Tag: lingkungan

  • Banyuwangi Jadi Rujukan Pengelolaan Sampah Sirkular di Asia Pasifik

    Banyuwangi Jadi Rujukan Pengelolaan Sampah Sirkular di Asia Pasifik

    Keberhasilan Banyuwangi membangun sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular kembali mendapat perhatian internasional.

    Sebanyak 17 delegasi Nestle Asia Pasifik datang ke Banyuwangi untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

    Rombongan tersebut diterima di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Selasa (18/8/2026). Delegasi berasal dari sejumlah negara Asia Tenggara, di antaranya Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

    Sustainability Delivery Manager Nestle Zone Asia Oceania and Africa, Katarzyna Grzybowska, mengatakan Banyuwangi dipilih karena memiliki sistem pengelolaan sampah yang dinilai berjalan dengan baik dan melibatkan berbagai pihak.

    “Kami ingin belajar bagaimana Banyuwangi membangun sistem pengelolaan sampah. Khususnya program Banyuwangi Hijau yang mengelola sampah secara sirkular,” kata Sustainability Delivery Manager Nestle Zone Asia Oceania and Africa, Katarzyna Grzybowska, di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Selasa (18/8/2026).

    Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Nestle memperkuat penerapan EPR (extended producer responsibility), khususnya dalam pengelolaan sampah yang berasal dari kemasan produk.

    “Kami berkomitmen ikut bertanggung jawab mengurus sampah dari kemasan produk yang kami jual. Maka kami terus mencari best practices pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, yang nantinya bisa dijadikan blueprint (cetak biru) untuk dikembangkan di wilayah lain di Asia Tenggara yang menjadi pasar kami,” ujar Bowska.

    Menurut Bowska, salah satu hal yang menarik dari sistem Banyuwangi adalah keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam satu ekosistem pengelolaan sampah. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga terlibat dalam proses pengumpulan, pemilahan, hingga daur ulang.

    “Kami pilih Banyuwangi karena kami melihat sistem di sini berjalan sangat baik. Mulai pemerintah, masyarakat, hingga sektor bisnis ikut berkontribusi. Masyarakat dilibatkan mulai proses pengumpulan, pemilahan, hingga daur ulang, sehingga mereka bisa mendapatkan nilai ekonomi dari sampah tersebut,” imbuhnya.

    Untuk melihat penerapannya secara langsung, rombongan Nestle juga mengunjungi TPS 3R di Desa Balak, Kecamatan Songgon.

    Di lokasi tersebut, delegasi melihat bagaimana pengelolaan sampah dirancang sebagai satu rangkaian layanan yang saling terhubung.

    Proses tersebut mencakup pengumpulan sampah dari rumah tangga, pengangkutan, pemilahan, pengolahan di TPS/TPS3R, hingga penanganan residu yang kemudian diarahkan ke tempat pemrosesan akhir. Delegasi juga berdiskusi mengenai sistem pengelolaan persampahan bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemkab Banyuwangi.

    Pengembangan sistem pengelolaan sampah sirkular di Banyuwangi telah berlangsung sejak 2017 melalui Project STOP dengan pembangunan TPS3R Tembokrejo, Muncar.

    Program tersebut kemudian dilanjutkan melalui Banyuwangi Hijau Fase 1 dengan pembangunan TPS3R Balak di Kecamatan Songgon. Kedua program tersebut mendapat dukungan Pemerintah Norwegia.

    Banyuwangi kemudian melanjutkan pengembangan infrastruktur persampahan melalui Banyuwangi Hijau Fase 2 dengan pembangunan TPS3R Karetan di Kecamatan Purwoharjo yang mendapat dukungan Pemerintah Austria dan masih dalam tahap pembangunan.

    Selanjutnya, Banyuwangi Hijau Fase 3 mendapat dukungan Clean Rivers dari Uni Emirat Arab (UEA) melalui pembangunan TPS3R Kertosari.

    Selain itu, pengembangan sistem persampahan Banyuwangi juga akan diperkuat dengan pembangunan TPS3R Wongsorejo yang didanai Kementerian Pekerjaan Umum RI. (*)

  • Banyuwangi Perkuat Potensi Pesisir melalui Restorasi Ekosistem Berkelanjutan

    Banyuwangi Perkuat Potensi Pesisir melalui Restorasi Ekosistem Berkelanjutan

    Memiliki garis pantai sepanjang 175,8 kilometer, Banyuwangi terus memperkuat upaya menjaga sekaligus mengembangkan potensi sumber daya pesisir secara berkelanjutan.

