Tag: kopiwangi

  • Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Banyuwangi – Gramedia Banyuwangi berkolaborasi dengan Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) dan Indonesia Book Party (IBP) menggelar Serambi Sastra #1, Minggu (13/09/2026).

    Mengangkat tema “Menulis yang Dekat: Merangkai Puisi dalam Keseharian”, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pelajar, pegiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk belajar, berdiskusi, serta mengekspresikan pengalaman melalui puisi.

    Kegiatan berlangsung di Gramedia Banyuwangi N.X Poin Lantai 2, Jalan Kepiting No. 7, Sobo, Banyuwangi. Dari 43 peserta yang melakukan registrasi, sebanyak 21 peserta hadir dan mengikuti kegiatan hingga selesai.

    Peserta berasal dari berbagai kalangan, di antaranya pelajar SMK PGRI Rogojampi, MAN 1 Banyuwangi, dan SMPN 1 Banyuwangi.

    Selain itu, hadir pula anggota KOPIWANGI, Indonesia Book Party, Banyuwangi Book Party, mahasiswa, serta masyarakat umum.

    Serambi Sastra #1 menghadirkan Andi Budi Setiawan sebagai narasumber.

    Selain dikenal sebagai Ketua KOPIWANGI dan penulis buku Algoritma Cinta, Eunoia Sangkakala, dan Rumah Ilalang, Andi juga merupakan guru di SMK PGRI Rogojampi yang aktif menulis.

    Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.20 WIB dan dipandu Putri Nurul Azizah, staf Gramedia Banyuwangi.

    Acara dibuka dengan pantun yang membangun suasana hangat, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan profil narasumber dan sesi berbagi pengalaman tentang perjalanan menulis puisi.

    Dalam sesi tersebut, Andi mengungkapkan bahwa dirinya mulai menulis puisi ketika duduk di kelas X SMA, sekitar tahun 2001.

    Perjalanan panjang itu kemudian melahirkan buku pertamanya, Algoritma Cinta – Biarkan Algoritma Selaras dengan Semesta, yang sebagian besar puisinya ditulis ketika SMA dan baru diterbitkan pada 2021.

    “Hampir 90 persen puisi dalam buku Algoritma Cinta merupakan puisi yang saya tulis sejak SMA. Butuh waktu sekitar 20 tahun sampai akhirnya kumpulan puisi itu menjadi sebuah buku,” ungkap Andi.

    Jauh sebelum aktif menulis, Andi juga telah mengenal puisi sejak masih duduk di taman kanak-kanak.

    Ia pernah dipilih untuk mengikuti seleksi lomba baca puisi, meskipun akhirnya tidak terpilih sebagai wakil sekolah.

    Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Justru dari proses itulah ia semakin dekat dengan dunia puisi, hingga kemudian menjadikan puisi sebagai ruang untuk mengekspresikan pengalaman, perasaan, keresahan, bahkan kritik terhadap berbagai persoalan.

    “Bagi saya, puisi bukan sekadar rangkaian kata. Puisi menjadi ruang untuk mengenali diri, mengolah perasaan, dan menemukan ketenangan,” jelasnya.

    Menurut Andi, menulis puisi yang baik berawal dari kepekaan terhadap apa yang dirasakan, dilihat, dan dialami.

    Penulis tidak perlu memaksakan kata-kata indah, tetapi perlu menemukan kata-kata yang jujur dan mampu mewakili perasaan.

    Ia menyarankan penulis untuk banyak membaca, mengamati, melakukan riset, dan berani menulis.

    Setelah gagasan dituangkan, penulis dapat memperhatikan kembali pilihan diksi, majas, ritme, serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.

    “Puisi yang baik bukan hanya indah dibaca, tetapi juga mampu membuat pembaca ikut merasakan. Karena sesuatu yang lahir dari hati akan sampai ke hati juga,” ujarnya.

    Andi juga membagikan pengalamannya mengenai tantangan dalam menulis puisi.

    Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar mencari kata yang indah, melainkan menemukan kata yang tepat untuk mewakili perasaan tanpa kehilangan makna.

    Karena itu, ia tidak selalu terburu-buru menyelesaikan sebuah puisi. Menurutnya, memberi waktu untuk merenung, membaca kembali, kemudian memperbaiki diksi merupakan bagian penting dari proses kreatif seorang penulis.

    Diskusi semakin hidup ketika peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan.

    Tiga pertanyaan yang muncul antara lain mengenai sosok yang pertama kali mendukungnya dalam membaca puisi, peran media sosial dan teknologi digital bagi sastrawan muda, serta puisi yang paling berkesan baginya.

    Menjawab pertanyaan tersebut, Andi menyebut guru TK sebagai salah satu sosok yang sejak awal memberikan dorongan untuk mengenal puisi.

    Meski tidak lolos dalam seleksi lomba baca puisi saat itu, dukungan tersebut menjadi pengalaman yang terus diingat dan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai penulis.

    Terkait perkembangan teknologi, Andi mengajak para penulis muda untuk tidak alergi terhadap perubahan. Menurutnya, perkembangan sastra kini tidak hanya berlangsung melalui buku cetak, tetapi juga berkembang melalui ebook, media sosial, dan berbagai platform digital.

    Sementara itu, ketika ditanya mengenai puisi yang paling berkesan, Andi menyebut Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.

    Ia menilai kekuatan puisi tersebut terletak pada penggunaan diksi yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam dan tetap relevan sepanjang waktu.

    Setelah sesi diskusi, peserta diajak mempraktikkan langsung materi yang telah dibahas.

    Gramedia memberikan waktu 15 menit kepada peserta untuk menulis puisi yang mewakili perasaan atau pengalaman mereka.

    Kesempatan tersebut dimanfaatkan peserta untuk menuangkan pengalaman masing-masing.

    Salah seorang peserta, Vivi, kemudian membacakan puisinya dengan penuh penghayatan dan mendapatkan apresiasi dari narasumber serta peserta lainnya.

    Kegiatan semakin semarak dengan kuis yang dipandu Putri Nurul Azizah. Peserta diminta menebak judul atau penulis buku berdasarkan sampul yang ditampilkan, sebelum acara ditutup dengan pemberian apresiasi.

    Gramedia Banyuwangi memberikan Blind Book kepada tiga peserta teraktif dan dua doorprize bagi pemenang kuis.

    Andi Budi Setiawan juga memberikan tiga buku karyanya kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dan berkesempatan membacakan puisinya.

    Serambi Sastra #1 kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta.

    Lebih dari sekadar pertemuan sastra, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa puisi dapat lahir dari sesuatu yang sangat dekat: pengalaman, perasaan, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.

    Serambi Sastra yang diselenggarakan Gramedia Banyuwangi diharapkan dapat menjadi ruang yang terus tumbuh bagi masyarakat Banyuwangi untuk membaca, menulis, dan berbagi gagasan.

    Sebab, terkadang sebuah karya besar tidak dimulai dari kata-kata yang sempurna, tetapi dari keberanian seseorang untuk menuliskan satu kata pertamanya.

    Jurnalis: Andi Budi Setiawan

  • KOPIWANGI Dampingi Penulis Lokal Banyuwangi Terbitkan Buku hingga Pengajuan ISBN

    KOPIWANGI Dampingi Penulis Lokal Banyuwangi Terbitkan Buku hingga Pengajuan ISBN

    Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem literasi di Banyuwangi.

