Tag: lagu daerah

  • Lagu Ayam Den Lapeh Berasal dari Mana dan Apa Artinya?

    Lagu Ayam Den Lapeh Berasal dari Mana dan Apa Artinya?

    Lagu Ayam Den Lapeh adalah salah satu lagu tradisional yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Jika ditinjau dari judulnya, lagu ini memiliki arti “Ayam Saya Lepas”.

    Namun, itu hanyalah simbol karena lagu ini sebetulnya mengandung makna yang cukup luas dan mendalam serta berisi nilai-nilai moral.

    Lagu Ayam Den Lapeh diciptakan oleh Abdul Hamid, seniman Orkes Gumarang. Lirik lagu Ayam Den Lapeh mengisahkan tentang kesedihan yang mendalam.

    Ayam sendiri menjadi simbol “sesuatu yang berharga”. Sebab, di lingkungan Minangkau, ayam adalah hewan peliharaan yang berharga pada zaman dahulu.

    Jadi, sebetulnya lagu ini menceritakan seseorang yang telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.

    Namun, banyak yang mempresentasikan lagu ini tentang seseorang yang sedang patah hati, sedih mendalam karena kehilangan kekasihnya. Bisa dilihat dari liriknya yang mendayu-dayu dan penuh dengan kesedihan.

    Kemudian, lagu ini juga berpesan agar kita tidak larut dalam kesedihan meski telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup kita.

    Lirik Lagu Ayam Den Lapeh

    Luruihlah jalan payakumbuah
    Babelok jalan ka andaleh
    Dima hati indak kan rusuah
    Ayam den lapeh, ay ay
    Ayam den lapeh

    Mandaki jalan pandaisikek
    Manurun jalan ka palubuah
    Di ma hati indak ka maupek
    Awak takicuah, ay ay,
    Ayam den lapeh

    Siku capang siku capeh
    Saikua tabang sikua lapeh
    Lapehlah juo nan karimbo
    Ai lah malang juo

    Pagaruyuang Batusangka
    Tampek bajalan urang Baso
    Duduak tamanuang tiok sabanta
    Oi takana juo,
    Ay ay, ayam den lapeh

    Luruihlah jalan payakumbuah
    Babelok jalan ka andaleh
    Di ma hati indak ka rusuah
    Ayam den lapeh, ay ay,
    Ayam den lapeh

    Mandaki jalan pandaisikek
    Manurun jalan ka palubuah
    Di ma hati indak ka maupek
    Awak ta kicuah,
    Ay ay, ayam den lapeh

    Siku capang siku capeh
    Saikua tabang saikua lapeh
    Lapehlah juo nan karimbo
    Oy lah malang juo

    Pagaruyuang Batusangka
    Tampek bajalan urang Baso
    Duduak tamanuang tiok sabanta
    Oi takana juo,

    Ay ay, ayam den lapeh
    Ay ay, ayam den lapeh.

  • 5 Lagu Daerah Papua dan Maknanya

    Ada sejumlah lagu daerah Papua yang dikenal hingga seluruh pelosok negeri karena iramanya enak didengar serta liriknya yang bermakna.

    Berikut ini beberapa lagu daerah Papua dan maknanya.

    1. Yamko Rambe Yamko

    Lagu Yamko Rambe Yamko adalah lagu daerah Papua yang diciptakan oleh Dr. Yusuf Hartono. Menurut liriknya, lagu ini mengandung arti perjuangan pahlawan sebagai bunga bangsa yang gagah berani.

    2. Apuse

    Dikutip dari Wikipedia, lagu Apuse diciptakan oleh Tete Mandosir Sarumi yang liriknya menggambarkan rasa kasih sayang kakek nenek terhadap cucunya yang sedang merantau ke negeri seberang.

    3. Sajojo

    Lagu Papua selanjutnya adalah Sajojo yang diciptakan oleh David Rumagesang. Dalam liriknya, lagu ini menceritakan kisah kembang desa yang menjadi idaman para lelaki.

    4. Rasine Ma Rasine

    Wem Meosido adalah pencipta lagu Rasine Ma Rasine. Lagu ini menceritakan tentang kegembiraan sehingga sering dilantunkan pada upacara adat dan pengiring tari.

    5. Sup Mowi Ya

    Sup Mowi Ya adalah lagu daerah Papua yang diciptakan oleh Arnold Clemens AP. Makna yang tersirat dalam lagu ini adalah unsur pendidikan dan simbol nasionalisme.

  • Angin Mamiri Adalah Lagu dari Provinsi?

    Angin Mamiri Adalah Lagu dari Provinsi?

    Angin Mamiri adalah salah satu lagu daerah yang berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan.

    Lagu ini diciptakan oleh Borra Daeng Ngirate pada sekitar tahun 1940-an dan hingga kini masih tetap dikenang serta dinyanyikan oleh masyarakat.

    Keindahan lagu ini tidak hanya terletak pada melodi yang lembut, tetapi juga pada makna mendalam yang terkandung dalam liriknya.

    Secara garis besar, Angin Mamiri menggambarkan kerinduan seseorang kepada orang yang disayangi.

    Rasa rindu itu kemudian dititipkan kepada angin agar sampai kepada orang yang dituju.

    Dalam budaya masyarakat Bugis-Makassar, angin seringkali dipersonifikasikan sebagai perantara yang bisa membawa doa, pesan, bahkan perasaan, sehingga lirik ini terasa begitu puitis dan menyentuh hati.

    Hal ini sebagaimana terdapat terdapat pada lirik lagu Mamiri sebagai berikut:

    Anging mamiri ku pasang
    Pitujui tontonganna
    Tusaroa takkan lupa
    Batumi anging mamiri
    Anging ngerang dinging-dinging
    Namalontang saribuku
    E… aule…
    Na mangu rangi
    Tutenaya, tutenaya parisina
    Batumi anging mamiri

    Lagu Angin Mamiri kini tidak hanya dikenal di Sulawesi Selatan, tetapi juga populer di berbagai daerah di Indonesia. Lagu ini sering dipentaskan dalam acara adat, pertunjukan seni, hingga dipelajari di sekolah sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.