    Salah satunya melalui peluncuran Coastal Resilience Initiatives, sebuah program kolaboratif untuk memulihkan ekosistem pesisir dan meningkatkan ketangguhan kawasan pantai.

    Program tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat.

    Peluncuran Coastal Resilience Initiatives berlangsung di Pusat Latihan Pertempuran Marinir (Puslatpurmar) 7 Lampon, kawasan Pantai Lampon, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Senin (27/7/2026).

    Direktur Pembinaan Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Amehr Hakim mengatakan program tersebut sejalan dengan kebijakan ekonomi biru yang dikembangkan KKP.

    “Ada lima pilar di dalamnya. Mulai memperluas kawasan konservasi, penangkapan ikan terukur, budidaya berkelanjutan, pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta laut bebas dari sampah,” kata Amehr.

    Peluncuran tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, jajaran direksi PT BSI dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), perwakilan Pemprov Jawa Timur, tokoh masyarakat Lampon, akademisi, serta jajaran Forkopimda Banyuwangi.

    Menurut Amehr, Coastal Resilience Initiatives tidak hanya ditujukan untuk Banyuwangi, tetapi berpotensi menjadi model pengelolaan kawasan pesisir yang dapat dikembangkan di daerah lain.

    “Kita harapkan selain Banyuwangi, bisa kita lebarkan lagi ke pesisir utara dan selatan Jawa Timur,” sambung dia.

    Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan pengelolaan potensi laut secara berkelanjutan telah menjadi bagian dari upaya daerah dengan melibatkan masyarakat.

    Menurutnya, kolaborasi lintas pihak diperlukan agar pemanfaatan sumber daya pesisir dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

    “Dengan kolaborasi banyak pihak, mulai perusahaan seperti PT BSI dan ditambah dukungan dari Kementerian KKP. Kami percaya kelestarian ekosistem laut dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” kata Wabup.

    Penguatan pengelolaan pesisir juga menjadi bagian dari upaya Banyuwangi mengembangkan ekonomi biru.

    Pada pertengahan Juli 2026, negara-negara ASEAN dan Pasifik melalui ASEAN-ID Blue datang ke Banyuwangi untuk berbagi pengalaman mengenai pengembangan ekonomi biru.

    Direktur Utama PT BSI Adi Adriansyah Sjoekri menjelaskan Coastal Resilience Initiatives dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun ketangguhan kawasan pesisir.

    Program tersebut menggabungkan upaya konservasi lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

    Program ini mencakup enam inisiatif utama, yakni penanaman mangrove, pelestarian hutan pantai, transplantasi terumbu karang, pengembangan ekowisata, peningkatan pendapatan nelayan, serta penguatan kelembagaan nelayan agar semakin mandiri.

    “Sehingga fokusnya bukan hanya pada peningkatan kualitas lingkungan, namun juga peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir,” tegas Adi.

    Dalam pelaksanaannya, PT BSI menargetkan pemulihan lebih dari 60 hektare terumbu karang, rehabilitasi 200 hektare mangrove, serta pemulihan 17,5 hektare hutan pantai.

    Langkah awal program telah dilakukan saat peluncuran melalui penanaman puluhan bibit cemara di kawasan bibir Pantai Lampon.

    Upaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian restorasi untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus memperkuat manfaat sumber daya laut bagi masyarakat Banyuwangi. (*)

  • Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi

    Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi

    Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi
    Penulis: Andi Sep Kurniawan, Anita Setyawati, Mohamad Yasin

    Di tengah sejumlah apresiasi dan penghargaan di bidang lingkungan yang pernah diterima Banyuwangi, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana capaian tersebut sejalan dengan kapasitas pengelolaan timbulan sampah yang cenderung meningkat.

    Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika volume sampah di Banyuwangi diperkirakan telah mencapai 850 sampai dengan 1.200 ton per hari.

    Angka itu mungkin terdengar sebagai konsekuensi wajar dari pertumbuhan penduduk, berkembangnya aktivitas ekonomi, dan meningkatnya kunjungan wisatawan.

    Namun di balik pertumbuhan tersebut tersimpan persoalan yang sering luput dari perhatian. Semakin maju suatu daerah, semakin besar pula tekanan yang dihadapi lingkungannya.

    Fenomena ini tidak hanya terjadi di Banyuwangi. Secara nasional, kualitas lingkungan masih menunjukkan berbagai pekerjaan rumah.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat Indeks Kualitas Air Indonesia tahun 2024 berada pada level 54,78, sedikit di bawah target nasional.