    Melalui program pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya, komunitas ini aktif menjadi jembatan literasi bagi para penulis lokal agar karya mereka dapat diterbitkan dan dikenal lebih luas.

    Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut terlihat dalam pendampingan penerbitan buku berjudul Seribu Cahaya Dari Satu Harapan.

    Proses penerbitan buku tersebut dilakukan bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Banyuwangi sebagai mitra pengembangan literasi daerah.

    KOPIWANGI tidak hanya fokus pada kegiatan menulis, tetapi juga mendampingi penulis sejak tahap awal penyusunan naskah hingga proses pengajuan ISBN.

    Program tersebut selaras dengan visi komunitas untuk bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi melalui penerbitan buku fisik maupun digital.

    Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan, mengatakan bahwa banyak penulis lokal memiliki karya yang layak diterbitkan, tetapi terkendala akses ke penerbit komersial. Karena itu, komunitas hadir untuk memberikan alternatif agar karya tetap bisa diterbitkan menjadi buku.
    “Tidak semua penulis memiliki kesempatan menerbitkan karya di penerbit komersial. Karena itu,

    KOPIWANGI hadir memberikan pendampingan dan membuka jalan agar karya-karya lokal tetap bisa diterbitkan serta dibaca masyarakat luas,” ujarnya.

    Penulis dengan nama pena Bintang Senja menjadi salah satu anggota KOPIWANGI yang mendapatkan pendampingan intensif dalam penyelesaian buku pertamanya.

    Pendampingan dilakukan mulai dari penyusunan struktur buku, penulisan kata pengantar, daftar isi, hingga profil penulis.

    Menurut Bintang Senja, proses pendampingan tersebut sangat membantu dirinya dalam memahami tahapan penerbitan buku. Ia mengaku lebih percaya diri untuk menyelesaikan naskah karena mendapat arahan yang jelas dari komunitas.

    “Terima kasih KOPIWANGI yang telah mendampingi dalam penulisan buku. Mulai dari pembuatan kata pengantar, daftar isi, sampai penulisan profil penulis. Ini sangat membantu agar tulisan saya bisa segera diterbitkan,” jelasnya.

    Selain pendampingan penulisan, KOPIWANGI juga memberikan pelatihan layout buku bagi anggota yang ingin belajar secara mandiri. Pelatihan tersebut menjadi bekal penting agar penulis memahami tata letak buku sesuai kaidah penerbitan.

    Bintang Senja menilai pelatihan layout buku memberi manfaat besar bagi penulis pemula. Dengan kemampuan tersebut, penulis tidak hanya mampu menyusun naskah, tetapi juga mendesain buku sesuai kebutuhan.

    “Pelatihan layout buku ini sangat bermanfaat. Sebagai penulis, saya bisa mendesain layout buku sendiri sesuai keinginan, namun tetap mengikuti aturan yang ada. Harapannya, saya juga bisa membantu teman-teman penulis lain di KOPIWANGI,” tambahnya.

    Setelah proses layout selesai, naskah Seribu Cahaya Dari Satu Harapan kemudian dikirim ke Dispusip Banyuwangi untuk tahap verifikasi.

    Jika dinyatakan lengkap dan sesuai ketentuan, naskah dilanjutkan dengan penandatanganan surat keaslian karya sebelum diajukan ke Perpustakaan Nasional untuk memperoleh ISBN.

    Dalam proses tersebut, KOPIWANGI juga mendampingi penulis saat melakukan penandatanganan dokumen administrasi di Dispusip Banyuwangi.

    Selain itu, komunitas turut berdiskusi mengenai berbagai jenis karya tulis yang dapat diajukan ISBN.

    Pustakawan Ahli Madya Dispusip Banyuwangi, Yusup Choiri, menjelaskan bahwa peluang penerbitan ISBN terbuka untuk berbagai jenis karya tulis.

    Menurutnya, Dispusip Banyuwangi berkomitmen mendukung para penulis lokal agar karya mereka dapat dipublikasikan secara lebih luas.

    “Selain puisi, karya seperti cerpen, novel, esai, opini, dan artikel juga bisa diajukan ISBN. Kami terus berupaya memberikan fasilitasi dan pendampingan bagi penulis lokal agar karya yang dihasilkan bisa dikenal masyarakat lebih luas,” jelas Yusup Choiri.

    Kehadiran para penulis lokal dinilai menjadi tanda meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendokumentasian ide dan karya sastra dalam bentuk buku.

    Hal tersebut juga sejalan dengan semangat KOPIWANGI yang konsisten membangun jembatan literasi di lingkungan sekolah, komunitas, maupun masyarakat umum.

    Menutup kegiatan tersebut, Andi Budi Setiawan menegaskan bahwa KOPIWANGI hadir bukan untuk bersaing dengan pihak lain, melainkan menjadi pelengkap dalam membangun budaya literasi di Banyuwangi.

    “KOPIWANGI hadir dengan memberikan warna yang berbeda. Bukan sebagai kompetitor, tetapi pelengkap dalam membangun ekosistem literasi di Banyuwangi,” tutupnya.

    Melalui kolaborasi antara komunitas, penulis, dan pemerintah daerah, gerakan literasi di Banyuwangi diharapkan terus berkembang. Dukungan masyarakat untuk membaca, menulis, dan mengapresiasi karya lokal menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya literasi di daerah.

  • Memasuki Usia Ke-3, Kopiwangi Pererat Kebersamaan dan Semangat Literasi

    Memasuki Usia Ke-3, Kopiwangi Pererat Kebersamaan dan Semangat Literasi

    Di usianya yang ke-3 tahun, ibarat bayi yang sedang lucu-lucunya—Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) menggelar Halal Bihalal sekaligus Milad ke-3 dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.

    Dari langkah kecil yang sederhana, KOPIWANGI terus tumbuh menjadi ruang pulang bagi para pegiat literasi untuk saling menyapa, berbagi, dan menguatkan.

    Momentum ini tak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap kata, ide, dan karya yang lahir adalah bagian dari upaya bersama menjaga nyala literasi di Banyuwangi.

    Bertempat di LKP TBM Elit Jalan Bolodewo 51G Kebalen Kidul, Desa Lemahbangdewo, Kecamatan Rogojampi, yang merupakan kediaman Drs. Ir. Jaenuri, NZ, M.Pd (anggota kehormatan KOPIWANGI) kegiatan Halal Bihalal & Milad ke-3 KOPIWANGI berlangsung dengan hangat.

    Tuan rumah dengan tulus membuka ruang dan fasilitas demi terselenggaranya kegiatan ini.

    Meski di usia senja, Jaenuri NZ yang merupakan penulis puisi basa Using, tetap menunjukkan semangat yang menyala dengan memberikan motivasi dan dorongan kepada anggota KOPIWANGI untuk terus menulis, merawat bahasa dan budaya lokal, serta menjadikan literasi sebagai jalan pengabdian yang tak lekang oleh waktu.

    Tepat pukul 09.00 WIB, acara Halal Bihalal & Milad ke-3 KOPIWANGI resmi dimulai. Maria Ulfa selaku pembawa acara membuka kegiatan dengan sebuah pantun, yang menjadi ciri khas tersendiri dalam setiap kegiatan KOPIWANGI.

    Selanjutnya, seluruh hadirin diminta berdiri untuk bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dengan penuh khidmat dan semangat, para peserta mengikuti lagu kebangsaan tersebut sebagai wujud rasa nasionalisme dan kebersamaan.

