Tag: kuliner banyuwangi

  • Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Bagi warga Rogojampi dan sekitarnya, siapa yang tak kenal dengan warung Pecel Mbak Tutik yang melegenda?

    Setiap pagi mulai pukul 05.30 WIB, warung sederhana di barat pertigaan Pasar Rogojampi ini selalu ramai dipadati pelanggan yang ingin menikmati sarapan nasi pecel khas racikan Mbak Tutik.

    Selama lebih dari 40 tahun, nasi pecel ini menjadi menu favorit masyarakat sekitar.

    Setiap harinya, tak kurang dari 20 kilogram beras dimasak untuk memenuhi permintaan pelanggan yang datang silih berganti, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga pedagang yang tak pernah absen sarapan di sana.

    Warung Pecel Mbok Tutik Rogojampi

    Cita rasa pecelnya yang khas menjadi daya tarik utama. Nasi hangat disajikan dengan sambal pecel yang gurih pedas, kuah sayur segar, rempeyek renyah, serta lauk pendamping seperti telur ceplok, telur asin, dendeng ikan, dan kerupuk.

    Hidangan ini semakin nikmat ditemani segelas teh hangat atau temulawak yang menambah suasana hangat di pagi hari.

    Rudi, seorang pedagang yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi pelanggan setia, mengaku banyak warung pecel di sekitar Rogojampi, namun tak ada yang mampu menandingi cita rasa nasi pecel Mbak Tutik. Ia bahkan menyebut, “sudah terlanjur jatuh hati dan tidak ingin pindah ke lain hati.”

    Selain nasi pecel, warung ini juga menawarkan aneka jajanan tradisional seperti lumpia, risoles, pisang goreng, donat salju, kue lapis, dan berbagai kue lain yang menggugah selera.

    Suasana hangat dan pelayanan ramah khas Mbak Tutik membuat pelanggan merasa seperti sedang sarapan di rumah sendiri.

    Menariknya, warung Pecel Mbak Tutik tetap eksis meski tanpa promosi digital. Semua pelanggan datang berkat rekomendasi dari mulut ke mulut atau tutur tinular.

    Mbak Tutik meyakini, kunci keberhasilan usahanya terletak pada ketulusan melayani dan menjaga keaslian rasa.

    Prinsip inilah yang membuat warungnya bertahan puluhan tahun dan tetap menjadi salah satu UMKM kebanggaan Rogojampi, sederhana, hangat, dan selalu dirindukan.

  • CFD Banyuwangi Hadirkan Harmoni Antara Wisata, UMKM, dan Budaya Lokal

    CFD Banyuwangi Hadirkan Harmoni Antara Wisata, UMKM, dan Budaya Lokal

    Program Car Free Day (CFD) di Banyuwangi mengalami dinamika yang memberi warna baru bagi UMKM.

    Awalnya CFD berlangsung di Jalan Jendral Ahmad Yani, kemudian bergeser ke RTH Blambangan, lalu muncul gagasan Banyuwangi Creative Market (BCM) yang sempat bertahan sebelum pandemi.

    Kini, atas kebijakan revitalisasi RTH Blambangan, CFD dikembalikan ke Jalan Jendral Ahmad Yani meski hanya sepanjang sekitar 345 meter

    Surat dari Asisten Pemerintah Kabupaten mengatur agar BCM menjadi prioritas relokasi, namun hanya sebagian pelaku usaha yang bersedia pindah karena menunggu regulasi yang lebih jelas.

    CFD Banyuwangi

    Sejumlah pedagang mengungkapkan harapan agar pemerintah memberi komitmen jangka panjang.

    Fendi Felani yang berjualan madu, misalnya, berharap regulasi lebih transparan. Meski begitu, ia tetap senang dengan adanya dua lokasi CFD karena bisa memberi kesempatan baru bagi UMKM yang antre di BCM.