    Bahkan lebih dari dua pertiga titik pantau sungai pada Semester I 2025 masih berada dalam kondisi tercemar.

    Selama ini pencemaran air kerap diasosiasikan dengan limbah industri atau aktivitas pertambangan. Padahal, sumber persoalan tidak selalu berasal dari sektor-sektor besar.

    Dalam banyak kasus, pencemaran justru berawal dari aktivitas yang tampak biasa, yaitu sampah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik.

    Di sinilah persoalan sampah menjadi menarik. Dampaknya jarang terlihat secara langsung.

    Satu kantong sampah yang dibuang hari ini tidak serta-merta mengubah warna sungai menjadi hitam. Tumpukan sampah di lahan kosong tidak langsung mencemari sumur warga.

    Akan tetapi, kerusakan lingkungan bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tumbuh perlahan, terakumulasi, lalu muncul dalam bentuk biaya yang sering kali jauh lebih mahal dibandingkan upaya pencegahannya.

    Dalam ekonomi, kondisi semacam ini menggambarkan adanya biaya tersembunyi yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh pihak yang menghasilkan masalah.

    Ketika sampah dibuang sembarangan, konsekuensinya tidak berhenti pada pelaku.

    Biaya kesehatan meningkat, kualitas air menurun, risiko banjir bertambah, dan pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk pemulihan lingkungan.

    Dengan kata lain, persoalan sampah sesungguhnya adalah persoalan distribusi biaya sosial.

    Karena itu, pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang semata sebagai urusan kebersihan kota. Ia telah menjadi bagian dari agenda pembangunan.

    Daerah yang gagal mengelola sampah bukan hanya menghadapi persoalan lingkungan, tetapi juga menghadapi penurunan kualitas hidup masyarakat, meningkatnya beban fiskal, hingga berkurangnya daya tarik investasi dan pariwisata.

    Bagi Banyuwangi, tantangan tersebut memiliki arti yang lebih besar. Selama ini keberhasilan daerah tidak hanya dibangun melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui reputasi sebagai kabupaten yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan.

    Reputasi itu merupakan aset yang nilainya tidak kecil. Namun seperti aset lainnya, ia memerlukan pemeliharaan yang berkelanjutan.

    Kesadaran atas tantangan tersebut tercermin dalam Program Banyuwangi Hijau yang menjadi salah satu instrumen penting pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

    Program ini tidak hanya berorientasi pada kebersihan kawasan perkotaan, tetapi juga berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.

    Fokusnya mencakup pengurangan sampah dari sumbernya, penguatan pemilahan sampah rumah tangga, pengembangan ekonomi sirkular, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.

    Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang dalam pengelolaan sampah.

    Persoalan sampah tidak lagi diposisikan sebagai urusan akhir berupa pengangkutan dan pembuangan, melainkan sebagai bagian dari proses pembangunan yang melibatkan rumah tangga, komunitas, pelaku usaha, dan pemerintah daerah secara bersama-sama.

    Keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil diangkut, tetapi juga dari kemampuan mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.

    Dalam praktiknya, Banyuwangi telah menerapkan berbagai model pengelolaan sampah. Di sejumlah wilayah, layanan dilakukan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang menyediakan sarana pemilahan dan pengangkutan sampah secara rutin.

    Di wilayah lainnya, masyarakat didorong untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, sementara sampah anorganik dikumpulkan untuk didaur ulang atau diproses lebih lanjut.

    erbagai skema tersebut menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah sesungguhnya telah tersedia. Tantangan berikutnya adalah memastikan solusi tersebut menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.

    Akan tetapi, pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan lingkungan pada akhirnya tidak ditentukan oleh kualitas program semata.

    Persoalan mendasarnya terletak pada perilaku. Infrastruktur dapat dibangun. Teknologi dapat dihadirkan.

    Sistem dapat diperbaiki. Namun seluruh instrumen tersebut memiliki batas ketika berhadapan dengan kebiasaan masyarakat yang masih memandang sampah sebagai sesuatu yang selesai begitu keluar dari rumah.

    Cara pandang semacam itu menjadi akar dari paradoks pembangunan lingkungan. Di satu sisi, masyarakat menginginkan lingkungan yang bersih, sungai yang sehat, dan kawasan wisata yang terawat.

    Namun di sisi lain, masih terdapat kebiasaan membuang sampah sembarangan, enggan memilah sampah dari rumah, atau menganggap biaya pengelolaan sampah sebagai beban tambahan.

    Akibatnya, biaya lingkungan yang muncul pada akhirnya harus ditanggung bersama oleh seluruh masyarakat.