    Mengalawali sambutan yang pertama disampaikan perwakilan pengurus KOPIWANGI – Nur Ahmadi, S.Pd, M.M masih dalam bulan syawal mengucapakan permintaan maaf kepada semua sobat KOPIWANGI yang hadir.

    Berikutnya Nur Ahmadi menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kedatangan sobat KOPIWANGI. Ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk membesarkan komunitas.

    “Terima kasih kami ucapkan kepada sobat KOPIWANGI yang hadir, ini merupakan komitmen bersama untuk membesarkan KOPIWANGI. Bagi sobat KOPIWANGI yang belum bisa hadir harapannya dalam kegiatan selanjutnya bisa hadir bersama untuk memeriahkan” jelas Nur Ahmadi.

    Acara selanjutnya sebagai bentuk syukur atas 3 tahun perjalanan KOPIWANGI, pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh ustad Moh. Halili, M.HI.

    Sebelum memulai doa bersama, Halili mengajak semua hadirin untuk diam sejenak bersyukur atas semua pemberian dari Allah SWT, bisa hadir dan bertemu dengan orang-orang hebat di komunitas ini.

    Setelah acara doa bersama milad ke-3 KOPIWANGI dilanjutkan dengan prosesi Halal Bihalal saling berjabat tangan satu dengan lainnya.

    MC memberikan arahan kepada hadirin untuk berkeliling sembari berjabat tangan diiringi dengan alunan musik religi membuat suasana semakin khidmat.

    Sebelum ceremonial potong tumpeng berlangsung, momen sharing dan diskusi anggota KOPIWANGI menjadi ritual yang tidak bisa ditinggalkan.

    MC mempersilahkan kepada Andi Budi Setiawan selaku Ketua KOPIWANGI untuk memimpin acara sharing dan diskusi. Mengawali sesi sharing dan diskusi, Andi BS menyampaikan histori perjalanan KOPIWANGI sebelum sebesar ini.

    Selanjutnya Andi BS menyampaikan profil KOPIWANGI dilihat dari visi, misi dan tujuan besarnya. Beberapa event kegiatan literasi yang sudah berjalan, karya-karya KOPIWANGI dan kemitraan yang sudah terjalin baik.

    “Tak terasa dalam 3 tahun ini banyak pencapaian yang sudah diraih KOPIWANGI, mulai dari program literasi yang berdampak bagi sekolah maupun masyarakat (pegiat literasi), karya-karya dari sobat KOPIWANGI yang sudah diterbitkan diantaranya Lentera Di Pengujung Asa (2024), Pena Sang Surya (2024), Marhaban Ya Ramadan : Antologi Pantun, Puisi dan Quote Ramadan (ebook Dispusip Banyuwangi, 2025), Sajak Merah Putih : Antologi Puisi Pahlawan (ebook Dispusip Banyuwangi, 2025) dan Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi – Antologi Pantun Basa Using (ebook Dispusip Banyuwangi, 2026). Ini merupakan bentuk nyata peran KOPIWANGI dalam menyalakan literasi di Banyuwangi” jelas Andi BS.

    Lina Kamalin Kopiwangi

    Di tengah sesi sharing dan diskusi, hadir Lina Kamalin, M.Pd selaku penasihat KOPIWANGI sekaligus Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

    Di tengah kesibukan yang luar biasa, Lina Kamalin selalu menyempatkan hadir membersamai sobat KOPIWANGI.

    Dalam sambuannya, ia menyampaikan beberapa pesan dan juga motivasi untuk sobat KOPIWANGI yang hadir.

    “Saya sudah berkomitmen pada diri saya, setiap kegiatan Halal Bihalal dan Milad KOPIWANGI, saya akan selalu menyempatkan hadir untuk membersamai sobat KOPIWANGI,” ungkap Lina Kamalin selaku Penasihat KOPIWANGI.

    Ia kemudian mengibaratkan kebersamaan dalam komunitas seperti konsep dalam ilmu fisika.

    “Garpu tala hanya akan beresonansi kuat ketika bertemu dengan frekuensi yang sama. Ia tidak memaksa, tidak mendominasi—ia hanya bergetar, lalu menemukan yang seirama,” jelasnya.

    Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan semangat yang dibangun di KOPIWANGI.

    “Komunitas ini tidak hadir untuk menyeragamkan, tetapi untuk mempertemukan. Setiap anggota datang dengan latar, pengalaman, dan ‘nada’ yang berbeda. Namun ketika ada satu semangat yang sama—cinta pada literasi—di situlah resonansi itu mulai terasa,” pungkasnya.

    Hal tersebut memberikan energi positif sekaligus menguatkan nyala semangat literasi bagi sobat KOPIWANGI dalam menjalankan peran sebagai agen perubahan dan penggerak literasi di Banyuwangi.

    Tidak berhenti di situ, Lina Kamalin juga mendorong anggota KOPIWANGI untuk terus meningkatkan kualitas karya.

    Selain menulis puisi, pentigraf, dan esai, ia mengajak agar mulai mengembangkan tulisan ke ranah artikel dan opini yang mengangkat isu-isu aktual di masyarakat untuk dipublikasikan melalui media cetak maupun daring.

    Menurutnya, langkah ini menjadi peran penting komunitas literasi dalam memberikan kontribusi pemikiran sekaligus sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah daerah demi Banyuwangi yang lebih baik.

    Sebelum acara berakhir, seremoni pemotongan tumpeng menjadi puncak dari kegiatan hari itu. Bunda Lina didaulat untuk memotong nasi tumpeng dan menyerahkannya kepada Ketua KOPIWANGI.

    Momen ini menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan tiga tahun KOPIWANGI, sekaligus peneguhan kebersamaan dan harapan agar semangat literasi terus tumbuh, menguat, dan memberi manfaat bagi sesama.

    Setelah sesi pemotongan tumpeng selesai dilanjutkan dengan foto bersama. Diakhir MC menutup acara dengan pembagian hadiah bagi hadirin yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar dilanjutkan dengan ramah tamah.

    Menutup seluruh rangkaian kegiatan, kehangatan yang terjalin hari itu seakan meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Bukan sekadar pertemuan, tetapi juga pengingat bahwa kebersamaan yang sederhana mampu melahirkan energi besar untuk terus bergerak.

    Di usia yang ke-3 ini, KOPIWANGI tidak hanya merayakan perjalanan, tetapi juga meneguhkan langkah ke depan—bahwa literasi akan terus hidup selama ada hati yang peduli, tangan yang menulis, dan ruang yang saling menguatkan.

    Dari Rogojampi, semangat itu kembali dinyalakan, untuk terus tumbuh dan memberi makna bagi Banyuwangi.

  • KOPIWANGI dan Dispusip Banyuwangi Bahas Publikasi Ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi serta Pengajuan ISBN

    KOPIWANGI dan Dispusip Banyuwangi Bahas Publikasi Ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi serta Pengajuan ISBN

    Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Andi Budi Setiawan, melakukan kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Banyuwangi, Selasa (10/03/2026).

    Kunjungan tersebut dilakukan untuk menjalin kerja sama sekaligus membahas publikasi ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi (Antologi Pantun Basa Using) yang telah dirilis melalui platform ebookbanyuwangi.

    Andi Budi Setiawan tiba di kantor Dispusip Banyuwangi sekitar pukul 10.00 WIB.

