembangan keterampilan interpersonal dan intrapersonal, bukan pada penentuan atau pencapaian tujuan belajar mereka.

    Namun, mencapai tujuan belajar bisa menjadi hasil dari PSE yang baik, tetapi bukan fokus utamanya.

    Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial, emosional, dan kepribadian yang penting untuk kesuksesan pribadi, akademik, dan profesional mereka.

    Melalui PSE, siswa belajar untuk memahami dan mengelola emosi mereka, berkomunikasi secara efektif, membangun hubungan yang sehat, serta mengembangkan empati dan tanggung jawab sosial.

    Penetapan dan pencapaian tujuan belajar lebih merupakan bagian dari proses pembelajaran secara umum, yang melibatkan berbagai aspek, termasuk kognitif, afektif, dan psikomotorik.

    Meskipun PSE dapat memberikan landasan yang kuat bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan akademik dan mencapai tujuan belajar mereka, fokus utama dari PSE adalah pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional.

    Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa pengembangan PSE yang efektif juga dapat membantu siswa dalam menetapkan dan mencapai tujuan belajar mereka.

    Misalnya, siswa yang dapat mengelola emosinya dengan baik cenderung lebih fokus dan efektif dalam belajar. Begitu pula, siswa yang memiliki hubungan yang baik dengan rekan-rekan mereka cenderung lebih terlibat dalam proses belajar dan mencapai hasil yang lebih baik.

    Dengan demikian, sementara menetapkan dan mencapai tujuan belajar mungkin bukan fokus langsung dari PSE, pengembangan keterampilan sosial dan emosional melalui PSE dapat secara tidak langsung mendukung pencapaian tujuan belajar siswa.

  • 10 Pengertian Komunitas Menurut Para Ahli

    Secara harfiah, komunitas berasal dari bahasa latin, yaitu communities yang berarti publik, kebersamaan.

    Maka, secara umum, komunitas dapat diartikan sebagai kelompok individu yang memiliki minat, tujuan, atau karakteristik yang sama.

    Kelompok individu tersebut berkumpul bersama untuk saling berinteraksi, berbagi pengalaman, dan membangun hubungan sosial.

    Tujuan utama dari komunitas adalah untuk menciptakan ikatan antara anggotanya, memfasilitasi pertukaran informasi, pengetahuan, dan pengalaman, serta memberikan dukungan dan saling membantu.

    Komunitas juga bisa menjadi tempat bagi individu untuk mengekspresikan diri, mengembangkan minat atau bakat mereka, dan merasa diakui dan diterima.

    Pengertian Komunitas Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian komunitas menurut para ahli.

    1. Kertajaya Hermawan (2008)

    Komunitas adalah sekelompok orang yang peduli satu sama lain yang lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values.

    2. Soenarno (2002)

    Komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional.

    3. Mac Iver (Mansyur, cholil 1987:69)

    Community diistilahkan sebagai persekutuan hidup atau paguyuban dan dimaknai sebagai suatu daerah masyarakat yang ditandai dengan beberapa tingkatan pertalian kelompok sosial satu sama lain.

    4. Muzafer Sherif dalam buku Dinamika Kelompok (2009:36)

    Kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teraratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu.

    5. Iriantara (2004: 22)

    Definisi komunitas merupakan “Sekumpulan individu yang mendiami lingkungan tertentu serta terkait dengan kepentingan yang sama.”

    6. Wenger (1998: 63)

    Pengertian komunitas adalah sebuah kontruksi sosial yang dibagun berdasarkan atas initial-interest dan tujuan yang serupa pada sebuah ikhtiar yang membentuk identitas komunitas tersebut.

    7. McMillan dan Chavis (1986)

    Komunitas merupakan kumpulan dari para anggotanya yang memiliki rasa saling memiliki, terikat diantara satu dan lainnya dan percaya bahwa kebutuhan para anggota akan terpenuhi selama para anggota berkomitmen untuk terus bersama-sama.

    8. Jim Ife (1995 : 55)

    Komunitas diartikan sebagai warga setempat yang dapat dibedakan dari masyarakat lebih luas melalui kepentingan bersama atau tingkat interaksi yang tinggi.

    9. Cattel

    Komunitas adalah sekumpulan individu yang dalam hubungannya dapat memuaskan kebutuhan satu dengan yang lainnya.

    10. Fleder

    Komunitas merupakan sekumpulan individu yang memiliki persamaan yang saling berdekatan dan terlibat dalam suatu tugas bersama. Alhasil, anggota-anggota komunitas saling bergantung dalam mencapai satu tujuan.