    Di titik inilah masa depan Banyuwangi akan diuji. Pertumbuhan ekonomi dan pariwisata yang menjadi sumber kebanggaan daerah pada saat yang sama juga menghasilkan tekanan lingkungan yang semakin besar.

    Tantangannya bukan memilih antara pembangunan atau lingkungan, melainkan memastikan keduanya berjalan beriringan.

    Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia tumbuh, tetapi juga oleh seberapa baik ia menjaga kualitas lingkungan yang menopang pertumbuhan tersebut.

    Banyuwangi telah menunjukkan komitmen untuk menjadi daerah hijau melalui berbagai inisiatif pengelolaan sampah dan pembangunan berkelanjutan.

    Pertanyaan berikutnya adalah apakah komitmen itu mampu bertahan ketika berhadapan dengan persoalan sampah yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

    Sebab masa depan Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh keputusan sehari-hari masyarakat dalam memperlakukan sampah yang mereka hasilkan.

    Penulis: Andi Sep Kurniawan, Anita Setyawati, Mohamad Yasin

  • Kolaborasi Bareng Sungai Watch, Desa Mangir Gelar Aksi Big Clean Up Angkut 4,1 Ton Sampah

    Kolaborasi Bareng Sungai Watch, Desa Mangir Gelar Aksi Big Clean Up Angkut 4,1 Ton Sampah

    Banyuwangi – Upaya menjaga kebersihan sungai dan kelestarian lingkungan terus digencarkan di Kabupaten Banyuwangi.

    Salah satunya melalui aksi bersih-bersih sungai kolosal bertajuk “Big Clean Up” yang digelar di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, pada Jumat (19/12/2025).

    Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Mangir, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan organisasi lingkungan Sungai Watch.

    Mengusung semangat “Saatnya Sungai Kita Bernapas Kembali”, aksi ini menjadi wujud kepedulian bersama untuk membersihkan sungai dari pencemaran sampah plastik dan limbah lainnya.

    Hasil dari kegiatan gotong royong tersebut terbilang signifikan. Berdasarkan data di lapangan, total sampah yang berhasil diangkat dari aliran sungai mencapai 4.162,52 kilogram atau setara 4,1 ton.

    Sampah tersebut dikumpulkan dan dipilah ke dalam 871 karung (kampil).

    Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak. Sebanyak 45 personel Sungai Watch diterjunkan langsung untuk memimpin teknis pembersihan, dengan dukungan 111 relawan yang terdiri dari warga lokal dan berbagai komunitas.

    Aksi bersih sungai ini turut dihadiri oleh Forkopimka Kecamatan Rogojampi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pengairan, serta Dinas Pertanian.

    Sejumlah komunitas dan organisasi kepemudaan juga berpartisipasi aktif, di antaranya Tim Jebeng Thulik Banyuwangi, Pencinta Lingkungan Banyuwangi (PLC), PC IPNU Banyuwangi, dan Kelompok KIPAN Banyuwangi.

    Dari tingkat desa, dukungan penuh datang dari Pemerintah Desa Mangir bersama 3 Pilar, BPD, LPMD, HIPPA, TP PKK, Komite Persampahan, Gapoktan, Poktan, BUMDes, KDMP, serta Pendamping Desa Kemensos.

    Partisipasi kepala sekolah dan pelajar dari jenjang TK, SD, MI, hingga SMK se-Desa Mangir, serta anggota Linmas, semakin memperkuat semangat gotong royong dalam kegiatan tersebut.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan sungai merupakan tanggung jawab bersama demi menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

    Sungai Watch sendiri merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2020 di Bali.

    Saat ini, Sungai Watch memiliki lebih dari 100 anggota tim yang tersebar di wilayah Bali, Banyuwangi, dan Sidoarjo, Jawa Timur.

    Organisasi ini memiliki misi menghentikan sampah, khususnya anorganik, sebelum mencapai laut dengan cara membersihkan sungai.

    Sungai Watch juga mengembangkan teknologi jaring sampah yang telah terpasang di 180 titik.

    Setiap hari, tim Sungai Watch secara rutin membersihkan sampah yang tertangkap di jaring tersebut untuk kemudian dibawa ke lokasi pemilahan dan pengelolaan sampah yang berada di Station Bangorejo, Rogojampi, dan Giri.

    Hingga saat ini, Sungai Watch telah mengumpulkan lebih dari 4.000.000 kilogram sampah anorganik dari sungai, mangrove, dan pantai di berbagai wilayah Indonesia.