    Ia disambut oleh Yusup Khoiri, S.STP, selaku Pustakawan Ahli Madya, di ruang kerjanya untuk berdiskusi mengenai pengembangan literasi daerah.

    Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah membahas publikasi ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi (Antologi Pantun Basa Using) yang sudah tersedia di laman resmi Dispusip Banyuwangi.

    Ebook tersebut dapat diakses masyarakat melalui platform digital perpustakaan daerah. (https://ebookbanyuwangi.id/book/tandang-bareng-mbangun-banyuwangi-antologi-pantun-basa-using/)

    Selain publikasi digital, Dispusip Banyuwangi juga berencana mengajukan ISBN untuk karya tersebut ke Perpustakaan Nasional.

    Langkah ini dilakukan agar antologi pantun tersebut tercatat secara resmi sebagai koleksi karya sastra yang mengangkat kearifan lokal Banyuwangi, khususnya pantun berbahasa Using.

    Antologi Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi memuat 48 pantun karya 34 penulis dari berbagai latar belakang.

    Para penulis berasal dari anggota KOPIWANGI, guru bahasa Using, hingga pegiat literasi yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya daerah.

    Keragaman penulis tersebut menjadi kekuatan utama dalam antologi ini. Karya-karya yang terhimpun menunjukkan bahwa bahasa Using tetap hidup dan dirawat bersama oleh berbagai kalangan lintas generasi dan profesi.

    Secara tematik, pantun-pantun dalam antologi ini mengangkat kearifan lokal Banyuwangi melalui lima subtema utama.

    Subtema tersebut meliputi seni dan pertunjukan, ritual dan tradisi, arsitektur dan tata ruang, kuliner dan pangan, serta hubungan manusia dan alam.

    Melalui tema-tema tersebut, antologi ini merekam potret Banyuwangi secara utuh. Tidak hanya menggambarkan kekayaan seni dan tradisi adat, tetapi juga menampilkan lanskap alam serta ragam kuliner khas daerah.

    Dalam kesempatan itu, Yusup Khoiri menjelaskan bahwa tidak semua karya tulis dapat diajukan untuk mendapatkan ISBN dari Perpustakaan Nasional.

    Menurutnya, terdapat sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi oleh sebuah karya sebelum diajukan secara resmi.

    “Karya yang bisa diajukan ISBN, baik dalam bentuk PDF maupun cetak, harus sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional. Karya tulis yang merupakan produk pembelajaran tidak bisa diajukan ISBN.

    Jika karya tidak memenuhi syarat tersebut, maka bisa dipublikasikan melalui platform ebookbanyuwangi,” jelas Yusup Khoiri.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan menyampaikan bahwa Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi merupakan ebook ketiga yang dirilis oleh Dispusip Banyuwangi.

    Sebelumnya, Dispusip telah menerbitkan dua antologi lain yang juga melibatkan pegiat literasi daerah.

    “Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi merupakan ebook ketiga yang dirilis Dispusip Banyuwangi. Sebelumnya ada Marhaban Ya Ramadan, antologi pantun, puisi, dan quote Ramadan, serta Sajak Merah Putih, antologi puisi bertema pahlawan,” ujar Andi.

    Dispusip Banyuwangi juga mendorong keterlibatan aktif komunitas literasi dalam menghasilkan karya tulis.

    Keterlibatan tersebut diharapkan dapat memperkaya khazanah literasi lokal sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap karya-karya kreatif daerah.

    Langkah ini sejalan dengan visi KOPIWANGI yang mengusung semangat bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi.

    Kolaborasi antara komunitas literasi dan lembaga pemerintah menjadi salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan budaya melalui karya tulis.

    Melalui inisiatif ini, masyarakat Banyuwangi diharapkan semakin terdorong untuk membaca, menulis, dan mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.

    Karena itu, dukungan publik sangat penting agar gerakan literasi terus tumbuh dan memberi dampak luas bagi generasi mendatang.

  • Yusdi Irawan dan Harapan yang Disulam di Balik Rak Buku

    Yusdi Irawan dan Harapan yang Disulam di Balik Rak Buku

    Kemajuan literasi di daerah tidak hadir secara instan. Ia tumbuh melalui kesadaran, komitmen, serta keberpihakan para pemangku kebijakan terhadap pentingnya budaya membaca dan belajar sejak usia dini.

    Di Banyuwangi, upaya tersebut terus menunjukkan geliat yang positif, salah satunya melalui peran aktif Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E., M.Si., sosok pemimpin yang dikenal rendah hati, sederhana, dan memiliki kepedulian nyata terhadap literasi.

    Kehadiran Yusdi Irawan dalam kegiatan kunjungan dan donasi buku di MI Islamiyah Kedaleman Rogojampi menegaskan bahwa literasi tidak hanya menjadi wacana di ruang rapat, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata di lingkungan sekolah.

    Di sela-sela jadwal yang padat, Yusdi Irawan tetap meluangkan waktu untuk hadir langsung di tengah masyarakat, sebuah teladan kepemimpinan yang patut diapresiasi.

    Bagi penulis, sebagai pegiat literasi dan Ketua KOPIWANGI, langkah tersebut mencerminkan kepemimpinan yang memahami bahwa perpustakaan sekolah merupakan fondasi penting dalam menumbuhkan budaya baca di tengah masyarakat.

    Yusdi Irawan memandang perpustakaan bukan sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan sebagai ruang belajar yang hidup dan berkelanjutan.

    Pandangan tersebut sejalan dengan program-program Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi yang selama ini berfokus pada penguatan perpustakaan sekolah, peningkatan minat baca, serta perluasan akses literasi hingga ke wilayah-wilayah yang belum terjangkau secara optimal.

    Kehadiran layanan perpustakaan keliling serta kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan sekolah-sekolah menjadi wujud komitmen nyata dan kesungguhan dalam memajukan literasi di Banyuwangi.

    Dalam dialog bersama pihak sekolah, ia tidak hanya menyerahkan buku, tetapi juga menyampaikan masukan strategis terkait pengelolaan perpustakaan serta pembiasaan membaca bagi siswa.

    Pernyataannya bahwa kebiasaan membaca akan tumbuh menjadi budaya membaca mencerminkan pemahaman yang mendalam bahwa literasi merupakan proses jangka panjang, bukan kegiatan seremonial semata.

    Dari kebiasaan inilah akan tumbuh karakter peserta didik yang menyadari pentingnya membaca sebagai bekal menghadapi masa depan, sebab membaca adalah jendela untuk memahami dunia dan kehidupan.

    Sebagai seorang pendidik yang aktif di dunia literasi, penulis mengapresiasi komitmen tersebut.

    Dukungan langsung dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi sekolah.

    Perpustakaan pun menjadi lebih bermakna; guru dan siswa merasa diperhatikan, sementara sekolah memperoleh dorongan moral untuk terus berinovasi dalam kegiatan literasi.

    Dalam konteks ini, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai ruang membaca, tetapi juga sebagai ruang diskusi untuk berbagi gagasan, ruang kolaborasi untuk bekerja sama, serta ruang inovasi dalam melahirkan karya-karya kreatif.

    Apresiasi yang sama juga disampaikan oleh Maulana Affandi, S.S., Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi dan Media Sastrawacana.