    “Belum ada pihak dari manapun yang memberikan informasi secara utuh, jelas regulasi, aspek ekonomi dan berkomitmen jangka panjang kepada saya mengenai masalah ini. Kalau bagi saya pribadi, saya manut pemerintah asal jelas dan bisa berkomitmen,” ungkap Fendi Felani.

    Pedagang lain, Sonhaji yang menjual tahu petis, menekankan pentingnya membuka ruang UMKM di mana pun tanpa ada penggusuran. Perihal rezeki, ia meyakini jika itu urusan Tuhan Yang Maha Esa.

    “Soal rejeki, dimana kita ikhtiar itu urusan Yang Maha Kaya,” paparnya.

    Sementara itu, Ulfiatuzzahroh pemilik Alfina Bakery yang menjajakan roti dan kopi merasa bersyukur bisa berjualan di wilayah tempat tinggalnya sehingga bisa memperluas jaringan pelanggan sekaligus memperkuat solidaritas sesama pelaku UMKM.

    Bagi yang ingin memesan produk kue di Alfina Bakery, bisa langsung menghubungi nomor 081333924441 atau 081249962400.

    “Kami produksi aneka kue premium dengan bahan kualitas. Ada bloeder dan tawar gandum buat yang diet. Yang biasa pesan lewat medsos, bisa ketemu koki dan pembeli,” ungkapnya sembari berdiri ditopang kruk usai kecelakaan kerja saat jadi pemateri untuk konsumen Signora di Genteng.

    Di samping pelaku UMKM, yang digilir Dispendik antara lain ada karate SMPN 1 serta gerakan perpaduan pramuka, PMR, UKS, pecinta lingkungan dan literasi jurnalistik SMPN 3 Banyuwangi.

    Suasana CFD juga makin meriah dengan kegiatan jalan sehat, lomba anak-anak, pertunjukan seni, hingga layanan publik dari berbagai instansi seperti Dispenduk, Dispora, dan Perpustakaan Daerah.

    Sekolah-sekolah pun turut berpartisipasi, seperti karate SMPN 1 serta gerakan perpaduan pramuka, PMR, UKS, pecinta lingkungan, serta komunitas literasi jurnalistik SMPN 3 Banyuwangi.

    Di sisi lain, pegiat Rumah Kebangsaan dan sejumlah tokoh masyarakat seperti Hakim Sa’id, SH, Syech H Ikrom Hasan, Andi Purnama dan Akademisi Herman juga memanfaatkan CFD sebagai ruang diskusi publik.

    CFD di Banyuwangi

    “Aktivitas dagang dan sosialisasi hal positif nong kene wae!” ungkap Hakim Sa’id

    Sementara itu, Ketua Komunitas Gotongroyong’45, Aguk Wahyu Nuryadi, berharap semua pihak termasuk DPRD yang sudah memfasilitasi RDP bisa menyalurkan aspirasi dengan damai dan penuh kekeluargaan.

    Ia menegaskan pentingnya regulasi CFD yang jelas sesuai arahan pemerintah pusat agar tidak terjadi salah tafsir, sekaligus mengajak semua pihak untuk memanfaatkan kearifan lokal dalam penamaan dan konsep kegiatan.

    “Bupati perlu tegaskan regulasi CFD sesuai arahan pemerintah pusat mendukung tatanan Kabupaten Sehat. Jadi ndak keblinger inovatif hingga muncul istilah community & Food Day ataupun CFD Blambangan yang jadi Banyuwangi Creative Market. Kalau bisa pakai kearifan lokal dengan bahasa daerah seperti Osing atau Jawa seperti yang ada di kampung dan deso,” ungkap aktivis yang tergabung di Forum Banyuwangi Sehat dan Forum Pembauran Kebangsaan ini.

    Harapannya CFD tetap menjadi ruang yang membawa berkah bagi UMKM, mempererat persaudaraan, dan menjaga Banyuwangi tetap harum sebagai daerah yang penuh welas asih dan harmoni.

    Penulis: Bung Aguk/AM