    Dalam kegiatan Big Clean Up di Desa Mangir, jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah plastik sekali pakai, styrofoam, dan kemasan sachet.

    Sampah hasil kegiatan ini tidak langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan dibawa ke Station Sungai Watch di Giri, Rogojampi, dan Bangorejo untuk dipilah, dibersihkan, dilakukan brand audit, serta didaur ulang.

    Langkah ini bertujuan mengurangi volume sampah residu yang berakhir di TPA sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.

  • Kembangkan Teh Antioksidan dari Daun Mangga, Tim UM Sabet Juara 2 LKTI KSM FEST UI

    Kembangkan Teh Antioksidan dari Daun Mangga, Tim UM Sabet Juara 2 LKTI KSM FEST UI

    Universitas Negeri Malang (UM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional.

    Tim mahasiswa UM berhasil meraih Juara Dua dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) KSM FEST yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia tahun 2025.

    Kompetisi yang mengangkat tema “Investing in a Green Future: Empowering Economic Independence Through Sustainable Solutions” ini diikuti perguruan tinggi ternama dari seluruh Indonesia dan berlangsung secara daring pada 21 Oktober–23 November 2025.

    Ajang ini menjadi wadah bergengsi bagi mahasiswa untuk menunjukkan kreativitas, inovasi, serta kemampuan riset di bidang sains berkelanjutan.

    Tim CIPTA HERBA NUSANTARA dari FMIPA UM yang beranggotakan Khezia Rachel D.P (S1 Bioteknologi), IZ Fathma Agmadina (S1 Bioteknologi), dan Stevanus Purbadirja (S1 Pendidikan Biologi) membawa karya penelitian berjudul “Inovasi Teh Herbal Fungsional: Mengubah Limbah Daun Mangga Varietas Alpukat Menjadi Sumber Antioksidan Potensial untuk Kesejahteraan Berkelanjutan.”

    Teh Daun Mangga Universitas Negeri Malang

    Penelitian ini mengangkat isu pemanfaatan limbah pertanian daun mangga varietas alpukat yang melimpah sebagai sumber antioksidan alami untuk diolah menjadi teh herbal fungsional.

    Inovasi tersebut tidak hanya menawarkan potensi ekonomi hijau, tetapi juga mendukung upaya pengurangan limbah agroindustri. Selama proses penelitian, tim dibimbing oleh Dr. Frida Kunti Setiowati, ST, M.Si.

    Keberhasilan meraih Juara Dua ini merupakan hasil kerja keras, komitmen, dan kolaborasi seluruh anggota tim dalam menyusun riset hingga menyiapkan presentasi akhir.

    Bagi mereka, kompetisi ini menjadi pengalaman penting untuk mengasah kemampuan penelitian, komunikasi ilmiah, dan kerja tim.

    “Kami sangat bersyukur bisa meraih Juara 2 di kompetisi seprestisius ini. Proses dimulai dari penyusunan abstrak, kemudian lolos ke tahap KTI full paper, hingga presentasi final di depan dewan juri Universitas Indonesia. Dukungan tim dan bimbingan Ibu Dr. Frida Kunti Setiowati membuat semuanya mungkin,” ungkap Stevanus Purbadirja, ketua tim.

    Hal senada disampaikan Khezia Rachel D.P, yang menambahkan, “Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan bimbingannya hingga kami bisa meraih prestasi ini.”

    Dr. Frida Kunti Setiowati

    Dosen pembimbing, Dr. Frida Kunti Setiowati, juga menyampaikan kebanggaannya.

    “Prestasi ini semakin menguatkan posisi Universitas Negeri Malang sebagai institusi pendidikan tinggi yang siap mencetak lulusan berkompeten dan peduli terhadap isu lingkungan serta pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” tutupnya.

  • Mengapa Islam Memberikan Perhatian yang Besar Terhadap Kelestarian Alam dan Lingkungan?

    Mengapa Islam Memberikan Perhatian yang Besar Terhadap Kelestarian Alam dan Lingkungan?

    Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kelestarian alam dan lingkungan karena dalam ajarannya manusia dipandang sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi.

    Allah menciptakan alam semesta dengan penuh keseimbangan dan keindahan, lalu mempercayakan manusia untuk menjaga dan memanfaatkannya dengan bijaksana.

    Alam bukan hanya sekadar sarana pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga sebagai tanda kebesaran Tuhan yang harus dihargai, dirawat, dan tidak boleh dirusak.

    Perhatian Islam terhadap lingkungan juga tercermin dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits.