    Menurutnya, keterlibatan aktif Yusdi Irawan mencerminkan sinergi yang sehat antara pemerintah daerah, penerbit, media, komunitas literasi, dan sekolah.

    Sinergi inilah yang menjadi kunci terciptanya ekosistem literasi yang kuat dan berkelanjutan.

    Komitmen tersebut dibuktikan melalui kehadiran serta dukungan penuh Yusdi Irawan terhadap program donasi buku ke sekolah-sekolah yang membutuhkan, yang telah dicanangkan oleh Media Sastrawacana dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, penguatan literasi sejak pendidikan dasar sebagaimana yang didorong Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi merupakan investasi masa depan.

    Literasi tidak hanya membentuk kecakapan membaca dan menulis, tetapi juga menanamkan nilai berpikir kritis, karakter, dan kepekaan sosial.

    Pada dasarnya, literasi berfungsi memberikan pencerahan (enlightenment), memperkaya pemikiran (enrichment), serta memberdayakan (empowerment).

    Penulis meyakini bahwa Banyuwangi berada di jalur yang tepat dalam membangun budaya literasi bagi generasi masa depan.

    Keyakinan tersebut tumbuh karena hadirnya pemimpin yang memiliki visi dan arah kebijakan yang jelas.

    Sosok Yusdi Irawan, S.E., M.Si. menunjukkan bahwa kemajuan literasi tidak cukup diwacanakan, tetapi menuntut kehadiran nyata, komitmen kebijakan yang konsisten, serta kerja bersama lintas sektor.

    Pada akhirnya, upaya memajukan literasi merupakan kerja kolektif yang menuntut kolaborasi berbagai pihak.

    Namun demikian, dukungan dan keteladanan dari pemimpin daerah menjadi penggerak utama agar gerakan literasi tidak berhenti di tengah jalan.

    Apa yang dilakukan Yusdi Irawan hari ini merupakan bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk menjadikan Banyuwangi sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga kuat dalam tradisi membaca, berkesadaran tinggi, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat.

    ✍️ Penulis adalah Pendidik di SMK PGRI Rogojampi yang aktif di dunia literasi dan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

  • KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Sering kita dengar pernyataan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Tentunya itu bukan sekadar angka, seolah-olah bangsa ini nyaris tidak gemar membaca.

    Namun, jika ditelusuri, data tersebut tidak tercatat dalam laporan resmi UNESCO maupun BPS.

    Faktanya, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2024), tingkat kemampuan baca-tulis masyarakat Indonesia justru sudah sangat tinggi, yaitu sekitar 96–99%.

    Artinya, hampir semua penduduk Indonesia sudah bisa membaca dan menulis.

    Namun tantangannya kini bukan lagi sekadar bisa membaca, melainkan bagaimana menjadikan membaca bagian dari kehidupan.

    Banyak dari kita mampu membaca teks, tetapi belum tentu memahami isinya atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Persoalan utama bukan lagi pada kemampuan membaca, melainkan bagaimana membangun budaya membaca dan memperdalam literasi.

    Literasi bukan hanya sekadar mengenal huruf, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk berpikir reflektif dan kreatif. Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan upaya berkelanjutan.

    Pada dasarnya, literasi memiliki tiga makna, yaitu:

    1. Pertama, Enlightenment (mencerahkan) — literasi menghadirkan kesadaran baru dan membuka wawasan pembacanya. Dengan membaca, seseorang dapat memahami dunia dengan lebih luas.
    2. Kedua, Enrichment (memperkaya) — setiap bacaan memperkaya pengetahuan, memperluas empati, dan menambah khazanah berpikir.
    3. Ketiga, Empowerment (memberdayakan) — literasi menjadikan seseorang memiliki kompetensi dan keterampilan hidup (life skills) untuk menghadapi tantangan zaman.

    Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), sebuah komunitas literasi yang berdiri pada Maret 2023 dan berperan aktif menumbuhkan semangat membaca serta menulis di Banyuwangi.

    Anggotanya berasal dari beragam latar belakang, mulai dari tenaga pendidik (mayoritas guru penggerak), mahasiswa, dosen, penulis, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.

    Dengan visi “bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi,” KOPIWANGI mengusung misi yang nyata dan terukur: mengadakan pelatihan menulis fiksi dan nonfiksi, pendampingan sampai penerbitan karya, berbagi praktik baik antarpenulis, serta menyelenggarakan kegiatan dan kolaborasi literasi dengan berbagai pihak.

    Melalui program pelatihan komunitas, KOPIWANGI membuka ruang bagi siapa pun, baik guru, siswa, penulis pemula, maupun masyarakat umum untuk mengasah keterampilan menulis secara daring maupun luring.

    Kegiatan lomba literasi menjadi wadah bagi pegiat literasi dan memotivasi anggota agar terus produktif berkarya.

    Pertemuan bulanan berfungsi sebagai ruang refleksi, diskusi, dan evaluasi agar komunitas tetap tumbuh secara berkelanjutan.

    Beberapa kegiatan telah terlaksana setiap tahun, antara lain lomba cipta dan baca puisi untuk jenjang pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum tingkat kabupaten.

    Selain itu, KOPIWANGI rutin menggelar lomba baca puisi dan mendongeng bagi siswa SD, SMP, dan SMA sederajat, serta lomba cipta puisi, pantun, dan quote antaranggota komunitas.

    Melalui berbagai kegiatan ini, KOPIWANGI terus menumbuhkan semangat berekspresi dan kecintaan terhadap literasi.

    Kegiatan menulis puisi dan esai di KOPIWANGI dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya antaranggota komunitas.

    Upaya ini membuahkan hasil nyata melalui terbitnya tiga buku antologi, yakni Lentera di Pengujung Asa – Pendidikan yang Memerdekakan (2024), Pena Sang Surya – Kisah Inspiratif Pendidikan Era Milenial (2024), dan Antologi Gotong Royong (2025).

    Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa literasi akan berkembang jika dilakukan bersama dengan tekad serta niat yang kuat.

    Lebih dari sekadar komunitas, KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara literasi dan lintas generasi.

    Di dalamnya, berbagai usia dan latar belakang bersatu dalam semangat yang sama: mencintai literasi.

    Kegiatan sharing dan diskusi antara guru, penulis pemula, penulis senior, hingga kalangan masyarakat umum mendorong inspirasi untuk menulis dan membaca.

    Literasi pun menjadi ruang dialog antar generasi, tempat di mana pengalaman dan gagasan bertemu untuk melahirkan perubahan.

    KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara intuisi dan tulisan; antara pemikiran dan karya.

    Setiap intuisi atau pemikiran yang lahir mengalir ke dalam tulisan dan menjadi karya.

    Melalui tulisan, KOPIWANGI tidak hanya menyalurkan ide tetapi juga meneguhkan bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggerakkan.

    Makna kata “jembatan” menggambarkan peran sebagai penghubung antara karya literasi dan lintas generasi — sebuah warisan yang dapat dinikmati dari masa ke masa.

    Melalui karya yang sarat nilai positif dan logis, literasi menjadi cermin reflektif budaya, khususnya dalam bidang sastra, yang terus hidup dan berkembang seiring perjalanan waktu.

    Dalam dunia yang dibanjiri informasi, kemampuan literasi menjadi tameng sekaligus kompas.

    Masyarakat yang melek literasi tidak mudah terombang-ambing oleh hoaks, tidak cepat tersulut oleh opini kosong, dan mampu menilai setiap informasi secara kritis.

    Karena itu, gerakan literasi seperti KOPIWANGI memiliki arti penting: membangun Banyuwangi yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing.

    Sampai di sini, KOPIWANGI membuktikan komitmennya bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca buku atau menulis cerita, tetapi sebuah gerakan yang mencerahkan, memperkaya, dan memberdayakan.

    Dari Banyuwangi, semangat api literasi terus menyala — menghubungkan masa lalu lewat tulisan yang berakar pada nilai-nilai budaya, masa kini yang dinamis, dan masa depan yang dipenuhi generasi milenial yang cakap berliterasi.

    Mari dukung gerakan ini, karena setiap kata yang ditulis dan setiap karya yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar bagi generasi berikutnya.

    Penulis merpakan Pendidik di SMK PGRI Rogojampi yang aktif di dunia literasi dan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

  • Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa 2025, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra.”

    Rangkaian kegiatan ini mencakup Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang digelar di Ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah Workshop Pentigraf yang menghadirkan narasumber Maulana Affandi, S.S., Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus penulis buku.

    Workshop Pentigraf SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Kegiatan ini diikuti oleh total 60 peserta, yang terdiri atas 13 peserta dari sekolah eksternal (SMP dan SMA), 21 jurnalis SMK Models, serta 26 peserta dari intra dan ekstrakurikuler sekolah.

    Dipandu oleh moderator Ananda Ayu, suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta dengan semangat tinggi mengikuti setiap sesi yang disampaikan pemateri.

    Dalam paparannya, Affandi tidak hanya membahas teori seputar penulisan pentigraf (cerita pendek tiga paragraf), tetapi juga mengajak peserta memahami makna literasi secara lebih luas.

    Ia membagikan trik sederhana agar peserta lebih mudah menulis, yakni dengan memulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    “Menulis pentigraf tidak harus dimulai dari inspirasi besar. Justru ide terbaik bisa lahir dari benda, pengalaman pribadi, atau emosi yang kita rasakan,” ungkapnya.

    Ia kemudian memperkenalkan formula menulis pentigraf melalui tiga elemen dasar, yaitu benda, emosi, dan tempat.

    Dengan menentukan ketiga unsur tersebut, penulis sudah memiliki kerangka cerita yang siap dikembangkan menjadi karya utuh.

    Workshop Pentigraf

    Untuk menambah semangat, Affandi memberikan tantangan spontan kepada beberapa peserta untuk membaca karya pentigraf dan puisi di depan forum. Peserta yang berani tampil mendapat hadiah buku terbitan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Memasuki pertengahan sesi, peserta langsung diberi waktu praktik menulis pentigraf.

    Dalam waktu kurang dari 30 menit, sebagian besar peserta berhasil menuntaskan karya mereka dengan mengikuti trik yang baru saja dipelajari. Suasana ruangan pun dipenuhi antusiasme dan rasa ingin tahu.

    Di akhir sesi, Affandi mengajak peserta melakukan refleksi. Salah satu peserta dari tim Jurnalis SMK Models, Aurelia Clarista menyampaikan kesannya bahwa setelah mengikuti kegiatan ini, ia merasa lebih percaya diri dan mampu menulis pentigraf dengan mudah.

    “Sebelumnya saya merasa kebingungan dalam menentukan ide pentigraf, setelah mendengar pemaparan dari Kak Affandi, ternyata ada trik menulis pentigraf jadi tidak butuh waktu lama,” ujarnya.

    Sebelum workshop ditutup, moderator membuka sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam kesempatan itu, Affandi berpesan kepada seluruh peserta, khususnya para jurnalis muda, untuk tidak minder dalam berkarya.

    Workshop Pentigraf di SMK Models Siliragung

    “Tidak ada karya yang buruk. Semua karya itu baik, jadi jangan pernah malu dengan karya kita sendiri,” pesannya.

    Ia juga berbagi pengalaman pribadinya sebagai jurnalis dan penulis, mendorong peserta untuk terus berkarya dan menjadikan tulisan sebagai sarana menebar manfaat.

    “Menulis itu bukan sekadar hobi, tapi jalan untuk memahami diri dan dunia. Dari satu tulisan kecil, bisa lahir perubahan besar,” ujarnya menutup sesi dengan tepuk tangan meriah dari peserta.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung yang bekerja sama dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

  • Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar Lomba Baca Puisi dan Bercerita tingkat SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (26/10).

    Kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” ini berlangsung meriah di ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Sejak pagi, ratusan peserta bersama guru dan orang tua memenuhi ruangan dengan antusiasme tinggi.

    Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai pembukaan lomba sekaligus pelaksanaan Workshop Pentigraf yang diikuti pelajar dari jenjang SMP hingga SMA sederajat.

    Dari jenjang SD/MI hingga SMP di wilayah Siliragung dan sekitarnya, antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa dunia literasi kini semakin dekat dan digemari.

    Untuk lomba baca puisi, kategori A diikuti oleh 20 peserta dan kategori B diikuti 50 peserta. Sementara lomba bercerita diikuti oleh 43 peserta.

    Dewan juri terdiri dari tokoh dan praktisi sastra, antara lain Andi BS (Ketua KOPIWANGI), Andi Sep Kurniawan (Penulis Cerita Dwi Bahasa Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur), Meilysa Ajeng Kartika (Dosen dan Penulis), Heri Iskandar (Sastrawan Using dan Konten Kreator), Efa ET (penulis), serta Indriana Laili (jurnalis dari sastrawacana.id/).

    Adapun Workshop Pentigraf diikuti 60 peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Narasumber utama, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi Sastrawacana dan Penerbit Lintang Banyuwangi, membagikan pengalaman menulis cerita tiga paragraf dengan pendekatan kreatif dan inspiratif.

    Suasana semarak literasi di ballroom ED Hotel SMK Muhammadiyah 8 Siliragung makin terasa hangat saat acara dibuka dengan sambutan dari Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan.

    Andi Budi Setiawan

    Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada pihak sekolah yang telah menghadirkan kegiatan literasi yang kreatif dan inspiratif.

    “Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Kepala SMK Models Siliragung yang telah mengadakan event literasi yang begitu hebat. Tidak semua lembaga pendidikan mampu menghadirkan kegiatan sebesar dan seindah ini,” ungkap Andi penuh semangat.

    Ia juga berpesan kepada peserta untuk menjadikan lomba sebagai ruang kebahagiaan, bukan sekadar kompetisi.

    “Menang atau kalah itu biasa. Yang penting, tampil dengan hati senang dan sepenuh hati karena dari situlah semangat literasi sejati lahir,” tambahnya.

    Sementara itu, Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jembatan untuk memperluas wawasan dan memperhalus budaya.

    “Bahasa bukan sekadar retorika, melainkan sarana memahami kehidupan dan menebar kebaikan,” tuturnya.

    Muhlas juga menyoroti pentingnya kegiatan literasi di sekolah, khususnya melalui ekstrakurikuler jurnalistik yang aktif membina siswa SMP di wilayah Siliragung.

    “Anak-anak jurnalistik kami turun langsung ke sekolah-sekolah menengah untuk berbagi ilmu menulis berita. Ini bentuk nyata bahwa literasi dapat menjadi amal ibadah yang luas manfaatnya,” ujarnya.

    Dalam sambutannya, ia sempat bernostalgia tentang masa mudanya sebagai pimpinan redaksi media kampus.