    Misalnya, larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi, anjuran menanam pohon, serta perintah menggunakan air secara hemat meskipun sedang berwudhu di sungai yang melimpah.

    Semua itu menunjukkan bahwa setiap tindakan manusia terhadap alam memiliki nilai ibadah, selama dilakukan dengan niat menjaga amanah Allah.

    Selain itu, Islam menekankan prinsip keseimbangan atau mizan. Artinya, manusia tidak boleh bersikap berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya.

    Eksploitasi alam yang berlebihan akan merusak ekosistem dan pada akhirnya merugikan manusia sendiri.

    Oleh karena itu, menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi juga kewajiban spiritual yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

    Singkatnya, Islam memberi perhatian besar pada kelestarian alam karena alam adalah amanah, sumber kehidupan, dan salah satu bentuk nikmat Allah yang harus dijaga keberlanjutannya demi generasi sekarang dan yang akan datang.

  • Bagian Permukaan Bumi yang Digenangi Air Disebut?

    Bagian Permukaan Bumi yang Digenangi Air Disebut?

    Bagian permukaan Bumi yang digenangi air secara umum disebut hidrosfer.

    Hidrosfer adalah lapisan air yang menyelimuti Bumi, baik itu di permukaan, di bawah permukaan, maupun di udara.

    Hidrosfer meliputi lautan yang mencakup sekitar 71% dari total permukaan Bumi, serta perairan darat seperti sungai, danau, rawa, dan gletser.

    Selain itu, hidrosfer juga mencakup air tanah yang tersimpan di bawah permukaan tanah, serta uap air dan partikel air yang terdapat di atmosfer.

    Hidrosfer memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem global dan mempengaruhi berbagai proses alam, seperti cuaca, iklim, serta siklus air yang melibatkan evaporasi, kondensasi, dan presipitasi.

    Siklus air ini mendukung kehidupan makhluk hidup dengan menyediakan sumber daya air yang esensial bagi tanaman, hewan, dan manusia.

    Hidrosfer juga memiliki dampak signifikan terhadap temperatur global melalui distribusi panas yang diangkut oleh arus laut, yang membantu mengatur iklim di berbagai wilayah di Bumi.

    Perubahan yang terjadi di hidrosfer, seperti pencairan gletser akibat pemanasan global, dapat memengaruhi ekosistem, meningkatkan permukaan air laut, dan membawa dampak serius bagi lingkungan dan populasi manusia.

    Hidrosfer memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan di Bumi, antara lain:

    • Sumber kehidupan: Semua makhluk hidup membutuhkan air untuk bertahan hidup.
    • Pengatur iklim: Air berperan dalam siklus hidrologi yang mempengaruhi cuaca dan iklim.
    • Transportasi: Sungai dan laut digunakan sebagai jalur transportasi.
    • Sumber energi: Air dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi hidroelektrik.
  • Bagaimana nilai-nilai atau prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

    Nilai-nilai dan prinsip yang kita anut dalam pengambilan keputusan dapat memberikan dampak signifikan pada lingkungan sosial, ekonomi, dan fisik di sekitar kita.

    Berikut adalah beberapa cara bagaimana nilai-nilai yang dianut seseorang dapat mempengaruhi lingkungan:

    1. Dampak Sosial

    Nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, empati, dan tanggung jawab sosial memengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Ketika kita mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip ini:

    • Meningkatkan hubungan interpersonal: Keputusan yang mencerminkan kejujuran dan keadilan membantu membangun kepercayaan dalam hubungan pribadi maupun profesional. Ini mendorong iklim sosial yang lebih positif dan penuh rasa hormat.
    • Menciptakan lingkungan kolaboratif: Jika seseorang menganut prinsip kerjasama dan saling mendukung, mereka cenderung mengambil keputusan yang mendorong kerjasama dalam kelompok atau organisasi, menghasilkan produktivitas dan harmoni sosial yang lebih baik.

    2. Dampak pada Komunitas

    Nilai-nilai yang mengedepankan tanggung jawab terhadap sesama, seperti kepedulian sosial atau pengabdian kepada masyarakat, mendorong keputusan yang menguntungkan komunitas. Contohnya:

    • Kepedulian terhadap kaum marginal: Keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan kesejahteraan kelompok rentan, seperti anak yatim atau kaum miskin, dapat menciptakan dampak positif bagi keberlangsungan hidup mereka, meningkatkan solidaritas sosial.
    • Pembentukan nilai bersama: Prinsip inklusivitas dan kesetaraan dalam keputusan akan memperkuat komunitas yang adil dan toleran. Hal ini membuat lingkungan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk semua orang.