    Pengalaman itu menurutnya menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana menulis dan berpikir kritis dapat membentuk karakter dan kepekaan sosial.

    Lomba Baca Puisi SMK Models Siliragung

    Setelah sambutan dan pembukaan resmi oleh Kepala Sekolah, para peserta diarahkan menuju ruang lomba masing-masing. Sementara itu, peserta Workshop Pentigraf tetap di ballroom untuk mengikuti sesi pelatihan intensif.

    Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi SMK Muhammadiyah 8 Siliragung dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Kesuksesan acara juga tak lepas dari kerja keras Tim Panitia Ekskul Models Jurnalisme di bawah koordinasi Cici Arista Devi, selaku tenaga pendidik sekaligus pembina dari tim jurnalis di  SMK Models Siliragung. (Andi BS)

  • KOPIWANGI Meriahkan Bulan Bahasa dengan Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong

    KOPIWANGI Meriahkan Bulan Bahasa dengan Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong

    Momen bulan bahasa kali ini berdeba dengan tahun sebelumnya. Launching buku antologi “Gotong Royong” pada hari Jumat (17/10) di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi menjadi tanda komitmen KOPIWANGI untuk terus berkarya dan berkiprah serius di dunia literasi.

    Acara launching buku antologi “Gotong Royong” ini bersamaan dengan launching buku “Lamunan Seorang Wartawan” karya Ricky Sulivan. Dimana kisahnya diangkat dari perjalanan Ricky yang berprofesi sebagai seorang wartawan.

    Buku antologi “Gotong Royong” ini merupakan kolaborasi antara penerbit Lintang Banyuwangi dengan KOPIWANGI dan Komunitas Gotong Royong. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya dimana penulisnya merupakan anggota KOPIWANGI.

    Butuh proses panjang bisa menerbitkan buku antologi “Gotong Royong” ini. Sebagai bekal penulis mendapat pelatihan sebanyak dua kali secara daring lewat aplikasi zoom.

    Pelatihan pertama materi dasar tentang menulis puisi dan pentigraf berbahasa Indonesia dan Using. Pelatihan kedua peserta lebih banyak berdiskusi dengan narasumber tentang karya yang ditulis sampai selesai. Untuk selanjutnya dilakukan kurasi karya.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan
    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (Dok. sastrawacana.id/)

    Beberapa narasumber pelatihan menulis, diantaranya Yeti Chotimah ketua MGMP SMP Bahasa Using, Heri Iskandar Sastrawan Using dan Andi Budi Setiawan sastrawan sekaligus ketua KOPIWANGI dengan Koordinator kurasi karya Muhammad Iqbal Baras.

    Acara peluncuran dipandu oleh Maria Ulfa dari Kopiwangi dan dibuka secara resmi oleh Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ selaku media partner.

    Dalam sambutannya, Affandi menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam menyukseskan peluncuran buku tersebut.

    Ia menegaskan, sinergi antara penerbit, komunitas literasi, dan para penulis merupakan cerminan nyata bahwa semangat menulis dan berkarya di Banyuwangi terus berkembang dan tidak pernah padam.

    Pada kesempatan berikutnya, Lina Kamalin, M.Pd, selaku penasihat KOPIWANGI, menyampaikan bahwa terselenggaranya kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi yang harmonis antara penulis dan komunitas dalam menumbuhkan semangat literasi.

    “Buku Antologi Gotong Royong lahir dari perjalanan panjang yang melibatkan banyak pihak dengan kepedulian mendalam terhadap dunia literasi. Dari proses penulisan hingga penerbitan, setiap langkah dijalani dalam semangat kolaborasi, saling mendukung, dan tumbuh bersama. Karena itu, buku ini tidak sekadar menghimpun karya tulis, melainkan menjadi wujud nyata bahwa kebersamaan dapat menumbuhkan karya bermakna bagi Banyuwangi.” ujarnya.

    Lina Kamalin berharap, dalam beberapa bulan ke depan karya yang tengah digarap dapat segera rampung. Dengan demikian, tahun mendatang diharapkan menjadi momen peluncuran karyanya, agar dapat dinikmati dan menginspirasi para pembaca.

    Selanjutnya dilakukan seremonial penyerahan buku antologi “Gotong Royong” dan “Lamunan Seorang Wartawan” kepada pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Perpusda) Banyuwangi. Penyerahan tersebut diwakili oleh Yusuf Khoiri, disusul oleh Lina Kamalin yang mewakili KOPIWANGI, serta Iqbal Baras sebagai perwakilan kurator.

    “Terima kasih kepada Penerbit Lintang Banyuwangi yang telah menghibahkan kedua buku ini kepada Perpusda, sehingga dapat dinikmati oleh pembaca, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional melalui tautan e-book yang telah kami sediakan di laman https://ebookbanyuwangi.id,” jelas Yusuf Khoiri di sela-sela sambutannya.

    Saimah Veteran

    Selain peluncuran buku, acara turut dimeriahkan oleh berbagai penampilan peserta.
    Saimah, seorang veteran perdamaian, membacakan puisi karyanya berjudul Masa Transisi dengan suara tegas dan penuh penghayatan, membuat suasana aula hening dan haru.

    Penampilan berikutnya datang dari Afina Alana Qolbi, siswi MI Darun Najah 2 Banyuwangi, yang membawakan dongeng Legenda Banyuwangi dengan gaya bertutur khas anak-anak, menghidupkan kembali kisah klasik daerah.

    Dalam sesi diskusi, Ricky Sulivan menjelaskan bahwa Lamunan Seorang Wartawan lahir dari pengalaman pribadinya selama bertahun-tahun sebagai jurnalis. Ia mengungkapkan, banyak jurnalis yang kehilangan arah di tengah tekanan pekerjaan, antara tuntutan kecepatan dan akurasi dengan idealisme serta nilai kemanusiaan yang sering terabaikan. Buku ini, lanjutnya, menjadi bentuk refleksi atas kegelisahan tersebut.

    Dua panelis, Yeti Chotimah dan Andi Budi Setiawan, S.Pd., memaparkan pandangan mereka tentang penerbitan Antologi Gotong Royong. Keduanya sepakat, buku ini tidak hanya untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga menjadi wujud kolaborasi antarpenulis dan komunitas literasi di Banyuwangi.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd., menekankan pentingnya menjadikan literasi sebagai gerakan sosial berkelanjutan.

    “Literasi tidak boleh berhenti pada peluncuran buku atau lomba menulis saja, tetapi perlu kesinambungan dan dukungan antarpegiat agar ekosistemnya terus tumbuh,” ungkapnya.

    Yeti menegaskan, semangat utama penerbitan ini adalah membangkitkan kembali gairah menulis di kalangan generasi muda.

    “Kami ingin anak-anak muda terus menulis, membaca, dan mencintai literasi di daerahnya. Semangat gotong royong adalah jantung gerakan ini,” ujarnya.

    Sebagai penutup, kurator sekaligus tokoh literasi, Iqbal Baraas yang merupakan dosen Universitas Ibrahimy menyampaikan apresiasinya. Ia menilai karya para penulis Banyuwangi semakin matang, baik dari segi tema maupun teknik penulisan.

    Menurutnya, puisi menjadi media kuat untuk mengekspresikan kegelisahan batin, di mana penyair menuangkan perasaan, kekhawatiran, atau keresahan jiwa melalui rangkaian kata yang indah dan imajinatif.

    Tema kegelisahan, tambahnya, kerap muncul dalam puisi dan sering digambarkan lewat simbol alam maupun pergulatan batin penyair.

    Sementara itu, apresiasi juga disampaikan oleh Mujiono, S.H., Thomas Raharto, dan Drs. Jaenuri NZ. Ketiganya berharap kegiatan literasi seperti ini terus berlanjut agar literasi menjadi gerakan yang tumbuh di tengah masyarakat, bukan sekadar wacana.

    Peluncuran dua buku ini menjadi bukti bahwa semangat literasi di Banyuwangi tidak pernah padam, khususnya bagi KOPIWANGI yang hingga kini telah menerbitkan tiga buku, yakni Lentera di Pengujung Asa (Maret 2024), Pena Sang Surya (Juli 2024), dan Antologi Gotong Royong (Oktober 2025). Seluruh karya tersebut sejalan dengan slogan “Bergerak Bersama Majukan Literasi Banyuwangi.”

  • Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Bertepatan dengan momentum Bulan Bahasa, dua buku baru, yaitu Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan resmi diluncurkan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Banyuwangi pada Jumat (17/10).

    Kegiatan yang digagas oleh Penerbit Lintang Banyuwangi, Komunitas Gotong Royong 45, dan Kopiwangi ini dihadiri oleh puluhan pegiat literasi, penulis, akademisi, serta perwakilan dari berbagai instansi pemerintah.

    Peluncuran dua buku tersebut mendapat sambutan positif. Selain menjadi ruang temu antarkomunitas, acara ini juga menegaskan semangat kolaborasi dalam memperkuat tradisi menulis di Banyuwangi.

    Dua buku yang diluncurkan memiliki karakter berbeda namun sama kuat secara pesan.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (3)

    Antologi Gotong Royong berisi kumpulan puisi dan pentigraf dua bahasa (Indonesia–Using) yang ditulis oleh puluhan penulis Banyuwangi, termasuk penyair difabel.

    Sementara Lamunan Seorang Wartawan karya Ricky Sulivan merupakan novel fiksi yang mengangkat realitas profesi jurnalis di lapangan.

    Acara peluncuran dipandu oleh Maria Ulfa dari Kopiwangi dan dibuka secara resmi oleh Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ selaku media partner.

    Dalam sambutannya, Affandi menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan peluncuran buku tersebut.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, mulai dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Dinas Kominfo, Komunitas Gotong Royong 45, Kopiwangi, hingga para penulis yang telah berkontribusi melahirkan karya,” ujarnya.

    Ia menambahkan, kolaborasi antara penerbit, komunitas literasi, dan para penulis menjadi bukti bahwa semangat menulis dan berkarya di Banyuwangi masih terus tumbuh.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh Lina Kamalin, M.Pd., selaku penasihat Kopiwangi. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menunjukkan kekuatan sinergi antarpenulis dan komunitas.

    “Lahirnya Buku Antologi Gotong Royong ini merupakan cerminan dari proses panjang kolaborasi banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap dunia literasi. Setiap tahap, mulai dari penulisan hingga penerbitan, dijalani dengan semangat saling mendukung dan belajar bersama. Proses itulah yang membuat buku ini tidak hanya menjadi kumpulan tulisan, tetapi juga simbol nyata bagaimana kebersamaan dapat melahirkan karya yang bermakna bagi Banyuwangi,” ujarnya.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (4)

    Sambutan selanjutnya disampaikan oleh pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi H. Yusuf Khoiri yang menyampaikan bahwa pihaknya terus membuka ruang bagi kegiatan literasi publik.

    “Aula ini terbuka untuk siapa pun yang ingin menggelar kegiatan serupa. Kami ingin tempat ini menjadi ruang bersama bagi para pegiat literasi, penulis, maupun komunitas yang ingin berbagi gagasan dan karya. Buku Antologi Gotong Royong juga sudah kami unggah ke perpustakaan digital agar dapat diakses oleh masyarakat luas, semoga bisa menginspirasi banyak orang,” jelasnya.

    Selain peluncuran buku, acara juga dimeriahkan oleh sejumlah penampilan dari para peserta.

    Salah satunya datang dari Saimah, seorang veteran perdamaian yang membacakan puisi karyanya sendiri berjudul Masa Transisi.

    Saimah Veteran

    Dengan suara yang tegas namun sarat penghayatan, ia berhasil memikat perhatian. Suasana aula seketika hening, diiringi keharuan dan empati yang terasa menyelubungi ruangan.

    Penampilan dilanjutkan oleh Afina Alana Qolbi, siswi MI Darun Najah 2 Banyuwangi yang membawakan dongeng Legenda Banyuwangi. Dengan gaya bertutur khas anak-anak, ia berhasil menghidupkan kembali kisah klasik yang menjadi identitas daerah.

    Memasuki sesi diskusi, Ricky Sulivan menjelaskan bahwa Lamunan Seorang Wartawan ditulis berdasarkan pengalaman nyata selama bertahun-tahun menjadi jurnalis.

    “Saya melihat banyak rekan seprofesi yang kehilangan arah di tengah tekanan pekerjaan. Di satu sisi, jurnalis dituntut untuk cepat dan akurat, namun di sisi lain, nilai-nilai idealisme dan kemanusiaan juga sering terpinggirkan. Dari kegelisahan itu, buku ini lahir sebagai refleksi,” tuturnya.

    Sementara itu, dua panelis, Yeti Chotimah dan Andi Budi Setiawan, S.Pd, memaparkan pandangan mereka tentang penerbitan Antologi Gotong Royong.

    Keduanya sepakat bahwa buku ini hadir bukan hanya untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga sebagai bentuk nyata kolaborasi antarpenulis dan komunitas literasi di Banyuwangi.

    Yeti Chotimah menjelaskan, semangat utama dari penerbitan buku ini adalah menghidupkan kembali gairah menulis di kalangan generasi muda.

    “Kami ingin anak-anak muda terus menulis, membaca, dan menumbuhkan kecintaan terhadap literasi di daerahnya masing-masing. Semangat gotong royong adalah jantung dari gerakan ini,” ujar Yeti.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, menekankan pentingnya menjadikan kegiatan literasi sebagai bagian dari gerakan sosial yang berkelanjutan.

    “Literasi tidak boleh berhenti di acara peluncuran buku atau lomba menulis semata. Harus ada kesinambungan, ruang belajar, dan dukungan antarpegiat agar ekosistemnya tetap tumbuh,” kata Andi.

    Menjelang akhir acara, sejumlah kurator dan tokoh literasi memberikan apresiasi. Iqbal Baraas, dosen Universitas Ibrahimy, yang menilai bahwa karya para penulis Banyuwangi semakin matang, baik secara tema maupun teknik penulisan.

    Apresiasi juga disampaikan oleh Mujiono, S.H., Thomas Raharto, dan Drs. Jaenuri NZ. Mereka menilai kegiatan semacam ini perlu terus digelar agar literasi tidak hanya menjadi wacana, tetapi gerakan yang hidup di tengah masyarakat.

    Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto para penulis, kurator, dan tamu undangan.

    Peluncuran dua buku ini menjadi bukti bahwa semangat literasi Banyuwangi tidak pernah padam, melainkan terus tumbuh melalui kolaborasi dan kerja gotong royong.