    3. Dampak Ekonomi

    Nilai-nilai seperti keadilan ekonomi, efisiensi, dan integritas mempengaruhi bagaimana seseorang mengelola sumber daya dan finansial:

    • Keadilan dalam distribusi sumber daya: Pengambilan keputusan yang didasarkan pada prinsip keadilan ekonomi dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi. Misalnya, dalam bisnis, keputusan untuk memberikan upah yang adil dan tunjangan yang layak bagi karyawan berkontribusi pada kesejahteraan mereka.
    • Penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab: Nilai efisiensi mendorong pengambilan keputusan yang lebih bijaksana dalam menggunakan sumber daya alam maupun keuangan, mencegah pemborosan dan kerugian.

    4. Dampak pada Lingkungan Alam

    Pengambilan keputusan berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan dan tanggung jawab ekologis memiliki dampak langsung terhadap lingkungan fisik:

    • Pengurangan jejak ekologis: Jika seseorang menganut nilai-nilai keberlanjutan dan ramah lingkungan, mereka akan membuat keputusan yang memperhatikan dampak terhadap ekosistem. Contohnya, memilih untuk mengurangi penggunaan plastik, mendukung energi terbarukan, atau melakukan aktivitas ramah lingkungan lainnya.
    • Pelestarian sumber daya alam: Nilai tanggung jawab terhadap generasi mendatang dapat memotivasi seseorang untuk membuat keputusan yang melestarikan sumber daya alam, seperti menggunakan produk yang bisa didaur ulang atau mengurangi limbah.

    5. Dampak Jangka Panjang

    Prinsip-prinsip yang dipegang dalam pengambilan keputusan tidak hanya berdampak langsung pada lingkungan saat ini, tetapi juga berpengaruh jangka panjang.

    Keputusan yang dibuat dengan mempertimbangkan nilai keberlanjutan akan menciptakan dampak positif yang bertahan lebih lama, sementara keputusan yang diambil tanpa prinsip tanggung jawab bisa menimbulkan kerusakan permanen bagi lingkungan fisik dan sosial.

  • Sebutkan jenis-jenis sampah yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar

    Sampah merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat di seluruh dunia.

    Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perkembangan industri, jumlah sampah yang dihasilkan pun semakin banyak.

    Berbagai jenis sampah dapat ditemukan di lingkungan sekitar, masing-masing dengan karakteristik dan cara penanganan yang berbeda.

    Berikut adalah beberapa jenis sampah yang umum ditemukan di lingkungan sekitar:

    1. Sampah Organik

    Sampah organik adalah jenis limbah yang berasal dari bahan-bahan alami dan dapat terurai dengan mudah oleh mikroorganisme.

    Contoh sampah organik seperti sisa-sisa makanan, kulit buah, sayuran, daun kering, dan limbah pertanian seperti rumput dan tanaman.

    Sampah organik memiliki keunggulan karena dapat diolah menjadi kompos yang berguna sebagai pupuk alami untuk tanaman.

    Proses penguraian sampah organik juga berkontribusi dalam memperkaya tanah dan meningkatkan kesuburannya.

    2. Sampah Anorganik

    Sampah anorganik adalah jenis limbah yang terdiri dari bahan-bahan yang tidak dapat terurai secara alami dan biasanya berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, atau komersial.

    Contoh sampah anorganik seperti plastik, kaca, logam, dan bahan-bahan konstruksi seperti semen dan bata.

    3. Sampah Plastik

    Sampah plastik adalah jenis limbah yang terdiri dari berbagai produk dan kemasan yang terbuat dari bahan plastik.

    Contoh umum sampah plastik seperti botol air, kantong belanja, wadah makanan, kemasan produk, dan barang-barang plastik sekali pakai seperti sedotan dan piring.

    4. Sampah Kertas

    Sampah kertas adalah jenis limbah yang berasal dari berbagai produk berbasis kertas, yang dihasilkan dari kegiatan sehari-hari, seperti penggunaan kertas untuk menulis, mencetak, atau kemasan.

    Contoh sampah kertas seperti koran bekas, majalah, buku, kardus, dan kemasan kertas seperti kotak makanan atau produk.

    5. Sampah Elektronik

    Sampah elektronik, atau e-waste, adalah jenis limbah yang dihasilkan dari perangkat elektronik yang sudah tidak terpakai atau rusak.

    Contoh sampah elektronik antara lain komputer, ponsel, televisi, mesin fotokopi, dan peralatan rumah tangga seperti microwave dan kulkas.

    6. Sampah Bahan Berbahaya

    Sampah bahan berbahaya adalah jenis limbah yang mengandung bahan kimia atau material beracun yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

    Contoh sampah bahan berbahaya meliputi limbah medis (seperti jarum suntik, perban yang terkontaminasi, dan obat-obatan kadaluarsa), baterai, limbah cat, pestisida, dan bahan kimia industri.

    7. Sampah Sisa Konstruksi

    Sampah sisa konstruksi adalah jenis limbah yang dihasilkan dari kegiatan pembangunan, renovasi, atau pembongkaran bangunan.

    Jenis sampah ini mencakup berbagai material, seperti logam, beton, kayu, dan bahan bangunan lainnya.

    8. Sampah Tekstil

    Sampah tekstil adalah jenis limbah yang berasal dari produk-produk tekstil, seperti pakaian, kain, dan barang-barang berbahan tekstil lainnya yang sudah tidak terpakai atau rusak.

    Dengan mengetahui jenis-jenis sampah ini, kita dapat lebih mudah mengelola dan memilah sampah untuk mendukung program daur ulang dan menjaga kebersihan lingkungan.

  • 10 Alasan Mengapa Sampah Plastik dapat Mencemari Lingkungan

    10 Alasan Mengapa Sampah Plastik dapat Mencemari Lingkungan

    Sampah plastik kini mengintai setiap sudut bumi, dari pantai yang seharusnya bersih hingga hutan yang rimbun.

    Dengan beragam bentuk dan ukuran, plastik menyelinap ke dalam kehidupan kita tanpa kita sadari.

    Meskipun terlihat sederhana, dampaknya terhadap lingkungan sangatlah besar.

    Setiap tahun, jutaan ton sampah plastik berakhir di lautan, menciptakan pulau-pulau plastik yang mengancam kehidupan laut.

    Ketika kita membuang plastik sembarangan, kita tidak hanya merusak keindahan alam, tetapi juga menggali lubang dalam kesehatan ekosistem dan, pada akhirnya, kesehatan kita sendiri.

    Mengapa Sampah Plastik Dapat Mencemari Lingkungan?

    Sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan yang serius karena sejumlah alasan.

    Berikut adalah penjelasan mengenai mengapa sampah plastik dapat mencemari lingkungan:

    1. Proses Degradasi yang Lambat

    Plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai, bisa mencapai ratusan tahun. Selama waktu tersebut, plastik tetap ada di lingkungan dan terus mencemari tanah dan perairan.

    2. Pencemaran Tanah dan Air

    Ketika sifatnya yang terurai, plastik dapat melepaskan bahan kimia berbahaya ke dalam tanah dan air.

    Hal tersebut dapat merusak kualitas tanah, mengganggu ekosistem, dan mencemari sumber air bersih yang sangat penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

    3. Mikroplastik

    Seiring berjalannya waktu, plastik besar dapat terurai menjadi partikel-partikel kecil yang disebut mikroplastik.

    Mikroplastik ini dapat masuk ke dalam rantai makanan dan berdampak negatif pada kesehatan hewan dan manusia.

    4. Mengganggu Kehidupan Laut

    Sampah plastik seringnya berakhir di lautan yang dapat membahayakan kehidupan laut.

    Banyak hewan, seperti ikan, burung, dan mamalia laut, bisa tersangkut atau menelan plastik, yang dapat menyebabkan cedera serius atau kematian.

    5. Dampak terhadap Kesehatan Manusia

    Bahan kimia berbahaya yang terdapat pada plastik dapat memasuki tubuh manusia melalui makanan atau air yang terkontaminasi, meningkatkan risiko masalah kesehatan, termasuk gangguan hormonal dan kanker.

    6. Estetika Lingkungan yang Buruk

    Keberadaan sampah plastik di lingkungan merusak keindahan alam dan mengurangi kualitas hidup.

    Hal ini dapat mempengaruhi pariwisata dan aktivitas rekreasi yang bergantung pada lingkungan yang bersih.

    7. Pengelolaan Limbah yang Tidak Efisien

    Di banyak daerah, pengelolaan limbah plastik yang tidak efektif menyebabkan peningkatan jumlah sampah plastik yang dibuang sembarangan.

    Tanpa sistem pengelolaan yang baik, plastik mudah menyebar ke berbagai lokasi.

    Dengan memahami dampak-dampak tersebut, penting bagi kita untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendaur ulang, dan mendukung kebijakan pengelolaan limbah yang lebih baik untuk menjaga lingkungan kita tetap bersih dan sehat.